Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kehancuran Segel Ingatan


__ADS_3

Klarybell membeku sesaat Sean mengatakan kondisi Davey. Raut mukanya menunjukkan bahwa dia sangat membutuhkan pertolongan Klarybell. Sesungguhnya, Sean telah kehilangan arah dan tidak tahu harus kepada siapa pagi meminta bantuan.


"Memangnya apa yang terjadi sampai Davey mengalami kritis?" tanya Klarybell.


Sean menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Di sini hanya kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan Yang Mulia Davey."


Entah mengapa kala itu perasaan Klarybell menjadi berkecamuk. Selama beberapa waktu ini, sebenarnya Klarybell merasakan firasat buruk yang mengarah kepada Davey. Seolah-olah dia punya ikatan batin yang kuat dengan Davey.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi denganmu sekarang."


Itu sangat melegakan bagi Sean, dia tidak perlu memberi penjelasan panjang kepada Klarybell.


"Aku pergi dulu sebentar. Nanti aku jelaskan kepada kalian masalahnya," lanjut Klarybell berucap kepada semua orang yang berada di hadapannya.


Sean dan Klarybell segera berangkat menembus jalur menuju alam akhirat. Perjalanan mereka cukup singkat dan tidak memakan banyak waktu. Hal ini dikarenakan Sean membawa Klarybell ke jalan pintas yang hanya diketahui segelintir penghuni akhirat saja.


Sesampainya di alam akhirat, Sean langsung menuntun Klarybell ke kamar Davey. Sontak Klarybell membatu kala menyaksikan tubuh Davey yang memucat layaknya mayat hidup.


"Sean, sebenarnya kenapa Davey sampai seperti ini? Apa yang terjadi? Dan apa yang harus aku lakukan untuk membantunya?" cecar Klarybell.


Sean memalingkan sejenak pandangannya sebelum ia benar-benar menceritakan secara keseluruhan penyebab Davey menjadi seperti demikian.


"Bell, kau ingat soal tanda semanggi biru berdaun lima di punggung tanganmu?" tanya Sean.


"Ya, aku ingat." Refleks Klarybell menutup mulutnya. "Jangan-jangan tanda itu berhubungan dengan Davey?!" terka Klarybell.


"Tanda itu memang berhubungan dengan Yang Mulia Davey. Namun, asal kau tahu, sejujurnya tanda itu merupakan kekuatan penuh milik beliau," ungkap Sean.


"Kekuatan penuh?"


Klarybell terdiam seketika, ia memang merasakan adanya kekuatan Davey di tanda tersebut. Hanya saja dia tidak tahu sama sekali kalau sebenarnya makna tanda itu jauh lebih dalam.


"Yang Mulia Davey memberikan kekuatannya yang tersisa untuk melindungimu. Beliau tidak ingin kau celaka. Maka dari itu, beliau memberi perlindungan melalui kekuatannya."


"Apakah kau tahu? Kekuatan Yang Mulia Davey jauh berkurang sejak pertama kali beliau menjadi dewa. Hal itu disebabkan oleh kehancuran alam semesta beberapa abad yang lalu. Beliau adalah satu-satunya dewa yang tersisa sehingga beliau terpaksa menanggung segalanya sendirian. Kekuatannya yang tersisa adalah sumber kehidupan beliau saat ini."


Pikiran Klarybell kehilangan arah, perasaan aneh mengalir di hatinya.


"Lalu kenapa dia memberikan kekuatannya padaku? Memangnya apa keuntungannya dia melindungiku?"


Sean menatap lekat Klarybell.

__ADS_1


"Karena kau adalah orang yang berharga bagi beliau. Satu-satunya harta yang ingin beliau lindungi sampai akhir hayatnya," tutur Sean.


"Aku tidak paham maksud perkataanmu, tetapi apa pun alasannya, aku tidak memerlukan perlindungannya. Aku bahkan mengunci kekuatan itu di tubuhku," kata Klarybell.


"Maka dari itu, Bell. Kau harus mengembalikan kekuatan itu kepada Yang Mulia Davey. Aku mohon, kembalikan kekuatan itu agar beliau bisa bertahan lebih lama lagi. Apabila aku membiarkan ini berlangsung tanpa ada tindakan apa pun, aku hanya akan melihat tubuh beliau menjadi kosong tidak bernyawa."


Pada waktu bersamaan, tubuh Davey tiba-tiba saja mengalami kejang. Seisi kastil heboh karena situasi tak terduga tersebut. Klarybell ikut panik dan cemas melihat kondisi Davey kian mengalami penurunan.


"Bell, aku mohon! Aku memohon teramat sangat padamu. Kembalikan kekuatan itu sekarang! Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada Yang Mulia Davey! Cepat, Bell!"


Sean terus mendesak Klarybell untuk segera bergerak mengembalikan kekuatan Davey. Gadis itu lekas mendekat ke ranjang Davey.


"Ya, aku akan mengembalikan kekuatan itu sekarang."


Kemudian Klarybell duduk di sisi ranjang Davey. Jemarinya bergerak menyentuh dinginnya tangan Davey. Gadis itu pun mulai memejamkan matanya perlahan seraya mengambil fokus penuh untuk memindahkan kekuatan Davey yang ada pada dirinya.


Ketika pemindahan kekuatannya berlangsung, Klarybell mendengar bunyi seperti rantai yang hancur di kepalanya. Bunyi itu kian terdengar kuat hingga menimbulkan rasa sakit di dalam kepala.


'Suara apa ini?'


Suara-suara yang tidak asing mengalir di ingatan Klarybell. Sebuah gambaran kilas balik yang selama ini terlupakan terbuka kembali. Semua itu adalah memori masa lalunya yang tersegel. Lalu segel itu pun hancur bersamaan upaya Klarybell mengembalikan kekuatan milik Davey.


"Lalu bagaimana dengan Kakak? Aku tidak mau pergi sendirian. Aku ingin bersama Kakak, tolong jangan paksa aku untuk pergi."


"Aku ingin kau terus hidup, Bell. Pergilah ke mana pun itu, aku tidak mau kau ikut terseret ke alam kematian bersamaku."


"Aku tidak mau ... jangan tinggalkan aku, Kak."


Ingatan itu mengalir begitu saja di kepala Klarybell. Dia melihat bayangan kematian Davey dibunuh oleh manusia karena dituding sebagai pengkhianat. Davey saat itu menyuruh Klarybell kabur sebelum orang lain menangkapnya.


Klarybell pada kehidupan pertama menyaksikan bagaimana para manusia menghukum Davey. Kobaran api yang sangat panas melahap tubuhnya. Tiada satu orang pun yang mempercayai Davey. Dia dijadikan kambing hitam atas tuduhan pengkhianatan terhadap Kaisar.


Tidak hanya ingatan itu saja, bahkan ingatan tentang dia yang menjadi malaikat jatuh juga berputar di kepalanya. Kehancuran alam semesta beberapa abad yang lalu adalah bagian dari kesalahannya. Tidak ada ingatan yang terlupakan, semuanya kini berada di ruang memori Klarybell.


"Aku ingat sekarang." Tanpa sadar, bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi Klarybell.


"Bell, apa yang terjadi? Apakah kau sudah menyelesaikannya?" tanya Sean panik melihat Klarybell menangis.


"Sekarang aku ingat semuanya ... aku ingat kalau Davey adalah Kakakku ... dia satu-satunya keluargaku. Kenapa aku bisa melupakannya? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya? Sean, aku—"


BRUK!

__ADS_1


Perkataan Klarybell terhenti, gadis itu tiba-tiba jatuh pingsan. Ini merupakan efek dari pemindahan kekuatan sekaligus efek dari hancurnya segel ingatan.


Sean segera menyuruh beberapa orang untuk memindahkan Klarybell ke kamar. Sejujurnya, ini situasi tidak terduga di mana Klarybell kini mendapatkan lagi ingatan masa lalunya.


Jauh di bawah alam sadarnya, Klarybell memimpikan hal buruk. Dia melihat dirinya dikejar-kejar oleh sejumlah orang. Mimpi itu ialah bagian dari ingatan kehidupan pertamanya seusai kematian Davey.


Klarybell hidup di dalam rasa takut, ia menjadi buronan sampai akhirnya dia juga mati dieksekusi. Kebencian, dendam, dan rasa derita dia bawa ke alam kematian. Alhasil, dia menjadi gelap mata hingga kekuatan kebencian mendatangkan kehancuran bagi alam semesta.


Sesudah memimpikan hal tersebut, Klarybell pun terbangun. Tanpa menunggu lama, ia bergegas berlari ke kamar Davey. Tepat saat itu, Davey sudah sadar dan melewati masa kritisnya.


"Kakak ...," lirih Klarybell memanggil Davey.


Davey menoleh ke sumber suara datangnya Klarybell.


"Bell, kau—"


Klarybell berlari cepat dan menghambur ke pelukan Davey.


"Kakak ... Kakak ...." Klarybell berulang kali memanggil Davey. Dia tidak berbicara apa pun selain memanggilnya.


Davey tak kuasa menahan air matanya. Suara yang dia rindukan serta pelukan sang Adik yang telah lama tidak dia rasakan, saat ini dia mendapatkannya kembali.


"Maaf, Bell ... maaf karena sudah membuatmu terjebak di takdir yang memilukan. Maafkan aku, aku Kakak yang tidak berguna."


Klarybell menggeleng, dia melerai pelukannya. Pelupuk matanya nan basah, sinar mata yang berselimut kerinduan, sekaligus perasaan yang rumit diungkapkan. Gadis itu terperangkap di belenggu masa lalu.


"Ini bukan salah Kakak. Kenapa Kakak harus berjuang sendirian? Mengapa sekali pun Kakak tidak pernah melibatkanku? Mengapa Kakak meninggalkanku sendirian? Apakah Kakak tidak ingin aku bersama Kakak lagi? Kakak juga ingin membuangku seperti orang tua kita?"


"Tidak, Bell ... aku tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Aku hanya ingin kau terus hidup, aku tidak mau membiarkanmu mati bersamaku. Aku hanya menginginkan kebahagiaan—"


"Tetapi, aku tidak bahagia!" sergah Klarybell. "Aku tidak bahagia. Aku hidup di dalam ketakutan. Setelah kematian Kakak, aku berjuang sendirian di tengah badai yang mengincar nyawaku."


"Kak, aku tidak punya rumah. Satu-satunya rumahku di dunia ini hanya Kakak. Tidak ada tempat pulang untukku di dunia yang jelas-jelas menginginkan kematianku. Aku hancur, aku terluka tanpa ada satu pun orang yang mempedulikanku."


"Pada akhirnya, aku tetap mati di tangan manusia. Mereka membunuhku dengan keji, mereka mengutukku, dan mereka hidup bahagia karena kematianku. Kakak ... pengorbananmu hanya membuatku menderita."


Tangisan Davey kian memecah, dia menggenggam erat kedua tangan Klarybell. Dia telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan Adik kecilnya sendirian di dunia yang kejam ini.


"Maafkan aku, Bell. Maaf karena telah membuat hidupmu berantakan. Maaf karena telah menjadi alasanmu menderita. Maafkan aku, karena aku benar-benar tidak mengetahuinya."


Hanya kata maaf yang terlontar dari mulut Davey. Menyesal sekaligus kecewa dia rasakan bersamaan. Pengorbanannya mendatangkan kesakitan luar biasa di diri Klarybell.

__ADS_1


__ADS_2