Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Cinta Tak Terbalas


__ADS_3

“Apakah benar hanya karena saya unik? Atau ada hal lain yang membuat Anda tertarik kepada saya?”


Valencia menatap Dimitri dengan tatapan penuh selidik, ia tidak percaya kalau hanya itu alasan Dimitri mengiriminya surat lamaran pernikahan. Terlebih lagi itu untuk posisi Permaisuri, seharusnya dia bisa menemukan seorang wanita di negerinya untuk menjadi Permaisuri.


Dimitri terdiam, Valencia bukanlah wanita yang mudah dia bohongi karena gadis itu cukup peka terhadap kebohongan. Dimitri perlahan tertawa, dirinya tidak salah ingin menjadikan Valencia sebagai Permaisurinya.


“Nona, Anda bisa menggunakan sihir kan? Saya tidak sengaja melihat Anda menggunakan sihir waktu itu. Saya pikir saya berhalusinasi, tetapi melihat dari rumor mengenai Anda yang bisa mengalahkan segala jenis monster, saya pikir saya tidak berhalusinasi,” ucap Dimitri.


“Ya, saya bisa menggunakan sihir. Apakah Anda tertarik karena saya pandai mengendalikan sihir? Anda mau mencari Permaisuri seorang wanita penyihir?” cecar Valencia.


Dimitri menggeleng cepat. “Tidak, hanya saja Anda mirip dengan seseorang.”


Valencia menatap bingung Dimitri, ia mengerutkan keningnya dan penasaran siapakah seseorang yang dimaksud mirip dengannya.


“Siapa orang yang mirip dengan saya?” tanya Valencia.


“Penyelamat negeri kami sekaligus cinta pertama leluhur saya, Klarybell Berliana.”


Valencia terpaku diam, ia khawatir Dimitri tahu bahwa dia memanglah Klarybell yang pernah berperan sebagai penyelamat Kekaisaran Sergia.


“Melihat respon Anda, sepertinya Anda juga kenal dengan nama Klarybell. Dahulu dia berperan besar menyelamatkan Kekaisaran Sergia dari serangan monster. Leluhur saya mengenalnya karena Klarybell juga menyelamatkannya saat kapal hampir tenggelam karena badai besar di tengah laut Mihovil,” lanjut Dimitri berucap.


“Benarkah saya mirip dengan Klarybell? Saya rasa saya tidak mirip sama sekali dengan penyihir hebat itu.” Valencia berusaha merespon senatural mungkin demi menghindari terungkapnya identitas aslinya.


“Anda memang mirip dengannya karena saya pernah mendengar bahwa karakter Klarybell itu kasar dan tidak mau tunduk di hadapan orang lain. Lalu apakah Anda tahu? Leluhur saya tidak pernah menikah seumur hidupnya.”


Valencia terdiam dalam seribu bahasa, pergerakan tangannya terhenti saat sedang menjangkau cemilan di atas meja.


“Tidak pernah menikah seumur hidupnya? Kenapa dia tidak menikah?”

__ADS_1


“Karena beliau cinta mati kepada Klarybell, tetapi kisah cintanya berakhir menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Siapa sangka kalau leluhur saya ternyata tidak main-main dalam mencintai seorang wanita. Sampai akhir hayatnya, beliau hidup dalam kesendirian meratapi cinta yang tidak akan pernah dia miliki. Beliau berbohong kepada Klarybell dengan mengatakan bahwa dia telah menikah dan mempunyai anak.”


“Padahal kenyataannya tidak seperti itu, pada akhirnya takhta Kaisar jatuh kepada keponakannya. Hingga menutup mata, leluhur saya masih mendambakan pujaan hatinya agar membalas perasaannya. Bahkan, di istana Kekaisaran Sergia masih terpajang rapi potret Klarybell bersama lencana mahkota yang dia serahkan dahulu. Anehnya, semua itu masih utuh tanpa kerusakan, mungkin karena efek sihir.”


Valencia tidak percaya kalau Kaisar Sergia yang bernama Jun itu berbohong kepadanya tentang dia yang menikahi wanita lain. Apabila Dimitri tidak mengungkapkannya, maka selamanya dia tidak akan tahu soal fakta tersebut.


Masih segar di ruang ingatannya tentang Jun yang selalu mengejarnya ke mana pun untuk meminta menikah dengannya. Namun, gadis itu menolak secara tegas sebab dia tidak paham tentang apa itu cinta.


“Bell, aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi Permaisuri-ku.”


“Bell, aku sangat menyukaimu. Tolong jangan lari lagi dariku.”


“Bell, ayo kita menikah. Aku akan membahagiakanmu dan menjadikanmu wanita paling beruntung di dunia ini.”


Valencia tersenyum samar mengingat Jun yang selalu berlarian menghampirinya. Hanya saja timbul sedikit rasa bersalah karena tidak menemaninya kala sedang meregang nyawa.


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Dimitri mendapatkan laporan dari salah seorang bawahannya bahwa Abraham memanggilnya ke istana untuk menghadiri pertemuan khusus.


“Maafkan saya, Nona. Saya harus pergi sekarang, nanti jika ada waktu mari kita mengobrol lagi,” ucap Dimitri.


“Baiklah, sekali lagi saya memohon maaf karena telah menolak lamaran Anda.”


Valencia beranjak meninggalkan penginapan, sekarang dia langsung kembali ke kediaman Archduke Calestine. Begitu dia sampai di dalam kamar, Valencia dikejutkan oleh keberadaan Rexid yang tengah duduk santai sambil memakan cemilan yang tersedia di atas meja.


“Kau sudah kembali? Bagaimana pembicaraanmu dengan Kaisar Sergia?” tanya Rexid.


“Berjalan lancar,” jawab Valencia singkat.


“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” Rexid terlihat penasaran dengan topik pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


“Tidak ada yang begitu penting. Aku menemuinya karena aku ingin mengembalikan surat lamaran pernikahannya dan menolak beliau secara halus.”


Ekspresi Rexid seketika ceria, inilah yang ingin dia pastikan dari beberapa hari yang lalu dan sekarang Valencia telah menjawab rasa penasarannya.


“Benarkah kau menolaknya? Kenapa kau menolak lamaran dari Kaisar Sergia? Bukankah menjadi Permaisuri adalah impian kebanyakan wanita?”


Mimik muka Valencia terlihat aneh, dia tidak mengerti mengapa menjadi Permaisuri termasuk impian yang bagus.


“Apa yang kau katakan? Menjadi Permaisuri tidak tidaklah bagus untukku. Aku tidak suka karena harus berdiam diri di istana melayani Kaisar dan membantu pekerjaan Kaisar. Aku lebih suka menjadi seseorang yang lebih bebas tanpa adanya kekangan dari istana,” ujar Valencia.


“Ternyata begitu, kau adalah orang yang bebas dan tidak menyukai peraturan yang mengikat.”


“Ya, aku lebih suka pergi ke alam bebas menangkap dan menghancurkan sarang makhluk sihir. Menjadi Permaisuri itu sangatlah membosankan, apalagi kalau nanti harus bersaing dengan para selir yang menyebalkan.”


Tidak dapat dipungkiri, di benua Solvey kebanyakan Kaisar pasti mempunyai beberapa orang selir. Tidak jarang terjadi perebutan kekuasaan antar para selir atau pun antara Permaisuri dan para selir. Mereka memperebutkan perhatian serta kasih sayang Kaisar, tetapi Valencia tidak menyukai itu semua karena terlalu merepotkan baginya.


“Baiklah, sekarang lupakan itu. Aku datang kemari untuk mengajakmu pergi ke festival di ibu kota. Di sana sangat meriah, aku dengar di sana ada banyak makanan enak yang dijual—”


“Ayo kita pergi!” Valencia sangat antusias seusai mendengar ada banyak orang yang menjual makanan.


Tanpa berlama-lama, Valencia menarik tangan Rexid dan membawanya ke pasar malam di festival ibu kota. Suasana di sana sangat menyenangkan, bagaikan surga bagi gadis itu karena di mana-mana ada aroma makanan yang menyeruak ke indera penciumannya.


Rexid juga tampak senang mengikuti Valencia, ini adalah kesempatan baginya menikmati waktu berduaan bersama gadis itu.


“Sampai kapan kau akan belanja? Tidak bisakah kau melihat tanganku sudah penuh oleh makanan yang kau beli?”


Rexid kewalahan, tidak menyangka Valencia akan belanja sebanyak ini sampai membuat tangannya penuh menenteng berbagai jenis makanan dan minuman.


“Tunggulah sebentar, aku akan segera menyelesaikannya.”

__ADS_1


__ADS_2