
“Oke, saatnya penghabisan. Aku akan menurunkan hujan magis yang bisa melenyapkan kabut dari wilayah kekaisaran.”
Valencia mengangkat kedua tangannya menghadap ke atas langit, tangannya tertadah sembari memusatkan pikirannya. Dalam sekejap awan mendung hitam berkumpul di angkasa, awan itu bergulung bersamaan tiupan angin. Kemudian Valencia menurunkan tangannya, seketika hujan deras mengguyur daratan. Air hujan tersebut terkesan berbeda dari hujan biasanya, tetes demi tetes air hujannya bercampur sihir yang berguna untuk melenyapkan sisa-sisa kabut yang masih merambat di udara.
“Huh? Tiba-tiba hujan?” Semua orang yang kebetulan berada di sana menjadi bertanya-tanya mengenai hujan yang mendadak turun deras menyapu seluruh kabut yang tersisa.
“Kabutnya menghilang.” Reibert, Leano, dan Sammy tampak keheranan menyaksikan hujan deras di tengah cuaca yang terbilang sangat bagus kala itu. Mereka bahkan tidak menemukan adanya tanda-tanda kemunculan hujan lebat.
Di sini Sammy kebingungan sendiri, dia merasakan bahwa hujan tersebut berbeda dari hujan biasa. Sammy menatap lama ke arah langit, ia berasumsi bahwa hujan kemungkinan hanya terjadi di kekaisaran mereka saja. Perlahan Sammy mempertanyakan segalanya, mulai dari cara kerja pedangnya hingga hujan yang membuat kabutnya menghilang.
“Lihat! Kabutnya sudah menghilang secara menyeluruh!” seru seorang kesatria.
Wilayah kekaisaran sudah sangat bersih dari kabut, tapi mereka terkejut sebab meski kabutnya lenyap, pemukiman penduduk dan orang-orang yang tertelan kabut tak kunjung kembali. Mereka mulai larut dalam pikiran masing-masing, perasaan mereka menjadi tidak karuan sebab di antara orang-orang itu terdapat rekan serta keluarga mereka.
“Lubang tempat keluarnya kabut itu belum tertutup, mungkin saja kalau lubang itu tertutup mungkin saja kita bisa membawa orang-orang itu kembali,” ujar Reibert.
“Tapi, bagaimana caranya kita menutup lubangnya? Itu ada di atas langit, tidak mungkin bagi kita mencapainya kecuali kalau ada seseorang di antara kita yang bisa terbang. Namun, mustahil ada yang bisa terbang di sini.” Begitulah yang Leano katakan, Valencia memang bisa terbang ke atas saja tapi dia tidak mau menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Valencia melangkah ke depan, ia mendongakkan kepala mengamati lubang tempat keluarnya kabut hitam sebelumnya. Sesuai yang dikatakan oleh Reibert, jika ingin semuanya kembali maka mereka harus menutup atau menghancurkan lubang tersebut.
“Hei, pinjamkan aku busur,” pinta Valencia kepada salah seorang kesatria.
Tanpa pikir panjang, seorang kesatria menyerahkan busurnya kepada Valencia. Mereka tidak tahu apa yang sedang direncanakan Valencia. Mereka hanya menonton tanpa bertanya yang hendak dilakukan Valencia menggunakan sebuah busur.
__ADS_1
‘Baiklah, mari kita akhiri ini. Jangan pikir kalian bisa lolos dariku, meski tidak menggunakan sihir sekali pun aku masih bisa menggunakan otakku untuk mengatasinya.’
Valencia menarik tali busurnya, dia membidik lurus ke atas menuju lubang keluar kabut itu. Lubangnya kian membesar seperti pusaran air di tengah laut, namun Valencia tidak memusingkan hal tersebut. Sepasang mata hijau safirnya berbinar tajam, ia tak menampakkan satu celah pun untuk membiarkan lubang itu kabur tanpa dilenyapkan.
Setelah dirasa pas, Valencia pun melepas anak panahnya, suara bentrokan antara anak panah dengan tali busur terdengar jelas. Hal itu menggambarkan bahwa Valencia menarik tali busurnya sangat kuat. Anak panah melesat di udara dan menerjang masuk ke dalam lubang, semua orang pikir kalau apa yang dilakukan Valencia tidak ada gunanya. Namun, beberapa detik berselang, muncul ledakan dahsyat dari dalam lubang tersebut.
Ledakan itu menyebabkan perlahan lubangnya terkikis perlahan di angkasa hingga akhirnya lubang itu berhasil dilenyapkan. Seluruh mata yang menyaksikan tercengang sekaligus memandang takjub Valencia. Pasalnya, mereka berpikir bahwasanya mustahil jika Valencia menembakkan anak panah dari jarak yang terbilang lumayan jauh dari permukaan tanah.
“Pemukiman penduduk dan orang-orang yang diserap kabut telah kembali!” seru seorang kesatria menunjuk pemukiman yang muncul bersamaan cahaya yang menyilaukan.
Mereka lekas menuju ke pemukiman penduduk di alun-alun ibu kota, Valencia menghela napas panjang. Sungguh melegakan sekali seusai dirinya berhasil menyelamatkan semua orang sebelum terlambat. Cukup menegangkan baginya, bila dia berada di benua Mihovil mungkin situasi ini lebih mudah dia tangani.
“Akhirnya selesai! Saatnya untuk pulang.”
“Kau belum boleh pulang,” tahan Sammy.
“Kenapa? Urusanku di sini sudah selesai, jadi sekarang aku mau pulang.”
Terpaksa Valencia berhenti dan berbalik badan menghadap Sammy, tidak tahu pertanyaan sejenis apa yang akan terlontar dari mulut Sammy.
“Aku ingin bertanya padamu.” Kedua mata Sammy menatap lekat Valencia. “Siapa kau sebenarnya?”
Reibert dan Leano langsung mengarahkan atensi mereka pada Valencia, sejujurnya mereka juga mempertanyakan hal yang sama.
__ADS_1
“Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Sudah jelas, bukan? Aku ini Valen—”
“Bohong!” sergah Sammy. “Valencia kau bilang? Apa sekarang kau sedang mencoba membodohiku? Mustahil seorang manusia biasa memiliki kemampuan yang tidak masuk akal. Bahkan kau mengetahui sesuatu yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya, kau punya banyak pengetahuan yang tidak mudah didapatkan dalam waktu singkat. Katakan dengan jujur, siapa kau?!”
Sammy benar-benar menekan Valencia, dia terus mendesak Valencia untuk jujur mengenai siapa dirinya. Valencia sudah menduga hal seperti ini pasti akan terjadi suatu hari nanti, akhirnya dia kini dihadapkan oleh dugaannya itu.
“Sekarang di depan matamu, kau melihat badanku. Jadi, siapa yang lihat? Apakah Valencia atau orang lain? Terserah padamu, mau kau menilaiku sebagai seorang Valencia atau bukan. Lebih baik kau pikirkan sekali lagi, bagaimana caranya orang lain masuk ke tubuh Valencia?”
Valencia melepaskan genggaman tangan Sammy, dia sudah cukup stres memikirkan keanehan di dunia ini yang terjadi seusai kematiannya. Jadi, sekarang Valencia memilih untuk tidak menambah beban pikiran lagi.
“Jadi, kau benar-benar Valencia? Lalu—”
“Aku tahu ada banyak pertanyaan yang terbesit di kepala kalian, mulai dari perubahanku hingga kekuatanku yang tidak masuk akal. Aku paham itu, aku tidak akan menyangkalnya, tapi percayalah bahwa apa pun yang ada di diriku aku dapatkan selepas kematianku. Tidak mungkin kalian tidak tahu perihal berita aku melakukan percobaan bunuh diri, dari sanalah aku memperoleh segalanya.”
Kecurigaan Sammy pupus seketika, dia mendadak merasa bersalah terhadap Valencia karena telah memojokkan gadis itu.
“Maksudmu, kau mendapatkan kekuatanmu berkat kematian itu?”
Valencia mengangguk pelan, Sammy jadi tidak enak hati telah menudingkan kecurigaan tak berdasar kepada Valencia. Gadis itu benar-benar pandai memanipulasi keadaan, dia berhasil membuang rasa curiga Sammy.
“Kalau benar begitu, maafkan aku telah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tidak bermaksud seperti demikian.”
Valencia merekahkan senyum manis. “Ya, tidak apa-apa, aku memakluminya sebab bila aku berada di posisimu maka aku juga akan memiliki pikiran yang sama sepertimu.”
__ADS_1