Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Keributan di Asrama


__ADS_3

Valencia mulai menyerang mereka, suara tamparan dan pukulan silih berganti bergaung di dalam kamar. Mereka tidak melakukan perlawanan, gadis itu benar-benar menggila, dia bahkan tidak menampakkan belas kasihan kepada wanita yang jauh lebih lemah darinya. Mereka berdua telah memohon agar Valencia menghentikan serangannya. Akan tetapi, mata dan telinga Valencia ditutupi kemarahan sehingga permohonan mereka pun jadi sia-sia.


“Mati kalian! Beraninya kalian menggangguku sebelum aktivitas akademi dimulai. Aku tahu kalian pengagum Linnea, tapi bukan berarti kalian bisa melimpahkan kejengkelan kalian padaku!”


Kesadaran mereka berdua nyaris terenggut sepenuhnya, Valencia tidak kunjung menghentikan aksinya. Mungkin karena selama ini Sabrina dan Jania berperan aktif membully si pemilik tubuh bahkan menciptakan fitnah yang semakin membuat citra pemilik tubuh kian memburuk. Hingga akhirnya, kegaduhan dari kamar Valencia terdengar sampai ke luar ruangan.


Seorang wanita dewasa yang kebetulan berlalu lalang di depan kamar, merasa penasaran oleh suara gaduh tersebut. Dia pun menghentikan langkahnya dan mengintip melalui celah pintu kamar yang terbuka. Betapa terperangahnya ia menemukan Valencia sedang memukuli Sabrina dan Jania. Wanita itu langsung masuk menerobos kamar, ia berencana untuk melerai Valencia lalu membawa Sabrina dan Jania keluar dari jangkauan tangan Valencia.


“Hentikan, Valencia!” teriaknya sekuat tenaga sampai membuat perhatian seluruh orang di lorong asrama teralihkan.


Valencia sontak menjeda sejenak pukulannya, suara wanita tersebut terdengar begitu familiar di ingatannya. Tatkala ia menoleh ke arah wanita itu, amarah Valencia semakin meledak-ledak, tidak mungkin dia melupakan siapa wanita yang di depan matanya kini. Wanita itu merupakan salah satu profesor yang mengajar di akademi ini sekaligus seorang kepala pengawas asrama. Dia bernama Hanny, Profesor yang paling menyebalkan sekaligus Profesor yang menjadi salah satu sumber penderitaan Valencia di akademi.


Hanny telah membuat si pemilik tubuh terjebak di dalam kasus pembullyan yang tidak ada habisnya. Sekali pun dia tidak pernah membela Valencia atau pun sekedar memberi teguran kepada si pelaku. Dia malah menempatkan Valencia pada posisi di mana segalanya disalahkan pada diri Valencia. Hanny menganggap bahwasanya pembullyan itu sudah biasa dan Valencia tidak perlu mempermasalahkannya.


“Kenapa Profesor yang terhormat bisa sampai ke tempat ini?” Valencia menyeka percikan darah di wajahnya. Gadis itu berada pada tingkat kegilaan yang sukar diterima manusia biasa seperti Hanny.


“Valencia!” sergah Hanny. “Apa yang sudah kau lakukan?! Kenapa kau menghajar Sabrina dan Jania?! Apa kau berniat untuk membunuh mereka?”


Valencia terkekeh pelan, sangat lucu melihat wajah dari orang munafik seperti Hanny.


“Benar, aku memang berniat untuk membunuhnya. Sayangnya kau malah datang mengganggu rencana pembunuhanku.” Jawaban Valencia di luar dugaan, ia tak membela diri melainkan mengakui niat membunuhnya.


“Kurang ajar! Kenapa kau masih bisa santai?! Awas saja, aku akan menghukummu nanti dan memberimu efek jera atas perbuatanmu.”

__ADS_1


Valencia melipat kedua tangan di dada seraya memutar bola mata malas. Itu adalah sebuah ancaman yang sudah biasa dia dengar.


“Hukum saja kalau kau bisa, aku tidak takut gertakanmu. Lagi pula seharusnya kau tanya padaku terlebih dahulu apa yang dilakukan mereka terhadap diriku. Oh iya, aku lupa, Profesor kan sangat bodoh dan tidak bisa membedakan mana yang salah serta mana yang benar,” sarkas Valencia.


Emosi Hanny terpancing, seketika ia naik pitam mendengar perkataan Valencia dan melihat ekspresi gadis itu saat berbicara padanya. Tanpa disadari, sudah banyak mata yang menyaksikan mereka di depan pintu.


“Tampaknya selama libur akademi kau bertambah kurang ajar, sekarang kau bahkan tidak tahu cara menghormati Profesormu sendiri.” Hannya meresponnya dengan tenang, ia berupaya agar emosinya tidak meledak kepada Valencia karena masalahnya akan semakin pelik bila dia menunjukkan perlawanan lebih.


“Untuk apa aku menghormati seonggok sampah yang tidak berguna?”


“Keterlaluan!” Hanny mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dia berencana untuk melayangkan tamparan pada muka Valencia. Namun, pergelangan tangannya ditangkap lalu Valencia menamparnya lebih dulu hingga membuat dirinya terpental ke permukaan lantai.


“Ya ampun, Profesor, apa yang kau lakukan di bawah sana? Apa kau sekarang sedang memohon ampun padaku? Sayang sekali, aku sedang tidak berminat mengampuni siapa pun.”


“Dasar jal*ng! Jangan harap kau bisa lolos dari apa yang kau perbuat padak—”


BUGH!


Valencia mengarahkan tendangan dahsyat ke rahang Hanny, wanita itu terpental semakin jauh dari tempat awal. Sangat muak ketika Hanny mulai membual dan mengancamnya menggunakan alasan sepele. Kemarahan Valencia meredam sejenak seusai ia berhasil menghajar Hanny, tapi dia masih belum puas jika Hanny belum pingsan.


***


Sementara itu, Devina masih berada di kamarnya, dia belum mendengar kerusuhan yang dibuat oleh Valencia. Raut muka Devina amat dingin, berbeda pada saat ia berhadapan dengan Valencia, ekspresinya berubah drastis dan berbanding terbalik dengan dia yang biasanya.

__ADS_1


Kemudian tiba-tiba saja dua orang gadis mendekati Devina, mereka berharap dapat menjalin hubungan baik bersama Devina. Memiliki koneksi seorang Tuan Putri merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi para gadis bangsawan.


“Yang Mulia, bolehkah—”


“Tidak boleh!” potong Devina langsung berbalik badan menjauhi kedua gadis itu.


Mereka terlihat ketakutan sesaat melihat mimik muka Devina nan menyeramkan dan tidak ramah sama sekali. Devina menutup akses ke setiap orang yang mencoba memafaatkan statusnya sebagai Tuan Putri.


‘Dasar manusia munafik! Memang seharusnya aku sekamar saja dengan Valencia. Pasti akan lebih menyenang kalau kami bisa satu kamar,’ gerutu Devina dalam hati.


Di saat bersamaan, Devina mendengar suara derap kaki nan ramai berlarian di tengah lorong dan mengarah pada lantai dua. Devina penasaran dengan apa yang terjadi di lantai dua kala itu, firasatnya pun mengatakan bahwa ini ada kaitannya dengan Valencia.


“Kalian dengar itu? Katanya Valencia menghajar Profesor Hanny.”


“Dia juga menghajar dua teman sekamarnya. Aku penasaran bagaimana kondisi mereka sekarang.”


“Katanya juga teman sekamarnya hampir dibunuh olehnya, tapi niatnya berhasil dihentikan oleh Profesor Hanny.”


Kedua mata Devina sontak membesar, sudah dia duga bahwa ini berkaitan dengan Valencia. Tanpa berpikir panjang, Devina langsung menuju ke lantai dua. Di depan kamar Valencia telah dikerumuni oleh siswa perempuan. Mereka di sana karena penasaran oleh Valencia, mereka ingin melihat korban yang jatuh akibat pukulan Valencia.


Devina melihat dari celah, saat itu Valencia tengah menyeret ketiga orang yang ia hajar keluar dari kamar. Tergurat kejengkelan yang teramat sangat dari garis muka Valencia, refleks seluruh orang melangkah mundur dan menjauh dari Valencia.


“Kalian bawa ketiga sampah ini keluar dari kamarku! Dan aku sarankan sekarang lebih baik kalian bubar sebelum aku patahkan leher kalian satu persatu.”

__ADS_1


__ADS_2