
Valencia mengusap kepala Rachel, gadis itu menangis sesenggukan di pelukan Valencia. Bukan hanya karena dia syok, tapi dia merasa bersalah karena sudah melibatkan Valencia ke dalam permasalahan tersebut sehingga kini nama Valencia kembali bergema di akademi akibat perbuatan Valencia yang menjatuhi hukuman terhadap Joseth tanpa berpikir panjang.
“Maafkan aku, Valencia, ini semua karena aku. Sekarang kau jadi terlibat ke dalam masalah yang lebih rumit lagi. Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu,” lirih Rachel.
“Kau tidak perlu minta maaf karena aku tidak marah, tua bangka menjijikkan itu pantas mendapatkan hukuman yang lebih barat. Tenang saja, aku bisa mengatasinya, kalau nanti pihak pengadilan memanggilku, maka aku tinggal hancurkan saja semuanya. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan, bukan?”
Rachel dan Devina lagi-lagi tercengang, mereka tidak paham jalan pikir Valencia yang menganggap remeh semua masalah yang menghadangnya. Ini bukan sekali dua kali Valencia menciptakan keributan. Tetapi, anehnya Valencia tidak merasa takut sedikit pun pada ancaman orang lain.
“Lihat, kan? Aku sudah katakan padamu, percuma saja mengkhawatirkannya karena Valencia tidak peduli terhadapan masalah-masalah seperti itu. Justru sekarang kau khawatirkan saja dirimu sendiri, Valencia bisa menyelesaikan masalahnya sendirian,” ucap Devina.
Rachel lekas mengusap air matanya, rupanya kekhawatirannya berujung sia-sia, Valencia adalah wanita yang jauh lebih tangguh dari pikirannya. Sebesar apa pun masalah menghadangnya, Valencia selalu punya cara untuk menyelesaikannya.
“Apakah kau memang sekuat itu sampai kau berani menggertak untuk menghancurkan pihak pengadilan? Posisi di pengadilan diisi oleh para bangsawan ternama, aku takut kau malah mendapatkan perlakuan yang lebih buruk,” kata Rachel masih belum bisa menghentikan kecemasannya.
“Bangsawan itu manusia, kan?” Valencia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang cukup aneh.
“Benar, apa kau pikir mereka setan atau segala macam? Tentu saja mereka semua adalah manusia.”
“Jika mereka semua manusia, maka itu tidak ada masalah, aku bisa mengatasinya dengan mudah selagi mereka adalah manusia karena manusia lebih mudah untuk dibunuh.”
Rachel dan Devina sontak bergidik ngeri terhadap senyuman jahat yang diperlihatkan Valencia. Sekarang mereka benar-benar yakin bahwa Valencia adalah seorang gadis yang lebih gila dari pikiran mereka. Terpaksa mereka buang jauh-jauh pikiran yang bersifat khawatir sebab itu semua tidak ada gunanya sama sekali.
***
Pada waktu bersamaan, Reibert juga datang tapi bukan untuk menemui Valencia melainkan untuk bertemu dengan Frintz. Mereka melakukan pertemuan empat mata di tempat yang tidak jauh berada dari akademi. Sepertinya pertemuan mereka kali ini ingin membahas sesuatu yang bersifat serius.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu, Frintz? Kau sudah lama tidak berkunjung ke istana. Tumben sekali kau menyetujui permintaan pertemuan dariku,” ujar Reibert.
Frintz mengukir senyum tipis, sudah ia duga respon pertama Reibert pasti seperti demikian.
“Ya, aku hanya berpikir untuk menemuimu kali ini saja,” jawab Frintz.
“Kau selalu sibuk berkutat dengan buku-bukumu, aku bisa memakluminya. Oh iya, bagaimana keadaan Valencia? Apakah dia baik-baik saja selama berada di akademi?”
Pertanyaan Reibert mulai mengarah pada Valencia, Frintz terdiam sejenak sesaat Reibert menanyakan Valencia dengan ekspresi yang tidak biasa.
“Ada apa? Kenapa kau menanyakan Valencia? Gadis itu selalu membuat masalah di akademi. Apa-apaan ekspresimu itu? Apa jangan-jangan kau menaruh hati padanya?” terka Frintz.
Mendadak muka Reibert berubah merah padam, tanpa dijawab pun Frintz langsung tahu bagaimana perasaan Reibert terhadap Valencia.
“Tidak masalah jika kau menyukainya, tapi apa kau tidak pernah berpikir bahwa kau akan punya banyak saingan nantinya untuk memperebutkan hatinya?”
“Ya? Kau bilang apa?”
“Tidak hanya kau saja yang menaruh hati pada Valencia, coba sekarang kau tanyakan pada Leano dan Sammy, mereka juga punya perasaan yang sama. Aku pun juga demikian, sejujurnya aku jatuh cinta pada gadis itu sejak pandangan pertama.”
Frintz teringat kembali dengan pertemuan pertamnya dengan Valencia, kala itu ia merasakan getaran aneh yang bersarang di dadanya. Setiap kali ia mengingat Valencia, dia akan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Maka dari itu, Frintz diam-diam mengikuti berita soal Valencia setiap hari. Bahkan ia menyewa seseorang untuk mengambil potret Valencia dari jauh.
“Cinta pandangan pertama? Hei, kau jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda, aku waktu itu pernah bertemu dengan Valencia di ibu kota. Gadis itu melarikan diri seusai membantu orang lain.”
__ADS_1
Setelah Sammy dan Leano, kini saingan Reibert bertambah banyak, apalagi mereka juga punya kepopuleran yang sama di Kekaisaran Alegra. Kemudian Reibert kembali berpikir, mustahil jika hanya dia saja yang menyukai Valencia karena gadis itu sungguh menarik.
“Tidak salah jika ada orang lain yang menyukainya selain diriku, tapi sepertinya akan sulit mendapatkannya. Semenjak insiden percobaan bunuh diri, Valencia terlihat tidak tertarik pada cinta, matanya selalu menyiratkan bahwa dirinya ingin cepat menyelesaikan hidup ini sehingga dia membuat onar demi menyudahi segala macam permasalahan yang terjadi,” tutur Reibert.
Satu-satunya yang membuat Frintz terkejut ialah perubahan Reibert, tidak biasanya dia berbicara panjang lebar seperti ini apalagi dia terkenal oleh sifatnya yang dingin dan irit bicara.
“Tampaknya kau benar-benar tersihir oleh Valencia, tapi bukan itu sekarang yang terpenting. Sebenarnya, ada alasan apa kau datang menemuiku?”
“Ah, benar. Hampir saja aku lupa, aku ingin mengatakan padamu bahwa situasi istana sekarang cukup kacau. Ada pembunuh yang muncul di mana-mana, mereka menargetkan Kaisar dan Permaisuri. Sebelumnya Permaisuri keracunan, tapi Valencia telah membantu pemulihan Permaisuri. Hanya saja teror tidak berhenti menghantui,” jelas Reibert.
“Mungkinkah ini ulah Pangeran pertama?” Frintz menduga bahwa itu semua terjadi karena Rudolf, sang Pangeran pertama.
“Tampaknya kau menyadarinya lebih cepat, sikap Pangeran pertama sangat mencurigakan. Di balik sikap tenangnya tersimpan sifat serakah yang haus kekuasaan,” ujar Reibert.
“Tetapi, apa alasannya mencelakai Kaisar dan Permaisuri? Semua orang tahu betapa sayangnya Kaisar dan Permaisuri terhadap Pangeran pertama.”
Ya, inilah pertanyaan utama saat ini, Rudolf disayangi oleh semua orang, tapi mengapa dia malah mencelakai orang tuanya sendiri? Seperti ada yang dirahasiakan Rudolf sehingga ia membuat Reibert maupun yang lain dilanda kebingungan.
“Untuk sekarang kita perhatikan saja dulu pergerakannya, aku juga sudah memperketat keamanan di sekitar istana Kaisar dan Permaisuri. Namun, aku khawatir Pangeran pertama akan mencelakai Valencia.”
“Tidak perlu khawatirkan soal itu, aku akan mengawasinya, tapi yang perlu kau khawatirkan sekarang adalah Valencia mungkin akan segera dipanggil ke pengadilan karena telah membuat Joseth hampir mati akibat ulahnya.”
Reibert menepuk kening, nyaris saja dia melupakan sesuatu yang tidak kalah penting.
“Benar juga, tapi itu tidak masalah karena ada Archduke Calestine di belakangnya. Lagi pula Valencia sendiri bisa menangani permasalahan tersebut.”
__ADS_1