Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Puncak Pemberontakan


__ADS_3

Valencia menyunggingkan sudut bibirnya. Rudolf telah menyalakan sumbu api besar yang akan melahap dirinya sendiri. Sungguh ironis, dia masih belum menyerah dan tidak belajar dari kesalahan yang lalu. Kini dia mengantarkan nyawanya sendiri ke gerbang kematian.


"Betapa beraninya kau, Rudolf! Baiklah, aku tidak akan menunjukkan belas kasihku kepadamu. Sekarang berpencar! Habisi mereka sebelum masuk ke dalam istana!"


Valencia beserta yang lainnya berpencar ke segala arah. Sementara itu, Valencia menerjang lurus ke hadapan Rudolf. Namun, dia malah ditahan oleh gerombolan makhluk sihir dan penyihir.


"Hahaha. Kau takkan bisa menghalangi langkahku untuk mengambil alih istana ini."


Rudolf secepat kilat berlalu dari hadapan Valencia. Dia seperti pengecut yang meninggalkan gadis itu ke para bawahannya. Hal ini mendatangkan kegeraman di hati Valencia. Akan tetapi, dia lekas menyingkirkan perasaan tersebut karena masih ada hal lebih penting yang harus dia lakukan kini.


"Bajing*n sialan! Kau benar-benar membuatku muak!"


Valencia buru-buru melibas musuh yang menghalangi langkahnya. Di tengah itu, tanpa sengaja indera pendengarannya menangkap suara gaduh dari ibu kota.


"Nona! Ada sesuatu yang harus saya laporkan!"


Luana dalam kondisi tidak karuan bergegas menghampiri Valencia menggunakan kudanya. Perasaannya tak menentu seusai menyaksikan peristiwa besar melanda ibu kota.


"Ada apa, Luana?"


"Maaf, Nona, Anda harus segera pergi ke ibu kota karena di sana ada banyak monster bermunculan dari portal dan menyerang pemukiman penduduk. Kami tidak sanggup membereskannya karena tingkatan monster yang keluar sangat berbeda dari biasanya," jelas Luana.


"Apa?" Kedua bola mata Valencia membulat sempurna. "Aku tidak bisa meninggalkan istana sekarang karena—"


"Pergilah, Valencia! Aku sendiri yang akan menangani Rudolf," ujar Rexid.


"Baiklah, aku serahkan Rudolf padamu."


Valencia memacu langkahnya menuju ibu kota kekaisaran. Derap kakinya terjeda sesaat menyaksikan pemandangan memilukan di ibu kota. Ada banyak mayat manusia bergelimpangan dan diinjak-injak oleh makhluk sihir. Aroma darah segar menyeruak ke indera penciuman Valencia.


Tanpa berlama-lama, ia langsung melesatkan serangan beruntun terhadap makhluk sihir yang sedang mengamuk. Level mereka bukan lagi level makhluk sihir biasa melainkan level mematikan yang hanya bisa diselesaikan penyihir tingkat tinggi.

__ADS_1


"Melihat seluruh masalah ini terjadi, aku semakin penasaran siapa orang yang berada di baliknya."


***


Rudolf telah berada di dalam istana, dia membunuh para pelayan dan kesatria yang mencoba untuk menghambat langkahnya. Dia seperti orang gila yang terus menerus mengayunkan pedangnya tiada henti. Para penghuni istana ketakutan, mereka tidak punya kekuatan lebih untuk melawan Rudolf.


"Yang Mulia, saya mohon. Tolong tinggalkan istana segera!" teriak salah seorang kesatria.


Abraham dan Linita tersentak dari tidurnya mendengar kegaduhan dari luar kamar. Keduanya sontak melompat dari tempat tidur lalu berniat menanyakan situasinya terhadap sang kesatria.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Abraham.


"Pangeran Rudolf melakukan pemberontakan dan mengacaukan seisi istan—"


Sebilah pedang tiba-tiba saja menikam jantung kesatria itu. Abraham dan Linita terkejut melihat Rudolf datang menghunuskan pedangnya. Dia tampak berbeda dari Rudolf yang mereka kenal selama ini.


"Halo, Ayah, Ibu. Bagaimana kabar kalian? Sepertinya kalian terlihat sangat sehat dan baik-baik saja selama aku tidak ada," sapa Rudolf seraya mengusap noda darah di wajahnya.


"Ya, aku berencana menghancurkan Alegra lalu membangun kembali Alegra sesuai kehendakku. Aku akan menjadi Kaisar dan membuat Kekaisaran Alegra menjadi yang teratas di benua Solvey!"


"Kalau begitu, kenapa kau membunuh Stephen? Bukankah dia Adikmu? Seharusnya kau tidak melakukan itu. Aku percaya kau anak yang baik sejak awal, tetapi mengapa? Mengapa kau malah mengkhianati kepercayaanku sebagai Ibumu?"


Linita akhirnya angkat bicara disertai air mata berlinang dan mulai berjatuhan membasahi pipinya. Ada rasa sesak luar biasa yang dia tahan sekaligus rasa sakit menggerogoti hatinya.


"Apa kalian lupa? Kalian tidak pernah menganggapku sebaik Stephen. Semua orang menyukainya dan ingin menjadikannya sebagai Putra Mahkota. Lalu bagaimana denganku?! Kalian bahkan tidak menatapku sedikit pun. Jadi, aku pikir Stephen hanyalah seekor hama yang menghalangi jalanku. Maka dari itu, aku berpikir untuk membunuhnya."


Sulit dipercaya, Rudolf sungguh berada di luar kendali. Dia tidak menatap Abraham dan Linita sebagai orang tuanya melainkan sebagai dua orang yang menjadi penghambat rencananya. Dia telah dibutakan kekuasaan, dia telah ditulikan oleh kedengkian.


"Dasar anak kurang ajar!" Linita berteriak marah, ia melangkah mendekati Rudolf lalu mencengkram kerah bajunya. "Apa kau tahu? Kami sejak awal berencana untuk menjadikanmu sebagai Putra Mahkota, bahkan Stephen pun juga tidak pernah ingin mengambil posisimu. Aku tidak percaya aku melahirkan anak iblis sepertimu. Tidak punya hati dan buta kekuasaan."


Linita menyentak kerah baju Rudolf, tatapan matanya tidak lagi dipenuhi kehangatan. Tidak peduli siapa Rudolf baginya, sekarang dia hanya melihat Rudolf sebagai iblis.

__ADS_1


"Hahaha, omong kosong! Aku tidak percaya dengan kalian. Kebohongan yang sungguh menggelikan. Jangan harap dengan kalian berkata seperti itu dapat membuatku mengurungkan niat membunuhku. Akan aku—"


PLAK!


Abraham menampar kencang pipi Rudolf. Entah sudah berapa besar kekecewaan serta kemarahan yang ia pendam. Padahal dia berharap besar terhadap Rudolf menjadi pemimpin Alegra di masa depan. Akan tetapi, segalanya sirna, tidak ada yang tersisa.


"Aku menyesal kau menjadi putraku. Mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari keluarga Kekaisaran Alegra. Namamu akan dihapuskan dari silsilah, jangan bermimpi kau bisa menyandang nama Alegra lagi," tegas Abraham menatap dingin Rudolf.


"Beraninya kau menamparku! Apa kau pikir bisa seenaknya hanya karena aku darah dagingmu?! Sialan! Mati saja kau!"


Rudolf mengayunkan pedangnya dan mengarahkannya ke arah jantung Abraham. Namun, serangannya berhasil ditangkis oleh Abraham menggunakan pedang yang tergeletak di atas lantai.


Kemudian Rudolf kembali menodongkan pedangnya, tetapi lagi-lagi Abraham menahan senjatanya.


"Linita, pergilah keluar! Aku tidak mau kau dicelakai oleh bajing*n ini! Pergi cari Henzo, aku yakin dia ada di depan istana," perintah Abraham.


"Aku tidak bisa meninggalkan—"


"Cepat! Aku tidak bisa bergerak leluasa kalau kau masih ada di sini," sergah Abraham.


"Baiklah, aku akan ke luar sekarang."


Linita lekas beranjak pergi meninggalkan Abraham. Sementara itu, sang suami masih menahan serangan pedang dari Rudolf.


"Sungguh suami istri yang saling menyayangi."


Rudolf tersenyum licik, ia menekan serangannya dan menambah kekuatan dari pedangnya. Tepat ketika Abraham hendak menebas dada Rudolf, dia terlambat. Seorang bawahan Rudolf muncul dari belakang dan senjata tajam yang dilumuri racun terhunus menembus jantung Abraham.


Tubuh Abraham pun terjatuh tidak sadarkan diri, ia kehilangan begitu banyak darahnya.


"AYAH!"

__ADS_1


__ADS_2