
Setelah kematian Tryton, Klarybell menjalani hidupnya seperti biasa. Hari demi hari semakin banyak pertempuran yang terjadi. Tiada waktu bagi mereka beristirahat penuh. Terkadang pihak Yuine mengirimkan serangan mendadak ke menara sihir.
Pada hari ini, Klarybell beserta yang lain berhasil menuntaskan misi dalam waktu singkat. Mereka jadi bisa beristirahat lebih awal sebelum kembali bertarung di hari esok.
"Ayah, bagaimana kabarmu?" tanya Klarybell kepada Henzo lewat bola kristal.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apakah kau berhasil merampas wilayah kekuasaanmu?"
"Ya, aku berhasil melakukannya walau itu baru setengah wilayah Mihovil yang aku rampas kembali. Setidaknya untuk saat ini kasus perbudakan sudah berkurang banyak," kata Klarybell.
"Oh, benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku akhir-akhir ini juga sibuk mengatasi portal yang muncul di beberapa wilayah Alegra. Hanya saja jumlah portal yang muncul sudah jauh berkurang dari biasanya," ujar Henzo.
Klarybell langsung sadar bahwa Davey berhasil membatasi jumlah portal sihir yang keluar.
"Bukankah itu bagus? Itu artinya, untuk sementara waktu benua Solvey akan aman. Aku juga sudah memasang penghalang yang kuat di sekitar benua Solvey. Namun, jika terjadi sesuatu yang sulit diatasi, tolong segera hubungi aku."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan mari kita akhiri komunikasi hari ini karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku."
"Iya, Ayah. Selamat bekerja."
Klarybell pun bangkit dari tempat duduk seraya meregangkan otot badan. Sejenak ia memandangi pemandangan di luar jendela. Terlihat ada banyak anak kecil tersenyum ceria seusai hidup mereka diselamatkan Klarybell.
"Damainya ...," gumam Klarybell.
Di waktu itu pula, Klarybell dipanggil oleh seorang penyihir untuk segera menuju ruang pertemuan. Sebelumnya, Klarybell berencana mengadakan pertemuan dengan sembilan pria yang selalu membantunya untuk mendiskusikan sesuatu.
"Apakah ada kendala khusus saat kalian melancarkan serangan ke beberapa wilayah?" tanya Klarybell.
"Tidak. Hanya saja, ada beberapa wilayah dengan kondisi sangat memprihatinkan," jawab Leano.
"Ya, itu benar. Aku menemukan wilayah dengan tingkat kesehatan yang sangat rendah. Di sana anak-anak menderita gizi buruk akibat kurangnya pasokan makanan," timpal Sammy.
"Apakah itu lebih buruk dari wilayah yang sebelumnya kita tangani?" Klarybell bertanya sekali lagi.
"Menurutku, wilayah-wilayah ini lebih parah. Tidak hanya itu saja, wilayah mereka tidak turun hujan selama beberapa tahun belakangan ini sehingga banyak yang kehilangan nyawa akibat dehidrasi," tutur Frintz.
__ADS_1
Klarybell membaca nama-nama wilayah yang tertera di kertas laporan. Wilayah tersebut dahulunya sangat subur dan terkenal oleh hasil alamnya. Oleh sebab itulah, Klarybell merasa sangat kasihan dengan apa yang menimpa penduduk penghuni wilayah itu.
"Lalu bagaimana? Apakah kalian sudah mengatasi permasalahannya."
"Ya, kami berhasil mengatasinya. Namun, anehnya di wilayah-wilayah itu seperti dibatasi oleh dinding hitam. Kemungkinan bencana yang mereka hadapi berasal dari dinding hitam itu," kata Xeros.
"Mungkinkah itu sihir hitam?" tanya Rexid.
"Kemungkinannya begitu. Sihir hitam dapat mendatangkan musibah besar terhadap orang-orang sekitarnya," ujar Ivanov.
Klarybell mengangguk. Seperti yang dikatakan Ivanov, sihir hitam memanglah sangat kejam. Terkadang jika jumlahnya melewati batas, maka sihir hitam itu dapat memakan daya hidup manusia dalam waktu singkat.
"Saat ini kita harus memasang pembatas baru untuk wilayah-wilayah ini. Tampaknya pergerakan Yuine semakin agresif akhir-akhir ini," ucap Klarybell.
Pembahasan mereka terus berlanjut sampai akhirnya Klarybell mengucapkan sesuatu yang membuat perkataannya menjadi beban pikiran bagi semua orang.
"Aku tidak tahu seberapa jauh kita bisa menghadapi Yuine. Separuh jiwaku ada pada dirinya. Seandainya, jika jiwa itu kembali lagi kepada diriku lalu aku mulai kehilangan kesadaran, maka tolong bunuh aku. Sesungguhnya, aku tidak mau kalian terluka karenaku."
Klarybell mengatakan itu sembari tersenyum seolah-olah dia telah mempersiapkan diri untuk mati. Tidak ada jawaban atau respon dari mereka. Diam dan tercengang, itulah ekspresi yang mereka tunjukkan kala itu.
"Klarybell! Keluar kau dari sana!" teriak Yuine.
Klarybell pun langsung muncul di hadapan Yuine.
"Ada apa? Apakah kau mengajakku melakukan pertarungan akhir?"
Yuine tersenyum, rasa dendam menjadikan dirinya kehilangan arah.
"Benar, mari kita bertarung!" tantangnya.
"Baiklah. Jangan salahkan aku bila kau kalah dariku."
Klarybell bergerak melayang ke udara dan mensejajarkan diri dengan Yuine.
"Tolong urus sisanya," ucap Klarybell kepada para pria yang biasa bersamanya.
__ADS_1
Klarybell dan Yuine mendadak menghilang dari pandangan semua orang. Mereka saat ini berada di ruang pembatas yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun.
Pertarungan antara Klarybell dan Yuine pun terjadi. Mereka saling bertukar serangan dan melempar sihir ke segala arah. Bahana ledakan sihir jelas terdengar sampai ke permukaan benua Mihovil.
Kilauan cahaya yang menyilaukan bersilangan di angkasa. Warna sihir mereka bertabrakan satu sama lain seperti laser yang bergerak sangat cepat.
"Kenapa kau harus kembali lagi ke sini? Kenapa kau masih hidup setelah aku membunuhmu?!"
Selama hampir satu jam bergulat dengan sihir, Yuine baru mengeluarkan suaranya. Dia mencoba memojokkan Klarybell dengan pertanyaan tersebut.
"Aku tidak bisa mati karena jiwaku telah dikutuk oleh para dewa. Aku kembali setelah berabad" tahun lamanya tertidur di dalam segel," tutur Klarybell.
"Jadi, kau sudah mengingat apa yang terjadi di kehidupan keduamu sebagai malaikat jatuh? Apa jangan-jangan kau juga ingat siapa aku?"
"Aku ingat. Aku ingat kau, Yuine. Mana mungkin aku bisa melupakanmu begitu saja."
Yuine tiba-tiba emosi mendengar perkataan Klarybell. Dia menyentakkan sihirnya ke arah Klarybell.
"Omong kosong! Kau tidak melupakanku? Hei, Klarybell! Sepertinya kau perlu aku sadarkan kembali."
Sementara pertarungan Klarybell masih berlangsung, seluruh rakyat penghuni benua Mihovil menyaksikan dari bawah. Mereka bisa merasakan kalau pemimpin mereka yakni Klarybell sedang memperjuangkan hidup mereka saat ini.
"Yang Mulia, saya mohon menangkan pertempuran ini."
"Tolong kembalikan kedamaian pada benua Mihovil."
"Dewa, tolong lindungi Yang Mulia Klarybell. Saya mohon, berikanlah keberuntungan penuh kepada beliau."
Suara-suara harapan seluruh rakyat mewarnai seisi benua Mihovil. Mereka mempercayakan sepenuhnya hidup mereka kepada Klarybell. Tidak hanya benua Mihovil, bahkan benua Solvey sekali pun bisa merasakan adanya pertempuran mempertaruhkan hidup dan mati di langit Mihovil.
"Apa yang sedang terjadi? Apakah Klarybell memulai pertarungan akhirnya?" gumam Abraham mendongak ke atas langit.
"Jika memang begitu, berarti tidak hanya benua Mihovil yang sedang berada di ketegangan. Kita yang berada di benua Solvey harus turut mengirimkan harapan," tutur Linita.
Devina, Rachel, Luana, serta para kesatria mengirimkan doa kepada Klarybell. Begitu pula dengan semua orang yang berada di kediaman Archduke Calestine.
__ADS_1
Sekarang jutaan manusia mengirimi Klarybell doa. Gadis itu berjuang di bawah harapan umat manusia. Mempertaruhkan hidupnya demi mencapai kedamaian alam semesta.