
Latihan tanding antara perwakilan kesatria pria dan wanita pun dimulai. Valencia berdiri di tepi arena latihan sembari mengamati setiap pergerakan yang dikerahkan oleh keduanya. Valencia menilai mereka berdua lihai dalam mengayunkan pedang. Namun, meski begitu tetap saja masih kelihatan unggul kesatria pria dibanding kesatria wanita sebab kesatria pria mendapat lebih banyak kesempatan latihan. Mereka diberi fasilitas lengkap untuk melatih kemampuan mereka. Tidak seperti kesatria wanita yang berlatih hanya seadanya saja.
"Kenapa kau tidak mengalah saja? Aku jauh lebih unggul darimu." Pedang mereka beradu satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah hingga pada akhirnya kesatria wanita itu berhasil terdorong ke belakang oleh sang kesatria pria.
"Aku tidak akan menyerah! Selagi masih terbuka kesempatan untukku, aku akan terus berjuang."
Mereka kembali saling mengayunkan pedang dan saling mengadukan ujung pedang. Suara pedang keduanya mewarnai arena latihan. Suara sorak-sorai memenuhi tepi lapangan, para kesatria pria mendukung rekannya untuk melumpuhkan kesatria wanita yang sedang dia lawan.
Sampailah pada puncaknya, kesatria pria berhasil melepaskan pedang kesatria wanita dari genggaman tangannya. Pedang itu pun tertancap di pinggir arena. Akan tetapi, kesatria pria itu terlihat belum puas atas kemenangan yang dia peroleh.
"Sayang sekali kalau aku mengakhiri ini tanpa menggoreskan luka di kulitmu. Terlukalah sedikit demi diriku, dasar wanita rendahan!"
Kesatria wanita itu tidak bisa menghindar, kakinya mengalami kesulitan untuk bangkit dari permukaan tanah. Dia melihat dengan jelas ujung pedang yang sedang menuju ke arah mukanya.
"Duelnya sudah selesai! Kau jangan membuatku marah," takan Valencia menepis pedang kesatria pria itu menggunakan pedang miliknya. Valencia melindungi kesatria wanita di belakang punggung. Sungguh, kala itu Valencia terlihat marah besar kepada kesatria pria yang hampir melukai kesatria wanita yang telah kalah dalam duelnya.
"Nona, sebaiknya Anda tidak perlu ikut campur. Ini urusan kami antar kesatria dan Anda tidak lebih dari sekedar orang luar saja."
Valencia menyorot mereka satu persatu dengan tatapan mata yang dipenuhi emosi. Valencia paling membenci seseorang yang berlagak sangat hebat seperti mereka. Padahal kemampuan mereka jauh lebih rendah dari dirinya.
"Kalian merasa diri kalian hebat? Hanya karena kalian seorang pria, bukan berarti kalian bisa seenaknya kepada kami para wanita. Aku tidak akan pernah membiarkan wanita yang berjuang memperoleh tempat terbaik malah dicemooh oleh sekumpulan sampah tidak berguna seperti kalian."
Seluruh kesatria pria tidak ada yang bisa melawan apa pun kata Valencia. Mereka hanya diam menunduk seraya mendongkol dalam hati. Kemudian Valencia mengulurkan tangannya kepada kesatria wanita yang baru saja selesai berduel tadi.
"Apa kau tidak apa-apa? Mari aku bantu berdiri," tutur Valencia begitu lembut.
__ADS_1
Wajah kesatria wanita tersebut merona sesaat Valencia mengulurkan tangannya. Dia merasa takjub melihat wajah Valencia yang jauh lebih cantik dan imut dari sebelumnya.
"Terima kasih, Nona." Kesatria wanita itu pun menerima uluran tangan dari Valencia.
Sebuah sinyal bahaya berdengung di kepala Valencia, sontak dia menoleh ke arah gerbang utama mansion. Ada sesuatu yang sepertinya akan mengacau di pemukiman warga. Sontak Valencia menggunakan sedikit sihir untuk melacak bahaya sejenis apakah yang akan menghadang ibu kota.
"Ada sebuah portal yang akan keluar, ini bukan portal ungu gelap seperti biasa melainkan portal berwarna merah," gumam Valencia.
Valencia memutar badan, pandangannya mengedar memperhatikan jumlah kesatria yang berada di lapangan latihan. Ekspresi Valencia berubah tegas, dia berencana memberi perintah kepada para kesatria tersebut.
"Kalian cepat pergi menuju alun-alun ibu kota! Di sana akan muncul portal berwarna merah," perintah Valencia.
"Apa yang Anda katakan, Nona? Kemunculan portal tidak bisa diprediks—"
"CEPAT! JANGAN MEMBANTAH!" sergah Valencia menekan mereka menggunakan aura mematikan.
"Untuk kesatria wanita, ikuti aku! Aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana ilmu pedang yang sesungguhnya."
Tanpa ragu, para kesatria wanita tersebut mengekor di belakang Valencia. Benar apa yang dikatakan Valencia, sebuah portal berwarna merah hampir muncul di alun-alun kota. Seluruh penduduk sekitar diminta lari sebelum portalny terbuka sempurna. Satu persatu kesatria kekaisaran berdatangan, mereka langsung membantu evakuasi penduduk.
"Nona, apa yang mesti kita lakukan? Ini adalah portal merah. Kesatria lemah seperti kami tidak mungkin bisa melawan monster yang keluar dari dalam sana."
Kesatria wanita yang dibawa Valencia terlihat kebingungan, takut, dan gelisah sesaat mereka menyaksikan penampakan portal merah.
"Kalian cukup berdiam diri sana melihat caraku bertarung menggunakan pedang. Jangan berdiri terlalu jauh dariku agar aku tidak kerepotan melindungi kalian," ujar Valencia.
__ADS_1
Portal tersebut semakin membesar, terdengar gaungan suara monster dari dalam. Tidak lama, seekor cerberus menunjukkan wujudnya di hadapan Valencia. Cerberus berukuran raksasa itu menciutkan nyali para kesatria yang berada di sekitar portal. Mereka tampak sangat ketakutan, bahkan untuk sekedar mendekat saja mereka tidak berani melakukannya. Cerberus itu pun menerjang ke arah Valencia, gerakannya sangat cepat dan sulit diikuti manusia biasa.
"NONA, AWAS!"
Valencia menyunggingkan senyumnya, dia juga ikut melompat ke arah cerberus. Valencia berdiri di atas tubuh cerberus, dia pun berlari lalu menebas satu dari tiga kepala cerberus tersebut.
"Jangan pernah bermimpi ingin memangsaku, makhluk sialan!" Ujung pedang Valencia mengiris dan memotong kepala cerberus yang lain. Sekarang tinggal hanya satu kepala saja yang mesti dibereskan.
Sementara itu, dari kejauhan datang seorang lelaki muda berambut biru dengan mata warna ungu tua. Dia mengenakan pakaian kesatria dan memimpin sejumlah kesatria di belakangnya.
"Bagaimana situasi terkini?" tanya pemuda itu.
"Komandan Reibert! Semua penduduk berhasil. Kami evakuasi, seekor cerberus keluar dari portal merah. Tetapi, sepertinya kita tidak perlu repot lagi karena Nona yang di sana mengurus cerberus itu dengan sangat cepat," jelas bawahan Reibert.
Reibert merupakan Komandan kesatria istana, dia bermaksud menangani portal merah. Akan tetapi, dia didahului oleh Valencia yang bermain sangat brutal membunuh cerberus tersebut. Pandangan Reibert tidak teralihkan dari Valencia yang lihai dalam menggunakan pedang. Terlebih lagi dia seorang wanita, jadi itulah yang menyebabkan bawahan Reibert berdecak kagum dan tidak percaya seorang wanita bisa melakukan hal yang seperti demikian.
"Siapa Nona itu? Apa kalian mengenalnya?" tanya Reibert.
"Melihat dari warna rambut dan matanya, sepertinya Nona itu berasal dari kediaman Grand Duke Allerick."
Mata Reibert membulat sempurna, matanya masih tidak mengerjap memandang takjub Valencia. "Kediaman Grand Duke Allerick? Itu artinya dia Valencia Allerick?"
"Benar, Komandan, beliau adalah Nona Valencia Allerick."
Reibert mencoba berpikir sejenak, dia sering bertemu Valencia tapi tidak pernah tahu kalau gadis itu menyimpan kekuatan luar biasa.
__ADS_1
"Valencia Allerick, gadis itu berbanding terbalik dengan rumor yang aku dengar," gumam Reibert.