Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Valencia Dijemput ke Pengadilan


__ADS_3

Teman-teman Charly ikut menertawakan Valencia, mereka kemari secara khusus ingin mengejek Valencia. Setelah beberapa hari di akademi, baru kali ini Charly menampakkan batang hidungnya di hadapan Valencia. Padahal gadis itu berharap untuk tidak bertemu dengan calon tunangannya itu karena keinginan membunuhnya bangkit ketika dihadapkan dengan Charly.


“Charly, kau sangat pengecut. Kau menemuiku dengan membawa teman-temanmu, jangan-jangan kau mencoba untuk merundungku?”


“Apa kau bilang?” Tawa Charly terhenti, raut mukanya langsung berubah drastis sesaat Valencia mengatakannya sebagai seorang lelaki pengecut. “Aku pengecut? Tampaknya kau semakin kurang ajar. Aku ini adalah calon tunanganmu sekaligus calon suamimu di masa depan, tapi mengapa kau malah memperlakukanku seperti ini?”


“Kau itu cuma calon tunangan, kita belum resmi bertunangan! Jangan pernah kau berharap kita bisa lebih dari itu! Tidak sudi aku mempunyai tunangan apalagi suami macam dirimu,” ketus Valencia membuang muka.


Charly naik darah setiap kali ia menjadikan Valencia sebagai lawan bicaranya, selain karena gadis itu menyebalkan, dia juga berpikir bahwa Valencia sangat kasar dibanding wanita pada umumnya. Gadis bermanik hijau safir tersebut sangat mudah baginya untuk mengumpat serta mengutuk orang lain sehingga Charly menilai Valencia tidak punya kelembutan layaknya Linnea.


“Keterlaluan! Dasar jal*ng! Kenapa kau tidak pernah sadar sama sekali? Ya, lagi pula setelah lepas dariku, aku tidak yakin ada pria yang bisa menerimamu selain aku. Atau lelaki berwajah monster ini bisa menerimamu? Aku yakin dia akan senang mendapatkan gadis mulus dan bertubuh bagus.”


Charly mengarahkan ejekannya pada Xeros, dia terang-terangan menertawakan dan menghina Xeros. Ekspresi Valencia sesaat berubah, Xeros hanya tertekuk sembari menahan emosinya, pikirannya saling bertubrukan di dalam kepala.


‘Aku memang berwajah monster, gadis sesempurna Valencia mengajakku berbicara dan memperlakukanku dengan baik. Apa aku terlalu berharap lebih? Apakah aku salah dekat dengan Valencia?’ batin Xeros.


Mereka masih sibuk menertawakan Xeros, mimik muka mereka menggambarkan rasa jijik terhadap pria yang sedari tadi bersama Valencia.


“Tampaknya kau perlu aku ajari sesuatu.” Valencia menarik kerah baju Charly. “Lalu kenapa? Aku tidak peduli kau menghinaku karena aku bisa menamparmu sesuka hatiku. Tetapi, apabila kau menghina Xeros, maka secara tidak langsung kau meminta untukku bunuh. Berwajah monster? Apanya yang berwajah monster?”


Charly terdiam tak berkutik, sangat menyeramkan ketika melihat Valencia marah seperti saat ini. Kemudian Valencia menyentak kerah baju Charly, sorot matanya nan tajam sungguh menusuk ke relung jiwa.


 “Kalian mengatakan Xeros berwajah monster, tapi kalian justru berperilaku seperti monster. Hanya karena wajahnya mengalami kelecetan, bukan berari kalian bisa seenaknya menghinanya!”


Valencia benar-benar murka, kali ini ia tidak main-main dengan perkataannya, caranya memandang menampakkan keinginan membunuh yang perlahan mencuat keluar dari auranya.


“Kenapa kau membelanya? Apa mungkin kau telah jatuh hati padanya?” tanya Charly berupaya bangkit dari posisinya.


“Jatuh hati atau tidak, itu bukan urusanmu. Kali ini kau harus diberi pelajaran yang lebih keras dari dibanding biasanya.”

__ADS_1


Tiba-tiba saja Valencia bergerak mendekati Charly lalu meninju perut pria itu sampai membuatnya meringkuk di atas tanah.


“Ini sebagai bentuk kemarahanku!” Sekali lagi Valencia melakukan hal yang lebih gila lagi. Valencia menendang Charly hingga terpental jauh ke luar dari lapangan latihan.


Charly mengerang kesakitan, sekujur badannya seakan remuk. Tidak hanya Charly saja yang dihajar, seluruh teman-teman Charly juga dihajar habis-habisan oleh Valencia. Mereka hampir kehilangan kesadaran penuh akibat pukulan bertubi-tubi dari Valencia.


“Manusia harus merasakan sakit terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang paling menakutkan di sini.”


Xeros tercengang, ini pertama kalinya seseorang tidak menilai dirinya dari luka di wajahnya. Sebuah kecacatan di wajahnya yang membuat Xeros harus menutupi luka tersebut menggunakan topeng. Akan tetapi, Valencia tidak melihat dari lukanya melainkan dari apa yang ia nilai sendiri di diri Xeros.


“Xeros, kau tidak perlu lagi merasa dirimu rendah, jangan merasa kau tidak pantas berada di dekatku karena kau berhak mendapatkan perlakuan baik dariku,” ujar Valencia sambil tersenyum cerah.


Xeros mengangguk. “Iya, Valencia. Terima kasih karena sudah membelaku, ini pertama kalinya aku menemuka seseorang yang tidak mempermasalahkan kecacatan wajahku.”


Valencia tertegun, tanpa sadar Xeros sekilas mengukir senyum tipis, ini merupakan momen pertama Xeros tersenyum.


Hubungan Valencia dan Xeros sangat dekat semenjak hari itu. Mereka terkadang makan bersama atau pun melakukan obrolan ringan. Pandangan orang kepada mereka juga terlihat aneh, hanya saja mereka mengabaikan itu semua dan memilih bersikap biasa saja.


"Xeros, maaf aku bertanya soal ini, tapi bisakah kau memberi tahuku luka apa yang kau simpan di balik topengmu?"


Valencia akhirnya menanyakan hal yang ingin ia ketahui selama ini. Namun, eros hening, ia tidak memberikan respon atau tanggapan terhadap pertanyaan Valencia. Di sini Valencia tampak merasa bersalah karena telah menanyakan sesuatu yang bersifat sensitif.


"Kalau kau tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa, kau tak perlu memaksakan diri," kata Valencia lagi.


"Mukaku terkena luka bakar, waktu aku kecil rumahku kebakaran dan akhirnya mengenai sebagian wajahku. Apa kau ingin melihatnya?"


Suara Xeros terdengar sendu, pandangannya juga nampak redup. Terlihat jelas bahwa itu merupakan kejadian masa lalu yang ingin ia lupakan segera.


"Tidak usah, kau tidak perlu sampai sejauh itu memperlihatkan wajahmu padaku. Apabila kau tidak mau menunjukkan padaku, maka tak ada masalah."

__ADS_1


Kemudian tiba-tiba Xeros membuka topengnya, ia memampangkan secara jelas luka bakar di wajah bagian kanan. Luka bakarnya besar dan nyaris menutupi sebagian wajahnya.


Valencia mematung tatkala melihat luka bakar Xeros. Terselip perasaan iba kepada Xeros yang harus menerima penghinaan dari orang lain akibat bekas luka bakar tersebut.


'Valencia pasti jijik setelah melihat wajahku, tapi tidak masalah kalau dia menjauhiku setelah ini.'


Begitulah anggapan Xeros, tapi secara mengejutkan, Valencia menyentuh luka bakar Xeros. Jemarinya nan lembut mengelus wajahnya dan tidak tampak seperti seseorang yang jijik.


"Hei, bagaimana kalau aku bisa menyembuhkan luka bakarmu?"


Kedua mata Xeros membulat sempurna, ia pikir Valencia sedang bercanda kala itu.


"Apa kau bercanda dan bermaksud untuk menghiburku? Tidak ada dokter yang bisa menyembuhkan luka bakarku. Aku juga sudah menyerah atas luka ini."


"Tidak, aku tidak bercanda." Valencia menatap serius Xeros. Ya, dia tidak main-main dengan perkataannya barusan. "Aku sungguh bisa menyembuhkan luka bakarmu."


"Kau bisa menyembuhkannya? Bagaimana caranya?"


Valencia berdiri dari tempat duduknya, ia berdiri di hadapan Xeros. Menghilangkan bekas luka bakar merupakan hal mudah baginya.


"Aku akan mencarikan terlebih dahulu bahan-bahan pembuatan obatnya. Kau bisa menunggu sebentar, bukan?"


Melihat keseriusan Valencia, Xeros lantas mengangguk. "Aku bisa menunggunya," jawabnya sumringah.


"Baiklah, aku akan mulai mencari bahan utamanya nanti."


Di saat bersamaan, sekelompok pria datang menemui Valencia. Kelompok tersebut mengenakan pakaian kesatria.


"Nona Valencia, kami kemari ingin menjemput Anda ke pengadilan karena Anda telah melanggar berat hukum yang ditetapkan di Alegra. Mohon ikuti kami, kami akan mengantarkan Anda ke pengadilan."

__ADS_1


__ADS_2