
Sean baru saja menginjakkan kakinya di kediaman Archduke Calestine dan dia langsung dicecar tatapan tajam para Pangeran. Dia sudah berkeliling selama beberapa waktu belakangan ini untuk mencari tubuh yang cocok untuk Klarybell. Akan tetapi, dia terlambat, semua orang telah mengetahui jiwa yang merasuki tubuh Valencia sebenarnya adalah Klarybell.
"Apa yang kalian katakan? Aku tidak paham."
Sean masih mencoba untuk mengelak, berupaya menutupi serapat mungkin perihal Klarybell.
"Kau tidak perlu menyembunyikan lagi soal siapa jiwa yang bersemayam di tubuh Valencia. Kami semua sudah mengetahuinya," ujar Sammy.
"Jangan berpura-pura lagi, Sean. Semua orang sudah tahu identitas jiwa di tubuh Valencia," timpal Reibert.
Sean mengangkat sudut bibirnya sambil menghembuskan napas panjang.
"Jadi, kalian sudah tahu? Apakah Klarybell sendiri yang memberitahu kalian?" tanya Sean.
"Benar, kami mengetahuinya dari dia langsung," jawab Xeros.
"Lalu ada di mana dia sekarang? Aku tidak menemukannya di mana-mana. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."
Ketika Sean melontarkan pertanyaan tersebut, ekspresi para Pangeran memburuk. Atmosfer di sekitarnya terasa berbeda karena pertanyaan sepele itu.
"Kau terlambat. Klarybell telah kembali ke benua Mihovil bersama rekannya yang bernama Arc."
"Ya? Klarybell kembali ke benua Mihovil?"
Seketika Sean didera kepanikan, perasaannya gelisah luar biasa saat tahu Klarybell kembali ke benua Mihovil tanpa sepengetahuannya. Padahal sebelumnya dia sudah memberi larangan kepada gadis itu. Namun, Klarybell melanggar larangan tersebut.
'Bagaimana ini? Bagaimana bisa masalahnya menjadi seperti ini? Klarybell kembali ke Mihovil, itu artinya aku terlambat. Aku harus memikirkan cara untuk masuk ke Mihovil karena Klarybell tidak boleh bertemu dengan kepingan jiwanya yang lain,' batin Sean.
***
Klarybell baru saja selesai melatih sihirnya, dia benar-benar mengeluarkan seluruh sihirnya yang terpendam lama. Badannya jauh terasa lebih segar, tidak ada beban yang mengapit tubuhnya.
"Yang Mulia, sekarang waktunya untuk sarapan," ujar seorang penyihir yang melayani Klarybell.
"Baiklah, aku akan segera ke ruang makan."
Klarybell merapikan sedikit penampilannya lalu dia langsung menuju ruang makan. Sepanjang lorong menara, Klarybell merasakan suasana di sana terasa jauh berbeda semenjak dia datang.
"Selamat pagi, Bell," sapa Cetrion dan Arc.
"Ya, selamat pagi juga kalian berdua."
Klarybell hari ini sarapan bersama Arc dan Cetrion. Merupakan rutinitas baginya di masa lalu sarapan bersama mereka berdua. Selesai sarapan, Klarybell mengajak mereka menuju halaman menara sebab ada sesuatu yang ingin diserahkan oleh Klarybell.
"Singa magikus yang dulunya menjaga perbatasan benua menghilang. Apakah kalian tahu soal itu?" tanya Klarybell.
"Kami tahu itu, sepertinya dia terseret ke dalam portal," jawab Arc.
"Dan aku berhasil menemukannya di dalam portal di benua Solvey. Namun, dia sudah terbunuh. Aku mendapatinya sedang melindungi satu butir telur."
Klarybell mengeluarkan telur yang dahulu pernah dia temukan di dalam portal. Cetrion dan Arc terlihat terkejut kala melihat telur tersebut.
"Bukankah ini telur dari singa magikus? Kau menemukannya di dalam portal, itu artinya singa magikus itu hidup di portal selama ini sembari mempertahankan kehidupannya," tutur Cetrion.
__ADS_1
Klarybell mengangguk. "Aku menemukannya, tetapi aku mencegahnya untuk menetas. Singa magikus hidup menggunakan energi sihir. Benua Solvey tidak punya energi sihir sebanyak Mihovil. Jadi, akan sulit baginya bertahan kalau dia sampai menetas di Solvey."
Klarybell menyerahkan telur singa magikus itu kepada Arc.
"Sebentar lagi dia akan menetas, jaga dia baik-baik sampai kita berhasil merebut seluruh wilayah kerajaan dan kekaisaran di benua Mihovil," lanjut Klarybell memberi perintah.
"Baiklah, aku akan menjaganya dengan baik."
Arc memberikan telur tersebut kepada salah seorang penyihir dan memerintahkan untuk menaruh telurnya di ruang kerjanya. Kemudian mereka bertiga beralih ke lapangan latihan sihir. Ada beberapa hal yang perlu dibahas oleh Klarybell.
"Aku akan segera memulai pemberontakan. Bagaimana dengan kalian?" tanya Klarybell.
Arc dan Cetrion saling bertemu pandang, mereka perlahan tersenyum sumringah.
"Tentu saja kami akan mengikutimu."
"Bagus! Pertama-tama, ayo kumpulkan seluruh penyihir yang berada di bawah naungan kalian. Aku berencana memberikan mereka sebuah perintah besar untuk mengacaukan perintah wanita iblis itu."
Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mengumpulkan penyihir yang berjumlah seratus orang. Dahulu penyihir yang berada di bawah perintah mereka berjumlah ribuan orang dan tersebar di masing-masing wilayah kekaisaran atau kerajaan.
"Benarkah itu? Katanya Yang Mulia Klarybell kembali dari kematian."
"Karena kita ditugaskan di tempat yang berbeda, kita tidak bisa memastikannya. Namun, sekarang kita bisa melihatnya langsung."
"Kalau benar, berarti saat ini adalah waktu di mana keajaiban akan bekerja. Aku harap kita bisa mengakhiri semua penderitaan ini."
Beberapa menit berlalu, Klarybell pun memasuki ruangan dengan didampingi Arc dan Cetrion. Seisi ruangan menatap Klarybell, mereka tidak menyangka sosok penyihir legendaris berdiri di hadapan mereka saat ini.
"Halo semuanya. Sepertinya kalian telah mendengar mengenai diriku. Aku tidak perlu lagi menjelaskan kepada kalian mengapa aku bisa berdiri di tempat ini. Yang jelas aku berhasil kembali dari kematian. Sekarang aku akan menjelaskan kepada kalian apa saja yang harus kita lakukan untuk merebut kejayaan Mihovil kembali."
Mereka berencana memulai penyerangan terhadap kesatria dan bangsawan. Kemudian membebaskan para budak serta menjarah harta para bangsawan.
"Apakah kalian paham mengenai rencananya?"
Para penyihir terpaku saat mendengar rencana keseluruhan dari Klarybell.
"Paham, Yang Mulia," sahut mereka serentak dan bersemangat penuh.
"Kalau begitu, mari kita mulai menjalankan seluruh rencananya. Hancurkan manusia yang berani melanggar peraturan utama di benua Mihovil. Bunuh, siksa, dan jangan beri ampun satu pun dari mereka," tegas Klarybell.
Para penyihir satu persatu mulai berpencar melaksanakan tugas yang dikerahkan Klarybell. Tidak hanya mereka saja yang bergerak, Klarybell selalu pemimpin pun ikut bergerak. Arc dan Cetrion juga mendapatkan bagian tugas mereka.
'Aku pastikan mereka tahu bahwa Klarybell sudah kembali. Aku akan merampas kekuasaan atas benua Mihovil dari tangan wanita laknat itu.'
Klarybell membalut badannya dengan jubah dan beranjak keluar dari menara sihir. Dari angkasa gadis itu banyak menyaksikan kejadian yang tidak mengenakkan. Terutama masalah diskriminasi dan perbudakan.
"Tampaknya aku harus turun di sini."
Klarybell mendarat di depan sebuah rumah kecil dengan ladang kering terbentang di depannya. Ada seseorang yang menarik perhatiannya sedari tadi. Dia adalah seorang wanita disertai warna mata biru keabu-abuan.
"Sepertinya keturunan anggota keluarga Kekaisaran Zofrin diasingkan ke tempat ini," ucap Klarybell mengejutkan wanita itu.
"A-Anda siapa? Apakah Anda p-penyihir utusan para iblis?"
__ADS_1
Klarybell membuka tudung jubahnya, memang penampilannya saat ini malah tampak mencurigakan.
"Perkenalkan, aku Klarybell. Teman baik dari Kaisar Jeff Zofrin."
Wanita itu membatu saat mendengar nama dari leluhurnya yang dulu mati karena dieksekusi para iblis. Namun, yang lebih membuatnya terkejut ialah nama dari gadis yang berada di hadapannya. Nama dari sosok legendaris yang menjadi penyelamat Kekaisaran Zofrin sekaligus pemimpin yang membawa Mihovil ke puncak kejayaan.
"Klarybell? Tidak mungkin. Apakah Anda Penyihir Agung yang ada di dalam sejarah Mihovil? Ini tidak masuk akal sama sekali," ujar wanita itu.
"Ya, saya adalah Klarybell yang sudah lama mati."
Wanita itu tampak ketakutan seusai Klarybell mengakui kematiannya. Dia beringsut mundur menjauh dari Klarybell.
"Kalau begitu, apakah Anda hantu?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Pfft, hahaha." Klarybell tertawa lepas mendengar pertanyaan tersebut. "Anggap saja seperti itu. Walaupun sebenarnya aku hidup kembali sebagai seorang penyihir."
Wanita itu terhening, Klarybell menghentikan tawanya.
"Anda adalah Klarybell yang asli?"
Klarybell menganggukkan kepalanya. "Benar, aku Klarybell yang asli. Oleh sebab itu, bisakah kita berbicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu."
Sementara Klarybell melakukan pembicaraan dengan keturunan Kaisar Jeff Zofrin, para penyihir bergerak cepat menyelesaikan tugas mereka. Satu persatu keluarga bangsawan diruntuhkan dalam sekejap. Tidak ada perlawanan lebih sebab para penyihir itu jauh lebih kuat dibanding mereka.
"Selamatkan para budak! Hancurkan manusia yang berkhianat kepada Yang Mulia Klarybell!"
Kalimat itu terus bergaung bersamaan suara ledakan kehancuran kediaman bangsawan. Semangat disertai amarah bercampur aduk menjadi satu.
Amukan para penyihir ini langsung sampai ke telinga Yuine. Wanita bersurai hitam pendek yang duduk di atas singgasananya mendengar laporan tentang hal tersebut dari salah seorang bawahannya.
"Jadi, para penyihir itu mulai bergerak? Apa kalian tahu siapa dalangnya?" tanya Yuine.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Kami masih menyelidikinya. Hanya saja terdapat beberapa jejak sihir yang biasa digunakan Klarybell."
Bola mata Yuine membulat sempurna, dia tidak menyangka lagi-lagi mendengar nama Klarybell.
"Klarybell? Tidak menutup kemungkinan wanita itu kembali lagi. Kabarkan kepada yang lain untuk menyelidiki masalah ini dengan teliti. Jangan lewatkan satu informasi pun," titah Yuine.
"Baik, Yang Mulia. Saya segera melaksanakannya."
Di sisi lain ruang singgasana, ada seorang pria berambut pirang terang tengah bersandar di tembok. Minimnya cahaya membuat wajah pria tersebut menjadi kurang tampak oleh penglihatan. Sudut bibirnya terangkat menyimak setiap laporan yang diberikan kepada Yuine.
"Bagaimana menurutmu, Tryton? Apakah wanita itu benar-benar kembali?"
Ya, pria itu ialah Tryton, rekan Klarybell yang telah berkhianat darinya.
"Itu bisa saja terjadi." Tryton melangkah ke hadapan Yuine. "Klarybell itu adalah seorang penyihir hebat, mustahil dia mati dengan sangat mudah karena meteor sihir hitam kala itu."
"Lalu apa kau punya cara menarik wanita itu kemari? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku pastikan dia bisa mengingatku dengan benar saat ini."
"Saya akan mencari cara menjebaknya, saya juga punya urusan yang masih belum selesai."
Yuine tersenyum puas, memang sangat menguntungkan menjadikan Tryton sebagai salah satu bawahannya.
__ADS_1
"Selesaikan dendammu nanti, jangan sampai kau membunuhnya. Wanita itu adalah milikku, aku takkan membiarkanmu jika kau berani membunuhnya," tekan Yuine.
"Yang Mulia, Anda tenang saja. Wanita itu telah membunuh kedua orang tua saya. Jadi, saya ingin menyiksanya sebelum dia benar-benar mati," pungkas Tryton.