Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kecurigaan Valencia


__ADS_3

Valencia tidak langsung merespon kebingungan Sammy, gadis muda itu sedang fokus pada bahan utama pembuatan penawar racun Linita. Tanpa mempedulikan kebingungan Sammy, Valencia menuju ke semak-semak dekat jejeran bunga mawar nan tengah mekar. Valencia mencabut beberapa rumput yang terlihat layaknya rumput liar. Akan tetapi, tidak ada orang yang sadar apa kegunaan rumput tersebut sebenarnya.


Sammy masih mengamati Valencia, tidak hanya rumput liar saja yang dia ambil, di samping itu juga ada pucuk bunga liar. Masih tidak diketahui Sammy kegunaan dua tumbuhan liar itu, dia hanya berperan sebagai penonton sekarang. Selesainya, Valencia kembali lagi ke tempat Sammy menunggunya.


“Sebenarnya apa yang kau ambil itu? Bukankah itu hanyalah tumbuhan liar?” Sammy bertanya sekali lagi kepada Valencia, gadis itu benar-benar membingungkan Sammy.


“Ini bukan tumbuhan liar, kau hanya tidak tahu manfaatnya. Kedua tanaman ini dinamakan rumput ron dan bunga lilian. Ini merupakan bahan utama pembuatan penawar untuk racun yang menjalar di tubuh Permaisuri,” jelas Valencia.


“Hah? Rumput ron dan bunga lilian? Itu adalah nama dari tanaman langka, tapi karena minimnya sumber dan tidak ada gambar yang menjelaskan bentuk kedua tanaman itu, jadi para petugas medis tidak ada yang mengetahui bentuk rumput ron atau pun bunga lilian. Lalu kau sendiri dari mana bisa tahu kalau kedua tanaman ini adalah rumput ron dan bunga lilian?”


“Nanti saja aku ceritakan, sekarang kita harus membuat penawar untuk Permaisuri sebelum terlambat.” Valencia menarik pergelangan tangan Sammy. Mereka memacu langkah ke arah ruangan yang telah disiapkan khusus untuk Valencia meracik penawarnya.


Mereka berdua saling bekerja sama dan mengandalkan pengetahuan medis masing-masing. Pada percobaan pertama hingga percobaan kelima, mereka gagal membuat penawarnya. Namun, pada percobaan keenam mereka berhasil membuatnya. Mereka berdua sama-sama dikejar oleh waktu, mereka juga diselimuti perasaan khawatir yang mendalam.


Tepat tiga puluh menit sebelum racun itu berhasil memakan seluruh kesadaran Linita dan merenggut nyawanya, Valencia bersama Sammy berlari terengah-engah menuju istana kediaman Linita yang letaknya lumayan membutuhkan banyak waktu dari tempat mereka meracik penawar. Di sana banyak orang yang sedang menunggu Valencia dengan perasaan kacau tidak karuan. Tatkala Valencia menampakkan diri, atmosfer nan tegang segera berubah lega.


“Valencia! Bagaimana? Apa kau berhasil membuat penawarnya?” tanya Abraham.


“Sudah, Paman. Sekarang tenang saja, aku pasti akan menyelamatkan Bibi Permaisuri.”


Sammy bergegas menyuntikkan penawar tersebut ke tubuh Linita, perlahan penawarnya bercampur dengan darah lalu menjalar ke sekujur badan. Sepersekian detik seusai penawarnya disuntikkan, penawar itu langsung bekerja. Sekarang nyawa Linita berhasil mereka selamatkan, hanya tinggal menunggu waktu sampai Linita kembali sadar.


Tiada suara lain yang terdengar selain suara helaan napas lega, deruan napas Linita yang mulai teratur membuat ketegangan Abraham lenyap seketika.


“Untuk sementara waktu Permaisuri tidak akan sadar, tapi tolong jangan cemas karena hal tersebut. Permaisuri akan mendapatkan kembali kesadarannya nanti sebab penawarnya bekerja hati-hati menaklukkan racunnya. Meski begitu, tetap perketat keamanan di sekitar istana Permaisuri dan laporkan pada Kaisar atau Archduke Calestine jika salah satu dari kalian menemukan keanehan,” tutur Valencia dengan lantang.


Para kesatria dan pelayan mengiyakan seruan Valencia, mereka selain kesatria juga diminta membawa setidaknya satu senjata kecil untuk berjaga-jaga bila ada musuh yang menyusup ke dalam istana. Sekarang seluruh orang di istana ini diminta berhati-hati sekaligus diminta untuk tidak menurunkan kewaspadaannya.


“Paman tampan, aku akan menyerahkan sisanya padamu. Kalau kau tidak kuat melawan mereka, katakan saja padaku nanti,” ujar Valencia menoleh ke arah Henzo sembari berkacak pinggang.


Seisi ruangan terperanjat kaget, Valencia benar-benar memperlakukan Henzo sesuka hatinya saja. Mereka khawatir Henzo akan mengamuk dan marah pada Valencia sebab siapa pun di kekaisaran ini tahu bahwa Henzo tidak suka diatur apalagi diperlakukan seperti orang lemah layaknya dilakukan Valencia kala itu.


“Apa kau meremehkanku? Aku ini jauh lebih kuat, kau tidak perlu berkata seperti itu padaku,” balas Henzo seraya terkikik.


“Kalau begitu baiklah. Aku percaya Paman sangat kuat.”


Situasi macam apa yang sedang mereka saksikan? Henzo tak marah sedikit pun kepada Valencia yang berani berlaku tidak sopan. Perlakuan Henzo terhadap Valencia terbilang jauh lebih baik dari yang diduga orang lain. Abraham mengaku kaget, sang Adik yang keras kepala bisa begitu lunak di hadapan Valencia.

__ADS_1


Sekarang dia semakin paham alasan mengapa Henzo meminta untuk mengadopsi Valencia. Selain kekuatan gadis itu, Henzo membutuhkan seorang anak yang bisa satu frekuensi dengannya. Meskipun Henzo selalu mengatakan ia tak butuh istri, tapi dia butuh seorang anak seperti Valencia yang mampu mencairkan sifat keras kepalanya.


Valencia tidak langsung pulang ke kediaman Grand Duke Allerick. Gadis itu berencana untuk menginap malam ini di istana sebab dia harus menyelidiki beberapa hal tentang para pembunuh yang sebelumnya meracuni Linita. Masih ada beberapa kejanggalan yang tertinggal di istana tersebut.


"Bukankah kau berjanji akan memberi tahuku soal dari mana kau mendapatkan informasi perihal rumput ron dan bunga lilian?"


Langkah Valencia terjeda sesaat Sammy menuntut penjelasan padanya. Gadis muda itu seketika bingung harus memberikan jawaban yang seperti apa pada Sammy. Sejenak Valencia membuang napas lalu memutar otak untuk membuat kebohongan baru agar Sammy percaya padanya.


"Sebenarnya aku kemarin itu menemukan buku yang menarik dan berisi tentang berbagai macam racun serta cara pembuatan penawarnya. Di dalam buku tersebut juga terpampang gambar rumput ron dan bunga lilian. Oleh sebab itulah aku bisa tahu banyak soal berbagai macam racun sekaligus penanganan racun tersebut," jelas Valencia.


"Buku? Buku apa itu? Bisakah kau meminjamkan buku itu padaku? Aku juga ingin membacanya," pinta Sammy dengan bola mata berbinar. Dia sangat bersemangat saat Valencia menyebut soal buku racun.


"Baiklah, nanti aku pinjamkan padamu."


Pada akhirnya Valencia berhasil membuat Sammy percaya terhadap kebohongannya. Meski begitu, Valencia sedikit merasa lega, setidaknya sekarang Sammy tidak akan bertanya lagi padanya.


Sesudah itu, Valencia melanjutkan kembali penyelidikannya di sekitar istana. Dia memeriksa setiap detail yang dia lalui. Namun, tidak ia temukan apa-apa di sana, para pembunuh itu menyapu bersih seluruh kawasan istana sehingga tidak ditemukan satu pun jejak dari keberadaan mereka.


Kemudian di pertengahan penyelidikan, Valencia dihadapkan oleh pertemuannya dengan Rudolf yang baru saja kembali dari luar. Rudolf, sang Pangeran pertama memang jarang berasa di istana. Saat ini dia baru kembali menyelesaikan tugas yang diberikan Abraham untuk memeriksa wilayah timur Kekaisaran Alegra.


"Nona Valencia, kita bertemu kembali," sapanya dengan begitu ramah.


"Sudahi salam Anda, Nona. Saya dengar Permaisuri diracuni, apakah itu benar?" tanya Rudolf.


Valencia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Rudolf. Entah mengapa dia selalu merasa tidak senang setiap kali melihat Rudolf. Akan tetapi, Valencia menepis segala perasaan buruk yang dia rasakan terhadap Rudolf.


"Benar, Yang Mulia, saya kehilangan jejak para pelaku itu. Tetapi, sekarang keadaan Permaisuri sudah jauh lebih baik karena saya dan dokter Sammy telah memberikan penawar racun yang ampuh melawan efek racun tersebut," jelas Valencia.


Sekilas Valencia melihat raut ramah Rudolf berubah masam, tapi Rudolf dengan cepat mengembalikan ekspresinya nan ramah. Dari sini Valencia langsung mencurigai Rudolf, matanya tidak mungkin bisa dibohongi. Terlebih lagi, asisten pribadi Rudolf yang selalu berada di sampingnya menjadi alasan utama mengapa Valencia merasa tidak nyaman.


"Begitu, kah? Syukurlah, tadi saya sempat khawatir dengan kondisi Ibu saya. Oleh sebab itulah saya langsung pulang seusai mendapat kabar dari istana. Untuk itu, saya berterima kasih kepada Anda, Nona, jika bukan karena Anda mungkin nyawa Ibu saya tidak akan tertolong."


Rudolf terdengar begitu tulus, ia membungkukkan badannya sebagai rasa terima kasih kepada Valencia. Namun, Valencia tidak menangkap perkataan Rudolf sebagai rasa terima kasih yang tulus melainkan sebuah kebohongan yang dibalut halus melalui kata-kata lembut serta ekspresi yang ramah.


"Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya, Yang Mulia. Sudah kewajiban bagi saya membantu Permaisuri karena bagaimana pun beliau adalah Bibi saya."


"Anda memang berhati mulia. Kalau begitu sebagai ucapan terima kasih saya, bagaimana jika lain kali saya mengundang Anda untuk makan malam bersama saya di restoran?"

__ADS_1


Valencia merasa semakin tidak nyaman, segala yang dipertontonkan Rudolf merupakan sebuah kebohongan semata.


"Baiklah, saya tidak akan menolak ajakan Anda, Yang Mulia." Valencia terpaksa mengiyakan supaya pembicaraan mereka lebih cepat selesai.


"Bagus! Saya akan mengirimkan undangan makan malam kepada Anda nanti. Sekarang saya pamit masuk ke dalam dulu untuk menjenguk Permaisuri," ucap Rudolf mengakhiri pembicaraan mereka.


"Baik, Yang Mulia."


Valencia menundukkan sedikit pandangannya, ketika Elkin si asisten pribadi Rudolf lewat tepat di sampingnya, Valencia merasakan adanya getaran yang tidak mengenakkan berasal dari Elkin. Valencia sontak mengarahkan sorot matanya pada Elkin. Sekarang kecurigaan Valencia kian menguat pada Rudolf, hanya saja dia menahannya sementara waktu untuk mencari bukti dari kecurigaan tersebut.


'Sungguh mencurigakan, setiap ekspresinya adalah palsu. Aku tidak akan mudah terkecoh oleh tipu muslihat Pangeran pertama.'


Waktu berlalu beberapa jam setelahnya, tepat pada saat pukul satu dini hari, di kala semua orang tertidur, terjadilah suatu kejadian yang nyaris melayangkan nyawa Linita. Seorang pembunuh masuk entah dari mana, dia membawa sebuah pedang di tangannya.


Aura ingin membunuh berselimut di tubuh si pembunuh. Kali ini targetnya ialah Linita yang masih terlelap. Akan tetapi, pada saat ia hendak mengangkat gagang pedang dan berencana menikam dada Linita menggunakan ujung pedang, Henzo langsung menghantam tubuh si pembunuh tersebut hingga terseret ke sudut ruang kamar.


"Beraninya kau menyusup kemari saat aku berada di sini!"


Henzo tampak marah besar, suara hantaman yang cukup keras mengundang rasa waspada dan rasa penasaran dari para kesatria. Mereka bergegas masuk ke dalam kamar memastikan apa yang tengah terjadi.


"Yang Mulia—"


"Kalian diam di sana, biar aku yang menghabisi nyawa penyusup ini," tegas Henzo.


Si pembunuh penyusup tersebut tampak ketakutan saat menatap mata Henzo yang penuh kemarahan. Dia merasakan rohnya sedang ditarik keluar oleh aura membunuh dari Henzo yang terasa lebih mencekam.


'Siapa pria ini? Kenapa aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya saat aku masuk ke dalam kamar? Dia sangat menakutkan.'


Henzo tersenyum jahat, kali ini dia benar-benar naik pitam. Menyusup saat dia berada di kamar ini merupakan sebuah tindakan yang paling nekat dan berani. Henzo terlihat menakutkan ketika dia dihadapkan dengan hal yang seperti demikian.


"Kau punya nyali yang kuat, apa kau sudah bosan hidup? Komplotanmu telah meracuni Kakak iparku dan sekarang kau mencoba untuk membunuhnya?"


Henzo melangkah maju, tangan sebelah kanannya menggenggam gagang pedang. Sebentar lagi ujung pedang tersebut akan diarahkan pada pembunuh itu.


"Tidak, aku tidak mau mati!" Si pembunuh mencoba kabur dari Henzo, tapi dia tidak punya kekuatan untuk melakukannya sebab Henzo sudah lebih dulu menyergap pergerakannya.


"Kau pikir kau bisa lolos dari kematian setelah membuatku marah? Tetapi, aku ucapkan selamat karena kau sebentar lagi akan bertemu dengan penghuni neraka."

__ADS_1


Pertamanya, Henzo menebas kedua kaki si pembunuh itu untuk menyiksanya sampai mati. Berikutnya, Henzo memotong lidah si pembunuh supaya tidak membuat istana gaduh akibat jeritannya. Seusai membiarkan pembunuh itu tersiksa akibat ulahnya, baru dia menebas kepalanya.


"Nah, begini kan bagus. Mahakarya paling sempurna dari tanganku. Hahaha, lain kali pikirkan kembali kalau ingin berhadapan denganku."


__ADS_2