
Linnea mengeratkan genggaman tangannya di lengan Endry sambil berakting menatap takut Valencia. Suara orang-orang yang menonton mulai terdengar bising, mereka bingung mau mau menanggapi Valencia seperti apa. Endry yang menangkap ekspresi palsu Linnea, dia berinisiatif menanyakan perasaan Linnea menjelang menyerang Valencia secara terang-terangan.
“Linnea, apa kau baik-baik saja?” Endry bertanya dengan mimik muka penuh kekhawatiran.
Linnea menatap sendu Endry. “Aku takut, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang salah kepada Valencia. Tetapi, dia berubah menjadi orang yang berbeda, padahal aku berniat baik padanya, dia malah menanggapi kebaikanku dengan tidak baik,” lirih Linnea tertunduk lesu, air mata juga kembali menggenas di permukaan pipinya.
Endry menyorot tajam Valencia, gadis itu mendengar seluruh kebohongan Linnea secara jelas dan dia pun menyorot balik Endry menggunakan pandangan mata yang tak kalah tajam. Seketika dari kedua belah pihak mengeluarkan ombak api kemurkaan yang saling menghantam. Endry melangkah maju untuk memulai penyerangan terhadap Valencia.
PLAK!
Endry bersama kemarahannya melayangkan tamparan ke pipi Valencia hingga membuat sudut bibir si gadis imut terluka. Valencia sengaja tidak menghindarinya sebab dengan begini dia punya alasan bagus untuk memukul Endry. Deruan napas emosi Endry terdengar jelas, seluruh orang di kekaisaran ini tahu bahwa Endry lebih menyayangi Linnea daripada Valencia yang merupakan Adik satu Ayahnya. Endry akan membela Linnea mati-matian jika Valencia berani menyakitinya, bagi Endry Linnea sudah seperti Adik perempuan sendiri.
“Anak haram menampar anak sah, betapa memalukannya ini. Tentu saja aku juga tidak akan tinggal diam untuk tidak memukulmu balik.”
BUGH!
Valencia melayangkan tinjunya ke wajah Endry dan membuat Endry tersungkur ke atas tanah. Tidak hanya satu pukulan saja, Valencia kemudian menarik kerah baju Endry lalu menamparnya berulang kali hingga Endry nyaris kehilangan kesadarannya. Entah mengapa Endry merasa pukulan Valencia tidak seperti pukulan dari manusia biasa. Valencia sedikit membubuhi sihir di tinjunya sehingga rasa sakit yang diterima Endry dua kali lipat dari pukulan biasa.
“Beraninya anak haram menamparku! Hanya karena kau terlahir sebagai laki-laki di kediaman Grand Duke Allerick bukan berarti kau bisa memperlakukan diriku seenaknya. Aku tidak suka ketika orang bajing*n menyentuh kulitku.”
“T-tolong hentikan …,” pinta Endry kesakitan.
“Tidak! Aku tidak akan berhenti. Anggap saja ini sebagai pelampiasan atas kekesalanku selama ini. Lagi pula kau tidak akan mati hanya karena dipukuli olehku, jadi bertahan saja, Tuan Muda Allerick.”
Valencia memukuli Endry diiringi senyum tak berdosa di bibirnya, dia tidak memberi ampun Endry sedikit pun. Linnea tak berkutik menyaksikan betapa kejamnya Valencia memukuli Endry, dia beringsut ke belakang dan berencana untuk kabur. Tak ada orang yang dapat menghentikan kegilaan Valencia kala itu.
“Jangan berpikir kau bisa kabur, wanita jal*ng!” Valencia bergerak cepat mencegah rencana kabur Linnea. Tidak ada orang yang bisa menangkap pergerakan cepat Valencia, gadis itu secara tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.
“Valencia, aku mohon tolong berhenti sekarang, semua orang sedang melihatmu. Apa kau mau memperburuk reputasimu? Hentikan saja, aku tidak melakukan—”
“Aku tidak peduli dengan reputasiku, aku hanya peduli perihal amarah membakar di dadaku. Bagaimana, Linnea? Apa kau puas melihat perubahanku? Seharusnya kau diam saja kalau tidak mau menerima kemurkaanku.”
Linnea bergidik ngeri, di sela-sela ruas jemari Valencia dibaluri darah segar dari tubuh Endry. Ingin rasanya dia kabur, tapi dia terkepung oleh Valencia, bahkan sekarang Valencia mencoba lebih dekat dengannya. Namun, Linnea terus mencoba beringsut mundur, sedangkan Valencia terus melangkah maju mendekatinya.
__ADS_1
“Aku mohon padamu—”
PLAK!
Sekali lagi Valencia menampar pipi Linnea, dia mendorong Linnea sampai terjatuh lalu menginjak punggung tangannya.
“ARRRGHHH!” Suara jeritan kesakitan Linnea memekak di telinga, semakin keras jeritannya maka Valencia kian menambah kekuatan injakannya.
“Apanya yang wanita tercantik di kekaisaran? Lihat sekarang ke sekelilingmu, apakah ada orang yang mencoba membantumu? Kau itu hanyalah anak dari seorang Baron yang tak mempunyai pengaruh besar di Alegra. Sedangkan lawanmu adalah aku, anak dari bangsawan terkemuka di Kekaisaran Alegra, seharusnya dari sana saja kau bisa menilai, siapa orang yang patut kau jadikan kawan dan siapa orang bisa kau jadikan lawan.”
Valencia mengakhiri penyiksaannya setelah Linnea hampir kehilangan kesadaran penuhnya. Valencia berlalu pergi meninggalkan Linnea dan Endry yang terkapar tak berdaya akibat ulahnya. Perasaannya mulai lega seusai melukai mereka, kini Valencia hanya perlu beristirahat sejenak sebelum memulai gempuran terbaru sebab Adarian maupun Guilla takkan tinggal diam begitu saja. Akan tetapi, tanpa Valencia sadari saat itu kabar mengenai dirinya mungkin telah sampai ke telinga Linita dan Abraham.
***
Setelah Valencia pamit pulang, Abraham dan Linita menyambut kedatangan dari orang yang sangat berpengaruh di kekaisaran ini. Istana didera kegaduhan seusai mendengar kabar orang tersebut datang mengunjungi Abraham. Tidak hanya istana saja, bahkan sebagian daerah yang berada di sekitar istana juga ikut heboh.
“Hei, kau dengar itu? Katanya Archduke Calestine sudah kembali dari penaklukkan portal di selatan.”
“Beliau kembali seusai menaklukkan lebih dari tiga puluh portal, kekuatan Archduke Calestine sungguh melebihi batas.”
Para pelayan dan kesatria istana sibuk membicarakan Archduke Calestine, dia seorang bangsawan yang terkenal akan kegilaannya. Archduke Henzo Calestine merupakan Adik kandung Abraham, dia memiliki darah anggota kekaisaran. Namun, perilakunya tidak pernah mencerminkan seorang bangsawan tingkat tinggi. Dia selalu seenaknya saja melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain.
“Henzo, kali ini kau berhasil kembali lebih cepat, tapi apa-apaan yang kau bawa itu?!”
Seorang pria bertubuh kekar duduk sambil menaruh kakinya di atas meja di hadapan Abraham. Pria tampan bersurai putih kebiruan dengan manik mata berwarna hitam berkilau itu adalah Henzo Calestine. Dia datang ke istana bermaksud untuk menyapa Abraham, tapi kali ini dia lagi-lagi membawa sesuatu yang tidak disangka-sangka.
“Itu adalah kepala manusia,” jawab Henzo santai.
Henzo membawa sebuah peti dari tempatnya melakukan penaklukkan, rupanya peti itu berisi lebih dari sepuluh kepala manusia.
“Ya, aku tahu itu kepala manusia! Tetapi, kenapa kau membawanya kemari?! Lalu apa kau yang membunuh mereka?” Abraham meninggikan suaranya, dia kewalahan setiap kali menghadapi kegilaan Henzo.
Orang-orang yang berada di ruangan Abraham merasa jijik saat mereka melihat jelas potongan kepala manusia bertumpukan di dalam peti. Abraham nyaris muntah akibat bau darah yang menyengat masuk ke indra penciuman. Bahkan Linita yang berada di samping Abraham pun langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
“Iya, aku membunuh mereka tapi itu karena mereka yang memulainya lebih dulu, tampaknya mereka disuruh oleh seseorang untuk membunuhku. Maka dari itu, Kak, aku memintamu untuk menyelidikinya, orang-orang ini telah berurusan dengan orang yang salah.”
Abraham menghela napas berat, dia tidak paham dengan jalan pikir Henzo.
“Kenapa tidak kau saja yang menyelidikinya sendiri?!”
“Aku malas.”
Abraham menepuk kepalanya, dia langsung menyuruh kesatria membawa keluar peti tersebut untuk diselidiki nanti.
“Henzo, kau itu sudah berusia empat puluh tahun, tapi sampai sekarang kau masih belum menikah. Apakah tidak ada wanita yang menarik perhatianmu?” Abraham tiba-tiba membuka topik pembicaraan yang paling dibenci oleh Henzo.
Henzo memutar bola mata malas. “Tidak, aku tidak berniat untuk menikah,” jawabnya enteng.
“Setidaknya kau harus menikah lalu memiliki pewaris! Apa kau akan terus seperti ini sampai mati?! Jika kau tidak memiliki anak, siapa yang akan menjadi pewarismu nanti?!”
“Aku berniat untuk mengadopsi anak.”
Abraham dan Linita tercengang mendengarnya, pasalnya takkan ada anak kecil yang mau menjadi anaknya.
“Memangnya ada anak kecil yang tidak takut melihatmu?” ucap Linita menusuk ke hati.
“Kakak ipar, itulah masalahnya, aku masih sedang mencari sekarang anak yang tidak takut saat melihatku.”
Di sela pembicaraan mereka, tiba-tiba seorang kesatria terengah-engah masuk ke dalam ruangan. Kesatria tersebut tadi diutus oleh Linita untuk mengikuti Valencia dan menyuruhnya melapor apabila ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Valencia.
“Yang Mulia Permaisuri, ada sesuatu yang ingin saya laporkan soal Nona Valencia!”
Fokus Abraham dan Linita langsung teralihkan ketika kesatria tersebut menyebut nama Valencia.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Valencia?” tanya Linita.
“Yang Mulia, Nona Valencia menghajar Grand Duke Allerick, tidak sampai di sana saja beliau juga menghajar Tuan Muda Allerick sampai pingsan di depan gerbang utama mansion. Selain itu, Nona Linnea juga menjadi korbannya, kini beliau dikabarkan sedang mendapatkan perawatan serius akibat luka yang diterima.”
__ADS_1