Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pergantian Nama Menjadi Valencia Calestine


__ADS_3

Upacara kelulusan berlangsung singkat, Valencia berhasil meraih posisi pertama sebagai lulusan terbaik tahun ini. Dia menggeser posisi Linnea dan selalu berada di peringkat pertama di setiap ujian yang diadakan akademi selama satu tahun ini. Selain itu, reputasi Valencia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga sekarang ini Valencia mempunyai penggemar perempuan yang sangat banyak, khususnya di akademi.


Mereka menghormati pendapat Valencia perihal posisi wanita setara dengan pria. Dia mengubah banyak hal di akademi, mulai dari diskriminasi yang dilakukan para bangsawan hingga perubahan tatanan peraturan akademi. Tentu saja hal tersebut awalnya menuai pro dan kontra, tapi pada akhirnya mereka tetap menyetujui tindakan Valencia.


"Nona Valencia, selamat atas kelulusannya."


Sejumlah junior Valencia di akademi menyerahkan beberapa hadiah untuk Valencia sebagai tanda selamat atas kelulusannya. Mereka terlihat sangat mengagumi Valencia, seringkali mereka memperhatikan Valencia dari jauh dan mengirimkan makanan kesukaan Valencia.


"Terima kasih. Kalian semua yang terbaik!" ucap Valencia tersenyum lebar.


Di saat bersamaan, Henzo datang menyerahkan buket berlian berbentuk bunga mawar. Seketika semua mata terpaku sesaat melihat secara langsung berlian yang harganya bukan main mahalnya.


"Ini hadiah kecil dariku."


Valencia menerima buket berlian tersebut. "Paman, apa ini bisa dimakan?"


"Tidak bisa, kau tidak bisa menjadikan berlian sebagai makanan," jawab Henzo.


"Kalau begitu, aku tidak mau menerimanya."


Sungguh mengejutkan, Valencia menolak hadiah buket berlian yang diberikan Henzo. Padahal Henzo telah menyiapkan hadiah itu dari jauh-jauh hari untuk Valencia.


"Kenapa? Apakah ini masih kurang untukmu? Kalau begitu nanti aku akan tambahkan lagi jumlah berliannya," ujar Henzo.


"Apakah Paman lupa? Aku hanya butuh makan! Aku tidak butuh berlian yang tidak bisa dimakan," tegas Valencia.


Henzo terkekeh mendengar perkataan Valencia.


"Kalau itu kau tidak perlu bertanya lagi, aku sudah mempersiapkan banyak makanan khusus untuk perayaan kelulusanmu dan Xeros."


Valencia langsung merebut buket berliannya dari Henzo. Dia tampak amat bahagia, meski kala itu ada Linnea yang menatap iri terhadap apa yang diperoleh Valencia.


Selain itu, ada Abraham dan Linita yang turut berbahagia atas pencapaian kelulusan Valencia. Mereka juga memberikan hadiah untuk gadis itu. Kemudian ia mendapatkan berbagai hadiah menarik dari Reibert, Leano, Sammy, Frintz, Ivanov, serta Rexid. Bahkan Xeros yang juga merayakan kelulusan dengannya turut memberinya hadiah.


"Mari kita berpesta malam ini!"


Di malam harinya, Valencia menyerukan seluruh penghuni mansion Archduke Calestine untuk berpesta dengannya. Di sana semua orang nampak bahagia.


Pesta berlangsung selama semalaman penuh dan Valencia memutuskan untuk menginap di mansion milik Henzo. Lalu di pagi harinya, Valencia kembali ke kediaman Grand Duke Allerick.


"Ke mana kau semalaman tidak langsung kembali ke mansion?"


Helen — sang Ibu rupanya telah menunggu kedatangan Valencia dengan ekspresi masam dan dingin seperti biasa.

__ADS_1


"Bukan urusanmu," jawab Valencia ketus.


"Tentu saja ini urusanku, aku ini Ibumu! Tolong jaga sopan santunmu saat berbicara denganku."


Valencia menghela napas panjang, ia baru saja balik ke mansion ini dan langsung dihadapkan oleh masalah yang sangat ingin ia hindari.


"Berhentilah menyebut dirimu sebagai Ibuku. Aku sangat muak mendengarnya."


Valencia melewati Helen begitu saja. Hal itu membuat Helen kesal, dia tidak mau membiarkan Valencia menghilang dari pandangannya.


"Tunggu, Valencia!" Helen mencekal pergelangan tangan putrinya. "Aku masih belum selesai berbic—"


"Singkirkan tanganmu dariku!" Valencia menampik tangan Helen.


Kala itu Helen membeku, tatapan Valencia terhadapnya seperti tatapan yang dipenuhi bara api kebencian. Perasaan jijik bercampur marah, semua itu menjadi satu.


Tubuh Helen membatu, ia pun akhirnya memilih untuk membiarkan Valencia lepas darinya. Entah mengapa, sorot mata sang putri membuatnya merinding.


'Apa-apaan tatapannya itu? Aku tidak pernah melihatnya seperti itu.'


Valencia pun tiba di kamarnya, ia mengamati suasana sekitar yang masih terlihat sama. Kemudian tidak lama setelahnya, Valencia menerima sebuah amplop dari kediaman Archduke Calestine.


"Nona, ini adalah laporan hasil penyelidikan saya soal Duke Nerio."


Valencia tersenyum miring sesaat membaca laporan itu. Sebuah rencana nan membuahkan kehancuran, itulah yang akan terjadi nanti.


"Nikmatilah penderitaan kalian, aku akan menghancurkan kalian berkeping-keping saat hari pertunangan tiba."


***


Dua hari berselang, Valencia dipanggil secara khusus ke istana oleh Abraham. Gadis itu memenuhi panggilan Abraham, ia bergegas menuju ke istana sebelum nanti terlambat sesuai waktu yang dijanjikan.


"Nona Valencia Allerick telah datang."


Daun-daun pintu masuk terbuka lebar, kala itu Valencia masuk ke ruang singgasana Kaisar nan megah. Di dalam sana Valencia menemukan keberadaan Henzo bersama beberapa bawahannya serta ada bangsawan yang memihak kepada Henzo. Di kursi singgasana, ada Abraham duduk bersama Linita.


"Baiklah, karena Nona Valencia Allerick telah berada di sini, aku akan membacakan sebuah pengumuman resmi."


Abraham berdiri dari singgasananya, ia membuka gulungan surat resmi yang diberikan bawahannya.


"Beberapa waktu lalu, tepatnya satu tahun sebelumnya, Archduke Henzo Calestine mengajukan permintaan untuk mengadopsi Nona Valencia Allerick dan berencana akan dijadikan sebagai putri sekaligus pewaris tunggal harta kekayaan, wilayah kekuasaan, sekaligus gelar Archduke Calestine. Maka melalui sejumlah pertimbangan, aku sebagai Kaisar akan mengumumkan akhir dari permintaan Archduke tersebut."


Abraham mengambil napas panjang terlebih dahulu menjelang masuk ke pengumuman intinya.

__ADS_1


"Berdasarkan penyelidikan pihak istana, selama ini Nona Valencia Allerick mendapatkan perlakuan tidak adil dari kedua orang tuanya. Selama pertumbuhannya dia telah ditelantarkan, Grand Duke maupun Grand Duchess tidak melakukan perannya sebagai orang tua yang baik."


"Archduke Henzo Calestine menawarkan kehidupan yang lebih baik untuk Nona Valencia Allerick serta menjanjikan kasih sayang selayaknya orang tua pada umumnya. Oleh karena itu, sebagai Kaisar aku menyetujui permintaan adopsi dari Archduke Calestine."


"Mulai hari ini, Valencia Allerick resmi berganti nama belakang menjadi Valencia Calestine. Dia akan berperan sebagai pewaris tunggal serta akan masuk ke silsilah keluarga Archduke Calestine."


Surat keputusan resmi telah dibacakan secara lantang oleh Abraham. Valencia tersenyum elegan menanggapi keputusan tersebut. Begitu pula dengan Henzo, ia tampak gembira atas hasil dari kesulitannya membawa Valencia masuk sebagai anaknya. Namun, reaksi para bangsawan di sana amatlah berbeda.


"Yang Mulia, apa maksudnya semua ini? Kami tidak pernah tahu mengenai keputusan Anda untuk mengadopsi Nona Valencia menjadi pewaris dari Archduke Calestine."


"Benar, Yang Mulia, kami tidak pernah mendengar hal tersebut. Mengadopsi anak dari bangsawan kelas atas bukanlah sesuatu yang sederhana."


Abraham sudah menduga hal ini akan terjadi, ia memberi tatapan isyarat kepada Henzo. Respon Adiknya itu hanyalah kerdikan bahu dan senyum polos tanpa dosa.


"Selama ini Nona Valencia telah mengalami masa-masa sulit selama menjadi anak dari Grand Duke Allerick. Apabila dia menjadi anak adopsi Archduke Calestine, maka dirinya dipastikan memperoleh kenyamanan sekaligus jaminan hidup yang lebih baik. Apakah kalian lupa seberapa besar jasa Nona Valencia menyelamatkan kekaisaran dari bahaya?"


Mereka saling bertukar pandang, tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan Abraham. Mereka tidak mungkin melupakan jasa Valencia selama satu tahun belakangan ini kepada mereka.


"Kalau begitu, baiklah. Kami akan menyetujui keputusan ini."


Abraham menghela napas lega, untungnya para bangsawan itu tidak lagi memberi protes lebih.


"Yang Mulia, bolehkah saya berbicara sekarang?" Valencia pun angkat bicara.


"Ya, ada apa? Apa ada hal yang membuatmu tidak puas di sini?"


Valencia menggeleng. "Bisakah Anda menunda pengumuman resmi selama satu minggu ke hadapan publik soal adopsi yang dilakukan Archduke Calestine?"


"Menunda? Apakah ada alasan yang masuk akal untuk menundanya?"


Valencia melangkah ke depan, ia menyerahkan amplop yang diberikan Arian ke Abraham.


"Tolong baca isi dari amplop ini."


Abraham lekas membuka amplop tersebut, ia membatu dan menggeleng tak percaya terhadap apa yang ada di dalam sana.


"Itu adalah bukti kejahatan Duke Nerio, kebetulan satu minggu lagi adalah waktu di mana saya bertunangan dengan Tuan Muda Nerio. Saya ingin menghancurkan mereka lewat pertunangan itu, saya akan membongkar seluruh kebusukan Duke Nerio. Jadi, bisakah Anda mengabulkannya?" papar Valencia.


"Baiklah kalau ini alasanmu. Aku pastikan di hari yang sama kau memperoleh nama Calestine di belakang namamu."


Valencia mengukir senyum tipis di antara bibirnya.


"Kemudian, Yang Mulia, saya juga memohon agar Anda memberi saya izin untuk membunuh beberapa parasit lain yang mengusik kedamaian Alegra. Tentu saja, saya juga akan menyertakan bukti serta alasan yang kuat mengapa saya ingin melakukan pembunuhan."

__ADS_1


__ADS_2