
Guncangannya kian menjadi-jadi, Valencia berdiam diri sembari memeluk telur dari singa magikus. Guncangan tersebut mendadak berhenti sejenak, momen ini dimanfaatkan Valencia untuk memeriksa ke luar portal apa gerangan yang sedang terjadi. Namun, ketika ia melangkah ke luar, dia mendapati dirinya tengah berada di gurun tandus.
"Sepertinya guncangan tadi akibat adanya perpindahan tempat."
Valencia melirik ke arah portal kembali, rupanya ada bekas penggunaan artefak sihir.
"Mereka menggunakan artefak sihir untuk memindahkanku ke tempat seperti ini. Tampaknya mereka cukup cerdas, tapi ini saja tidak cukup untuk mengatasiku," gumam Valencia tersenyum seringai.
Permukaan gurun pasir nan tenang mendadak bergetar. Hamparan pasir bergelombang, pertanda akan ada sesuatu yang akan muncul dari bawah sana.
Puluhan ekor kadal gurun raksasa bermunculan dari permukaan pasir. Mereka bukan kadal biasa melainkan makhluk sihir yang menyerupai kadal. Valencia pun langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Baiklah, datanglah kalian kemari! Coba serang aku bersamaan," tantang Valencia.
Para kadal tersebut berhamburan menuju ke arah Valencia. Mereka melempar sejenis cairan asam yang dapat melelehkan apa pun yang dikenainya.
Valencia langsung memasang tameng sihir untuk mementalkan seluruh cairan asam yang terlempar padanya. Ia pun bergerak secepat kilat, gerakannya sulit dibaca oleh mata. Di saat yang membingungkan para kadal itu, Valencia melayangkan serangan sihir. Dari tangannya berkeluaran sekelebat cahaya berwarna ungu tua.
"Mari akhiri ini dengan cepat."
Valencia melempar sihir tersebut, tubuh para kadal itu meledak bersamaan cahaya sihir Valencia membalut tubuh mereka. Valencia menyudahi nyawa seluruh kadal tersebut dalam sekejap mata. Hanya butuh waktu beberapa detik baginya jika menggunakan sihir.
"Akhirnya selesai. Saatnya aku keluar dari tempat ini."
Valencia menjentikkan jemarinya, ia langsung berpindah tempat ke depan portal yang masih ternganga lebar. Valencia behasil keluar, kini dia benar-benar berada di permukaan tanah pegunungan Haleyan.
"Tampaknya Anda memang tidak bisa diremehkan ya, Nona. Bisa keluar dari tempat yang berbahaya tanpa terluka sedikit pun dan hanya memakan waktu beberapa menit saja."
Sekelompok pria berjubah penyihir muncul dari balik pepohonan. Mereka mengepung Valencia, bahkan di sekitar tempat Valencia berdiri telah diberi sihir agar gadis itu tidak kabur dari kejaran mereka.
"Kalian sebut itu tempat berbahaya? Tempat berupa gurun yang dipenuhi kadal menjijikkan, kalian sebut tempat berbahaya? Itu hanyalah tempat bermain anak-anak," jawab Valencia tidak terkejut sedikit pun melihat kedatangan mereka.
__ADS_1
Valencia menatap remeh mereka, dia telah menyadari sejak awal bahwasanya pergerakannya diawasi oleh sejumlah mata yang terlindung menggunakan sihir. Gadis yang tidak kenal takut itu mencoba menyulut kemarahan dari segerombol penyihir yang berada di level yang jauh di bawah dirinya.
'Penyihir bayangan kah? Ya, tidak salah lagi, aura mereka seperti seorang penyihir bayangan. Tidak mungkin aku melupakan aura para bajing*n itu,' batin Valencia.
Mereka nampak geram begitu Valencia mengarahkan tatapan merendahkan. Harga diri mereka terluka karena merasa dihina gadis kecil yang belum berusia tujuh belas tahun.
"Apakah Anda tidak sadar kalau Anda sekarang berada dalam bahaya? Anda tidak akan bisa kabur dari kami."
"Aku tidak takut karena aku juga seorang penyihir."
Valencia memercikkan api dari telapak tangannya, dia membuat para penyihir itu seketika membeku di tempat. Tiada sangka kalau target pembunuhan mereka adalah seorang penyihir seperti mereka.
"Tidak heran kenapa gadis ini bisa lolos dari setiap jebakan yang kita buat. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain lagi selain menyerangnya secara langsung dan bersamaan."
Valencia menyunggingkan senyumnya, ia masih bersikap santai meski tahu mereka akan menyerangnya.
"Ayo maju kalian! Kita selesaikan semuanya sekarang."
Hal yang sama terus menerus terjadi secara berkala, sampai ketika di mana Valencia mulai muak menghaeapi serangan mereka nan begitu lemah, ia pun perlahan menunjukkan keseriusannya.
"Berhentilah bermain-main, sialan!" teriak Valencia muak.
Mereka yang terengah-engah merasakan keanehan dari Valencia. Jumlah sihir di tubuhnya melimpah, berbeda dari para penyihir pada umumnya.
"Kami tidak bermain-main!" Mereka nampak kesal sekali karena semakin diremehkan Valencia.
"Jadi, hanya segini saja kekuatan kalian? Hahaha, sangat menyedihkan."
Valencia terkikik, ia tak menyangka kalau kualitas penyihir bayangan dahulu dan sekarang berbanding terbalik. Anggota kelompok penyihir bayangan pada zaman ini hanya diisi penyihir lemah bermodal nekat.
"Diam! Tutup mulutmu!"
__ADS_1
Tawa Valencia terhenti. "Meninggikan suara padaku sama saja sedang mencari mati."
Aura keseriusan Valencia memancar keluar, sorot matanya amat mematikan.
"Kalian membuatku jengkel."
Cahaya terang dan menyilaukan datang dari tubuh Valencia. Cahaya tersebut perlahan mengisi setiap sudut tempat di pengunungan Haleyan.
"Bersiaplah menerima kematian!"
Berselang beberapa detik, cahaya tersebut melesat ke arah mereka. Pada akhirnya, cahaya dari sihir gadis itu mengenaj tubuh mereka. Tubuh para penyihir itu hancur tak bersisa di udara akibat tekanan sihir nan begitu besar dari Valencia.
Mereka tidak percaya akan bertemu penyihir yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari penyihir yang mereka kenal. Valencia pun berakhir sukses menumpaskan mereka hanya dalam satu kali serangan.
"Kelompok penyihir bayangan tidak pantas diisi oleh orang-orang lemah seperti kalian. Kalian sudah aku kirim ke neraka untuk merenungi perbuatan kalian sendiri. Berterima kasihlah kepadaku nanti sebab telah menghentikan kebodohan kalian di dunia ini."
Setelahnya, Valencia meninggalkan tempat tersebut, sebelah tangannya masih menggenggam telur singa magikus. Dia berencana untuk membawanya pulang ke asrama akademi.
Berjalan sepuluh menit, Valencia sampai di sebuah telaga berair biru jernih. Telaga tersebut sangat tenang, sinar rembulan pun memancar dari permukaan air telaga. Kemudian Valencia berjongkok untuk menyentuh airnya.
"Huh? Bukankah ini adalah air telaga peri? Tidak salah lagi, ini memang telaga peri. Mengapa ada telaga seperti ini di pegunungan Haleyan?"
Telaga peri biasanya digunakan oleh para penyihir di benua Mihovil sebagai bahan tambahan pembuatan obat atau potion. Telaga yang biasa dia temukan di benua Mihovil kini juga ada di benua Solvey, lebih tepatnya di Kekaisaran Alegra.
"Baguslah, dengan tambahan air ini maka krim penyembuh luka Xeros akan bereaksi lebih cepat. Sekarang saatnya aku mencari bahan lainnya."
Valencia mengedarkan pandangannya, ia menyusuri masing-masing tempat yang terjangkau penglihatannya. Berharap bahan yang dia perlukan tumbuh di sekitar telaga.
Senyumnya tiba-tiba melebar sesaat menemukan setangkai bunga berwarna putih kebiruan tengah mekar di bawah sinar rembulan.
"Ah, itu dia! Aku akan segera mengambilnya dan membawanya pul— ARGHHH! Sialan! Aku lengah! Kenapa makhluk ini bisa berada di tempat seperti ini?!"
__ADS_1