
Sudah dua hari berlalu seusai Sammy memberi para penduduk desa Sanori penawar racun, kini kondisi mereka berangsur membaik. Count Terano bersama bawahannya dibawa ke penjara istana, Abraham sebagai Kaisar juga ikut membantu memulihkan kondisi Desa Sanori, dia mengirim stok makanan serta stok pakaian untuk para penduduk. Para bangsawan pun mendadak gaduh selepas mendengar kekejaman Count Terano. Bagaimana juga mereka sama-sama bangsawan, tidak sedikit di antara mereka yang membela Count Terano. Namun, tetap saja di sini keadilanlah yang menang, selagi ada Valencia maka dia takkan membiarkan Count Terano lolos dengan mudah.
“Sepertinya kau berada di suasana hati yang bagus,” celetuk Sean muncul di jendela dalam wujud kucing.
“Hah?” Valencia menyorot tajam kedatangan Sean, selama beberapa hari ini Sean tidak pernah muncul karena mengurusi beberapa masalah di kastil dewa kedamaian. “Kau menyebut suasana hatiku bagus? Dari mananya, sialan?! Aku tidak sedang berada di suasana hati yang baik.”
Valencia menjawab perkataan Sean dengan ketus, tidak ada keramahan sama sekali yang dia tunjukkan kepada Sean. Sedangkan Sean tidak terpengaruh terhadap kejengkelan Valencia, dia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Valencia yang terkadang begitu menyebalkan.
“Ada apa? Apa yang membuatmu kesal? Sebaiknya kau lupakan sejenak kekesalanmu, aku membawakanmu cemilan manis dari kastil dewa kedamaian.”
Sean mengeluarkan satu kantong penuh cemilan yang dia ambil dari kastil dewa kedamaian. Raut muka cemberut Valencia segera berubah ceria, sudah lama sekali sejak terakhir kali dirinya memakan cemilan lezat dari kastil milik Davey. Tatkala dirinya berada di kastil dahulu, Valencia selalu menunggu waktu menikmati cemilan.
“Kau tahu betul apa yang menjadi kesukaanku, kau memang kucingku yang baik hati,” sanjung Valencia.
“Aku bukan kucing! Kenapa kau suka sekali meledekku? Ini cuma bentuk tubuhku sementara!” kesal Sean mengerutkan keningnya.
Valencia tertawa renyah, dia selalu menjadikan tubuh kucing Sean sebagai bahan ejekan, mereka berdua memang tidak pernah akur sekali pun. Akan tetapi, di saat mereka akur maka mereka akan menjadi rekan yang cukup tangguh.
Pada waktu bersamaan, seorang pelayan tiba-tiba datang membawa surat dari istana untuk Valencia. Gadis itu langsung mengetahuinya bahwa surat itu berasal dari Kaisar dan Permaisuri yang secara khusus ditujukan padanya. Tanpa menunggu lama, Valencia langsung membuka suratnya lalu memastikan isi surat tersebut. Rupanya memang benar, di dalamnya ialah surat undangan makan dari Abraham.
“Makan di istana kah? Aku pikir ini bukan ide yang buruk.”
__ADS_1
Valencia segera bersiap-siap menuju ke istana, dia membawa dua orang kesatria wanita pergi bersamanya. Namun, di tengah perjalanan ke gerbang keluar utama mansion, langkah Valencia dihentikan oleh Linnea. Gadis itu mencoba untuk mengetahui ke mana Valencia akan pergi membawa dua orang kesatria wanita serta mengenakan pakaian mewah.
“Ke mana kau, Valencia?” tanya Linnea.
Valencia membuang napas kasar, padahal baru saja suasana hatinya perlahan membaik lalu sekarang dia malah dipaksa berhadapan dengan seorang wanita ular. Hati Valencia seakan ingin meledak kala itu juga, tapi dia memaksa diri untuk bertahan sejenak sampai dia bisa keluar dari sini.
“Aku mau ke istana, baru saja aku menerima undangan dari Kaisar untuk makan bersama. Ada apa?” ketus Valencia.
Kedua bola mata Linnea membulat sempurna, padahal dia tahu betul kalau selama ini Valencia selalu menolak untuk berkunjung ke istana. Satu pun undangan dari Kaisar maupun Permaisuri terus diabaikan oleh Valencia.
“Ke istana? Kenapa kau tiba-tiba pergi ke sana? Apa mungkin Kaisar memanggilmu untuk menyuruhmu keluar lagi dari kediaman ini? Kau tidak boleh pergi ke istana! Aku khawatir kau akan dipandang rendah oleh penghuni istana.”
Entah atas alasan apa, Linnea selalu menghalangi Valencia untuk mengunjungi atau memenuhi undangan Kaisar dan Permaisuri, dia selalu punya cara menghadang jalan Valencia.
Valencia menyunggingkan senyumnya sembari melipat kedua tangan di dada, dia paham betul apa yang menjadi kekhawatiran Linnea saat ini.
“Maafkan aku, Linnea, tapi kau tidak berhak melarangku untuk pergi, memangnya kenapa kalau penghuni istana nanti memandangku rendah? Aku tinggal mencongkel matanya saja biar mereka tidak memandangku lagi,” jawab Valencia santai.
Linnea terdiam, perkataan Valencia langsung menembak pada penyelesaian satu permasalahan yang cukup mengganggu selama ini.
“Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu, menambah satu teman di dalam undangan itu bukan masalah besar. Boleh, ya?” Linnea memohon-mohon untuk ikut bersama Valencia.
__ADS_1
Senyum licik terbit di bibir Valencia. “Baiklah, kau boleh pergi bersamaku, ingat untuk jangan membuat masalah di istana.”
Valencia sengaja mengizinkan Linnea pergi bersamanya, dia pun menaiki kereta kuda yang sama dengan Valencia. Sepanjang perjalanan, otak Linnea dipenuhi oleh rencana-rencana licik untuk membuat Valencia malu di hadapan Kaisar dan Permaisuri.
‘Baguslah, setidaknya nanti aku bisa menunjukkan bahwa aku lebih baik dari Valencia, dengan begini Kaisar dan Permaisuri bisa melirikku.’
Sesampainya di istana, Valencia langsung disambut kedatangannya oleh para pelayan, mereka memandu Valencia menuju ruangan tempat Abraham dan Linita kini berada. Ekspresi pertama yang ditunjukkan kedua pemimpin kekaisaran itu adalah ekspresi sumringah. Mereka gembira sekali melihat Valencia kali ini memenuhi undangan dari mereka.
“Valencia Allerick memberi salam kepada Paman Kaisar dan Bibi Permaisuri,” tutur Valencia memberi salam.
Abraham dan Linita kaget saat Valencia memanggil mereka dengan sebutan Paman dan Bibi. Kemudian Linnea juga ikut memberi salam, tapi tampaknya keberadaan Linnea sama sekali tidak dipedulikan oleh mereka berdua.
“Ya ampun, apakah kau baru saja memanggil kami Paman dan Bibi?” tanya Linita terharu.
Valencia terlihat kebingungan. “Iya, apakah itu salah? Bukannya saya memang harus memanggil Anda berdua dengan sebutan Paman dan Bibi?”
“Tidak salah sama sekali, justru kami berdua kaget karena selama ini kau menolak untuk memanggil kami Paman dan Bibi. Sekarang kau berinisiatif memanggil kami seperti itu, jadi kami sangat senang sekali,” jawab Linita.
Lalu Linita melirik tidak suka ke arah Linnea, dia tidak menyukai Linnea sama sekali, bahkan dia tidak pernah sekali pun mengundang Linnea ke istana.
“Nona Linnea, rupanya Anda juga kemari, padahal aku tidak memberikan undangan lebih,” sarkas Linita.
__ADS_1
Linnea tersentak, kedua tangannya meremas erat sisi kedua gaunnya, dia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan tidak ramah dari Permaisuri.
“Maafkan saya, Bibi, saya sendiri yang mengajaknya pergi bersama saya karena saya sedikit gugup jika pergi sendirian ke istana.” Valencia sengaja membela Linnea di hadapan Linita sebab dia sendiri sudah punya rencana membuat Linnea merasa dipermalukan.