Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Hubungan Davey dan Klarybell


__ADS_3

Wajah Marquess Bruno memucat seketika melihat kedatangan Henzo. Kedatangannya membawa atmosfer persidangan ini menjadi lebih menyeramkan. Pintu masuk ruang sidang rusak total, tidak ada orang yang mampu menghalangi kedatangan Henzo.


Valencia tersenyum riang menemukan Henzo kini berada di ruang yang sama dengannya. Semuanya berjalan sesuai rencana awal Valencia.


"Yang Mulia, mengapa Anda bisa ada di sini? Persidangan ini tidak seharusnya Anda saksikan. Lagi pula Anda tidak saya undang ke persidangan ini," ujar Marquess Bruno.


Henzo menatap tajam ke arah Marquess Bruno sembari merekahkan senyum penuh kegilaan. Tanpa berlama-lama, Henzo langsung mendekat ke meja hakim. Tangan kekarnya menangkap kerah baju Henzo lalu menariknya secara kasar.


"Kau tanya kenapa aku ada di sini? Seharusnya aku yang bertanya padamu? Kenapa kau tidak mengundangku ke persidangan? Kau takut aku protes setelah mendengar keputusanmu yang tidak masuk akal itu?" tekan Henzo.


Marquess Bruno berkeringat dingin saat menatap mata Henzo. Dia merasakan aura intimidasi yang amat kuat.


"B-Bukan b-begitu, Yang Mulia. S-Saya hanya t-tidak—"


"Diam! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu. Lebih baik sekarang kau mati daripada kau menyusahkan orang lain saja."


Henzo menjungkirkan balikkan tubuh Marquess Bruno hingga tubuhnya terhempas ke permukaan lantai yang dingin. Tidak sampai di sana saja, kini Henzo menginjak dada Marquess Bruno dan tak memberinya kesempatan untuk kabur.


Kemudian Henzo menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisi bukti nyata mengenai apa saja kejahatan yang dipalsukan oleh Marquess Bruno.


"Jangan kau pikir kau bisa menyembunyikan kebusukanmu selamanya. Aku telah menemukan bukti atas perbuatanmu. Memalsukan kejahatan para bangsawan, menerima uang suapan, korupsi dana pengadilan, melakukan perencanaan pembunuhan terhadap tahanan, dan masih banyak lagi," papar Henzo.


Mata Marquess Bruno membelalak kaget, ia setengah mati ketakutan tatkala Henzo berhasil menemukan bukti kejahatannya selama ini.


"Tidak hanya kau, seluruh rekanmu di pengadilan melakukan kejahatan yang sama. Bagaimana aku harus menghukummu sekarang? Haruskah aku membunuhmu?"


Senyum Henzo amat menyeramkan, aura mematikan terpancar jelas. Marquess Bruno takkan bisa menghindari hukuman yang akan diberikan Henzo.


"Tidak, Yang Mulia! Mohon jangan bunuh saya." Marquess Bruno memohon pengampunan dari Henzo, tapi segalanya sudah terlambat.


"Jangan pernah memohon kepadaku karena itu percuma. Kau sudah memancing hal yang tidak seharusnya kau pancing. Mungkin nerakalah tempat terbaik untukmu saat ini."


Henzo menekan tubuh Marquess Bruno dan membuatnya memekik kesakitan. Seisi ruangan hanya menjadi penonton. Apabila itu berhubungan dengan Henzo, maka mereka memilih untuk menjauh.


"Saya mohon, ampuni saya, Yang Mulia. Saya hanya menghukum mereka yang berbuat kriminal dan mengganggu kestabilan kekaisaran," lirih Marquess Bruno.


"Berhentilah mengatakan omong kosong! Kau harus mati hari ini juga sebelum membuat lebih banyak kerugian terhadap orang lain!"


Henzo beranjak dari tubuh Marquess Bruno, ia mendekat ke tempat Valencia berdiri. Kala itu, Marquess Bruno tidak menyerah begitu saja. Dia merogoh sebilah pisau dari balik pakaiannya lalu lekas bangkit dan berlari menghampiri Henzo.


"Lebih baik Anda mati saja sekarang! Gara-gara Anda semuanya malah jadi berantakan!"


Akan tetapi, semuanya berada di luar keinginan Marquess Bruno. Henzo berhasil menahan serangan pisaunya saat ujung pisau itu hampir menghunus ke jantungnya.


"Berani sekali kau mengarahkan pisaumu padaku. Ini tidak akan bisa membunuhku!"


Henzo meremas pisau itu sampai retak dan hancur. Marquess Bruno pun kehilangan akal detik itu juga. Dia tak punya cara lain lagi untuk membunuh Henzo.


"S-Sial! Dasar monster!"


Mendengar Marquess Bruno meneriakinya sebagai monster, Henzo kehilangan kesabarannya. Dia pun langsung bergerak mematahkan leher Marquess Bruno.

__ADS_1


"AAARRGGGGHH!"


Teriakan Marquess Bruno terdengar nyaring di telinga. Tidak hanya leher saja, bahkan jemarinya pun ikut dipatahkan oleh Henzo.


"Aku bukan orang yang sabar, jadi jangan sesekali mencoba menguji kesabaranku kalau kau masih ingin hidup!"


Setelahnya, Henzo menghempaskan tubuh Marquess Bruno ke sudut ruangan.


'Sejak awal aku merasa, tubuh Paman tampan bukan seperti tubuh manusia biasa. Dia tidak mudah terluka dan kekuatannya juga melebihi orang pada umumnya. Mungkin saja aku bisa membuatnya menjadi sword master jika aku berhasil menemukan salah satu artefak sihir,' batin Valencia.


Selepas itu, Henzo mengibaskan jemarinya, ia memberi isyarat kepada para kesatria yang dia bawa.


"Tangkap mereka!" perintah Henzo.


Para kesatria langsung bergerak cepat menangkap satu persatu komplotan Marquess Bruno. Mereka tidak bisa bergerak leluasa, langkah mereka terkunci.


DUAARR!


Suara ledakan terdengar jelas dari luar ruangan dan di belakang gedung pengadilan. Valencia menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Ayo cepat keluar sekarang! Gedung ini akan meledak!" seru Valencia kepada orang tua korban yang masih berada di dalam ruangan.


Valencia dan Henzo berlarian keluar dari ruangan. Mereka pun berdiri di tempat yang lapang dan kosong sembari menyaksikan ledakan gedung pengadilan.


"Jadi, ini yang kau persiapkan sebelum persidangan?" tanya Henzo.


"Benar, aku menyiapkan bom di setiap sisi gedung pengadilan. Lagi pula seluruh tahanan sudah aku bebaskan, dengan begini tidak akan ada lagi ketidakadilan di Kekaisaran Alegra. Hukum akan berjalan merata, rakyat tidak perlu lagi takut terhadap hukum."


"Paman, apakah Paman mau menjadi sword master?" tanya Valencia tiba-tiba.


"Sword master?"


"Ya, sword master, yaitu ahli pedang sihir. Pada intinya, nanti Paman bisa memadukan pedang dan sihir untuk memperkuat serangan," jelas Valencia.


Henzo terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab tawaran dari Valencia.


"Bagaimana caranya?"


"Aku akan mencarikan artefak sihir untuk Paman, dengan begitu nanti Paman bisa belajar memadukan sihir dan pedang. Memang agak sulit, tapi Paman pasti bisa melakukannya."


"Artefak sihir? Memangnya kau bisa menemukan artefak sihir di Alegra? Artefak sihir biasanya hanya ditemukan di benua Mihovil."


Valencia merekahkan senyumnya. "Tentu saja bisa, biasanya ada berbagai artefak sihir di dalam portal."


Sebenarnya bukan begitu, artefak sihir yang dilindungi oleh dirinya di masa lalu kini berada di luar benua Mihovil. Entah atas alasan apa artefak sihir itu bisa berada di dalam portal, dia tidak tahu. Padahal keamanan di sekitar gudang artefak sihir sangat dilindungi oleh para penyihir.


"Kalau kau bisa menemukannya, maka aku mau mencoba menggunakannya. Ini bisa bermanfaat sebagai alat pemusnah para pembunuh yang selalu datang dengan rencana pembunuhannya," tutur Henzo penuh dendam.


"Baiklah, aku akan mencarikan artefak sihir untuk Paman. Jangan khawatir, jika Paman berhasil menjadi sword master pertama di benua ini, maka aku yakin musuh tidak akan berani melawan Paman," kata Valencia membuat semangat Henzo kian membara.


"Benarkah begitu? Hahahah, aku menantikannya."

__ADS_1


***


Sean selama berhari-hari mengitari dunia ini, tapi tidak ia temukan satu pun petunjuk mengenai Klarybell dan Davey. Hubungan di antara keduanya sangat misterius. Sean nyaris menyerah mencari tahu soal mereka.


"Ke mana lagi aku harus mencari tahu? Kenapa hubungan mereka begitu rumit untuk aku pahami?"


Di tengah keluhan Sean, dia tiba-tiba mendapat panggilan dari alam akhirat. Belum ia ketahui maksud panggilan tersebut. Hanya saja, firasatnya mengatakan bahwa panggilan itu berhubungan dengan Davey.


Buru-buru Sean meninggalkan segala kebingungannya dan langsung terbang menuju alam akhirat. Di sana ia temukan kebisingan para penghuni kastil. Sekilas Sean mendengar nama Davey diucapkan beberapa kali.


"Ada apa kalian memanggilku?" tanya Sean kepada salah seorang pelayan.


"Maaf, Tuan, Yang Mulia Davey ingin bertemu dengan Anda. Beliau baru saja terbangun dari tidurnya."


Mendengar hal itu pun Sean bergegas melangkah ke dalam kamar Davey. Dia menemukan Davey tengah duduk di atas tempat tidurnya sembari memandang ke luar jendela.


"Yang Mulia!"


Senyum lega Sean merekah begitu melihat Davey. Bahkan, Davey pun juga tampak senang melihat Sean di sana.


"Sean, kau sudah datang? Cepat juga kau terbang dari dunia manusia ke kastilku," tutur Davey.


"Ya, saya terbang cepat dari dunia manusia. Bagaimana kondisi tubuh Anda? Apakah Anda baik-baik saja sekarang?"


Sean bertanya sembari menatap khawatir Davey, tidak terhitung berapa kali dia memikirkan soal Davey akhir-akhir ini.


"Aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat sementara waktu."


Sean tertunduk diam sesaat sebelum dia angkat suara untuk berbicara soal kebingungannya.


"Yang Mulia, bolehkah saya bertanya?"


"Kau ingin menanyakan alasan mengapa aku memberikan kekuatanku kepada Klarybell, bukan? Kau juga ingin bertanya soal hubunganku dan Klarybell," ucap Davey telah mengetahui semua pertanyaan Sean.


Sean mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Bisakah Anda menjelaskannya kepada saya? Sejujurnya, saya telah mencoba mencari tahu jawaban pertanyaan itu, tapi ternyata seberapa jauh pun saya mencoba mencari tahu, tidak ada jawaban yang saya dapatkan."


Davey merekahkan senyum tipis, dia sudah bersiap akan memberi penjelasan terhadap Sean mengenai pertanyaan tersebut.


"Mungkin ini sudah saatnya kau mengetahuinya. Aku akan menjawab rasa penasaranmu itu. Aku memberikan kekuatanku kepada Klarybell karena tubuhku sudah semakin melemah, aku takut tidak bisa melindunginya lebih lama lagi," tutur Davey.


"Kenapa Anda melindungi Klarybell sampai rela mengorbankan diri Anda sendiri, Yang Mulia?"


Davey menghela napas panjang, kedua bola matanya memanas sebab air mata yang hampir tak terbendungkan.


"Sean, Klarybell adalah Adikku."


Sean terperanjat kaget, dia kehilangan kata-katanya untuk merespon pernyataan tersebut.


"Apa yang Anda katakan? Mungkin saya salah dengar, bisakah Anda ulangi sekali lagi?"


"Klarybell adalah Adikku, satu-satunya harta yang paling berharga dan yang paling aku lindungi di dunia ini."

__ADS_1


__ADS_2