
Sekujur badan Linnea lemas membaca surat resmi pembatalan pertunangan yang diserahkan oleh Rudolf kepadanya. Linnea tidak bisa berkata-kata, suaranya tercekat di tenggorokan, pikirannya buyar karena hal itu. Rudolf hanya memandanginya tanpa rasa bersalah, Linnea menelan kenyataan pahit seusai mendapatkan musibah yang merenggut hal paling berarti dari dirinya.
“Memangnya apa lagi? Itu surat pembatalan pertunangan kita. Aku ingin mengakhiri pertunangan tidak berguna ini. Cepat kau tanda tangani itu! Aku tidak tahan lagi menghirup bau busuk dari wajahmu yang menjijikkan itu,” hina Rudolf.
Sekali lagi Linnea sangat terkejut mendapati perkataan yang bersifat menghina dirinya secara terang-terangan. Seperti yang dia ketahui selama ini, Rudolf merupakan sosok pria berhati malaikat serta mempunyai tutur kata yang lembut. Akan tetapi, mata Linnea terbuka, dia melihat jelas siapa sosok sebenarnya di balik topeng malaikat yang digunakan untuk membujuk rayu orang lain.
“Saya tidak habis pikir, kenapa sekarang Anda malah berubah? Bukankah biasa Anda sangat lembut kepada saya? Atau mungkinkah ini diri Anda yang sebenarnya?”
Rudolf mengerutkan keningnya, perlahan terdengar suara tawa menggelegar di lorong penjara bawah tanah. Entah sudah berapa banyak orang yang tertipu berkat aktingnya selama ini, dia dengan mudah memperdaya orang lain hanya menggunakan senyum dan kata-kata lembut.
“Ya, inilah diriku yang sebenarnya! Manusia bodoh seperti kalian mudah sekali tertipu karena topeng yang aku gunakan sebaik mungkin untuk menutupi sifat burukku. Lagi pula tidak ada gunanya lagi aku menutupi diriku darimu,”
Linnea menggeram marah, kedua tangannya mengepal kuat, sesaat dia merasakan penyesalan yang amat mendalam. Dia mengakui kemungkinan dosanya terhadap Valencia kini dibayar melalui karma yang lebih buruk dari bayangannya.
“Kenapa? Kenapa saya harus menerima penghinaan ini?! Apa salah saya kepada Anda, Yang Mulia? Apakah tidak ada sedikit pun hati nurani Anda? Apakah Anda tidak merasa iba melihat saya seperti ini?” rengek Linnea menangis tersedu-sedu.
“Astaga, Linnea. Kau menganggap aku serius denganmu? Aku tidak serius sama sekali. Sejak awal aku hanya memanfaatkanmu saja. Aku ingin kau membunuh Valencia menggunakan tanganmu, bukan tanganku. Jadi, jika dia berhasil terbunuh, maka aku tinggal menyalahkanmu saja. Namun, siapa sangka kalau dia selalu lolos dari maut, keberuntungannya sangatlah bagus, aku akui itu.”
Rudolf mengungkapkan maksud tersembunyinya selama ini terhadap Linnea, tiada ketulusan yang dia jalin ke dalam hubungan pertunangan di antara keduanya.
“Anda tega, Yang Mulia. Anda tega! Apa dosa saya kepada Anda?! Anda jahat sekali karena telah menyakiti saya,” lirih Linnea.
__ADS_1
“Jahat? Hei! Kau tidak bercermin? Kau juga memanfaatkanku untuk mendapatkan posisi Permaisuri kan? Maka dari itu, jangan merasa paling tersakiti. Di sini kau juga mengharapkan sesuatu dariku, begitu pula aku. Kita sama, Linnea! Sama-sama buta kekuasaan, buta harta, dan buta karena kedengkian.”
“Tetapi, saya tidak sejahat Anda sampai berniat mengorbankan saya! Anda benar-benar manusia berhati iblis!” teriak Linnea dengan air mata yang terus menerus mengucur.
“Aku tidak peduli, yang penting tujuanku tercapai untuk menguasai benua ini. Sekarang tanda tangani surat itu lalu serahkan lagi padaku. Cepat!” desak Rudolf.
Linnea pada akhirnya terpaksa menandatangani suratnya dan menyerahkan lagi kepada Rudolf.
“Nah, kalau begini aku tidak perlu lagi memaksamu dan membuang-buang energiku untuk membentakmu. Aku pergi dulu, nikmatilah masa-masa terakhir hidupmu di penjara ini.”
Rudolf buru-buru pergi menjauhi penjara, bau dari wajah Linnea membuat perutnya semakin mual. Sementara itu, tubuh Linnea meluruh ke atas lantai, tungkai kakinya tidak lagi kuat menahan beban badannya. Tangisan Linnea bertambah kencang, ia memukuli dadanya yang terasa luar biasa sesak dan sakit seolah-olah ditusuk ribuan jarum.
“Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang paling kau percayai? Pasti sakit kan?”
“Mau apa lagi kau datang kemari? Apakah kau hanya ingin menertawakan hidupku?!”
“Tidak, aku hanya ingin menyerahkan ini padamu, siapa tahu kau butuh.”
Valencia melemparkan sebuah pisau kecil kepada Linnea, meski kecil tapi ketajamannya tidak perlu diragukan lagi. Linnea memungut pisau itu, dia masih belum paham maksud dari pisau yang dilemparkan Valencia.
“Kenapa kau memberiku pisau?” tanya Linnea tidak ramah seperti biasanya.
__ADS_1
“Kau akan membutuhkannya nanti untuk mengiris nadimu sampai mati. Tidakkah kau sekarang merasa ingin mati? Jadi, gunakan itu untuk membunuh dirimu sendiri. Tidak akan ada orang yang mempedulikan hidupmu. Kau ditakdirkan untuk mati menderita di dalam kesendirian.”
Perkataan Valencia memenuhi isi kepala Linnea, gadis itu berhasil mendapatkan kata-kata yang menghipnotis dirinya. Kepalanya sakit, suara-suara aneh berdengung di kepalanya, itu adalah suara kematian yang didengar oleh Linnea.
“Karena kau diam saja, aku anggap kau mengerti apa yang aku katakan. Sekarang aku pergi dulu, ingatlah apa yang aku katakan padamu,” ujar Valencia melangkah keluar dari penjara.
Linnea masih terpaku, tubuhnya membatu memandangi pisau pemberian Valencia.
“Aku harus mati di dalam kesendirian, aku harus mati! Aku tidak mau lagi hidup. Tidak ada alasanku untuk hidup lebih lama di dunia ini. Aku ingin mati, aku tak mau ditinggal sendirian,” gumam Linnea.
Valencia berhasil mencuci otak Linnea, sebentar lagi Linnea akan menemukan ajalnya. Valencia tiada henti tersenyum bahagia, dengan begini dia bisa fokus menghadapi Rudolf.
“Kenapa kau buru-buru ingin membunuh Linnea? Tidakkah menurutmu lebih baik dia dibiarkan menderita lebih lama lagi?” tanya Rexid tidak paham maksud dari isi pikiran Valencia.
“Tidak bisa, jika aku membiarkannya hidup lebih lama lagi maka aku khawatir tubuhnya akan dijadikan sebagai wadah kejahatan oleh pihak musuh. Tidak ada salahnya kita lebih waspada sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” jelas Valencia.
Ketujuh Pangeran yang berada di ruangan yang sama dengan Valencia mengangguk paham. Mereka tidak tahu banyak soal dunia sihir sehingga mereka harus menuruti apa pun perkataan Valencia bila itu terkait sihir.
“Apa yang akan kau lakukan setelah berhasil mengatasi masalah Rudolf?” Leano tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Valencia terdiam.
Tidak mungkin dia menjawab yang sejujurnya kepada mereka, identitasnya merupakan sebuah rahasia besar yang tidak bisa diberi tahu ke siapa pun itu, kecuali dirinya berada di posisi di mana mengharuskannya membuka identitasnya.
__ADS_1
Valencia menghela napas panjang, semua orang menunggu jawaban yang pasti dari mulut Valencia.
“Aku masih belum tahu ingin melakukan apa, yang jelas aku akan melakukan sesuatu yang bisa saja mengguncang dunia ini. Untuk sekarang mari pikirkan cara menjebak Rudolf supaya dia bisa aku kirim juga ke neraka.”