Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pembalasan Valencia


__ADS_3

Ivanov menggendong Valencia menuju akademi, dia mengantarkan gadis itu sampai ke kamarnya. Selama di dalam perjalanan, ada puluhan mata yang menyaksikan mereka. Valencia cukup merasa terganggu karena wajah Ivanov memang terkenal tampan sehingga tidak sedikit wanita yang mendambakan dirinya. Hanya saja Ivanov tak terlalu mengambil pusing mereka semua, dia lebih menaruh perhatian terhadap Valencia dibanding orang lain.


Sesampainya di depan pintu kamar, Devina dan Rachel sangat terkejut menyaksikan Valencia digendong oleh Ivanov. Mereka seketika memasang mimic wajah khawatir seusai melihat telapak kaki Valencia dibalut perban. Di sisi lain, ada bercak darah yang tersisa di kaki Valencia sehingga pikiran mereka semakin liar.


“Valencia, apa yang terjadi padamu?”


Devina menatap lekat Ivanov, dia sepertinya sudah kenal dekat dengan Ivanov. Selain sebagai Tuan Putri Alegra, Devina juga harus mengenal orang-orang yang sering datang ke istana. Ivanov dulunya sering berada di istana, tapi semenjak dia menjadi pendeta tetap, dia jadi jarang mengunjungi istana.


“Kenapa kau bersama Valencia? Aku tahu, hubunganmu dengan Valencia tidak baik. Jadi, apa yang membawamu kemari dan berbaik hati membantu mengantarkan Valencia?” tanya Devina disertai tatapan mata penuh curiga.


“Bukan urusanmu,” jawab Ivanov dengan sangat ketus.


Ivanov melewati mereka berdua begitu saja dan mengantarkan Valencia ke dalam kamarnya. Dia langsung membaringkan Valencia di atas ranjang lalu mengecup punggung tangan gadis itu.


“Aku pulang dulu, kalau ada sesuatu yang mengganggumu, tolong segera beri tahu aku,” ucapnya.


Valencia hanya meresponnya menggunakan sebuah senyum kaku, Ivanov langsung beranjak keluar dari kamar Valencia membawa kebanggaan di dirinya. Sungguh menggelikan, Valencia tak bisa mencerna dengan baik sikap Ivanov yang berubah drastis.


“Valencia, ada apa dengan kalian berdua? Bukankah Ivanov selalu berlawanan denganmu? Lalu apa-apaan itu yang aku lihat barusan? Tingkah dia jadi aneh,” tanya Devina.


Valencia menghela napas panjang. “Aku juga tidak paham dengannya, dia membuatku pusing. Biarkan saja dia bertingkah seperti apa, selama tidak menggangguku, maka aku tidak akan menjadikannya sebagai masalah besar.”

__ADS_1


“Lalu ada apa dengan kakimu? Mengapa dipenuhi dengan perban?” lanjut Rachel ikut bertanya.


“Ada seseorang yang menaruh beling kaca di sepatuku, sepertinya aku tahu siapa orangnya. Untung saja aku cepat menyadarinya, kalau tidak bisa-bisa aku mati karena kehabisan darah.”


Mereka tidak lagi bertanya lebih lanjut soal siapa orang yang sudah berani mencelakai Valencia sebab kala itu emosi Valencia sedang tidak stabil. Mereka memutuskan untuk meninggalkan Valencia beristirahat di kamarnya sampai lukanya sembuh sepenuhnya.


‘Linnea, kau adalah orang yang telah menaruh beling kaca di sepatuku. Tunggu saja malam ini, aku akan membuatmu merasakan sakit yang luar biasa. Jangan sangka kau bisa bersikap seenak hatimu, aku bisa lebih kejam jika kau memintanya,’ batin Valencia menyunggingkan senyum jahat.


Pada malam harinya, Valencia menyelinap keluar dari kamar, untung saja dia seorang diri tidur di kamar itu, jadi tidak ada orang yang akan melihat dia pergi keluar seorang diri. Valencia bergerak hati-hati agar tidak ketahuan oleh orang lain. Dia bersembunyi di dekat tembok kamar Linnea, dia menanti sampai Linnea keluar dari kamarnya.


Menunggu selama sepuluh menit, Valencia menemukan Linnea keluar dari kamar dalam kondisi mengantuk. Diam-diam Valencia membuntutinya dari belakang, udara malam hari ini terasa dingin sehingga Linnea butuh penghangat sebab penghangat di kamarnya telah habis. Kemudian selama di perjalanan, firasat Linnea terasa sangat buruk. Sesekali dia berhenti dan menengok ke belakang untuk mengecek keamanan sekitar.


Tepat ketika Linnea tiba di persimpangan lorong yang sepi, tangan Valencia mencengkram leher bagian belakang Linnea. Alangkah terkejutnya Linnea menemukan Valencia berada di sana kala itu. Tidak disangka orang yang mengikutinya sejak tadi adalah Valencia sendiri, bukan orang lain.


“Valencia, apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku!” Linnea meronta meminta Valencia untuk segera melepaskannya.


“Apa yang kau katakan? Melepaskanmu? Jangan harap! Kau akan menderita di tanganku malam ini!”


Valencia memperkuat cengkraman tangannya, dia tak kuasa menahan amarah yang keluar menggebu-gebu. Kini Linnea berada di bawah penglihatan Valencia, ia tidak akan mudah lepas dari pengawasan gadis itu.


“Apa maksudmu? Kau akan terkena masalah kalau kau berani melukaiku!” ancam Linnea.

__ADS_1


Valencia tersenyum miring. “Aku tidak peduli, aku hanya mempedulikan rasa dendam dan amarahku padamu. Kau yang memulainya, jangan mencoba kabur setelah kau berani mengacak-acak emosiku!”


“Tunggu dulu, Valencia! Maksudmu apa?! Mengacak-acak emosimu? Aku tidak melakukan apa pun padamu. Jangan sembarangan menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak!” Linnea masih berani mengelak dari Valencia.


“Apa kau sedang berpura-pura tidak tahu? Kau pikir aku tidak akan pernah tahu siapa yang menaruh pecahan kaca di sepatuku sampai membuat telapak kakiku terluka?! Aku yakin, kau adalah pelakukan.”


Setelah itu, Valencia menyeret paksa Linnea ke lantai atas, dia tidak mau lagi mendengar apa pun jenis perkataan Linnea. Gadis itu pandai dalam berakting sehingga tak ada satu pun hal yang dapat dipercaya darinya.


“Kau mau membawaku ke mana?! Kalau kau berniat mencelakaiku, aku akan berteriak agar semua orang mendengarku dan datang menyelamatkanku. Bagaimana pun juga di akademi ini semua orang hanya mempercayaiku dan tidak akan ada orang yang mempercayaimu.”


“Berteriaklah! Coba sekarang berteriak sekencang mungkin!” Valencia meremas dan menekan pipi Linnea. Malam itu Valencia terlihat begitu menakutkan hingga membuat suara Linnea terasa tertahan. “Tidak akan ada orang yang mendengar teriakanmu karena sekarang hanya aku seorang yang akan mendengar suara jelekmu itu.”


Valencia meneruskan langkahnya menapaki anak tangga sambil menyeret Linnea terus naik ke atas. Di bagian ujung lorong lantai tiga terkenal sepi, di sini tidak akan ada satu orang pun yang memergoki jenis kejahatan yang dilakukan Valencia terhadap Linnea.


“Apa kau masih tidak puas membuatku rendah di mata orang lain? Apa kau masih tidak puas merampas segalanya dariku?! Apa kau masih tidak puas setelah tidur dengan calon tunanganku? Apa kau masih tidak puas menghancurkan hidupku?! Kau sekarang menaruh beling di sepatuku, apa kau tahu artinya itu? Artinya kau sedang mencoba mendatangkan malaikat maut untuk mencabut nyawamu.”


Tubuh Linnea didorong ke tepi pembatas, jika Valencia mendorongnya sedikit lagi maka Linnea kemungkinan akan terjatuh dari lantai tiga.


“Tidak, aku tidak mau mati! Lepaskan aku, sialan! Memangnya kenapa kalau aku menaruh beling kaca di sepatumu? Lagi pula itu tidak akan membuatmu mati! Buktinya kau masih hidup sampai sekarang, itu berarti beling kaca yang aku taruh itu tidak mempan untuk membunuhmu,” ujar Linnea kehilangan akal sehat.


“Kau bilang apa? Coba ulangi lagi! Jangan membuat kesabaranku habis, Linnea!”

__ADS_1


__ADS_2