
Pertunjukan pun berlangsung, pada awalnya semuanya berjalan lancar. Para bangsawan serta perwakilan dari kerajaan dan kekaisaran lain pun menikmati pertunjukannya. Sementara itu, para kesatria ditempatkan di seluruh titik tertentu sekitar danau tempat dilaksanakannya pertunjukan.
Sampailah di acara puncak yakni acara tarian khas Kekaisaran Alegra. Tatkala Valencia sedang berdiri di tepi danau sembari bercengkrama bersama beberapa orang gadis bangsawan, Linnea datang mendekatinya.
"Halo, Valencia," sapanya sembari tersenyum dan menebar pesona.
"Ada apa lagi? Mengapa kau mendatangiku?"
Valencia menanggapinya dengan ketus, gadis itu sungguh tidak menyukai sama sekali keberadaan Linnea.
"Tidak ada, aku hanya datang menyapamu karena aku tidak sempat berbincang denganmu ketika pesta tadi malam."
Valencia menyeringai, entah apa lagi yang direncanakan oleh Linnea. Gadis itu penuh manipulasi, dia memang cocok dengan Rudolf. Tidak salah jika mereka berdua menjadi sepasang kekasih.
"Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, maka aku tidak peduli. Lebih bagus bagiku kalau kau tidak pernah muncul di hadapanku lagi."
"Benarkah? Padahal aku ini calon Permaisuri masa depan. Seharusnya kau mulai mendekatkan diri kepadaku sebelum aku murka dan menjatuhkan hukuman untukmu."
Valencia terkekeh mendengar perkataan Linnea. Begitu pula para gadis bangsawan yang mendengarnya, mereka ikut tertawa saat melihat Valencia tertawa.
"Nona Linnea, Anda masih belum sadar ya? Anda itu sudah sering kalah dari Nona Valencia, jadi saya ingin Anda berhenti memojokkan Nona Valencia."
"Anda terlalu berlebihan, padahal semua orang sudah tahu siapa Anda."
"Ya, Anda hanyalah seorang perebut, gadis murahan, dan gadis munafik. Jangan coba-coba membandingkan diri Anda dengan Nona Valencia."
Linnea diserbu menggunakan kalimat tidak mengenakkan. Linnea merasa tertohok dan terpojokkan akibat perkataan para gadis yang berada di sisi Valencia. Baru kali ini menyaksikan Linnea disudutkan oleh para gadis karena selama ini dia yang selalu dibela gadis bangsawan yang mengaguminya.
"Kau dengar itu? Seharusnya kau lebih bisa menempatkan diri. Sekarang semua orang melihatmu mempermalukan diri sendiri," ledek Valencia.
Linnea menyembunyikan ekspresi masamnya di balik kipas. Dia amat jengkel mendengar Valencia merendahkannya.
"Valencia, kau sepertinya semakin sombong semenjak diadopsi Archduke Calestine," celetuk Endry ikut campur.
__ADS_1
"Sudah lama sekali aku tidak berbicara denganmu. Tentu saja aku perlu sombong kepada orang seperti kalian. Hidupku jauh lebih bahagia dan aku bergelimang dengan harta. Tolong jangan iri padaku," balas Valencia membuat Endry terdiam geram.
"Siapa juga yang iri padamu? Kalau sekedar harta, keluarga Grand Duke Allerick juga tidak kalah kaya," kata Endry kesal.
"Benarkah? Tetap saja posisiku jauh lebih tinggi darimu. Oh iya satu hal lagi, aku dengar Ibumu dipenjara ya karena mencoba menyerang Grand Duchess? Astaga, sebentar lagi dia akan ditendang dari kediaman Grand Duke Allerick. Tentu saja kalian berdua juga akan ikut ditendang."
Akibat emosi yang tidak lagi terbendungkan, niat jahat pun terbesit di benak mereka berdua. Endry dan Linnea secara sengaja mendorong Valencia ke dalam danau ketika gadis itu sedang terlengah.
"Sialan kalian!"
Valencia tidak mau jatuh sendiri, dia ikut menarik Linnea sampai membuat mereka berdua tercebur bersama ke dalam danau. Akan tetapi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba ketika Valencia hendak berenang ke permukaan, sekujur badannya kaku dan tak bisa digerakkan. Lalu sihirnya pun seolah-olah sedang tertahan oleh sesuatu.
'Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku membeku? Aku tidak bisa bergerak.'
Di sisi lain, Linnea berhasil diselamatkan oleh Rudolf. Pria itu selayang pandang menatap ke arah Valencia seraya menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Dari sana, Valencia langsung menyadari bahwa Rudolf ialah orang yang telah merencanakan jebakan tersembunyi ini.
Di luar terdengar kehebohan karena Valencia tenggelam akibat didorong Linnea dan Endry. Dengan sigap dan cepat, Sammy bersama Ivanov spontan melompat ke dalam danau sesaat menyadari bahwa Valencia tak kunjung muncul ke permukaan.
Valencia tenggelam nyaris mencapai dasar danau. Sammy dan Ivanov bergerak cepat lalu menarik tangan Valencia. Gadis itu tidak lagi sadarkan diri.
"Tolong jangan terlalu dekat!" teriak Sammy memperingati semua orang.
Sammy mengecek kondisi Valencia, ia menekan-nekan dada gadis itu untuk melakukan pertolongan pertama. Akan tetapi, masih belum ada respon sedikit pun dari Valencia.
'Tidak ada cara lain lagi, sepertinya aku harus memberikan napas buatan.'
Sammy melakukan napas buatan dengan perasaan ragu sebab bibir mereka harus saling bersentuhan untuk melakukannya. Sammy menyingkirkan perasaannya yang tak karuan sementara waktu sampai Valencia berhasil diselamatkan.
"Uhukkk." Lima belas menit berlalu, akhirnya Valencia tersadar.
Gadis itu terlihat linglung, sisa-sisa sihir yang menjeratnya masih segar terasa di sekujur badannya.
"Valencia, bagaimana? Apakah tubuhmu terasa sakit?" tanya Sammy.
__ADS_1
Semua orang yang berada di sekitar terlihat mengkhawatirkan Valencia.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Ivanov memberikan jasnya kepada Valencia untuk dipakai gadis itu menutupi gaunnya yang robek karena terkena benda tajam. Rudolf tidak senang melihat Valencia selamat. Dia menggerutu marah sebab rencananya mencelakai Valencia selalu berujung gagal.
'Lagi-lagi gagal, keberuntungan gadis itu sangat bagus. Semua orang berada di pihaknya dan membantunya dalam setiap masalah yang ada,' batin Rudolf.
Di sisi lain, Henzo tampak memendam kemarahan besar. Dia melangkah menghampiri Linnea yang berdiri di samping Rudolf.
"Yang Mulia Pangeran Rudolf, sepertinya Anda memilih pasangan yang tepat. Saya tidak menyangka tunangan Anda berniat mencelakai putri saya. Tolong ajarkan tunangan Anda untuk bersikap baik terhadap putri saya," tekan Henzo.
Tanpa menunggu jawaban dari Rudolf, Henzo pergi berlalu begitu saja. Dia tidak mau merusak acara ini hanya karena dia mencari keributan dengan Rudolf.
Henzo mengangkat tubuh Valencia dan membawa putrinya ke luar dari arena pertunjukan. Kekecewaan tergurat dari wajah Henzo. Dia masih bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk menimpa putrinya.
Linnea tertunduk lesu, rasa takut menggerogoti perasaannya. Linnea mempererat genggaman tangannya dengan Rudolf.
"Yang Mulia, bagaimana ini? Bagaimana kalau Archduke menuntut saya nanti?" keluh Linnea.
"Jangan khawatir, aku sendiri yang akan menanganinya. Kau juga pasti masih syok karena kejadian tadi."
Rudolf berupaya menenangkan kegelisahan Linnea. Bahkan, seluruh orang berbicara buruk soal Linnea dan Endry. Mereka melihat jelas kalau mereka berdualah yang lebih dulu mendorong Valencia.
Dari arah lain, Adarian datang dengan ekspresi yang tidak baik. Dia menghampiri Linnea dan Rudolf.
"A-Ayah, s-saya—"
PLAAKK!
Bahana tamparan menggema di sekitar danau. Suaranya menarik atensi seluruh orang yang berada di sana. Linnea membatu seketika mendapati tamparan kuat dari Adarian.
"Kenapa Ayah menampar saya? Apa salah saya?" tanya Linnea berlinangan air mata.
__ADS_1
"Dasar anak tidak tahu diri! Apa kau berpikir aku tidak melihat apa yang telah kau lakukan kepada Valencia? Jangan harap kau bisa lolos dari hukuman nantinya!"