
Valencia mengaliri tubuh Devina menggunakan sihir. Sulur-sulur sihirnya masuk ke dalam bagian inti tubuh Devina. Perlahan dia merasakan rantai berduri di jantung Devina. Warna jantung gadis itu pun kini perlahan berubah pucat dan nyaris menuju jurang kematian.
Valencia semakin memperkuat aliran sihirnya sampai pada akhirnya sulur sihir Valencia menyentuh jantung Devina. Kemudian mencoba melepaskan satu persatu rantai berduri yang membelenggu di inti tubuh Devina.
"Sedikit lagi kutukannya akan terlepas."
Berselang sepuluh menit setelah berjuang, kutukannya pun terlepas. Seluruh rantai berduri yang menjepit jantung Devina lenyap seketika. Kini suhu tubuh Devina mulai hangat, Valencia berhasil menyelamatkannya tepat waktu.
Abraham dan Linita menunggu penuh kekhawatiran di depan kamar. Henzo bersama Reibert dan Xeros sibuk mengamati setiap sudut istana karena mereka cemas akan ada serangan lanjutan dari pihak musuh.
"Bagaimana ini? Bagaimana kalau Devina tidak bisa diselamatkan?" Linita tak kuasa menahan kesedihan, bulir-bulir air mata pun berjatuhan dari sudut penglihatannya.
Abraham mencoba menenangkan istrinya dan meyakinkan bahwa Valencia bisa menyelamatkan Devina.
"Jangan khawatir, percayakan saja semuanya kepada Valencia. Gadis itu lebih kuat dari yang kita tahu."
Kemudian pintu kamar pun terbuka, Valencia keluar dari kamar dan segera memberitahukan kondisi Devina saat ini.
"Paman, Bibi, Devina berhasil diselamatkan. Kutukannya telah saya angkat dan Anda tidak perlu khawatir lagi," tutur Valencia.
Sungguh melegakan, mereka bisa bernapas lega sekarang karena Devina telah selamat dari jurang kematian. Tanpa berlama-lama, keduanya langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Devina. Tiada henti mereka mengucap syukur, berkat sihir Valencia sekarang semuanya berjalan normal.
"Kerja bagus." Frintz melemparkan satu botol air minum dingin ke arah Valencia.
Valencia menangkap botol tersebut. "Terima kasih. Hari ini sangat banyak hal-hal yang mengagetkan terjadi."
Frintz ikut duduk di samping Valencia.
"Tetapi, kita berhasil melewatinya. Meski begitu, aku masih merasa tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Aku masih jauh berada di bawah dan ada banyak hal yang belum aku ketahui soal sihir."
Valencia tersenyum samar, dia bisa membaca itu semua dari raut muka para pria itu. Mereka terkadang merasa terbebani akibat fakta tersebut. Pasalnya, Valencia kerap kali menaruh badannya sebagai tameng untuk melindungi orang lain. Sedangkan mereka merasa masih belum sempurna menjadi seorang penyihir.
"Jangan merasa seperti itu, memang awalnya agak berat. Namun, kalian akan mulai terbiasa dan ilmu sihir kalian akan bertambah seiring berjalannya waktu. Kalian hanya perlu menunggu sembari berlatih menggunakan buku sihir yang aku berikan," ujar Valencia.
Valencia kembali menghela napas, kali ini dirinya terjebak di tengah kebingungan. Akan tetapi, dia tidak mungkin menceritakannya kepada Frintz sebab ini menyangkut soal identitas dirinya.
__ADS_1
"Ternyata kalian ada di sini, Archduke dan Kaisar memanggil kita ke ruangannya."
Tiba-tiba Leano datang membawa pesan untuk mereka berdua. Valencia dan Frintz langsung beranjak meninggalkan tempat duduk mereka lalu segera pergi menuju ruangan Abraham.
Di sana Henzo dan Abraham terlihat serius, mereka sepertinya sedang mempertanyakan soal apa yang mereka lihat hari ini. Sangat tidak masuk akal ketika mereka menyaksikan pancaran sihir dari tubuh Valencia serta dari kelima pria yang mereka kenal.
"Bisakah kalian menjelaskan semua yang terjadi hari ini?" tanya Henzo membuka suara, ia mewakili pertanyaan dari Abraham.
Valencia membuang napas sembari memperbaiki posisi duduknya. Dia hanya merasakan aura keseriusan di sini. Kelima pria yang berada di sekitarnya memusatkan pandangan padanya karena mereka memberi isyarat menunggu Valencia buka suara.
"Baiklah, dari mana saya akan memulai ceritanya? Ini bermula ketika saya melakukan percobaan bunuh diri."
Valencia menceritakan semuanya kepada Henzo dan Abraham. Tentu saja dia bercerita menggunakan rekayasa alur cerita yang telah dia siapkan dari jauh-jauh hari. Kali ini berbohong menjadi sedikit lebih ringan dibanding sebelumnya.
Untungnya mereka mempercayai setiap kata yang terlontar dari mulut Valencia. Keduanya punya ekspresi yang sama, sebuah mimik tak terduga karena baru kali ini mereka menyaksikan langsung cara kerja sihir.
***
Hamparan luas tanah terbentang tandus, tiada cahaya matahari yang menerangi dan hanya ada kegelapan malam yang tiada ujungnya. Suara gagak beterbangan lalu hinggap di atas mayat-mayat manusia yang bergelimpangan di hutan terbengkalai.
Situasi yang saat ini tergambar merupakan situasi di salah satu wilayah kekaisaran di benua Mihovil. Tidak ada kehidupan yang terasa di sana, hanya ada aura kematian yang mengintai setiap saat.
Di dalam menara, dihuni oleh sejumlah penyihir. Pakaian mereka masing-masing tertera sebuah lambang bergambar kupu-kupu berwarna violet seperti warna mata Klarybell. Itu adalah lambang dari menara sihir yang dahulu dipimpin oleh Klarybell.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menjatuhkan orang-orang yang hendak menuju kemari?"
"Tenang saja, kami berhasil menjatuhkan mereka dalam sekali serang."
"Syukurlah, dengan begini hari ini kita akan aman sementara waktu. Jujur saja, aku sangat lelah selalu hidup di dalam kejaran musuh. Andaikan Penyihir Agung masih hidup, beliau pasti tidak akan membiarkan benua Mihovil jatuh ke dalam kehancuran."
Para penyihir itu tampak putus asa, raut muka mereka gelisah dan kelelahan. Benua Mihovil memang sudah hancur sejak Klarybell dikabarkan mati lebih delapan ratus tahun yang lalu.
"Aku juga berharap Penyihir Agung kembali lagi ke tempat ini agar kita bisa membangun benua Mihovil yang telah hancur berantakan."
Seorang penyihir pria tengah berada di depan sebuah kristal sihir raksasa berwarna biru gelap. Ketika dia mengamati kristal sihir tersebut, tiba-tiba kristal sihirnya bergetar.
__ADS_1
"Bergetar ... kristal sihirnya bergetar! Hei, kemarilah! Lihat ini, kristal sihirnya bergetar!" serunya memanggil seluruh rekan penyihir untuk mendekat ke arah kristal sihir.
Dalam sekejap suasana menara berubah menjadi bising. Mereka gaduh karena kristal sihir yang dijaga sepenuh hati tiba-tiba bergetar.
"Apa yang membuat kalian ribut? Apakah ada sesuatu yang menarik terjadi?"
Dua orang pria berwajah tampan masuk ke ruangan tempat mereka berada.
"Tuan Arc, Tuan Catrion, lihat ini! Kristal sihirnya bergetar!"
Mata kedua pria itu melebar seketika, lekas keduanya menuju ke hadapan kristal sihir tersebut.
"Hei, Arc, jika kristal sihir ini bergetar maka itu artinya Klarybell masih hidup," ujar Catrion, pria berambut pirang platinum dengan mata biru seperti air.
"Benar, Klarybell masih hidup. Maksudku, dia mungkin sekarang sedang berada di tubuh orang lain," jawab Arc, pria berambut coklat dan mata keemasan.
Mereka berdua merupakan pria yang dahulu paling dekat dengan Klarybell. Mereka selalu bersama Klarybell dan menemaninya ke mana pun itu.
"Kristal sihir ini bergetar karena Klarybell baru saja menggunakan sihirnya. Kita harus segera menemukan di mana Klarybell berada. Sekarang cepat kalian lacak sumber sihir Klarybell!"
Catrion langsung memberi perintah kepada seluruh penyihir. Mendadak semua orang disibukkan oleh tanda-tanda kemunculan sihir Klarybell.
"Maaf, Tuan, sepertinya ada sesuatu yang menghalangi kami untuk melacak keberadaan Yang Mulia Klarybell."
"Ada kekuatan asing yang menghambat, seolah-olah kekuatan itu dengan sengaja menyembunyikan keberadaan beliau."
Ternyata ini tidak semudah yang dikira Arc dan Catrion. Mereka tidak bisa melacak begitu saja keberadaan Klarybell.
"Kalau begitu, mau tidak mau aku harus keluar dari Mihovil untuk mencari keberadaannya," ucap Arc.
"Hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menemukan Klarybell. Kau harus mencarinya ke seluruh belahan dunia, jangan ada satu pun yang kau lewatkan."
Arc mengangguk, setidaknya dengan begini mereka berdua merasakan kelegaan yang luar biasa seusai melewati hari sulit selama delapan ratus tahun lebih.
Kemudian Arc dan Catrion bergerak menuju ke sebuah peti kaca yang terletak di ruang yang sama. Di dalam peti tersebut, terbaring tubuh kosong Klarybell yang telah dijaga selama ratusan tahun oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Bell, kami menjaga tubuhmu dengan baik selama ini. Jadi, kami harap kau bisa kembali dan menggunakan tubuhmu untuk bertempur lagi. Sungguh, rasanya berat sekali, di sini sudah sangat kacau. Tetapi, tenang saja, kami berdua akan segera menjemputmu pulang."