
Empat hari berlalu setelah Valencia terakhir kali menemui Reibert. Pagi ini, seperti biasa Valencia sarapan bersama Henzo sebelum sang Ayah berangkat pergi penaklukan portal. Sudah lama sejak terakhir kali Henzo bepergian jauh melakukan pekerjaannya. Tujuannya menaklukkan portal hanyalah untuk menguji kekuatannya saja.
"Berapa hari Ayah akan melakukan penaklukan?" tanya Valencia sambil menyuap roti.
"Sekitar satu minggu, nanti aku akan kembali lebih cepat kalau penaklukannya bisa selesai tanpa kendala," jawab Henzo.
"Lalu apa semuanya sudah disiapkan? Jangan lupa bawa potion. Aku telah membuat potion khusus untuk para kesatria mansion."
"Iya, tenang saja, itu sudah diurus semuanya oleh Arian."
Setelah sarapan berakhir, Valencia pergi mengantarkan keberangkatan Henzo ke depan gerbang mansion. Henzo menolak keras menggunakan kereta kuda. Alhasil, kereta kuda hanya berfungsi sebagai pengangkut barang-barang saja.
"Aku pergi dulu, kalau ada sesuatu yang buruk tolong langsung kabari aku," pesan Henzo.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Ayah."
Valencia melambaikan tangannya ke arah Henzo. Sementara mansion akan sedikit lebih sepi sebab para kesatria yang biasanya membuat keributan dibawa oleh Henzo ke medan penaklukan.
"Apa yang harus aku lakukan hari ini? Aku harap tidak ada sesuatu yang genting terjadi."
Valencia melanjutkan sejumlah pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya. Dia dibantu oleh Arian yang kebetulan tidak ikut dalam penaklukan portal. Dia memilih tinggal di mansion daripada harus terkena imbas atas kegilaan Henzo.
"Nona, di salah satu wilayah kekuasaan Archduke ada sebuah masalah. Di sana kekurangan pasokan air dan juga musim kemarau berkepanjangan terjadi di sana. Apakah ada solusi yang bisa kita lakukan?" tanya Arian sembari menjelaskan situasi dari wilayah terkait.
"Di mana itu?"
"Wilayah timur Calestine, di sana ada beberapa desa, karena Archduke sedang pergi, jadi saya pikir Anda harus menangani ini dengan cepat sebelum memakan banyak korban."
Valencia berpikir sejenak, dia memikirkan soal wilayah timur yang dikatakan Arian. Memang wilayah itu selama dua bulan ini terkena kendala cuaca yang tak menentu. Akan tetapi, musim kemarau yang saat ini sedang melanda menyebabkan pasokan air menjadi berkurang.
"Baiklah, biar aku yang menanganinya nanti. Aku punya solusi untuk menyelesaikannya."
Sesudah memutuskannya, Valencia langsung bersiap-siap untuk segera berangkat menuju wilayah timur. Dia akan menunggangi Black lagi hari ini karena jarak wilayah timur tidak terlalu jauh. Hanya saja jalannya harus melewati hutan belantara.
"Valencia, aku dengar kau akan pergi ke wilayah timur Calestine."
Dari kejauhan terlihat Xeros berlarian menghampiri Valencia. Hari ini tumben sekali melihatnya mengunjungi kediaman Archduke Calestine.
"Iya, memangnya kenapa? Apa kau mau ikut denganku? Itu pun kalau jadwalmu kosong hari ini," kata Valencia menawarkan Xeros untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Raut muka Xeros berubah sumringah, dia mengangguk dengan antusias.
"Ya, aku mau ikut denganmu. Apakah boleh?"
"Tentu saja boleh, tetapi kita ke sana menunggangi kuda. Ambil kudamu terlebih dahulu, aku akan menunggumu di sini."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Xeros sangat kegirangan bila pergi bersama Valencia. Apalagi tidak ada pria lain di sisi Valencia selain dirinya saat ini. Setelah Xeros kembali mengambil kudanya, mereka berdua langsung berangkat bersama. Selain mereka, Valencia juga mengajak empat orang kesatria wanita pergi ke wilayah timur Calestine.
Desas desus kedatangan Valencia ke wilayah timur Calestine tersebar cepat ke telinga setiap desa di wilayah tersebut. Mereka bersiap-siap menyambut kedatangan Valencia karena mereka percaya bahwa Valencia dapat menangani masalah yang mereka hadapi saat itu.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Valencia sampai di wilayah timur. Kondisinya lumayan memprihatinkan. Akibat musim kemarau, mereka jadi tidak bisa menanam tumbuhan seperti sayur dan buah. Mereka bertahan hidup selama dua bulan ini hanya dengan mengandalkan bantuan dari Henzo.
"Nona, perkenalkan saya Tommy, seorang Baron yang membantu Archduke mengawasi wilayah timur."
Seorang pria paruh baya mengaku sebagai seorang bangsawan yang berada di bawah perintah Henzo. Tommy menjadi perantara antara Henzo dan wilayah timur. Dia yang melaporkan segala jenis masalah yang terjadi di sana.
"Halo, Baron. Tolong jelaskan secara singkat situasi saat ini," ujar Valencia.
"Sebelum itu, saya akan memperlihatkan kepada Anda kondisi ladang tempat warga biasanya bekerja."
Tommy membawa Valencia dan Xeros ke lahan yang sangat tandus. Lahan itu biasanya digunakan sebagai ladang untuk memanen berbagai jenis tumbuhan.
"Tidak, Nona. Ini sangat aneh, padahal di wilayah lain tidak sekering ini. Hanya di wilayah ini saja yang kemaraunya membuat mata pencaharian warga menjadi terputus."
"Di wilayah ini sumber airnya dari mana?"
"Dari sungai, sekarang sungai itu sudah kering."
Valencia berpikir sejenak, memang fenomena yang cukup aneh bila dipikirkan.
"Kalau begitu, tolong tunggu sebentar, biar aku cek dulu situasi sekitar."
Valencia menarik tangan Xeros untuk mendekat, sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan Valencia.
"Xeros, bisakah kau menemani aku ke sungai? Tampaknya ada sesuatu yang menyebabkan air hujan tidak turun di wilayah ini," kata Valencia.
"Ke sungai? Baiklah, ayo temani ke sana."
__ADS_1
Mereka berdua pergi berbarengan ke sungai yang menjadi sumber air utama para penduduk. Sebagaimana yang dikatakan orang-orang, air sungai ini sangatlah jernih. Oleh sebab itulah para penduduk dapat menggunakan air sungainya sebagai sumber air bersih mereka sehari-hari.
Mereka memeriksa dengan seksama sungai tersebut. Lalu Xeros menemukan cangkang kerang berwarna hijau di semak belukar yang tumbuh di tepi sungai.
"Aku menemukan sesuatu," ucap Xeros.
"Apa yang kau temukan?"
"Ini." Xeros menyerahkan kerang tersebut kepada Valencia agar diperiksa oleh gadis itu.
Cangkang kerang itu bukanlah cangkang biasa, ada aliran energi sihir yang terasa dari kerang itu. Hanya butuh beberapa detik saja sampai Valencia tahu jenis cangkang kerang apa itu.
"Ah, pantas saja air hujan tidak turun dan air sungai menjadi kering. Cangkang kerang ini adalah salah satu artefak sihir yang berbahaya karena bisa menyerap air dan menghentikan hujan. Dengan begini masalahnya terselesaikan."
"Sekarang masalahnya sudah selesai, haruskah kita kembali?" tanya Xeros seraya mengajak Valencia kembali ke desa.
"Baiklah, ayo kembali."
Di sana Tommy telah menunggu Valencia, dia langsung menghampiri Valencia dan menanyakan kelanjutannya.
"Bagaimana, Nona? Apakah Anda ada solusi?" tanya Tommy.
"Tenang saja, Baron. Sebentar lagi hujan akan turun, lihatlah ke atas langit."
Tommy mendongakkan kepalanya ke atas langit, tampak awan hitam yang mendekat ke langit wilayah timur.
"Benar, hujan akan turun. Bagaimana Anda melakukannya?"
"Tidak ada hal spesial yang aku lakukan, hanya saja ada sesuatu yang rupanya menghambat hujan untuk turun."
Sepersekian detik berselang, air hujan turun begitu derasnya. Seluruh penduduk bergembira melihat air membasahi wilayah timur.
"Xeros, aku akan tidur sebentar. Nanti kita kembali ke ibu kota," tutur Valencia rasa kantuk mulai menyerangnya.
"Ya sudah, aku akan menunggumu terbangun."
Valencia tidur di sofa tempatnya duduk, tepatnya di samping Xeros. Gadis itu kelelahan karena semalam kurang tidur demi menyelesaikan pekerjaannya. Xeros tiada henti menatap wajah Valencia.
'Kenapa terasa berbeda saat bersama Valencia? Gadis ini memberi perasaan hangat, tetapi dia seringkali tidak menyadarinya,' batin Xeros.
__ADS_1
Tangannya perlahan menyentuh pipi Valencia. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Valencia.
'Mungkin inilah alasan mengapa aku menyukainya.'