
Pada hari berikutnya, Valencia terdengar menghela napas berulang kali. Di hadapannya kala itu ada Ivanov dan Rexid. Mereka dalam kondisi tubuh dipenuhi bekas pertarungan. Valencia kehilangan kata-kata sejenak menghadapi keduanya.
"Jadi, kalian bertarung menggunakan sihir di sebuah lahan kosong di dekat perbukitan begitu?"
Ya, itulah yang terjadi. Mereka berdua beradu sihir di tempat yang cukup jauh dari ibu kota. Kemudian pertarungan ini diketahui oleh Valencia sehingga keduanya diseret paksa ke kediaman Archduke Calestine.
"B-Benar."
Keduanya tertunduk karena merasa bersalah telah ingkar janji kepada Valencia. Mereka berjanji untuk tidak menggunakan kekuatan mereka yang menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Namun, pertarungan mereka malah mengakibatkan sebagian lahan hijau menjadi hangus terbakar.
"Bagaimana aku harus menanggapinya sekarang? Kalian telah membuat masalah besar."
Mereka tak mengelak dari Valencia, terutama Rexid. Meskipun mereka sering bersitegang, tapi dia mengakui dirinya salah telah melanggar janji.
"Itu karena Rexid!" ucap Ivanov tiba-tiba.
"Apa maksudnya?" tanya Valencia memastikan.
"Hei, kenapa malah aku yang kau salahkan? Padahal ini semua salahmu!"
Mereka berdua saling melontarkan tatapan permusuhan. Berdasarkan dari apa yang diketahui Valencia, baik Ivanov maupun Rexid mempunyai sifat yang berlawanan sehingga mereka seringkali bertentangan seperti sekarang.
"Kau yang mengajakku bertengkar! Aku hanya meladenimu!"
"Apa? Kau mau aku pukul?! Dasar kau pendeta fanatik!"
"Hah? Kau si pengembara bodoh!"
"Beraninya kau mengatakan aku bodoh, kau sudah bosan hidup?!"
Tiba-tiba perdebatan mereka terhenti seusai merasakan aura mengerikan dari Valencia. Gadis itu tersenyum menyeramkan, dia menunggu kedua pria itu berhenti berdebat. Namun, bukannya berhenti, mereka malah semakin menjadi-jadi.
"Apa kalian sudah selesai? Jangan bertengkar di kamarku!" omel Valencia.
"M-Maaf."
Mereka serentak menekuk kepala, suara mereka melunak tatkala mendapatkan teguran dari Valencia.
"Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan. Biar aku yang mengembalikan kesuburan tanah di lahan perbukitan itu," ujar Valencia seraya meneguk secangkir teh.
Ekspresi mereka berdua kembali sumringah, ketegangan keduanya mulai mengendur. Valencia memang lebih cocok ketika ia berlaku anggun dan tak meninggikan suaranya.
Ivanov dan Rexid menangkap ekspresi tidak baik dari Valencia. Mereka tidak paham, setelah Valencia kembali dari kediaman Grand Duke Allerick, dia sudah seperti ini. Suasana hatinya buruk, mungkin itu berkaitan dengan jiwa Valencia sebelumnya.
"Valencia," panggil Rexid.
"Ya?"
__ADS_1
"Aku dengar kau menangis di kediaman Grand Duke. Aku tak percaya kau ternyata bisa cengeng juga," ejek Rexid.
"Cengeng? Aku tidak cengeng." Valencia cukup terpancing dengan ejekan Rexid, mereka terkadang sering saling melontarkan ejekan satu sama lain.
"Lalu apa? Kau bahkan menangisi orang tua tak berguna seperti mereka."
"Aku bilang aku tidak cengeng!"
"Kau cengeng! Kau gadis yang cengeng."
"Tidak! Kau benar-benar menyebalkan."
Di sela kebisingan kamar akibat ulah mereka berdua, seorang pelayan pria masuk ke kamar Valencia.
"Nona, maaf mengganggu waktu Anda." Pelayan itu membawa satu tumpuk amplop berstempel resmi keluarga bangsawan.
"Apa yang kau bawa itu?" tanya Valencia.
"Surat lamaran! Anda mempunyai satu tumpuk surat lamaran dari beberapa keluarga bangsawan."
Valencia tercengang. "Surat lamaran? Kau bercanda?"
"Tidak, Nona. Sebenarnya ini hanya beberapa saja, sebagian lagi ada di ruangan Archduke. Tetapi, tampaknya beliau sudah membakar habis seluruh surat lamaran pernikahan itu."
"Oh, benarkah? Biar aku lihat dulu."
"Tidak berguna! Bakar semua surat-surat ini. Mereka pandai sekali menjilat, setelah aku menjadi anak angkat Archduke, mereka tiada henti mengirimkan surat lamaran," titah Valencia.
Entah mengapa, kala itu kedua pria yang berada di sampingnya terlihat amat lega karena Valencia menolak seluruh surat lamaran tersebut.
"Nona, ini gawat!" seru seorang pelayan datang membawa sebuah amplop berwarna maroon dengan stempel yang bukan dari Alegra.
"Ada apa lagi?"
"I-Itu, Kaisar Sergia mengirimi Anda surat lamaran pernikahan! B-Beliau ingin menjadikan Anda sebagai Permaisuri!"
Seisi ruangan terkejut bukan main, Valencia membatu sesaat mendengar laporan tersebut. Pelayan itu pun menyerahkan kepada Valencia surat lamaran resmi dari Kekaisaran Sergia. Ini adalah kekaisaran besar dan merupakan kekaisaran yang berdiri hampir setara dengan Alegra.
"Apa-apaan ini? Apakah Kaisar muda itu pernah bertemu dengan Valencia? Beraninya dia mengirim surat lamaran pernikahan," oceh Ivanov.
"Aku rasa Kaisar Sergia sedang menggali lubang kuburannya sendiri," timpal Rexid tak kalah kesal.
Valencia tak bergeming saat menatap surat lamaran itu. Tidak seperti dia yang biasanya, sepertinya ia tengah penasaran dengan sesuatu.
'Kaisar Sergia? Jadi ini adalah keturunannya? Bagaimana pun dahulunya kekaisaran ini pernah aku selamatkan dari bahaya. Kekaisaran kecil yang akhirnya menjadi besar, aku penasaran bagaimana rupa keturunannya. Aku juga meninggalkan lencana mahkotaku di sana,' batin Valencia tersenyum samar.
Senyum Valencia membuat Ivanov dan Rexid tidak nyaman. Perasaan mereka berkecamuk ketika gadis itu memperlihatkan rasa tertarik terhadap surat lamaran dari Kaisar Sergia.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh, apa mungkin Valencia tertarik menjadi Permaisuri Sergia?" bisik Rexid.
"Aku tidak tahu, tapi melihat dari ekspresinya itu mungkin saja," jawab Ivanov berusaha santai.
Jantung Rexid berdebar kencang, ini bukan perasaan yang biasa. Dirinya tidak suka melihat Valencia menerima surat lamaran dari pria asing. Mendadak suasana hatinya berubah buruk, pertama kalinya ia merasakan perasaan sesak yang aneh.
"Aku akan menyimpan suratnya terlebih dahulu," tutur Valencia menaruh suratnya di dalam laci.
Tiba-tiba Valencia salah fokus dengan stempel di surat tersebut.
'Stempel mereka mirip dengan bentuk lencana mahkotaku,' batin Valencia.
Melihat reaksi aneh Valencia, kedua pria yang semula bersamanya memutuskan untuk pamit. Mereka perlu mencari tahu lebih lanjut soal Kaisar Sergia.
'Ada apa dengan Valencia? Seharusnya dia buang saja surat lamaran itu. Mengapa dia malah menyimpannya?' gerutu Rexid dalam hati.
Rexid menjeda langkahnya, saat ini ia sendirian setelah berpisah jalan dengan Ivanov. Sekilas melintas bayangan Valencia di kepalanya.
'Sial! Kenapa jantungku selalu berdegup cepat saat aku memikirkan soal Valencia? Kali ini detakannya jauh lebih kencang dari biasanya. Ada yang tidak beres dari jantungku, aku harus pergi ke tempat Sammy untuk memeriksakannya.'
Rexid memutar langkahnya, ia pergi mengunjungi Sammy ke rumah sakit. Kala itu kebetulan sekali Sammy sedang senggang sehingga ia bisa melayani Rexid.
"Sammy, cepat periksa aku," desak Rexid.
"Kenapa kau tiba-tiba datang dan meminta untuk diperiksa? Apa yang salah darimu?" tanya Sammy.
"Aku rasa aku sedang sakit jantung."
"Sakit jantung? Coba sekarang kau berbaring, biar aku periksa dulu kondisimu."
Sammy memeriksa dengan seksama tubuh Rexid. Akan tetapi, tidak ia temukan kejanggalan apa pun di tubuh itu.
"Tidak ada masalah, kau baik-baik saja," ujar Sammy.
"Apa? Tidak mungkin! Aku yakin kalau aku sedang sakit jantung. Detak jantungku tak beraturan, aku yakin aku pasti sedang sakit jantung. Bisakah kau memeriksanya sekali lagi?"
Sammy menghembuskan napas kasar, dia pusing karena tingkah Rexid.
"Aku sudah bilang, kau baik-baik saja. Aku ini dokter, aku tahu pasti kondisi tubuhmu. Mungkin kau hanya kelelahan karena terus mengembara. Lebih baik kau tinggal di Alegra sementara waktu."
"Benar juga, mungkin aku kelelahan."
Sammy berfirasat ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak dia ketahui sama sekali.
"Apakah ada hal aneh yang terjadi?" Akhirnya Sammy pun melontarkan pertanyaan.
"Oh iya, kau pasti belum tahu. Tadi aku dan Ivanov pergi ke kediaman Archduke Calestine. Lalu Valencia dikirimi surat lamaran pernikahan oleh Kaisar Sergia. Dia ingin menjadikan Valencia sebagai Permaisuri."
__ADS_1
Sammy terkejut bukan main. "Huh? Apa kau bilang?"