
Suara Valencia terdengar begitu lantang di dalam ruangan, ia selalu kehilangan kontrol diri ketika ada seseorang yang berani menganggap dirinya lebih tinggi. Melihat Joseth terpental jauh ke belakang, Rachel pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beranjak pergi dari ruangan itu dan berencana melaporkan masalahnya kepada Devina agar segera ditindak lanjuti oleh pihak istana.
“Aku harus cepat sebelum terjadi sesuatu dengan Valencia.”
Lalu tatkala Rachel berlarian di pertengahan lorong nan sepi dan gelap, ia tidak sengaja menabrak Frintz yang kebetulan lewat di jalan yang sama dengannya. Raut muka panik Rachel mengundang tanda tanya di kepala Frintz.
“Rachel Ademir, apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini? Kenapa kau berlarian di luar asrama?” tanya Frintz.
Rachel mengatur irama napasnya terlebih dahulu menjelang menjawab dari seluruh pertanyaan yang dilontarkan Frintz. Rachel juga berpikir dia beruntung bisa bertemu dengan Frintz di jam tengah malam begini.
“Profesor! Tolong saja. Ada sesuatu yang sedang terjadi, Valencia juga masih berada di dalam sana.”
Perkataan Rachel sulit dimengerti oleh Frintz, gadis itu dikuasai rasa panik mendalam mengingat temannya masih berada di dalam bersama pria yang nyaris melecehkannya.
“Ada apa? Katakan pelan-pelan. Apa yang terjadi kepada Valencia?”
Rachel pun menjelaskan kronologinya secara detail kepada Frintz, ia tidak melewatkan satu pun fakta yang dia ketahui soal kebusukan Joseth. Tanpa menunggu lebih, Frintz langsung bergerak ke tempat Valencia kini berada. Sejujurnya dia sangat khawatir, tapi mengingat kepribadian Valencia yang buruk, rasa khawatirnya pun berkurang sedikit.
Sementara itu di ruangan Joseth, Valencia menghajar muka Joseth habis-habisan, ia tak memberi kesempatan kepada Joseth untuk berbicara. Nampak sekali Valencia berencana untuk langsung membunuh Joseth.
“Jangan kau pikir aku melupakan semua yang pernah kau lakukan padaku di masa lalu! Kau telah membuat kehidupanku di akademi ini menjadi suram. Kau selalu membela mereka yang merundungku, jadi terimalah pembalasan dariku! Tua bangka sepertimu lebih pantas berada di neraka.”
Setelah itu, kaki Valencia bergerak menginjak alat vital Joseth. Dia menginjaknya sampai membuat Joseth memekik akibat sakit yang ia terima.
"Arrgghhh! J-Jauhkan kakimu dariku! Jangan i-injak lagi!" pekiknya sambil mendorong kaki Valencia menjauh dari tubuhnya.
"Kau pantas mendapatkannya! Bahkan aku berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih gila lagi."
Valencia meraih gelas kaca yang terletak di atas meja, ia memecahkan gelas kaca tersebut lalu mengambil serpihannya. Senyumnya terkesan dibalut aura jahat, di pikirannya kini terselubung berbagai gambaran mengerikan mengenai akhir hidup dari Joseth.
"Apa yang hendak kau lakukan? Jangan coba-coba untuk melukaiku menggunakan serpihan kaca itu."
Joseth berupaya memaksakan diri untuk kabur dari Valencia. Akan tetapi, pergerakannya terkunci, dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Perasaannya kian dihalau rasa takut, Valencia tampaknya menggunakan sihir untuk membuat Joseth tak bisa bergerak dari tempatnya.
"Kau mau lari dariku? Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu hidup. Kau telah memperdaya gadis-gadis di bawah umur dengan diiming-imingi beasiswa dan mengancam mereka menggunakan beasiswa tersebut. Manusia sepertimu memang lebih layak dijadikan makanan ulat di dalam tanah."
Valencia mengarahkan padanya ujung dari serpihan kaca itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Valencia mengayunkan ke sembarang arah hingga melukai sebelah mata Joseth.
__ADS_1
"C-Cukup! H-Hentikan! Jangan lagi, aku mohon."
Joseth meminta Valencia untuk segera berhenti, tapi gadis itu menutup rapat telinganya dan mengabaikan setiap perkataan Joseth.
"Manusia itu harus dihukum agar tahu betapa menakutkannya alam kematian."
Kemudian pada ayunan terakhir, Valencia melakukan sesuatu yang tidak terduga dan benar-benar membuat hidup Joseth hampir terjun bebas masuk ke dalam neraka.
"AAARRGHH!" Jeritan Joseth terdengar lebih kencang kali ini.
Darah segar berkeluaran dari antara kedua paha Joseth. Ya, Valencia telah memotong bagian vital dari tubuh Joseth. Darahnya bahkan memercik ke mana-mana. Kini Joseth kehilangan harta paling berharga dari tubuhnya akibat ulah Valencia.
"Rasakan itu! Kalau anu-mu hilang, kau tidak akan bisa melecehkan wanita mana pun lagi. Sebenarnya ini cukup berlebihan, tapi menurutku kau pantas mendapatkannya."
Valencia membuang jauh-jauh serpihan kaca yang ia gunakan untuk melukai Joseth. Dia tertawa tiada henti menyaksikan Joseth menderita perlahan di akhir hidupnya.
"Valencia, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan itu?"
Frintz tiba-tiba muncul dari pintu masuk, dia mematung sesaat menyaksikan kondisi Joseth yang begitu mengenaskan. Sontak Valencia menyeka seluruh darah yang memercik ke mukanya.
Frintz tidak menduga Valencia akan melakukan hal senekat ini. Gadis yang tampak polos dari luar rupanya menyimpan segudang pemikiran jahat dalam memberi hukuman kepada setiap orang yang membuatnya jengkel.
"Astaga, kenapa kau melakukan ini? Seharusnya kau serahkan saja dia ke pihak pengadilan agar segera diadili."
"Kalau aku menyerahkannya ke pihak pengadilan, apakah dia akan mendapatkan hukuman yang sama seperti hukuman yang aku beri sekarang? Tidak, kan?"
Frintz tampak ragu menjawabnya, memang Joseth akan mendapatkan hukuman tapi tidak sesadis hukuman dari Valencia. Hukuman yang akan dilayangkan tidak lebih dari hukuman penjara seumur hidup disertai berbagai hukuman di dalam penjara.
"Inilah kelemahan dari hukum kekaisaran, masih menampakkan celah untuk si pelaku. Sedangkan ada puluhan korban yang masa depannya hancur hanya karena naf*u sesaat. Memotong alat vitalnya adalah hal yang pantas dia dapatkan sebelum akhirnya ia tetap berjalan di jembatan perapian menuju neraka," ujar Valencia seraya menyunggingkan senyum.
Pemikiran Valencia sama dengan pemikiran Frintz, beberapa kali Frintz pernah mengajukan kepada Kaisar untuk memperketat hukum kekaisaran. Namun, segala bentuk usulannya selalu ditolak oleh pihak pengadilan. Bahkan Kaisar sendiri tidak punya kuasa lebih untuk mengendalikan pengadilan kekaisaran.
Maka dari itu, ketika Valencia menghukum Count Terano dahulu dengan hukuman yang cukup kejam, baik Frintz maupun Kaisar merasakan kelegaan mendalam. Alasannya ialah pihak pengadilan jadi tidak bisa melayangkan hukuman yang lebih ringan karena Valencia telah menghukumnya terlebih dahulu tepat sebelum mereka mengambil keputusan.
"Apa kau berencana akan mengubah hukum kekaisaran yang lemah?" tanya Frintz.
"Hmm, ya. Aku berencana seperti demikian, aku ingin hukum pembunuhan terhadap pelaku kejahatan segera dilegalkan. Hal ini demi kelangsungan hidup manusia di kekaisaran yang dipimpin Kaisar dan Permaisuri baik hati."
__ADS_1
Frintz tersenyum tipis, sebagai seseorang yang memperjuangkan hukum agar berjalan adil, dia kagum dengan Valencia yang bahkan tidak takut terhadap hukum yang bisa saja menjadi bumerang untuknya.
"Aku sepemikiran denganmu, tapi sekarang sebaiknya kau jangan siksa lagi orang itu. Tunggu sampai pihak kekaisaran datang ke akademi."
Valencia menuruti perkataan Frintz, ia langsung keluar dari ruangan dan meninggalkan Joseth begitu saja tanpa adanya penanganan khusus. Beberapa jam berselang di pagi harinya, sejumlah kesatria datang ke lokasi kejadian. Sesuai perintah Kaisar, mereka akan menggeledah ruang kerja Joseth demi mencari bukti lain.
Ketika mereka menemukan tubuh Joseth, alangkah terkejutnya mereka mendapatinya dalam kondisi mengenaskan. Tetapi, ajaibnya Joseth masih hidup meski kehilangan banyak darah.
"Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang melakukannya?"
Para kesatria pun bertanya-tanya, mereka penasaran terhadap orang yang telah melakukan hal gila ini.
"Aku yang melakukannya," celetuk Valencia.
"Nona Valencia?" Mereka tercengang ketika Valencia langsung mengaku di hadapan mereka.
"Ya, benar. Itu aku, ada apa? Kalian tidak suka? Kalian mau menuntutku? Silakan."
Serentak mereka menggeleng cepat, mereka lebih takut berurusan dengan Valencia.
"Kalau begitu sekarang kalian bawa tua bangka itu ke penjara! Jangan ditunda-tunda lagi."
"Baik, Nona."
Tidak lama kemudian, seorang kesatria berlari ke arah rekannya sembari membawa beberapa lembar kertas.
"Aku menemukan bukti korupsi dan penyuapan! Sepertinya kejahatan Kepala Akademi tidak hanya terkait pelecehan saja."
"Kau bawa itu ke istana sebagai bukti kejahatan Kepala Akademi."
Akhirnya seluruh kejahatan Kepala Akademi terungkap, para korban pelecehan juga dibawa segera ke istana untuk mendapatkan penanganan selanjutnya. Di antara lebih dari sepuluh korban, lima di antaranya diduga telah mengandung anak Joseth. Sungguh miris, Valencia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.
Sekarang akademi juga sangat heboh akibat hal tersebut. Beritanya pun sudah menyebar ke mana-mana. Mereka merasa prihatin dengan korban dan menghakimi Joseth yang telah berbuat buruk kepada gadis di bawah umur.
"Valencia!" Rachel dari jauh berlarian dan menghambur ke pelukan Valencia, ia datang bersama Devina kala itu.
"Rachel, apa kau baik-baik saja? Aku yakin kau masih syok karena kejadian tadi malam."
__ADS_1