Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kekejian Rudolf


__ADS_3

Pada hari itu, Valencia beserta ketujuh Pangeran berhasil menangkap seluruh sekutu Rudolf. Mereka tidak lebih dari sekedar sampah yang menjilat kepada Rudolf demi memperoleh kekuasaan lebih. Tidak sedikit ditemukan harta tersembunyi yang mereka peroleh dari gudang penyimpanan rahasia. Semua harta itu mereka dapatkan dari hasil penjualan senjata serta obat terlarang.


Para bangsawan yang terlibat semuanya dikurung di satu tempat yang tidak bisa diakses sembarang orang. Pengamanan tingkat tinggi, sihir yang takkan mampu dipatahkan oleh seorang penyihir biasa. Valencia telah menyiapkan segalanya demi mengurung para bangsawan tersebut.


"Bawa masuk semuanya ke dalam!" seru Reibert kepada para kesatria.


Abraham dan Linita terdiam kebingungan saat melihat ada banyak sekali kotak-kotak yang dibawa masuk oleh Reibert. Mereka masih belum mengetahui isi dari kotak itu.


"Ada apa ini, Reibert? Apa yang kau bawa kemari?" tanya Abraham.


"Mohon maaf, Yang Mulia, biar saya saja yang menjelaskannya," sela Frintz.


Kemudian Frintz mengambil alih semua penjelasannya. Abraham dan Linita sangat terkejut mendengar bahwa ada perdagangan obat terlarang dan senjata ilegal di wilayah yang mereka pimpin.


"Aku memang menerima laporan soal masalah ini, tetapi aku tidak menyangka kalau para bangsawan kepar*t itu adalah dalangnya," kata Abraham.


"Siapa dalangnya? Tidak mungkin mereka bergerak sendirian. Pasti ada seseorang di belakang mereka," ujar Linita.


"Kami masih sedang menyelidikinya."


Frintz menutupi sedemikian rupa kenyataan bahwa dalang dari masalah tersebut ialah putra mereka sendiri.


"Apakah Valencia turun tangan mencari dalangnya?" tanya Abraham.


"Benar, Yang Mulia, kemungkinan Valencia akan menemukan dalangnya segera. Oleh sebab itulah, Valencia mengurung para bangsawan di satu tempat agar tidak kabur. Dia ingin mengungkap kejahatannya secara sekaligus."


Sementara itu di tempat lain, Valencia bersama Xeros dan Sammy menelusuri wilayah yang terlihat amat mencurigakan. Pada mulanya, wilayah ini ditemukan oleh Sammy, dia pun melaporkannya kepada Valencia sehingga gadis itu memutuskan untuk langsung menyelidikinya.


"Wilayah ini adalah salah satu wilayah yang ditaklukkan oleh Rudolf," ucap Sammy.


"Ini terlalu buruk untuk disebut sebagai wilayah yang berhasil ditaklukkan."

__ADS_1


Kondisi wilayah itu berada di dalam kehancuran, masih terasa segar aroma darah menyengat ke indera penciuman mereka. Selama ini tidak ada yang menaruh curiga karena Rudolf memasang sihir di sekitar wilayah itu demi menghindari kecurigaan rakyat atau pun Kaisar.


"Bajing*n itu, dia bukan menaklukkan wilayah, tetapi dengan sengaja melenyapkan wilayah ini," geram Xeros.


"Dia lebih bajing*n dari bayanganku." Valencia mendekat ke sebuah bangunan rumah yang telah rata dengan tanah.


Terdapat bekas darah manusia serta senjata sejenis pedang dan pisau yang digunakan untuk membunuh orang-orang itu.


"Ini salah satu wilayah miskin di Alegra, bukan?" tanya Valencia.


Sammy pun mengangguk. "Benar, wilayah ini satu dari sekian wilayah yang paling miskin."


Di tengah kesibukan mereka memperhatikan situasi sekitar, terdengar suara derap kaki mendekati mereka.


"Apakah Anda semua dari pihak istana?"


Seorang pria berpakaian kesatria menghampiri Valencia. Dia terluka cukup parah, tangan kirinya juga telah kehilangan fungsi. Lalu di belakang pria itu ada beberapa orang yang memiliki kondisi serupa dengannya.


Ekspresi mereka berkata lain, ada sesuatu yang terjadi sebelumnya dan tidak diketahui orang lain. Mereka saling bertukar pandang, ada ketakutan di binar mata yang tampak putus asa itu.


"Tidak apa-apa, katakan saja. Kalian bisa berbicara dengan jujur di sini." Valencia mencoba menenangkan kegelisahan mereka.


Tubuh si kesatria itu mendadak meluruh ke tanah. Sekujur badannya gemetar ingin berbicara kepada mereka bertiga.


"Sejujurnya ketika penaklukkan portal yang dipimpin Pangeran Rudolf, kami para kesatria diperintahkan memusnahkan semua orang di wilayah ini. Bukan pertama kalinya Pangeran Rudolf memberi perintah tersebut, ini sudah ke sekian kalinya. Namun, kali ini saya menolak keras melakukannya."


"Akibat penolakan dari saya, Pangeran Rudolf marah dan akhirnya mengeluarkan saya dari kelompok kesatria secara paksa. Saya berusaha melindungi orang-orang yang tersisa. Saya berhasil melindungi setidaknya dua puluh lima orang," jelasnya bersuara bergetar.


Mereka bertiga tidak terkejut mendengar penjelasan sang kesatria. Ketiganya telah menduga hal ini sebelumnya.


"Apakah itu karena wilayah ini adalah wilayah miskin?" tanya Xeros.

__ADS_1


"Iya, karena wilayah ini wilayah miskin, maka dari itu Pangeran Rudolf berpikir bahwa lebih baik dilenyapkan saja daripada menjadi hama. Bahkan, kami tidak bisa keluar dari tempat ini sebab seperti ada sesuatu yang menghalangi."


Valencia mengangguk paham, dia pun meminta kepada Sammy untuk memeriksa luka orang-orang itu.


"Jangan khawatir, kami akan mengeluarkan kalian dari tempat ini. Aku paham kalian marah terhadap Pangeran Rudolf. Aku akan membantu kalian mengatasi masalah ini," ucap Valencia.


Mereka diobati dan diberi makan terlebih dahulu sebelum berangkat meninggalkan wilayah tersebut. Setelah mereka dipastikan pulih sepenuhnya, Valencia pun membawa mereka ke luar.


"Untuk sementara, kalian bersembunyi dulu karena Pangeran Rudolf tidak akan membiarkan kalian begitu saja jika dia menemukan bahwa kalian belum mati."


Orang-orang itu menuruti perkataan Valencia, mereka bersembunyi di salah satu wilayah kekuasaan Archduke Calestine. Di tempat ini terasa lebih aman dibanding tempat lainnya.


"Mari kita pergi ke wilayah yang lain, aku harap masih ada orang yang selamat di sana."


Valencia berhasil menemukan beberapa orang saja yang selamat. Mereka bersusah payah bertahan dengan makanan dan pengobatan seadanya. Sungguh memprihatinkan, ini membuat Valencia dan yang lain terbakar kemarahan.


Selepas beraktivitas seharian penuh, kini Valencia kembali ke kediaman untuk beristirahat sejenak. Pierre telah menyiapkan cemilan untuk mengganjal perut Valencia serta menyiapkan keperluan untuk gadis itu mandi.


"Hei, Nak! Apa kau luang besok? Aku ingin mengajakmu pergi penaklukan portal."


Henzo tiba-tiba muncul dari pintu masuk, dia terlihat amat bersemangat sebab dia telah menguasai sihir yang diajarkan Valencia terhadap dirinya.


"Ayah, kau sangat bersemangat, tetapi sayangnya besok aku akan melakukan sesuatu yang mengejutkan."


"Sesuatu yang mengejutkan? Apa maksudnya itu?"


Henzo mendekati Valencia lalu duduk berhadapan dengannya. Valencia pun menyunggingkan sudut bibirnya yang menyiratkan pesan kemenangan.


"Pangeran Rudolf akan menemukan akhir hidupnya. Aku telah mengumpulkan semua bukti terkait kejahatan yang dilakukan si bajing*n itu," ujar Valencia.


"Benarkah begitu? Pantas saja kau sibuk akhir-akhir ini. Jika memang seperti itu, maka kau harus memberi pelajaran setimpal pada anak tidak tahu diri itu. Jangan biarkan dia lolos dari hukuman kematian," tekan Henzo.

__ADS_1


"Tenang saja, Ayah. Cukup saksikan di balik layar, aku akan mengurus segalanya dengan sempurna."


__ADS_2