Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pertengkaran Xeros


__ADS_3

Linnea diseret oleh para kesatria pribadi Henzo dari hadapan mereka berdua. Linnea tak bisa melawan, dia terjebak kecerobohan dan kebodohannya sendiri. Valencia mengukir senyum mengejek seraya melambaikan tangan pada Linnea yang diseret paksa untuk pergi.


'Rencanaku gagal lagi. Sialan! Ini semua gara-gara wanita itu. Aku tidak akan memaafkanmu, aku takkan membiarkanmu begitu saja,' batin Linnea menatap Valencia penuh kebencian.


"Kapan-kapan aku akan congkel matanya dan aku jadikan hiasan dinding," gumam Valencia.


Rasa tidak suka Henzo semakin menjadi-jadi ketika dia berhadapan langsung dengan Linnea. Siapa sangka kalau gadis itu ternyata lebih menyebalkan dari yang dia bayangkan.


"Seharusnya kau tebas saja kepalanya, kenapa parasit itu kau biarkan menikmati hidupnya yang penuh kepalsuan?" tanya Henzo.


"Aku sengaja bermain-main dengannya, jika aku langsung membunuhnya, permainan ini jadi tidak menyenangkan," jawab Valencia.


"Aku benar-benar jijik melihat wanita seperti dia, dari dulu aku selalu menemukan makhluk serupa. Inilah alasan kenapa aku menolak untuk menikah," gerutu Henzo bergidik jijik.


"Dia memang suka seperti itu, suka merampas milik orang lain sekaligus sering iri hati terhadap kebahagiaan yang aku dapatkan."


Begitulah pembicaraan mereka berakhir, setelah itu Henzo kembali lagi ke kediamannya karena dia sudah memastikan sendiri bahwa benar kalau insiden kekacauan di gedung pengadilan merupakan ulah Valencia. Setidaknya dengan begini ia bisa mengatur perlindungan untuk Valencia.


Setibanya di kediamannya, Henzo langsung disuguhkan oleh laporan mendadak dari Arian, sang sekretaris.


"Yang Mulia, ini daftar bangsawan yang melakukan pertemuan dengan Pangeran Rudolf."


Henzo segera mengambil kertas yang disodorkan Arian. Dia membaca satu persatu nama bangsawan yang tertera di kertas tersebut.


"Semuanya ada dua puluh tujuh bangsawan dan sebagian dari mereka ialah bangsawan yang mempunyai reputasi buruk, salah satunya Duke Nerio," jelas Arian.


"Duke Nerio bukankah keluarga dari calon tunangan Valencia? Jadi, dia juga terlibat dengan Pangeran Rudolf? Sepertinya mereka cari mati. Lalu apakah ada hal mencurigakan yang mereka lakukan?"


"Ini aneh, Yang Mulia, ketika saya mengirim mata-mata untuk menyelidikinya, jejak mereka tiba-tiba menghilang. Oleh sebab itu, saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan atau yang mereka lakukan."


"Ini aneh, sejak awal masalah ini muncul selalu ada kejanggalan. Kemungkinan terbesarnya adalah ada seseorang yang lebih berkuasa di belakang Pangeran Rudolf. Tidak mungkin dia punya kekuatan dan nyali besar untuk mengusikku," tutur Henzo.


"Saya pikir juga begitu, Yang Mulia, tapi apakah ada orang yang lebih berkuasa yang bisa mendukung Pangeran Rudolf?"

__ADS_1


Henzo terdiam dan larut di dalam pikirannya, jika dipikirkan lagi maka tak ada orang yang bisa menjadi pendukung Rudolf. Semakin dia pikirkan, semakin banyak kejanggalan yang beruntun mengganggu hidupnya.


"Aku tidak bisa memikirkan siapa orang itu, untuk sementara waktu tolong lanjutkan kembali penyelidikannya. Jangan lewatkan satu pun pergerakan yang mencurigakan dari mereka," perintah Henzo.


"Baik, Yang Mulia. Akan segera saya laksanakan sesuai perintah Anda."


***


Seusai kepulangan Henzo, suasana kembali kondusif seperti sedia kala. Valencia kini pergi menemui Devina dan Rachel. Dia cukup lelah bermain kejar-kejaran dengan para kesatria pengadilan.


"Sebenarnya kenapa kesatria pengadilan mengejarmu? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Itulah pertanyaan yang sama dari mereka berdua kepada Valencia. Gadis itu tertawa kecil sesaat mendapati pertanyaan tersebut.


"Kalian kan sudah tahu jawabannya, aku kemarin menghajar hakim muda sialan itu," jawab Valencia.


"Tidak mungkin hanya karena alasan itu saja kau sampai dikejar kesatria."


"Ya, hanya itu saja. Tolong percayalah padaku, aku tidak mungkin berbohong kepada kalian," kilah Valencia.


"Baiklah, aku percaya padamu."


Valencia menghembuskan napas lega, untunglah Devina langsung mempercayainya tanpa menanyakan hal yang aneh-aneh.


"Oh iya, apa kalian ada melihat Xeros? Aku tidak menemukan keberadaannya sedari tadi," tanya Valencia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Xeros? Kami tidak melihatnya," jawab Rachel.


"Begitukah? Sekarang aku akan pergi mencari Xeros, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."


Valencia berkeliling akademi untuk menemui Xeros. Dia menyisir sepanjang jalan akademi, tapi tidak dia temukan Xeros di mana pun itu.


"Hei, di sana ada yang bertengkar! Ayo cepat kita lihat!"

__ADS_1


"Katanya yang bertengkar adalah si wajah monster itu."


Mendengar hal tersebut, Valencia memacu langkahnya menuju tempat yang kala itu sangat ribut. Semua orang berkumpul menyaksikan pertengkaran yang dilakukan Xeros.


"Wajahmu sangat mengerikan! Dan kau masih berharap untuk mendapatkan perlakuan baik dari orang lain? Kau ini mimpi, ya?"


Seorang pria yang merupakan anak bangsawan tengah terang-terangan merundung Xeros. Sudut bibirnya juga terluka akibat pukulan yang dilayangkan Xeros sebelumnya.


"Ditambah lagi kau tidak punya nama belakang, kau berasal dari rakyat jelata? Kau juga sedang dekat dengan Valencia, bukan? Ya, kau sangat cocok dengan gadis tak beradab seperti dia."


BUGH!


Dengan emosi yang menggebu-gebu, Xeros memukul lawan bicaranya sampai terpental jauh ke belakang. Topeng yang biasa dia kenakan hancur terinjak-injak oleh si perundung. Sekarang semua orang bisa melihat jelas wajah Xeros. Tatapan orang padanya terlihat jijik dan takut, padahal itu hanya luka bakar biasa yang dianggap normal oleh Valencia.


"Jangan pernah mencoba-coba untuk sebut nama Valencia menggunakan mulut kotormu itu!" murka Xeros.


"Sialan kau!"


Pria itu kembali bangkit dari posisinya, dia langsung berlari menerjang ke arah Xeros. Sekuat tenaga dia mencoba untuk melakukan pembalasan terhadap pukulan yang dia dapatkan. Namun, di luar dugaan, pergerakan Xeros jauh lebih cepat darinya sehingga sekali lagi ia memperoleh pukulan yang lebih kuat dari Xeros.


"Tidak masalah kau menghinaku, tapi jangan pernah sekali-kali kau mencoba menghina Valencia! Aku akan membuatmu menyesal kalau kau berani melakukannya."


"Sepertinya benar, si buruk rupa ini menyukai Valencia! Hahaha. Aku tidak habis pikir, menyukai seorang gadis yang dahulunya jelek dan gemuk. Walau penampilannya berubah, tapi aku yakin kalau fisiknya akan kembali seperti semula jika dia tidak mengontrol makannya."


Sudah cukup bagi Valencia menjadi penonton keributan ini. Dia akhirnya keluar dari kerumunan siswa dan datang menengahi pertengkaran tersebut.


"Sepertinya kau tidak pernah diajarkan untuk bercermin."


Kemunculan Valencia mengubah suasana, gadis gila yang akhir-akhir ini menjadi topik pembicaraan datang membawa aura mematikan. Sorot matanya mengarahkan tatapan membunuh terhadap pria yang telah merundung Xeros.


Valencia meraih kerah baju pria berwajah standar tersebut, ia mencengkramnya begitu kuat sampai membuat wajah si pria pucat pasi. Entah mengapa, sekujur badannya bereaksi takut kepada Valencia.


"Hei, brengs*k! Apa kau pikir kau akan selamat seusai menghinaku dan Xeros? Perhatikan perkataanmu sebelum aku kirim kau neraka menggunakan kereta ekspres jalur akhirat."

__ADS_1


__ADS_2