
Malam yang panjang berlalu begitu saja, di hari selanjutnya Valencia mendapatkan beberapa orang untuk bekerja di bawahnya. Akan tetapi, Valencia lupa, di kediaman Archduke Calestine tidak ada satu pun perempuan yang bekerja di sini. Para pekerja diisi oleh para lelaki, bahkan pelayan pribadi Valencia pun adalah seorang pria.
"Apakah di sini benar-benar tidak ada pelayan wanita?" Pertanyaan itu berulang kali dilontarkan Valencia.
"Maaf, Nona, Archduke melarang mempekerjakan wanita karena di kediaman ini sering terjadi pertumpahan darah."
"Dahulu pernah ada sejumlah pelayan wanita yang bekerja, tapi mereka banyak yang mengundurkan diri karena tidak tahan lalu sebagian dari mereka terbunuh karena mencoba menggoda Archduke."
Begitulah penjelasan dari para pelayan pria, mereka profesional dalam pekerjaannya. Walaupun kebanyakan pria mempunyai watak kurang ajar, tetapi mereka menghormati Valencia sebagai Nona di rumah ini.
"Kalau masalahnya begitu, ya sudah. Setidaknya kalian bekerja bersungguh-sungguh dan tidak membuatku jengkel," tutur Valencia.
Kemudian tidak lama berselang, seorang kesatria datang mengabari Valencia bahwasanya Henzo memanggilnya ke ruangannya.
"Ada apa, Paman? Apakah ada sesuatu yang mendesak?"
Henzo menatap Valencia sepersekian detik sebelum mulai angkat bicara.
"Sampai kapan kau akan memanggilku Paman? Kau harus memanggilku Ayah," tuntut Henzo.
Valencia mengalihkan pandangannya sejenak.
'Ayah? Ya, aku rasa tidak ada salahnya. Apa boleh buat, aku memang harus memanggilnya Ayah,' pikir Valencia.
Valencia membuang napas panjang, sebenarnya cukup sulit baginya memanggil Henzo dengan sebutan Ayah.
"A-Ayah," ucap Valencia teramat pelan dan penuh keraguan.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarnya. Coba ucapkan lebih keras lagi," kata Henzo.
"Ayah! Aku memanggilmu Ayah! Sekarang tolong katakan, apa yang tujuan Ayah memanggilku pagi-pagi begini?"
Henzo melontarkan senyum manis, dia suka sekali mendengar Valencia memanggilnya Ayah.
"Ada beberapa masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Aku memanggilmu kemari ingin membicarakan masalah ini."
"Apa masalahnya begitu serius?"
"Ya, ini lebih serius dari yang kau bayangkan. Selama satu minggu belakangan ini kasus laporan orang hilang meningkat drastis. Total orang-orang yang menghilang mencapai empat puluh lima orang. Dan anehnya, semua korbannya adalah gadis perawan dan belum pernah menikah," jelas Henzo.
"Ini sangat aneh. Apakah kasus kehilangan orang ini hanya terjadi di Alegra saja?"
Henzo menggelengkan kepalanya. "Tidak, kekaisaran dan kerajaan lain terutama Kekaisaran Sergia telah kehilangan lebih dari tujuh puluh gadis. Kasus ini tidak bisa dipecahkan dengan mudah karena pelaku menghapus jejaknya."
Di pertengahan penjelasan tersebut, Arian datang membawa laporan baru untuk Henzo.
"Mohon maaf menyela, Yang Mulia, saya baru mendapatkan beberapa laporan kasus baru. Di pinggiran wilayah Alegra, telah ditemukan sejumlah mayat manusia dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Darah di tubuh mereka mengering secara misterius."
Arian memperlihatkan potret rupa mayat manusia yang ditemukan kesatria. Valencia dan Henzo sontak kaget melihat bentuk mayat tersebut.
"Tidak mungkin pelakunya adalah manusia, mungkinkah ada makhluk yang dengan sengaja menghisap darah mereka hingga mengering?" tutur Henzo berpendapat.
"Kemungkinan paling mendekati adalah itu, Yang Mulia. Namun, makhluk seperti apa yang bisa menghisap darah manusia sampai mengering?"
Valencia masih terbuai di dalam pikirannya yang rumit, ini bukan lagi masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan santai.
"Izinkan aku untuk mengurus masalah ini, aku akan menyelidikinya sampai tuntas," pinta Valencia.
"Baiklah, aku akan menyerahkannya kepadamu. Ingatlah untuk berhati-hati dalam menyelesaikannya karena kita tidak tahu kapan bahaya akan menghadang."
Selepas itu, Valencia keluar dari ruangan Henzo, firasatnya memburuk ketika mendapatkan laporan tersebut. Segera Valencia menulis secarik surat untuk ia kirim kepada Sammy.
__ADS_1
"Kirim surat ini ke dokter Sammy, dia sekarang ada di rumah sakit ibu kota," perintah Valencia ke salah satu kesatria.
"Baik, Nona. Saya akan mengirim surat ini."
Kesatria itu bergegas pergi ke rumah sakit, sedangkan Valencia berdiam diri sejenak di kamarnya.
"Darah mereka mengering, lalu yang paling mengusik di sini ialah ditemukannya lambang bergambar mata satu di pergelangan tangan mereka. Lambang ini aku pernah melihatnya, tapi di mana?"
Valencia terus menyelami ingatannya, tapi dia masih tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Namun, Valencia yakin kalau dahulunya ia pernah melihat lambang itu di benua Mihovil. Sebuah lambang memancarkan marabahaya, maka Valencia harus mencari tahu lebih lanjut soal itu.
"Aku sudah datang, Valencia."
Akhirnya, Sammy menampakkan dirinya, dia tiba dalam waktu yang sangat cepat.
"Ah, Sammy! Akhirnya kau datang. Ada sesuatu yang terjadi di wilayah pinggiran Alegra. Kau pasti sudah mendengar masalahnya kan?"
"Benar, aku sudah mendengarnya." Sammy mendudukkan diri di atas sofa. "Menurutmu kira-kira makhluk apa yang bisa melakukan hal sekeji itu?"
Valencia mengerdikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu, itulah mengapa aku butuh bantuanmu sekarang."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku berencana untuk pergi ke pinggiran wilayah itu langsung. Aku yakin tanpa aku suruh pun kau sudah melakukan penyelidikan pada tubuh mayat itu, tapi kita perlu pergi ke tempat kejadian langsung untuk memeriksanya. Kau harus menemani aku, sebab aku yakin setidaknya masih ada sedikit petunjuk yang tersisa."
"Baiklah, mari kita pergi."
Tanpa menunggu lama, Valencia dan Sammy berangkat bersama menuju pinggiran wilayah Kekaisaran Alegra. Setibanya di sana, aroma busuk bangkai manusia langsung menyeruak ke indera penciuman mereka. Terpaksa mereka mengenakan masker demi mencegah aroma busuk itu semakin menusuk ke dalam hidung.
"Situasinya sangat buruk, tempat ini hampir rata dengan tanah," ujar Sammy.
"Mungkin makhluk yang membuat mereka seperti ini tubuhnya memiliki ukuran raksasa."
Sammy mengangguk setuju, ia juga berpendapat sama seperti Valencia.
"Baiklah kalau begitu, mari kita berpencar."
Mereka berpencar berlawan arah, kali ini hanya mereka berdua yang melakukan penyelidikan. Di sisi lain tempat, Valencia menemukan potongan sayap dari makhluk yang belum ia ketahui.
"Sayap apa ini?" Valencia meraba-raba sayap tersebut. "Ini adalah sayap dari makhluk yang menghisap dari para korban. Aku yakin itu karena ada sisa bau darah di sayapnya."
Sementara itu, Sammy masih mencari-cari jejak atau pun bukti yang mungkin tertinggal. Kemudian tanpa disengaja ia menemukan potongan kain hitam. Di potongan kain tersebut ada gambar mata satu dan dibawahnya ada sebuah tulisan.
"Lab devil? Apakah ini adalah dalang dari kekacauan yang sedang terjadi? Aku harus memberitahu Valencia terlebih dahulu sebelum berasumsi macam-macam."
Lima belas menit berlalu, mereka pun menyudahi penyelidikan mereka. Keduanya kembali bertemu di tempat semula.
"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Valencia.
"Ya, bagaimana denganmu?"
Valencia menunjukkan kepada Sammy potongan sayap yang dia temukan.
"Aku menemukan potongan sayap ini, kemungkinan potongan sayapnya adalah bagian dari tubuh makhluk penghisap darah. Lalu kau sendiri menemukan apa?"
"Aku menemukan ini." Sammy memperlihatkan potongan kain hitam ke Valencia. "Di permukaan kain ini tertera sebuah gambar mata satu dan di bawahnya ada tulisan lab devil."
Valencia membelalak kaget, tubuhnya membeku dan kehilangan kata-kata untuk berbicara.
"Apa? Lab devil?"
"Ya, lab devil? Apa yang membuatmu begitu terkejut? Apa jangan-jangan kau tahu sesuatu tentang lab devil?"
__ADS_1
Valencia menggeleng cepat. "Tidak, bukan begitu. Sekarang ayo kita kembali, langit sudah semakin gelap."
Ekspresi Valencia terlihat tidak baik, lab devil terlalu membuatnya terkejut. Gadis itu berlari menuju kudanya, ia memacu langkah menuju kediaman Archduke Calestine.
Sesampainya di mansion, Valencia langsung kembali ke kamarnya tanpa menyapa Henzo terlebih dahulu. Sikap Valencia membuat Sammy merasa keheranan.
"Sammy, dari mana saja kau?" tanya Frintz yang ternyata juga berada di mansion Archduke Calestine.
"Aku pergi menemani Valencia melakukan penyelidikan terkait kematian misterius penduduk wilayah pinggiran," jawab Sammy.
"Lalu di mana Valencia? Aku tidak melihatnya."
"Dia langsung masuk ke dalam, setelah melakukan penyelidikan tadi dia menjadi sangat aneh."
"Begitu ya, apakah ada sesuatu yang kau temukan di sana?"
Sammy mengajak Frintz untuk pergi ke tempat yang lebih sepi, ia akan menjelaskannya di sana nanti.
"Aku menemukan ini. Bisakah kau mencari tahu tentang lab devil?" Sammy menyerahkan potongan kain berlambang lab devil kepada Frintz.
"Tunggu! Kau bilang lab devil?"
"Benar, lab devil. Itu tertulis di potongan kainnya. Apa kau tahu sesuatu soal lab devil?"
Frintz terdiam menatap potongan kain itu, pengetahuannya yang luas soal sejarah dunia pasti mengetahui perihal lab devil. Hal tersebut tidak asing di kepalanya.
"Ya, aku tahu. Tetapi, sebelum itu lebih baik kau kumpulkan yang lain, aku akan menjelaskannya nanti."
Sammy memanggil Reibert, Leano, Xeros, Rexid, serta Ivanov yang sedang libur dari pekerjaannya sebagai pendeta. Mereka tiba sangat cepat di kediaman Archduke Calestine. Atmosfer sekitar terasa cukup dingin. Mereka bertujuh berkumpul di satu ruang yang telah disediakan.
"Ada apa kau mengumpulkan kami?" tanya Rexid.
"Kalian sudah mendengar soal kematian misterius penduduk wilayah pinggiran, bukan? Nah, Valencia dan Sammy telah melakukan penyelidikan lalu menemukan beberapa bukti keberadaan makhluk penghisap darah. Salah satu bukti yang paling mengganjal adalah ini."
Frintz menaruh potongan kain berlambang lab devil ke tengah meja agar dapat dilihat oleh semua orang.
"Apa ini? Ini hanyalah potongan kain biasa," ucap Xeros.
"Itulah alasan aku mengumpulkan kalian di sini. Lihatlah lambang di lainnya, ini merupakan lambang lab devil. Sepengetahuanku, lab devil merupakan organisasi yang melakukan berbagai eksperimen berbahaya."
"Mereka dulu beraksi di dataran benua Mihovil. Namun, keberadaan mereka dimusnahkan oleh Klarybell. Lab devil terkenal oleh kesadisan mereka dalam melakukan eksperimen. Apakah kalian tahu? Klarybell adalah hasil dari eksperimen lab devil," papar Frintz.
Penjelasan yang cukup mudah dicerna, tapi tampaknya orang-orang yang menerima penjelasan itu terkejut bukan main.
"Klarybell adalah hasil eksperimen lab devil? Apa kau serius?" tanya Leano.
"Aku serius, itu dikarenakan orang tua Klarybell menginginkan anak yang sempurna. Kedua orang tuanya menuntut Klarybell menjadi orang yang hebat di segala bidang."
"Baik itu di bidang seni, kecantikan, medis, sihir, dan yang lain. Oleh sebab itulah Klarybell dijuluki makhluk paling sempurna pada masanya. Akan tetapi, semuanya berubah menjadi bumerang. Klarybell hilang kendali atas sihirnya hingga ia tega membunuh kedua orang tuanya sendiri."
"Klarybell menyimpan dendam besar terhadap orang tua dan pihak lab devil. Dia menghancurkan semuanya, bahkan satu kekaisaran hilang akibat ledakan sihirnya. Semenjak saat itu, Klarybell hidup di dalam trauma penyiksaan dan menjadikannya sebagai penyihir berhati dingin," jelas Frintz.
Frintz seolah-olah mengetahui dengan baik kehidupan Klarybell. Hal itu membuat yang lain takjub dengan luasnya wawasan Frintz.
"Sebentar, aku ingin bertanya. Dari mana kau mendapatkan info sebanyak itu terkait hidup Klarybell? Sepengetahuanku, tidak ada penjelasan detail soal Klarybell di buku mana pun," tanya Reibert.
"Ah, itu aku dapatkan dari sebuah buku tua yang bertulis tangan. Anehnya, buku itu menghilang setelah aku membaca isinya. Yang jelas sekarang jika terbukti musuh kita adalah lab devil, maka lawan kita bukan lawan yang sederhana," tutur Frintz.
"Kau bilang lab devil itu organisasi yang melakukan eksperimen berbahaya. Kalau begitu, besar kemungkinan gadis yang dilaporkan menghilang adalah bagian dari perbuatan lab devil," ujar Reibert.
"Lab devil ingin menjadikan mereka sebagai bahan eksperimen. Aku rasa ini cukup masuk akal menggabungkan seluruh masalah yang ada saat ini," timpal Sammy.
__ADS_1
Yang lain juga setuju atas pendapat mereka, tidak ada yang patut disalahkan selain lab devil.
"Aku akan membicarakan masalah ini dengan Archduke dan Valencia. Nanti kita akan menunggu perintah untuk bertindak lebih lanjut," pungkas Frintz mengakhiri pembicaraan mereka.