Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Linita Terserang Racun


__ADS_3

Selesai makan malam, Abraham dan Henzo mengadakan pertemuan pribadi secara tertutup. Hanya ada mereka berdua di satu ruangan kosong, sedangkan Linita tengah menghabiskan waktu bersama Valencia dan membiarkan mereka berdua berbincang serius. Entah mengapa hari ini Henzo tampak lebih serius dari biasanya. Melihat hal tersebut, maka Abraham langsung berasumsi bahwa apa yang hendak dikatakan Henzo amat penting.


“Apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Abraham.


Henzo menegakkan kepalanya, ia menatap lurus Abraham, pembicaraan kali ini berkaitan erat dengan Valencia.


“Sudah aku putuskan, aku akan mengangkat Valencia menjadi anakku.”


Abraham melongo kaget, sebuah keputusan yang bukan main-main malah diputuskan secara sepihak oleh Henzo. Adiknya itu memang suka mengambil keputusan yang tidak masuk di akal, tapi keputusan kali ini jauh lebih tidak masuk akal lagi. Sejenak Abraham terdiam, ia bingung harus menanggapinya bagaimana.


“Tunggu dulu sebentar. Apa maksud ucapanmu? Kau ingin mengangkat Valencia menjadi anakmu? Dengan artian lain, kau ingin menjadikan Valencia sebagai pewarismu? Aku yakin kau sudah tahu, persyaratan adopsi anak bangsawan itu bukan perkara yang mudah. Lebih banyak proses yang rumit dan pastinya akan menimbulkan gejolak antara bangsawan.”


Abraham mencoba memberikan pemahaman kepada Henzo supaya dia tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Namun, Henzo tampak tidak mempedulikan itu semua, ia mementingkan keinginannya sendiri.


“Aku tidak peduli, aku hanya ingin Valencia saja, anak itu jauh berbeda dari anak bangsawan pada umumnya. Aku suka cara dia menangani masalah, kekejamannya serta keserakahan akan kemenangan di matanya membuatku kagum. Tidakkah Kakak berpikir kami berdua mirip?”


Henzo menaikkan kedua kakinya ke atas meja, Abraham tidak menyangkalnya, fakta bahwa Valencia mirip dengan Henzo adalah sebuah kenyataan. Tidak hanya dia saja yang mengakui, bahkan orang-orang sekitar juga mengakuinya. Sifat keras kepala sampai kegilaannya menebas musuh juga amat mirip.


“Ya, kalian berdua memang mirip, tapi Valencia itu berasal dari keturunan bangsawan tingkat tinggi. Meskipun Grand Duke Allerick tidak menyayanginya, tetap saja Grand Duke punya peran besar pembangunan kekaisaran ini. Kita tidak boleh merusak hubungan antara istana serta keluarga Grand Duke.”


“Apa yang Kakak katakan? Tinggal bunuh saja dia kalau dia tidak setuju dengan permohonan adopsi ini. Lagi pula Valencia keberadaannya tidak dihargai di sana, ada baiknya gadis kecil itu tinggal bersamaku. Aku tidak kekurangan uang dan aku punya wilayah kekuasaan yang luas, Valencia tidak akan mati kelaparan selama masih menyandang nama Archduke Calestine.”

__ADS_1


Abraham kehabisan akal mengatasi kegilaan sang Adik, dia tidak pernah main-main dengan perkataannya. Bila Henzo berkata akan membunuh Adarian, maka itu mungkin saja terjadi tatkala dirinya tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Tidak terhitung berapa jumlah bangsawan yang tewas di tangan Henzo.


Sampai saat ini terhitung ada sebanyak lebih dari enam puluh bangsawan yang dibunuh olehnya. Oleh sebab itulah, tidak ada yang berani meremehkan sekaligus menghina Henzo. Namun, akhir-akhir ini tidak diketahui siapa yang menjadi dalang pengusikan hidup Henzo.


“Jangan bunuh Grand Duke Allerick, kalau memang kau bersikeras ingin mengadopsi Valencia, maka hal yang harus kau lakukan ialah menunggu sampai Valencia lulus dari akademi. Aku akan membantumu mengurus surat adopsinya,” ujar Abraham.


“Benarkah begitu? Ini yang aku harapkan sejak tadi. Baiklah, menunggunya sampai lulus dari akademi itu berarti sekitar satu tahun lagi.” Raut muka Henzo nampak gembira, keinginannya akhirnya dikabulkan Abraham.


“Aku rasa lebih baik Valencia tinggal bersamamu daripada terus-terusan tinggal di tempat yang tidak menginginkan keberadaannya. Tenang saja, jika ini demi kebaikan Valencia maka aku akan melakukannya.”


Di penghujung pembicaraan mereka, dari luar istana terdengar kegaduhan yang tidak biasa. Para pelayan wanita memekik dari arah taman istana, para kesatria juga berlarian ke sana kemari. Hal tersebut mengundang rasa penasaran Abraham dan Henzo. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke luar memastikannya sendiri.


Abraham dan Henzo kaget bukan main. “Apa yang terjadi pada Permaisuri?” tanya Abraham kemudian.


“Permaisuri tidak sadarkan diri karena ada seseorang yang meracuni beliau, Yang Mulia!”


Laporan dari kesatria tersebut sungguh membuat Abraham jantungan, tanpa pikir panjang lagi Abraham dan Henzo langsung menuju ke lokasi Linita berada. Mereka sama-sama kehilangan akal sesaat mengetahui Linita diracuni.


***


Sementara itu, di taman istana utama pada saat beberapa menit sebelum terjadinya insiden keracunan Linita. Sebelumnya Linita masih bercanda dengan Valencia sembari menikmati waktu santai minum teh. Akan tetapi, insiden keracunan itu terjadi ketika Valencia sedang tidak bersama Linita. Gadis itu meminta izin kepada Linita untuk pergi sebentar ke kamar mandi, tapi saat ia balik kondisinya sudah seperti ini.

__ADS_1


Valencia menemukan Linita tidak sadarkan diri dengan kondisi mulut yang mengeluarkan banyak darah. Valencia seketika panik, lekas ia mengecek teh yang sebelumnya diminum oleh Linita, dia mengendus aroma racun yang sangat kuat.


“Siapa yang menyajikan teh untuk Permaisuri sebelumnya?!” tanya Valencia kepada seluruh pelayan dan kesatria yang berada di sekitar mereka.


“I-Itu, t-tadi yang menyeduh teh untuk Permaisuri pelayan baru yang belum lama ini bekerja di istana, Nona.”


Valencia cepat-cepat bangkit kembali, dia telah tertipu dan para pembunuh itu bekerja ketika dirinya tengah lengah.


“Tolong bawa Permaisuri kembali ke istana dan segera panggil Sammy, aku akan pergi mencari tahu keberadaan pelayan itu,” perintah Valencia segera menghilang dari pandangan semua orang.


Valencia hanya bergerak sendirian saja karena Reibert, Sammy, dan Leano sudah pulang lebih dulu tepat ketika makan malam selesai. Valencia menyusuri setiap bagian istana tanpa ada satu pun yang terlewati. Ekspresi Valencia dipenuhi kemarahan, mereka telah berani bertindak lebih jauh hingga membahayakan nyawa Linita.


‘Karena kalian sudah melewati batas, maka jangan salahkan aku nanti bersikap lebih sadis dan kasar dari sebelumnya.’


Di pertengahan koridor istana, Valencia merasakan adanya tanda-tanda penggunaan sihir di sekitar istana. Gadis itu mempercepat laju langkahnya, dia menelusuri setiap tempat yang memiliki jejak sihir. Akan tetapi, Valencia tidak menemukan apa pun di sana kala itu, tidak ada siapa-siapa dan hanya ada sekilas sihir yang masih berbekas.


“Kalau begitu tidak ada cara lain lagi, jika mereka menggunakan sihir maka aku juga akan menggunakan sihirku.”


Valencia memejamkan kedua mata sambil mengerahkan konsentrasi sepenuhnya pada sihirnya. Valencia menggunakan sihir yang bisa melacak jejak sihir dan melacak keberadaan orang-orang yang sebelumnya menggunakan sihir di istana. Dengan sihir pelacak ini, Valencia akan lebih mudah menemukan para pelaku yang meracuni Linita.


“Itu mereka!” Valencia menemukan dua orang berjubah yang berada di belakang halaman istana, mereka tampaknya sedang bersiap untuk meninggalkan istana selepas rencana mereka berhasil dilaksanakan.

__ADS_1


__ADS_2