
Setelah menyelesaikan urusannya di istana, Valencia kembali lagi ke akademi bersama Xeros. Sesampainya mereka di akademi, keduanya langsung dihadapkan pada masalah yang cukup rumit. Di depan gerbang akademi, ramai orang yang menunggu kepulangan Valencia.
Orang-orang itu merupakan orang tua dari anak yang mengalami pelecehan yang dilakukan oleh mantan Kepala Akademi. Mereka terlihat berada di situasi yang rumit serta penampilan mereka yang kusut. Hal itu menandakan bahwa mereka tengah mengalami masa-masa sulit sepanjang mengurus masalah anak mereka.
"Itu Nona Valencia!"
Ketika mereka melihat Valencia datang, mereka langsung menyerbu ke arah si gadis itu. Valencia menatap datar dan bingung aksi mereka yang masih belum diketahui maksud serta tujuannya.
"Ada apa? Kalian ada urusan denganku?" tanya Valencia seraya memberi isyarat kepada Xeros untuk masuk lebih dulu ke dalam.
Kini hanya tinggal Valencia bersama orang-orang itu. Di sini Valencia tetap mencoba bersikap tenang lalu menanti penjelasan dari mereka.
"Nona, bisakah kita berbicara sebentar? Kami hendak masuk ke dalam tapi dilarang oleh para penjaga. Ini berkaitan dengan masalah putri kami," ujar salah seorang dari mereka.
"Baiklah, mari bicara. Tetapi, aku rasa di sini bukan tempat yang pas. Ayo bicara di belakang akademi ini saja, ada tempat kosong di sana."
Mereka pun bergerak ke belakang akademi, di sana jarang ada orang yang lewat dan tempatnya cukup luas untuk berbincang.
"Jadi, ada apa kalian ingin menemuiku? Apakah ada masalah?" tanya Valencia.
"Nona, kami adalah orang tua dari anak-anak yang dilecehkan oleh Tuan Joseth. Sebagian dari putri kami ada yang telah berbadan dua. Lalu beberapa hari ini pihak pengadilan terus melakukan teror."
"Teror? Teror sejenis apa yang dilakukan oleh mereka terhadap kalian?"
"Mereka mencoba membungkam mulut kami dan menyuruh kami memberi kesaksian palsu. Pihak pengadilan menyuruh kami mengatakan bahwa sebenarnya putri kami yang menggoda Tuan Joseth. Mereka bahkan mencoba untuk menyuap kami, Nona."
Kedua mata Valencia membulat sempurna, tidak disangka pihak pengadilan begitu busuknya menutupi segala kejahatan Joseth di mata masyarakat.
"Lalu apakah kalian menerima penawaran mereka?"
Orang-orang itu menggeleng cepat. "Kami tidak mungkin menukarkan masa depan putri kami dengan sejumlah uang. Kami memang bangsawan miskin, tapi bukan berarti kami bisa dikendalikan sepenuhnya menggunakan uang."
Valencia cukup salut dengan pemikiran mereka, untung saja mereka menolak sehingga hal itu takkan memberatkan korban ketika di pengadilan nanti.
"Alasan kalian menemuiku, apakah karena hal itu?"
"Benar, Nona, kami dengar Anda berseteru dengan pihak pengadilan. Kami memohon perlindungan kepada Anda dan kami memohon untuk menyelamatkan putri kami. Apabila kami terus menerus menolak tawaran pengadilan, maka mereka mengancam akan membunuh kami."
Sebuah langkah yang berani, pihak pengadilan sampai menjatuhkan ancaman serius kepada mereka. Tentu saja Valencia tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut dan berjalan sesuai keinginan pihak pengadilan.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi pihak istana dan Archduke Calestine untuk melindungi kalian sementara waktu. Sedangkan untuk masalah pihak pengadilan, aku sendiri yang akan turun tangan."
Raut muka mereka berubah sumringah, keputusan mereka meminta bantuan Valencia tidaklah salah. Gadis itu takkan membiarkan orang-orang seperti mereka jatuh ke dalam jebakan manusia busuk seperti pihak pengadilan.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona. Terima kasih, tidak tahu lagi harus bagaimana cara membalas kebaikan Anda."
"Tidak usah terlalu dipikirkan, aku juga punya urusan dengan pihak pengadilan. Sebaiknya, kalian pulang sekarang dan tenangkan putri kalian. Aku akan membantu sebisaku untuk mendapatkan keadilan," tutur Valencia.
"Baik, Nona."
Mereka akhirnya pulang membawa kabar gembira. Kini saatnya Valencia untuk beraksi memberantas ketidakadilan di Kekaisaran Alegra.
"Dari mana aku harus memulainya? Mungkin aku harus menyelinap lagi ke gedung pengadilan untuk melihat seluruh dokumen bukti yang masuk."
***
Hari ini sidang pengadilan pun dimulai, seisi kekaisaran heboh karena sidang tersebut. Valencia akan hadir ke gedung pengadilan, dia telah menyiapkan berbagai rencana untuk menjatuhkan para hakim yang sudah berani mengganggu kehidupan rakyat.
Sejauh mata memandang, Valencia menemukan ada banyak para bangsawan yang hadir ke persidangan hari ini. Mereka merupakan bangsawan terpilih menyaksikan jalannya sidang hari ini. Akan tetapi, para bangsawan yang diundang ialah bangsawan yang dahulunya pernah tersandung kasus dan akhirnya dibebaskan oleh pihak pengadilan.
"Betapa lucunya mereka. Hadir di persidangan terlihat seakan-akan tidak pernah melakukan aksi kejahatan," gumam Valencia.
Valencia duduk di kursi yang telah disediakan, masih belum pasti atas alasan apa Valencia diundang ke persidangan. Hanya saja Valencia menebak bahwa alasan di diundang karena dia membuat kekacauan di gedung pengadilan.
"Marquess Bruno memasuki ruang persidangan."
Seketika seluruh atensi terpusat pada kedatangan seorang pria paruh baya. Dia mengenakan pakaian seorang hakim. Di sini Valencia langsung mengetahui bahwa Marquess Bruno merupakan hakim yang akan memimpin jalannya persidangan hari ini.
'Tampangnya menyebalkan, seharusnya aku bunuh saja dia tadi malam sebelum persidangan berlangsung. Kalau begini, mungkin akan jadi hari yang panjang untukku,' batin Valencia.
Marquess Bruno duduk di kursi hakim, ekspresinya terlihat tenang karena berpikir bahwa dia akan menang di persidangan kali ini. Di ruang tersebut juga ada orang tua dari anak-anak yang dilecehkan Joseth.
"Mari kita mulai persidangan hari ini. Terkait kasus yang dilakukan Joseth Gilv terhadap sejumlah siswi perempuan, pihak pengadilan telah melakukan berbagai penyelidikan."
Beberapa lembar dokumen diberikan kepada Marquess Bruno.
"Aku pikir tidak ada yang perlu diperjelas di sini. Joseth Gilv telah meninggal terbunuh, kita tidak bisa menghukum seseorang yang telah meninggal. Hanya saja ada beberapa bukti yang mengarah kepada putri kalian. Bukti menyatakan bahwasanya putri kalian telah menggoda Joseth Gilv terlebih dahulu," tutur Marquess Bruno.
Sekilas Valencia mendengar gelak tawa kecil dari arah bangsawan yang duduk berjejer di kursi belakang. Mereka sudah tahu akhirnya akan menjadi seperti ini. Tidak tampak keadilan untuk mereka yang menjadi korban.
"Anda tidak bisa seenaknya memutuskannya! Putri kami adalah korban, sebagian dari mereka telah mengandung anak Tuan Joseth. Ini tidak adil jika dibiarkan begitu saja! Lalu apa? Putri menggodanya? Sudah jelas putri kami korban nafs* bej*dnya!"
Satu persatu orang tua korban mulai protes, mereka tak kuasa membendung kemarahan ketika putri mereka dicap sebagai penggoda.
"Kalian bangsawan miskin, memangnya apa yang bisa kalian lakukan? Kalian butuh uang karena putri kalian akan melahirkan? Tentu saja pengadilan akan memberikan uang ganti rugi. Sebaiknya lupakan saja, lagi pula putri kalian yang menggodanya," ucap Marquess Bruno.
Perdebatan panjang terus berlanjut, Marquess Bruno terus menerus mencecar para orang tua korban. Dia memojokkan mereka dan menganggap bahwa kejadian ini sebagian besar disebabkan putri mereka sendiri. Bahkan, Marquess Bruno berencana untuk memenjarakan orang tua korban apabila mereka masih tidak mau menerima apa yang dibicarakannya.
__ADS_1
Valencia berperan sebagai penonton sementara hanya duduk diam sembari sesekali berdecak sebal melihat ketidakadilan ini berlangsung. Para bangsawan yang lain pun turut bersuara, mereka malah memperkeruh suasana di ruang persidangan.
"Ini bukan persidangan, melainkan hanyalah sekedar tempat melampiaskan kekesalan. Pantas saja mereka tidak memperbolehkan Kaisar menghadiri persidangan," gumam Valencia.
Kemudian Valencia mengangkat tangannya untuk menghentikan situasi yang terjadi.
"Permisi, jadi apakah kalian mengundangku hanya untuk menjadi penonton dari aksi tidak berguna ini? Tolong jangan membuang-buang waktuku."
Suara Valencia memecah kehebohan sekitar, mereka mendadak hening dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Marquess Bruno membaca satu dokumen berisi laporan perihal tindakan Valencia yang berada di luar batas.
"Nona Valencia Allerick, Anda di sini dikatakan sebagai dalang kekacauan di gedung pengadilan beberapa waktu lalu dan Anda juga telah membebaskan para tahanan penjara. Apakah itu benar?"
Valencia bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. "Hebat! Kalian mengetahuinya dengan baik. Aku memang membebaskan para tahanan tersebut," jawab Valencia mengakui.
"Kenapa Anda melakukannya? Mereka para tahanan itu telah melakukan tindak kriminal, Anda tidak bisa sembarangan membebaskan mereka," kata Marquess Bruno menatap tajam Valencia.
"Kenapa aku melakukannya? Apakah harus diperjelas lagi?" Valencia bangkit dari tempat duduknya lalu menyeret kursinya ke hadapan Marquess Bruno. "Mungkin kursi ini bisa menjawabnya."
Valencia secara brutal melemparkan kursi ke arah Marquess Bruno. Dengan cepat pria itu menghindar dari lemparan kursi Valencia. Sungguh membuat mereka jantungan, Valencia tidak berpikir panjang melayangkan kursi ke kepala Marquess Bruno.
"Nona Valencia! Saya rasa Anda sudah sangat keterlaluan di sini. Jangan pikir Anda bisa lolos setelah melakukan ini kepada saya!" Marquess Bruno mengamuk dan mengomel panjang lebar.
"Tentu saja aku tetap bisa lolos. Sebenarnya ini mudah, aku bisa membunuhmu kalau aku mau. Bagaimana? Kau bersedia menginjakkan jiwamu di neraka?"
"Keterlaluan! Sekarang Anda bahkan mencoba mengancam akan membunuh saya."
Seisi ruangan marah terhadapnya perbuatan Valencia dinilai sangat kurang ajar. Akan tetapi, respon Valencia di luar dugaan mereka. Gadis itu tidak mempedulikan sama sekali kegeraman orang lain kepadanya.
"Untuk apa aku harus menaruh hormat terhadap orang yang selalu memperlakukan rakyat biasa atau bangsawan tingkat rendah secara tidak adil? Kalian pikir aku tidak tahu kebusukan kalian selama ini? Bayangkan, bagaimana jadinya jika Kaisar tahu semua masalah yang terjadi di pengadilan. Apa yang akan kalian lakukan?"
Hening. Marquess Bruno tidak memberi jawaban langsung terhadap apa yang dikatakan Valencia. Dia selama ini memanipulasi laporannya kepada Abraham, dia juga selalu punya cara membuat Abraham percaya akan laporannya sehingga pihak pengadilan bebas dari kecurigaan istana.
"Nona, Anda—"
BRAK!
Tiba-tiba pintu masuk ruang persidangan didobrak oleh seseorang.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian tidak mengundangku untuk menyaksikan jalannya persidangan di tempat ini? Apa kalian takut jika ada aku?"
Marquess Bruno menganga tak percaya melihat orang yang kini masuk ke ruang persidangan.
"Archduke Calestine, mengapa orang itu mendatangi persidangan ini?"
__ADS_1