Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Permintaan Jiwa Valencia


__ADS_3

Hanya dalam waktu satu hari, Valencia berhasil menyapu bersih seluruh kekacauan yang melibatkan kesejahteraan Kekaisaran Alegra. Valencia mengarahkan seluruh kesatria wanita yang berada di bawah perintahnya untuk membantu pemberantasan dari sejumlah penjahat yang hendak kabur dari kejaran Valencia.


"Kemampuan berpedangmu sekarang semakin bagus ya, Luana," puji Valencia kepada salah satu kesatrianya.


"Terima kasih, Nona. Ini semua berkat Anda," balas Luana tersenyum malu disanjung Valencia.


"Kalian semua juga, kemampuan kalian jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kalian hanya perlu latihan lebih rajin lagi untuk memperoleh kemampuan berpedang yang menggetarkan musuh."


"Terima kasih, Nona. Kami akan melaksanakan sesuai saran Anda." Para kesatria wanita itu membungkuk sebagai ucapan terima kasih mereka kepada Valencia.


"Ya, sama-sama."


Seusai membereskan semuanya, Valencia memutuskan untuk kembali lagi ke ibu kota. Dia melewati hutan sambil menunggangi Black dengan kecepatan penuh.


"Black, berhenti sebentar. Aku mau memetik beberapa blueberry dulu."


Black pun berhenti tepat di tengah hutan, penglihatan Valencia kebetulan menangkap adanya buah blueberry tumbuh di sepanjang jalan. Valencia tak melewatkan kesempatan ini begitu saja karena tak pernah sama sekali ia melihat rakyat Alegra menjual atau mengonsumsi buah blueberry.


"Yang Mulia, bisakah kita berbicara sebentar?"


Valencia menoleh ke sumber suara yang datang, ia terkejut bukan main menemukan jiwa si pemilik tubuh berada di hadapannya. Terpaksa Valencia menjeda aktivitas memetik blueberry lalu meladeni kedatangan jiwa asli Valencia sejenak.


"Huh? Valencia, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa jiwa yang seharusnya berada di surga malah turun ke dunia manusia?"


Jiwa Valencia tersenyum. "Saya kemari ingin meminta bantuan Anda. Tenang saja, saya telah mendapatkan izin dari pengawas surga. Bisakah Anda membantu saya?"


"Jenis bantuan seperti apa yang kau minta kepadaku?"


"Bisakah saya meminjam tubuh saya sebentar saja? Saya ingin melakukan salam perpisahan untuk keluarga saya. Jangan khawatir, saya hanya meminjamnya sebentar."


Valencia terdiam sejenak, dia berpikir panjang sebelum menyerahkan tubuh itu kepada jiwa asli Valencia.


"Baiklah, aku akan meminjamkan tubuh ini nanti. Namun, kau tidak punya waktu banyak untuk menggunakannya."

__ADS_1


"Ya, tidak apa-apa, saya tidak akan lama."


Begitulah percakapan Valencia dengan jiwa asli tubuh yang ia gunakan sekarang. Mereka akan bertukar tempat nanti di saat tengah menghadapi Adarian dan Helen.


'Salam perpisahan kah? Kira-kira apa yang akan dikatakan Valencia kepada mereka?'


***


Sementara para bawahannya membereskan kekacauan di Alegra, Henzo secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam kediaman Grand Duke Allerick. Ada sesuatu yang perlu ia pastikan perihal Valencia.


Henzo memasuki paviliun kediaman Valencia selama dia tinggal di mansion ini. Kesan pertama yang ditunjukkan Henzo ialah tempat tinggal Valencia benar-benar kumuh. Menurutnya, tempat itu lebih cocok menjadi sebuah gudang dibanding tempat tinggal gadis bangsawan.


"Apakah kau yakin Valencia tinggal di tempat semacam ini?" tanya Henzo kepada salah satu kesatrianya.


"Benar, Yang Mulia. Nona Valencia selama ini ditempatkan di paviliun kumuh ini. Bahkan, saya mendengar pelayan yang bekerja di sini menggelapkan dana paviliun dan mereka memberikan makanan tidak layak kepada Nona."


"Sepertinya Grand Duke bajing*n itu lebih bajing*n dari yang aku sangka," gumam Henzo mengumpati Adarian.


Setelah itu, Henzo mengamati isi kamar Valencia, tidak ada yang spesial di sana selain tempat tidur yang usang, meja rias, meja belajar, sofa, dan juga lemari. Dindingnya pun polos tanpa adanya hiasan dinding yang biasanya ada di kamar setiap bangsawan.


"Tidak ada gaun mewah dan mahal, tepat seperti apa yang dilaporkan kepadaku waktu itu."


Lalu Henzo bergerak ke arah meja belajar Valencia, ia membuka laci dan menemukan sebuah pisau kecil di sana.


"Ada bau darah," ucapnya saat mengendus ujung pisau tersebut.


"Maaf, Yang Mulia. Berdasarkan hasil penyelidikan saya, pisau yang Anda pegang sekarang ialah pisau yang dahulunya digunakan Nona Valencia untuk mengiris tangannya ketika beliau sedang mengalami stres dan depresi berat. Tidak jarang para pelayan menemukan beliau tergeletak bersimbah darah di atas lantai kamar," papar sang kesatria.


"Apa kau bilang?" Kedua mata Henzo melebar mendengar laporan itu, emosinya pun menyambar keluar.


'Pantas saja di tangan Valencia ada bekas luka sayatan, rupanya berasal dari goresan pisau ini. Aku tidak bisa memaafkan mereka,' batin Henzo.


Henzo menghela napas panjang, ia berupaya mengatur emosinya yang hampir meledak.

__ADS_1


"Sekarang hancurkan tempat ini! Keluarkan barang-barang yang sekiranya penting. Gaun-gaun yang ada di lemari itu kau bakar saja semuanya. Aku tidak mau melihat tempat yang membuat putriku menderita masih berdiri kokoh seperti saat ini," titah Henzo.


"Baik, Yang Mulia. Segera saya laksanakan."


Di waktu bersamaan, Valencia telah tiba di kediaman Grand Duke Allerick. Sesuai janjinya kepada jiwa asli Valencia, dirinya akan menyerahkan sementara tubuh ini kepadanya.


"Bagaimana pun ini adalah tubuh aslimu, kau berhak melakukan apa pun. Akan tetapi, kau harus tetap ingat, jangan sampai kau membahayakan tubuh ini karena aku masih memerlukannya," ujar Valencia.


"Baik, saya akan mengingatnya."


Jiwa si pemilik tubuh pun masuk ke dalam tubuh Valencia. Kini ada dua jiwa di satu tubuh sebab Klarybell yang ada di sana tak bisa keluar begitu saja dari tubuh tersebut.


Gadis itu berjalan menuju ruang pribadi Adarian, kedatangannya telah ditunggu oleh sang Ayah dan Ibu.


"Yang Mulia, Nona Valencia telah tiba," ujar seorang kesatria.


"Suruh dia masuk."


Valencia memasuki ruangan Adarian, kala itu Helen dan Adarian tampak terkejut. Entah mengapa, aura Valencia melunak seperti auranya di masa lalu. Itu semua karena Valencia yang menemui mereka ialah Valencia yang asli, bukanlah Klarybell.


"Salam kepada Grand Duke dan Grand Duchess."


Mereka berdua kembali tersentak, entah sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka melihat Valencia mengucapkan salam formal di hadapan mereka.


"Sudahi salammu, sekarang aku butuh penjelasan darimu. Apa kau sungguh menyetujui permintaan Archduke terkait adopsi itu?" tanya Adarian.


"Benar, aku menyetujuinya. Permintaan adopsi dari Archduke Calestine, aku rasa aku tidak boleh melewatkannya begitu saja," jawab Valencia.


"Valencia, kau telah melakukan kesalahan fatal! Bagaimana bisa kau menjadi anak angkat orang lain ketika kedua orang tuamu masih hidup?!" bentak Helen tak kuasa menekan kemarahannya.


"Apa yang dikatakan Ibumu itu benar, kau tidak bisa memutuskan ini sendirian. Perbuatanmu telah mencoreng nama baik keluarga ini. Seharusnya sejak awal kau sudah paham masalahnya. Aku harap kau memikirkan lagi matang-matang keputusanmu itu," timpal Adarian.


Valencia menatap redup Adarian dan Helen, ia mengamati dalam-dalam wajah kedua orang tua yang telah mengabaikannya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


"Ayah, Ibu, aku rasa kalian melupakan satu hal. Kalian lupa bahwa kalian telah menelantarkanku selama lima belas tahun aku hidup. Ayah, Ibu, aku sudah mati, kalian tidak bisa meminta orang mati menjaga nama baik keluarga."


__ADS_2