Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Salah Masuk Kamar


__ADS_3

Sebuah keputusan serius tapi dijawab dengan sepele, itulah yang terjadi antara Henzo dan Valencia. Si gadis menyetujui tawaran menjadi anak angkat Henzo dikarenakan di kediaman Henzo terdapat banyak makanan lezat. Sedangkan Henzo berpikir dia beruntung telah menemukan seorang anak berpotensi besar yang layak ia jadikan sebagai penerus berikutnya.


Setelah melewati para pembunuh tadi, ternyata mereka memiliki tujuan yang sama yaitu pergi ke istana. Mereka sama-sama mendapatkan undangan makan malam dari Abraham sehingga mereka memutuskan untuk pergi berbarengan ke istana dengan menunggangi kuda. Sepanjang perjalanan, mereka tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun. Tetapi, untungnya saja tidak ada hal buruk yang menghadang mereka.


Setibanya di istana, kedatangan mereka disambut begitu hangatnya, tiada sangka kalau Valencia akan datang bersama dengan Henzo. Terlebih lagi mereka tampak sangat akrab sehingga menimbulkan tanda tanya besar di kepala orang-orang yang melihat mereka. Salah satunya yang bertanya-tanya ialah Abraham dan Linita. Mereka tahu seberapa gilanya Henzo, bahkan pernah terlintas di kepala mereka untuk tidak memperkenalkan Valencia kepada Henzo. Namun, mengapa jadinya malah seperti ini?


“Kenapa kalian berdua bisa datang bersama?” tanya Abraham dengan raut muka tak karuan.


“Kami tidak sengaja bertemu di tengah jalan,” jawab Henzo.


Di tengah gelombang firasat Abraham yang tidak enak, Valencia malah asik menikmati cemilan yang disajikan di meja hadapan mereka. Sejujurnya gadis itu sangat lapar, ia tak kuasa menahan hasrat makan yang membara di dirinya. Untung saja ada banyak jenis cemilan yang terpampang nyata di pandangan matanya sehingga dia bisa memakan semuanya untuk mengganjal perut.


“Tidak sengaja bertemu? Apa maksudnya itu? Apa jangan-jangan kau memang mengincar Valencia sejak awal?” duga Abraham berpikiran negatif.


Henzo tidak habis pikir sang Kakak bisa berpikiran seperti demikian, pikiran Abraham dan Linita mulai terbang ke mana-mana. Mengingat nama Valencia kini tengah menjalar di masyrakat luas, jadi dia pikir Henzo sengaja menargetkan Valencia. Akan tetapi, bukan begitu cerita yang sebenarnya terjadi.


“Saya bertemu Paman tampan saat sedang dihadang pembunuh,” celetuk Valencia menyela pembicaraan mereka.


Serentak Abraham dan Linita menoleh ke arah Valencia, mereka terlihat mempercayai Valencia tapi tidak mempercayai Henzo. Mereka merasa tidak aman ketika Valencia berada di samping orang segila Henzo.

__ADS_1


“Pembunuh? Benarkah itu, Henzo?” Abraham menatap Henzo menggunakan tatapan penuh selidik, dia butuh penjelasan lebih dari Henzo.


“Itu benar, Kak. Kami bertemu secara tidak sengaja, Valencia menyelamatkanku dari pembunuh-pembunuh itu. Ck, membuatku kesal saja saat mengingatnya.” Henzo berdecak kesal mengingat masalah tersebut. “Mereka ternyata menggunakan sihir untuk melawanku, mereka membuatku terpojok dan kehilangan akal sesaat. Rasanya harga diriku sedang diinjak oleh para bajing*n sialan itu.”


“Lalu Valencia mengalahkan para pembunuh itu? Tetapi, bukankah mereka menggunakan sihir? Bagaimana caramu mengalahkannya?” tanya Linita.


“Itu sangat mudah, tinggal tusuk saja jantungnya dan tebas urat utama leher mereka,” jawab Valencia dengan enteng serta bernada santai.


Abraham dan Linita semakin tidak paham, Henzo masih terlihat sangat kesal sedangkan Valencia malah sibuk mengisi perutnya yang kosong. Yang jelas menggabungkan mereka berdua bukanlah ide yang bagus menurut Abraham.


“Ya sudahlah, yang penting kalian berdua selamat dan tidak ada yang terluka. Mari kita bahas lagi masalah ini nanti.”


Di sini Valencia juga memberi tahu bahwasanya para pembunuh tersebut mengincar orang yang dinilai paling kuat di Alegra. Mulai dari Henzo dan Reibert, mereka berdua tokoh yang selalu menjadi bahan pembicaraan utama di Kekaisaran Alegra. Tidak memungkiri juga ancaman pembunuhan ini akan terjadi sekali melainkan ada waktu lain di mana mereka akan bergerak kembali. Jadi, Valencia memberi saran untuk memperketat keamanan wilayah kekaisaran, terutama wilayah yang paling minim keamanan.


Sementara menunggu makan malam siap disajikan, Valencia memutuskan untuk berkeliling sejenak di istana. Sepanjang lorong istana, Valencia tiada henti menggumamkan kalau dirinya sangat lapar. Namun, ia terpaksa bersabar sampai seluruh pelayan selesai menghidangkan makanan di ruang makan.


“Bau ayam goreng!” Tiba-tiba saja di pertengahan lorong, indera penciuman Valencia menangkap aroma ayam goreng yang menyengat. “Dari mana bau ini berasal?” Valencia pun tanpa sadar malah mengikuti aroma tersebut.


Valencia melihat seorang pelayan laki-laki sedang membawa nampan makanan yang diduga di baliknya ada ayam goreng. Valencia membuntuti pelayan itu diam-diam, ia bersembunyi di balik tembok untuk melihat ke mana ayam gorengnya akan dibawa. Hingga tibalah di depan sebuah kamar, pelayan itu membawa masuk ayam goreng tersebut ke kamar itu.

__ADS_1


“Dia sudah keluar! Saatnya aku beraksi.” Valencia jalan mengendap-endap memasuki kamar tempat ditaruhnya ayam goreng oleh si pelayan.


Ketika Valencia membuka pintu kamar, tidak ditemukan siapa pun di sana selain ruangan kosong dan angin nan berembus di sela jendela yang tersingkap. Gadis itu pun masuk semakin dalam, ia mendapati enam potong ayam goreng di atas meja. Valencia mendadak ngiler mencium bau ayam goreng yang kian menyeruak di peciumannya.


“Apakah tidak ada orang lain di sini? Kalau begitu, aku akan ambil satu.” Valencia mengambil satu potong ayam goreng itu dan menyantapnya dengan lahap. Rasa lapar merajalela di tubuhnya, ia tak kuasa lagi menahan hasrat ingin makannya.


Tanpa dia sadari, Valencia menghabiskan seluruh ayam goreng yang berada di nampan. Bersamaan kala itu, seorang pria berhanduk melangkah keluar dari kamar mandi, tubuh bagian bawahnya hanya ditutupi handuk kecil saja. Sedangkan tubuh bagian atasnya bisa dilihat jelas oleh mata telanjang.


“Wah, kau punya tubuh yang seksi,” sanjung Valencia spontan melontarkan kata pujian.


Pria itu terlihat terkejut mendengar seorang wanita berada di kamarnya, dia mencoba melihat lebih jelas lagi siapa wanita yang berani menyelinap ke kamarnya. Alangkah kagetnya dia menemukan bahwa wanita yang menyelinap tersebut ialah Valencia.


“Jadi itu kau, Valencia?!”


Valencia mendongak ke wajah pria itu, dirinya jelas ingat siapa pria yang kini berdiri di hadapannya.


“Ah, Ivanov! Apa yang kau lakukan di kamar ini?” tanya Valencia disertai tampang tak berdosa.


“Seharusnya aku yang bertanya seperti ini padamu. Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau seenaknya masuk ke kamar orang lain?” Ekspresi Ivanov diselimuti oleh kekesalan terhadap Valencia, dia belum memaafkan gadis yang telah berani menghina dewa kedamaian.

__ADS_1


“Eh? Apakah ini kamarmu? Aku tidak tahu sama sekali, aku hanya mengikuti aroma menyengat dari ayam goreng yang mengarah kemari,” jawab Valencia masih merasa tidak bersalah.


__ADS_2