
Aroma darah menyeruak, gedung-gedung rata dengan tanah, kericuhan rakyat kecil, budak yang dirantai dan diperlakukan buruk, langit yang tidak lagi pernah menampakkan cahaya matahari, serta para bangsawan yang menindas rakyat kecil. Itu merupakan gambaran dari benua Mihovil saat ini.
Begitu Valencia menginjakkan kakinya di tanah Mihovil, ekspresi pertama yang ia tunjukkan ialah ekspresi terkejut. Wilayah yang dia bangun sedemikian rupa dahulunya berubah menjadi wilayah yang berisi kehancuran semata. Tidak ada kehidupan di dalamnya, hanya ada aura kematian meliputi setiap tempat yang dia lalui.
"Maaf, Bell, kau harus menyaksikan pemandangan tidak mengenakkan ini. Sejujurnya, penyihir di benua Mihovil banyak yang berpihak kepada Yuine. Mereka menjadi budak Yuine karena ingin bertahan hidup dan menolak untuk mati," tutur Arc.
"Aku paham itu, hanya saja aku tidak menyangka ternyata situasinya lebih buruk dari bayanganku."
Mereka melintasi jalan setapak dengan mengenakan jubah penutup penampilan supaya tidak ada orang yang mengenali mereka. Sejujurnya, hati Valencia tersayat kala menyaksikan pemandangan yang tak pernah dia duga seumur hidupnya.
Ketika mereka melewati persimpangan, tidak sengaja seorang anak kecil berlarian dan menabrak Valencia. Anak kecil itu tampak ketakutan, tangan dan pergelangan kakinya dirantai. Sepertinya dia adalah seorang budak kecil yang kabur dari penyiksaan Tuannya.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja," lirih si anak kecil perempuan itu.
Sekujur badannya dipenuhi luka bekas siksaan dari Tuannya. Valencia menatap miris gadis kecil itu, rasanya sungguh tidak adil dia diperlakukan demikian.
"Apa yang membuatmu begitu terburu-buru? Apakah ada seseorang yang mengejarmu?" tanya Valencia dengan suara begitu lembut.
"Hei, jangan coba-coba kabur dariku! Kalau kau berbuat nekat, maka rantai yang menjerat kaki dan tanganmu akan meledak."
Seorang wanita bangsawan muda berlarian mengejar si gadis kecil yang kabur dari pengawasannya. Dia membawa sebilah kayu yang dia gunakan untuk menyiksa gadis itu.
"Tidak, saya tidak mau kembali lagi. Saya takut, saya lebih baik mati daripada harus menjadi budak."
Meskipun usianya masih sangat kecil, tersirat dari sorot matanya bahwa dia sudah lelah menjadi target penyiksaan Tuannya.
"Beraninya kau meninggikan suaramu padaku!"
Wanita itu mengangkat tangannya dan hendak memukul gadis kecil tersebut. Namun, Valencia dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
"Kau ingin memukulnya? Sayang sekali, sepertinya niatmu aku gagalkan," ucap Valencia.
"Apa? Siapa kau?! Aku yakin kau hanyalah rakyat jelata. Keterlaluan sekali kau menghalangiku menangkap budak tidak berguna itu," oceh si wanita bangsawan.
"Ah, rakyat jelata?" Valencia tersenyum miring. "Ya, tampaknya kau akan mati di tangan rakyat jelata."
__ADS_1
Sihir dari jemari Valencia perlahan menjalar ke tubuh wanita bangsawan itu. Dia terlihat amat emosi akibat situasi saat ini.
"Arrgghhhh! Sakit! Lepaskan tanganku! Apa yang kalian lakukan?! Cepat serang wanita gila ini!"
Wanita bangsawan tersebut memerintahkan kesatria yang berada di belakangnya untuk menyerang Valencia. Akan tetapi, Arc bergerak cepat menumpaskan para kesatria sebelum sempat menyentuh Valencia.
"A-Apa? S-Siapa kalian sebenarnya? Kalian—"
"Tutup mulutmu! Aku tidak mau mendengar suaramu lagi. Aku akan mengirimmu ke neraka, ke tempat di mana seharusnya kau berada."
Kemudian Valencia membakar tubuh wanita bangsawan muda itu sampai tubuhnya berubah menjadi abu. Kemarahannya perlahan memudar ketika melihat tumpukan abu di hadapannya disapu oleh angin.
"Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu menggunakan sihir," ujar Arc.
"Iya, tetapi mulai hari ini aku bisa menggunakan sihir sesuka hatiku tanpa perlu khawatir lagi akan ketahuan oleh orang lain."
Selepasnya, Valencia melirik gadis kecil yang terduduk lemas memandangnya. Sorot matanya menggambarkan ketakutan dahsyat seusai menyaksikan sihir Valencia.
"Apakah Anda akan membunuh saya?" tanya si gadis kecil.
Ucapan Valencia memberinya secercah harapan untuk mewujudkan mimpi kebebasannya sebagai seorang budak.
"Saya ingin bebas, saya ingin kembali ke rumah dan bertemu orang tua saya. Apakah Anda benar-benar akan membebaskan saya?"
"Benar, aku akan membebaskanmu, tetapi kenapa kau bisa menjadi budak? Apakah kau dijual oleh orang tuamu?"
Si gadis kecil itu menggeleng pelan. "Tidak, tetapi saya diculik oleh penjual budak. Saya telah menjadi budak selama dua tahun, semenjak saya berusia sepuluh tahun."
Valencia menggeram marah tatkala gadis itu menyebut soal penjual budak.
"Manusia bajing*n! Mereka harus aku musnahkan apa pun yang terjadi," gumam Valencia menggerutu.
Sesudah itu, Arc membantu gadis kecil itu untuk melepaskan belenggu rantai yang menjeratnya. Kemudian mereka membawa gadis itu pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Kemudian selesai mengantar si gadis kecil, mereka pun memutar badan menuju menara sihir tempat Cetrion berada kala itu. Arc menuntun Valencia menuju jalan yang dilapisi berlapis-lapis sihir pelindung. Hingga tibalah mereka di tengah hutan yang gersang.
__ADS_1
"Apakah kalian menyembunyikan menara sihir di tengah hutan seperti ini?" tanya Valencia.
"Iya, kami tidak punya pilihan lain selain membuat berlapis-lapis sihir demi menyembunyikan keberadaan menara sihir."
Tidak lama berselang, sebuah menara sihir yang tinggi dan kokoh timbul dari bawah tanah. Walaupun tidak bisa disebut sebagai menara yang mewah, tetapi itu sudah lebih dari cukup.
"Ayo kita masuk sekarang," ajak Arc.
Keduanya masuk ke dalam menara, suasana di lantai satu amatlah sunyi. Valencia mengedarkan pandangannya, ia merasa nostalgia ketika melihat dinding menara yang tidak berubah sama sekali meski telah lewat delapan ratus tahun lamanya.
Sampailah mereka di lantai tiga, tepatnya di ruangan tempat Cetrion biasanya bekerja.
"Cetrion, apa kau sibuk?" tanya Arc menyelonong masuk ke dalam.
Cetrion terpaksa menjeda aktivitasnya untuk menyambut kepulangan Arc.
"Ya, sedikit. Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan keberadaan Klarybell?"
Bersamaan kala itu, Valencia juga ikut masuk ke dalam. Gadis itu menyingkap tudung jubahnya seraya merekahkan senyum manis ke arah Cetrion.
"Lama tidak bertemu, Cetrion," sapa Valencia.
Cetrion membeku di tempat, langkah kakinya bergetar mendekati Valencia.
"Bell, apa itu kau?" tanyanya disertai mata berkaca-kaca.
"Ya, ini aku, Klarybell."
Cetrion langsung menghambur ke pelukan Valencia. Dia menahan terlalu lama kerinduan kepada wanita yang dahulu mengisi hidupnya.
"Aku tidak percaya kau benar-benar masih hidup. Mengapa kau datang begitu terlambat?"
Valencia mengusap punggung Cetrion, pria itu masih tetap sama seperti yang dulu.
"Aku tidak bisa masuk ke benua Mihovil karena dilarang oleh dewa kedamaian. Namun, aku melanggar larangan itu. Maafkan aku membiarkan kalian kesulitan selama ini."
__ADS_1
Mereka berpelukan cukup lama, melepas rasa rindu yang tertahan serta melepas rasa frustrasi dari berbagai masalah yang menghadang. Kini Valencia telah kembali, tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan lagi.