
Adarian baru saja mendapatkan laporan hasil penyelidikan mengenai Guilla. Dia membaca secara teliti sejumlah fakta yang tertulis rapi di atas selembar kertas. Darahnya mendidih ketika fakta tersebut bermunculan bersamaan beberapa ingatan yang pernah hilang dari ruang memorinya.
"Wanita ini benar-benar gila."
Di sana tertulis bahwasanya Guilla dan Adarian tidak pernah berinteraksi menjelang pernikahannya dengan Helen. Kemudian disertai ingatan kalau wanita itu hanya pernah bertemu Adarian satu kali saat festival ibu kota. Kala itu Adarian sedang berkencan dengan Helen.
Diikuti fakta lainnya bahwasanya Adarian tidak pernah berhubungan badan dengan wanita selain Helen sepanjang waktu lajangnya. Dengan artian lain, Endry bukanlah anak kandung Adarian.
Guilla adalah seorang wanita penghibur, dahulu dia pernah terlibat konflik dengan seorang pria yang mengaku sebagai kekasih Guilla. Diketahui juga bahwa kala itu Guilla tengah hamil anak dari pria tersebut.
"Dia sudah berbuat sejauh ini, tampaknya dia tidak punya rasa takut karena telah berhasil mengelabuiku."
Adarian meremukkan kertas hasil laporannya. Rasanya sungguh ingin menghantam Guilla untuk keluar dari kediaman ini. Akan tetapi, Adarian mengurungkan niatnya dan memutuskan akan memberi pelajaran terhadap apa yang pernah dilakukan Guilla.
"Ingatanku dimanipulasi, mungkinkah dia menggunakan sihir? Aku dan Helen saling mencintai, aku tidak pernah menyalahkan Helen karena telah melahirkan anak perempuan. Hidup kami berjalan normal sampai usia Valencia menginjak lima tahun. Aku sangat menyesal karena membiarkan putriku menderita seorang diri."
Tanpa terasa, air mata bergulir dari sepasang manik Adarian. Perasaan bersalah yang amat besar meruntuhkan hatinya.
"Aku Ayah yang tidak berguna, aku bahkan tidak bisa melindungi putriku saat sedang dirundung masalah."
Helen dari celah pintu mendengar semua apa yang digumamkan Adarian. Sejujurnya, perasaannya jauh lebih sakit sebab dia membuat Valencia hampir mati berulang kali.
Valencia tumbuh tanpa figur seorang Ibu, ia melawan setiap masalah sendirian tanpa ada yang memberinya dorongan untuk tetap bertahan. Gadis kecil yang pernah dia sayangi dulu kini tak lagi bersama dirinya.
"Yang Mulia, bisakah kita pergi menemui Valencia?"
Helen tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Lekas Adarian mengusap air matanya sebelum berbicara dengan Helen.
"Valencia takkan mau menemui kita, aku sudah mencoba mengirim surat beberapa kali dan tidak ada satu pun balasan."
Dengan mata berkaca-kaca, Helen mendekat ke tempat duduk Adarian. Kesedihan besar terpendam begitu dalam di relung hatinya.
"Saya yakin, kali ini Valencia pasti mau menemui kita. Jadi, saya mohon, satu kali ini saja kita harus bertemu Valencia. Setidaknya saya ingin berbicara serius dengannya sebagai orang tua dan anak," kukuh Helen.
Adarian mengembuskan napas berat, memang tidak ada salahnya mencoba untuk bertemu Valencia sekali saja demi menceritakan masalah yang terabaikan selama ini.
"Baiklah, mari kita pergi ke kediaman Archduke Calestine."
__ADS_1
Adarian dan Helen langsung berangkat menuju kediaman Archduke Calestine. Mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bahkan, kedatangan mereka tidak disambut baik oleh penghuni mansion.
"Tolong pertemukan kami dengan Valencia sebentar saja. Ada hal penting yang harus dibicarakan."
Adarian memohon kepada kesatria yang mencoba menghalangi langkah mereka berdua untuk bertemu Valencia. Terdapat penolakan oleh penghuni mansion sebab mereka tidak ingin Nona mereka tersakiti gara-gara Adarian dan Helen.
"Maafkan kami, Yang Mulia. Kalau Anda berdua belum membuat janji temu dengan Nona, maka kami tak bisa mengizinkan Anda untuk masuk."
"Tolong, sebentar saja. Hanya sepuluh menit, tidak lebih."
Kegaduhan di depan gerbang utama mengundang rasa penasaran Henzo yang kebetulan sedang lewat dekat gerbang. Henzo langsung menghampiri kesatria yang tengah gaduh tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Henzo menengahi situasi kala itu.
"Maaf, Yang Mulia. Grand Duke dan Grand Duchess Allerick ingin bertemu Nona. Namun, mereka berdua belum membuat janji temu dengan Nona. Oleh karena itu, kami tidak bisa memberi izin masuk."
Henzo menatap lekat Adarian dan Helen, sesungguhnya dia sendiri tidak suka melihat keberadaan mereka di kediaman ini.
"Ada apa kalian ingin bertemu putriku? Bukankah urusan kita sudah selesai? Jangan coba-coba datang untuk mengacau di sini," tekan Henzo.
Keduanya merasakan terintimidasi oleh tekanan Henzo. Mereka tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan Henzo.
"Apa pun alasan kalian, kalian tidak boleh menemui Valencia. Dia putriku sekarang, lalu apakah kalian baru merasa menyesal menyia-nyiakannya?"
Perkataan Henzo mengenai tepat ke ulu hati mereka. Tidak dapat disangkal, mereka memang menyesali perbuatan mereka di masa lalu. Akan tetapi, itu bukanlah kehendak mereka melainkan pengaruh dari mantra Guilla.
"Ada apa? Mengapa di sini sangat ribut?"
Valencia menyadari adanya keributan, dia datang mendekati Henzo untuk melihat gerangan yang terjadi. Lalu penglihatannya terpaku pada kemunculan kedua orang tuanya.
"Valencia, Grand Duke dan Grand Duchess ingin menemuimu, tetapi mereka tidak membuat janji temu denganmu. Apa kau mau mengusir mereka?" tanya Henzo.
"Tidak, biarkan mereka masuk. Aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan dengan mereka," ujar Valencia.
Adarian dan Helen tampak lega, keduanya bersyukur Valencia masih mau menemui mereka. Henzo memutar bola mata malas, dia akhirnya terpaksa memberi izin masuk kedua orang itu.
"Baiklah. Cepat kalian masuk! Awas saja kalau kalian sampai membuat Valencia sedih," gertak Henzo.
__ADS_1
Valencia membawa mereka berdua ke ruang tamu. Mereka cukup terkesan karena hidup Valencia berbanding terbalik dengan kehidupannya di kediaman Grand Duke Allerick. Pasalnya, Valencia diperlakukan sangat baik di sini dan Henzo menyediakan berbagai fasilitas mewah untuk Valencia.
"Katakanlah, apa yang membawa kalian kemari? Aku yakin, ada sesuatu yang ingin kalian jelaskan," kata Valencia.
Secara mengejutkan, Adarian dan Helen berlutut di hadapan Valencia. Tubuh mereka tiada henti gemetar sejak masuk ke dalam kediaman ini.
"Valencia, kami tidak memintamu untuk memaafkan seluruh kesalahan kami terhadapmu. Namun, kami benar-benar menyesali semua yang terjadi kepadamu. Aku gagal sebagai Ayah dan Helen gagal sebagai Ibu. Akan tetapi, kami tidak bermaksud memperlakukanmu dengan buruk," tutur Adarian.
"Kami telah membiarkanmu sendirian selama ini, kami mengabaikanmu, bahkan mengasarimu. Tetapi, Ayah dan Ibu telah dibutatakan oleh sihir sehingga kami tak mampu berpikir jernih. Maafkan Ibu, Valencia ... aku tahu tidak pantas mengatakan ini, tapi aku sungguh ingin membayar semua yang telah aku lakukan terhadap dirimu," imbuh Helen.
Valencia menghela napas, dia mengerti sepenuhnya apa yang dirasakan kedua orang tua dari si pemilik tubuh.
"Sebaiknya kalian bangkit, aku tidak bisa menerima permintaan maaf atau apa pun itu."
Tangis keduanya pecah bersamaan, mendengar putrinya berkata demikian menambah rasa bersalah yang kian membara di dada.
"Ya, aku rasa memang sulit memaafkan—"
"Bukan begitu maksudku, kalian terlambat jika baru meminta maaf sekarang. Apakah itu karena ingatan kalian telah kembali seperti sedia kala? Mantra sihir dari wanita gila itu mengekang kalian."
Mereka serentak mendongakkan kepala ke arah Valencia.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Helen.
"Maka dari itu, aku mengatakan kalau kalian terlambat. Valencia, putri kalian sudah lama mati."
Deg!
Degup jantung Adarian dan Helen menjadi tidak karuan. Mereka tidak tahu apa yang sedang putri mereka bicarakan.
"Apa yang sedang kau katakan? Jelas-jelas kau sedang duduk di hadapan kami."
Valencia merekahkan senyum tipis sambil menyeruput secangkir teh hangat.
"Valencia sudah mati sejak hari percobaan bunuh diri terjadi. Lalu aku adalah jiwa yang meminjam tubuh putri kalian," ungkap Valencia.
"A-Apa? S-Siapa kau yang sebenarnya?"
__ADS_1
Valencia bangkit dari tempat duduknya, ia menarik kedua sisi gaunnya seraya membungkukkan badannya. Sebuah aura tidak biasa memancar begitu kuat dari tubuhnya.
"Perkenalkan, aku Klarybell Berliana, Penyihir Agung terhormat sekaligus penguasa benua Mihovil."