
Valencia menyusun ulang rangkaian rencana untuk menjatuhkan Rudolf. Dia dibantu oleh ketujuh Pangeran. Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, Valencia berniat melakukan sesuatu untuk Linnea sebelum dia mati nanti.
Valencia meminta izin untuk menemui Linnea di penjara istana. Tentu saja Abraham memberi izin kepada Valencia untuk berbuat apa pun sesuka hatinya terhadap Linnea. Semua orang sekarang menaruh kebencian mendalam kepada Linnea. Gadis remaja yang punya pikiran jahat membuat banyak orang tak habis pikir dengan kelakuannya.
Ketika Valencia sudah berada di penjara, dia melihat Linnea sedang meringkuk di sudut ruang tempatnya terkurung. Suara derap kaki Valencia menyadarkannya dari lamunan tiada akhir.
"Halo, Linnea. Bagaimana kabarmu? Apa kau menikmati hukumanmu?" sapa Valencia.
Linnea buru-buru bangkit lalu berdiri lebih dekat dengan Valencia.
"Kenapa kau kemari? Apa kau berubah pikiran untuk membebaskanku?"
Valencia memutar bola mata malas, Linnea tidak berniat untuk mengubah karakternya yang menjijikkan itu. Sekarang dia bukan siapa-siapa lagi selain tahanan penjara yang sedang menunggu ajalnya.
"Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah membebaskanmu dari penjara," ketus Valencia.
"Lalu apa alasanmu menemuiku?"
Mimik wajah Linnea berubah cepat, kini dia terlihat putus asa sekaligus dendam terhadap Valencia. Baginya tidak ada gunanya keberadaan Valencia di sini kalau bukan untuk membebaskannya.
"Tentu saja untuk menyapamu, aku ingin melihatmu menderita perlahan lalu mati tersiksa. Aku ingin kau merasakan apa yang dulu pernah dirasakan Valencia!" tekan Valencia.
Linnea tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Valencia saat ini. Sudah jelas diri Valencia sekarang ada di sini lalu dia malah menyebut dirinya seperti menyebut orang lain.
"Maksudmu apa? Memangnya kau bukan Valencia? Kenapa kau menyebut dirimu seperti menyebut orang lain?" balas Linnea mencoba membantah.
Valencia melipat kedua tangannya di dada sembari tersenyum miris. Valencia kehabisan rasa sabarnya dalam menghadapi Linnea.
"Valencia sudah lama mati," ucap Valencia tegas.
"Apa yang kau katakan? Kau mati? Padahal kau jelas dari di sini, di hadapanku saat ini."
__ADS_1
"Hahaha." Valencia terkikik mendengar sekaligus melihat ekspresi Linnea. "Kau bercanda? Aku ini bukan Valencia. Sejak insiden percobaan bunuh diri itu Valencia sudah mati."
Deg!
Darah Linnea berdesir hebat, sulit mempercayai apa yang dikatakan oleh Valencia. Apalagi itu manusia biasa, mereka akan berpendapat bahwa mustahil ada sesuatu kejadian yang seperti ini. Ketika seseorang mati, tubuhnya akan mati, tak ada kejadian di mana tubuh mati digantikan jiwa lain.
"Lalu kau siapa? Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?!" teriak Linnea menuntut penjelasan lebih.
Valencia menatap lekat Linnea, mungkin saat ini darahnya mendidih dan ingin memukuli Valencia sampai mati. Akan tetapi, niatnya malah terhalangi oleh jeruji besi yang mengurungnya.
"Aku adalah Klarybell Berliana, Penyihir Agung terhormat sekaligus penguasa benua Mihovil."
"Bohong!" sergah Linnea. "Klarybell sudah mati! Mustahil dia masih hidup. Kematiannya telah dikonfirmasi bahkan oleh sejarah sekali pun. Kau jangan membuat kebohongan yang bisa membodohiku. Jangan harap aku mempercayaimu dengan mudah."
Valencia menanggapi Linnea dengan amat santai. Perihal Linnea merupakan hal mudah untuk dia atasi. Terlebih, mental Linnea paling rentan terkena masalah.
"Aku tidak memintamu untuk percaya." Valencia memperlihatkan bayangan jiwa Klarybell kepada Linnea. "Rambut biru gelap dan mata violet jernih, kira-kira siapa lagi yang mempunyai ciri-ciri fisik seperti ini? Tidak ada kan?"
"Kau masih belum percaya? Biar aku tunjukkan sesuatu kepadamu."
Dari ujung jemari telunjuk Valencia keluar seperti laser yang hampir melesat dan mengenai wajah Linnea.
"Aarrrghhh! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin. Ini pasti mimpi, tidak mungkin yang akun lawan selama ini adalah Klarybell."
Linnea histeris, kejiwaannya terguncang setelah mengetahui fakta soal identitas Valencia.
"Ini kenyataan, ini adalah dunia nyata, kau tidak bisa lari atau pun mengelak. Aku adalah Klarybell, orang yang membantu Valencia membalaskan dendamnya. Dia mati karena ulahmu! Jangan harap kau dapat kabur dari alam kematian. Kau akan menerima balasannya karena menjadi salah satu orang yang membunuh Valencia. Aku harap kau mati tersiksa, Linnea."
Valencia semakin membuat mental Linnea hancur berkeping-keping. Wanita itu tidak kuat mendengar suara Valencia yang mencoba mengorek kewarasannya.
"Hentikan! Aku tidak mau mendengar suaramu lagi! Aku yang akan membuatmu menderita! Aku tidak akan pernah mati—"
__ADS_1
Ujung jemari telunjuk Valencia menyentuh kening Linnea tiba-tiba. Sudut bibirnya terangkat menyiratkan sebuah rencana licik yang mungkin mendatangkan penderitaan baru bagi Linnea.
"Ucapkan selamat tinggal pada wajah mulusmu," ujar Valencia.
Sebuah aliran sihir memasuki wajah Linnea. Dalam sekejap, wajah mulus Linnea berubah hancur dan terlihat mengerikan.
"Arrghhh! Wajahku! Apa yang telah kau lakukan dengan wajahku?! Kembalikan wajah cantikku. Tolong kembalikan lagi seperti semula!" teriak Linnea tak terima.
"Anggap saja ini salah satu hukuman untukmu, Linnea. Bersyukurlah aku masih membiarkanmu hidup hari ini."
Selepas itu, Valencia keluar dari penjara, dia meninggalkan Linnea yang histeris dan menangis menahan sakit di wajahnya. Satu-satunya hal yang paling dia lindungi kini hancur begitu saja dengan sangat mudah. Wajah adalah harta, dia bisa mendapatkan segalanya karena wajahnya tersebut.
Sesudah kedatangan Valencia ke penjara, tepatnya di hari berikutnya Rudolf datang secara khusus untuk melihat kondisi Linnea. Betapa kaget ia menemukan wajah Linnea hancur seperti monster. Lalu dari wajahnya menyeruak bau tak sedap seperti bangkai.
"Yang Mulia, akhirnya Anda datang! Apakah Anda kemari untuk menolong saya?" Linnea merekahkan senyum bahagia, dia hampir lupa kalau dirinya memiliki seorang tunangan yang dianggap akan menjadi Kaisar masa depan.
"Menjijikkan! Dasar kau tidak tahu malu! Menjauhlah ke belakang, jangan terlalu dekat denganku. Apa kau tidak sadar kalau baumu seperti bangkai? Tetapi, aku rasa bangkai lebih baik dari bau wajahmu yang hancur itu," hina Rudolf.
Linnea beringsut mundur ke belakang, tidak percaya kalau Rudolf akan sekasar itu padanya. Selama ini Rudolf memperlakukannya begitu lembut. Akan tetapi, hari ini berbeda, Rudolf menyuruhnya untuk menjauh dan melayangkan tatapan jijik karena mukanya.
"Sekarang Anda kemari ada apa, Yang Mulia? Apakah ada sesuatu yang Anda perlukan?" tanya Linnea bernada suara rendah.
Rudolf menutup hidungnya rapat-rapat, dia tidak tahan dengan baunya Linnea. Hampir saja dia muntah kala itu mencium aroma busuk itu.
"Tanda tangani ini." Rudolf menyerahkan selembar dokumen kepada Linnea.
"Apa ini, Yang Mulia?" tanya Linnea.
"Kau baca saja sendiri, apa kau tidak bisa melihat huruf-hurufnya?" ketus Rudolf.
Linnea membaca satu persatu kata yang tertoreh di atas kertas tersebut. Tiada henti kedua tangannya gemetar saat menerima kertas itu dari Rudolf.
__ADS_1
"Surat resmi pembatalan pertunangan? Apa maksudnya ini, Yang Mulia?"