Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kematian Klarybell


__ADS_3

Klarybell berhasil menyadarkan Yuine dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Yuine pada akhirnya harus mati karena jiwa Klarybell menyerap sisa hidupnya.


Di saat bersamaan, seluruh penyihir berhasil mengatasi kekacauan di daratan Mihovil. Para Pangeran bersama Arc dan Cetrion juga sukses melumpuhkan Elkin. Mereka memperoleh kemenangan dengan sangat mudah.


"Aku cemas. Apakah Bell berhasil mengalahkan Yuine?" gumam Reibert menatap langit.


"Jangan khawatir, Bell itu sangat kuat dan yakinlah kalau dia bisa mengatasinya sendirian," ucap Rexid.


Berselang beberapa menit, pembatas sihir di angkasa pun terbuka. Semua orang menantikan kabar baik dari Klarybell. Namun, seketika ekspresi seluruh orang berubah kaku. Sosok yang mereka lihat bukanlah Klarybell sang Penyihir Agung. Melainkan Klarybell si malaikat jatuh.


Sepasang sayap hitam mengepak di udara. Uraian rambut biru layak air bergerai indah serta mata merah muda nan begitu cantik.


"Hahaha. Memang tubuh sendirilah yang terbaik. Tidak aku sangka, aku langsung bertemu dengan banyak manusia saat aku berhasil menggabungkan jiwaku."


Sosok gadis yang terbang di langit kala itu bukanlah Klarybell yang dikenal oleh mereka. Jiwa jahatnya berhasil mencuri kesadaran Klarybell sepenuhnya.


"Hei, menjauh! Dia bukan Klarybell yang kita kenal!" seru Frintz.


"Apa? Apa yang kau katakan?"


"Bell telah dikuasai oleh jiwa jahatnya. Saat ini yang ada di depan mata kita adalah Klarybell sang malaikat jatuh."


Lalu Klarybell mengeluarkan sebilah busur saat melihat semua orang berlarian menjauhinya.


"Terlambat bagi kalian melarikan diri."


Klarybell melepas busurnya dan terjadilah ledakan hebat yang menyebabkan para penyihir terluka dan terpental. Klarybell tersenyum jahat saat menyaksikan kekacauan yang terjadi.


"Ambil posisi!" perintah Arc ke para Pangeran dan Cetrion.


"Kalian kaburlah dari sini. Biar kami yang mengatasi sisanya," lanjut Xeros memberi perintah pada para penyihir selain mereka.


Ke sembilan pria itu mengambil aba-aba. Secara serentak, mereka bergerak bebas di udara menerjang ke arah Klarybell. Mereka mencoba menyerang gadis itu untuk dilumpuhkan. Apabila mereka membiarkan Klarybell berbuat sesuka hatinya, maka kemungkinan benua Mihovil akan hancur di tangannya.


Sayangnya, mereka tidak berhasil mencegat pergerakan Klarybell. Dalam sekejap, mereka terhempas ke permukaan tanah dengan luka cukup serius. Mereka dikalahkan hanya dalam waktu beberapa detik saja.


Kini hanya Cetrion yang masih sadar di antara mereka.


"Oh kau masih belum mati?"


Klarybell mengambil sebuah belati dan hendak menusuk jantung Cetrion menggunakan belati tersebut.


"Buka matamu, Bell!" Teriakan Cetrion menghentikan pergerakan tangan Klarybell.


"Aku tahu kau masih di sana, Bell. Jangan biarkan jiwa jahatmu menguasai tubuhmu."


"Omong kosong apa yang sedang kau—


"Bell, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku menunggumu selama ratusan tahun. Aku mencarimu ke mana-mana dan berharap ada keajaiban yang bisa menghidupkanmu kembali. Tidak hanya aku, mereka semua juga mencintaimu."


Tanpa sadar, kedua mata Cetrion menitikkan air mata. Dia sedang mencoba mengambil kesadaran Klarybell kembali.


"Apakah kau tidak sadar? Di kehidupanmu kali ini kau dianugerahi banyak cinta. Tidak ada orang yang akan meninggalkanmu apalagi mengkhianatimu. Sadarlah, Bell ... kau tidak perlu merasa sendirian lagi. Sekarang kau punya rumah untuk kembali."


"Bell, bisakah kau mendengarku? Aku tidak mau kau tenggelam di kelamnya ingatanmu. Aku ingin kau kembali bersama kami. Takkan ada manusia yang menyakitimu. Jika itu terjadi, kami akan menjadi tamengmu."


Klarybell masih membisu, tatapan matanya terlihat kosong. Kebencian di dirinya masih menggebu-gebu. Namun, Cetrion berusaha menjemput jiwa murni Klarybell di alam bawah sadarnya.


"Jangan menanggung segalanya sendirian. Seluruh beban dan rasa sakitmu, tolong limpahkan saja kepada kami. Tidak apa-apa, Bell ... aku tidak marah bahkan jika kau membunuhku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa hidupmu saat ini dikelilingi oleh cinta."


"Ada Archduke Calestine yang menjadi sosok orang tua bagimu. Ada kami yang menjadi sosok penguat bagimu. Seandainya kau terluka, aku dan Sammy akan menyembuhkanmu. Jika kau sedih, ada Rexid, Arc, dan Ivanov yang menghiburmu. Jika kau butuh teman belajar, Frintz dan Leano akan membantumu. Jika kau butuh pendengar, ada Xeros dan Reibert yang akan mendengarmu."


"Kami semua mencintaimu lebih dari yang kau tahu, Bell. Jadi, tolong kembalilah dan mari kita buat hidupmu lebih bahagia. Aku akan mengorbankan diriku jika perlu."


Tangan Cetrion berupaya mengelus pipi Klarybell.


"Bell, sudah cukup. Kau tidak perlu berjuang lagi. Beristirahatlah sejenak, kami akan menggantikanmu memikul beban derita hidupmu."

__ADS_1


Sesaat Cetrion menyudahi perkataannya, bulir-bulir air mata berjatuhan dari sudut mata Klarybell. Kekosongan di netra indahnya kini telah terisi kembali.


"Maafkan aku ...," lirih Klarybell.


Betapa terkejutnya Cetrion saat itu menyaksikan Klarybell menusuk jantungnya sendiri. Sontak Cetrion bangkit dan mendekap tubuh Klarybell.


"Bell, kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau melukai tubuhmu sendiri? Aku akan menyembuhkanmu. Aku takkan membiarkanmu mati."


Itulah kata-kata yang terakhir didengar Klarybell. Gadis itu pun berakhir gagal mempertahankan kesadarannya.


***


Jauh di alam bawah sadarnya, Klarybell semakin tenggelam dalam kegelapan. Namun, saat itu Klarybell bisa merasakan tangan-tangan yang mencoba menggapai dan menariknya keluar dari ruang kesengsaraan. Suara tangisan, teriakan, serta suara yang terus berusaha menyadarkannya bercampur menjadi satu.


"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menyembuhkan lukanya?"


Terlihat Cetrion sedang melakukan penyembuhan terhadap tubuh Klarybell. Akan tetapi, anehnya luka di dada gadis itu tidak bisa disembuhkan.


"Cepat bawakan air bersih! Darahnya semakin banyak yang mengucur."


"Berhati-hatilah saat menyeka tubuhnya. Jangan sampai lukanya semakin parah."


Semua orang sibuk membantu pemulihan tubuh Klarybell. Di samping itu, para pria yang lain hanya bisa menunggu dengan sabar proses perkembangan penyembuhan Klarybell. Tergurat keputusasaan di raut muka mereka yang kacau.


Tidak lama kemudian, tangan Klarybell bergerak menangkap pergelangan tangan Cetrion. Seisi ruangan mendadak terkesiap melihat gadis itu terbangun dari pingsannya.


"Hentikan. Itu tidak ada gunanya karena luka ini tidak bisa disembuhkan," ucap Klarybell.


"Apa yang kau katakan? Aku akan menyembuhkanmu seperti janjiku. Aku—"


"Cukup, Cetrion! Jangan siksa lagi dirimu. Luka ini takkan pernah sembuh sekali pun kau menggunakan nyawamu sendiri."


Tubuh Cetrion meluruh ke atas lantai, ia menggenggam erat tangan Klarybell. Suara tangisannya memecah satu ruangan.


"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak berguna."


Tak lama setelahnya, Davey bersama Sean pun datang seusai mengetahui apa yang menimpa Klarybell. Davey pun duduk di samping ranjang sang Adik untuk melihat jelas seperti apa kondisinya.


Klarybell mengerjapkan pelan kedua matanya. Wajahnya tampak semakin pucat karena kehilangan banyak darah.


"Kakak, kenapa kau ada di sini?" tanya Klarybell begitu pelan.


"Tentu saja karena aku ingin melihat Adikku. Sepertinya kondisimu sangat buruk," ucap Davey menahan tangis.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku."


Saat ini Klarybell dikelilingi oleh para lelaki yang menatapnya penuh sendu dan cinta. Mereka sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air mata di hadapan Klarybell.


"Baik-baik saja apanya? Kau terluka parah begini dan kau masih bisa tersenyum seperti itu?!" celetuk Sean marah.


Klarybell lagi-lagi tersenyum demi mengurangi rasa khawatir yang melanda semua orang.


"Kau masih saja senang memarahiku. Padahal aku hanya terluka sedikit saja."


Sean langsung memalingkan wajahnya. Kala itu Sean hampir menangis melihat kondisi Klarybell yang amat menyedihkan.


"Sean, aku meminta maaf karena telah membunuh rekan-rekanmu. Aku sungguh menyesali apa yang telah aku lakukan di masa lalu," lanjut Klarybell berucap.


"Aku tidak butuh maaf darimu. Aku hanya ingin kau sembuh dari luka itu," balas Sean.


"Terlambat. Sepertinya aku takkan sembuh sampai kapan pun."


Davey menggenggam tangan sang Adik erat-erat.


"Apa maksudmu takkan sembuh? Kau harus sembuh dan memulai hidup baru. Apa kau berpikir untuk mati? Tidak. Aku tidak mengizinkanmu untuk mati. Padahal kau sudah—"


"Kak, jika aku terus hidup, maka aku tidak tahu kapan jiwa jahatku bereaksi lagi. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Oleh sebab itu, bisakah Kakak dan kalian semua membunuhku?"

__ADS_1


Deg!


Sungguh permintaan yang sulit untuk dikabulkan. Klarybell menyebabkan degup jantung seisi ruangan berhenti sesaat mendengarkan permintaannya yang tidak masuk akal.


"Jangan meminta kami melakukan hal yang tidak masuk akal!" teriak Rexid dibubuhi emosi.


"Kita akan mencari cara lain agar kau bisa bertahan hidup," tutur Arc diangguki yang lain.


"Itu tidaklah mudah. Aku tidak mau kalian menjadi korban akibat kemarahan jiwa jahatku. Aku hanya ingin—"


Luka Klarybell secara mendadak menunjukkan reaksi berbeda. Jantungnya seakan-akan meledak detik itu juga. Rasanya sesak, pedih, dan hancur. Sontak reaksi Klarybell yang merintih kesakitan menimbulkan kepanikan dahsyat di menara sihir.


"Aku mohon kepada kalian ... biarkan aku mati. Aku tidak mau hidup seperti ini. Lenyapkan jiwaku, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa lebih tenang. Tolong lepaskan aku. Aku mohon ... tolong ...."


Klarybell mencengkeram pakaian Davey seraya menangis di pelukan Kakaknya. Saat ini dia berada di kondisi yang sangat putus asa. Tidak ada satu pun yang bisa mengatasi keputusasaan Klarybell.


"Baiklah, mari kita lakukan itu," ucap Davey mengejutkan semua orang.


"Yang Mulia! Jangan lakukan itu. Tidak ada satu pun dari kami yang siap untuk kehilangan Bell," sela Ivanov.


"Yang Mulia, Anda seorang Dewa bukan? Seharusnya Anda punya cara lain untuk memulihkan kondisi Klarybell," imbuh Sammy.


Davey menggeleng lemah disertai air mata berlinang.


"Tidak ada cara lain lagi. Bahkan, aku seorang Dewa pun tidak dapat memulihkan jiwa yang tercemar seperti jiwa milik Bell. Kebencian dan dendam telah membawanya kepada kehancuran. Jika dibiarkan lebih lama lagi, Bell akan semakin menderita," jelas Davey.


"Kak, kalau aku mati, sihir hitam dan portal makhluk sihir juga akan ikut menghilang bukan? Jikalau begitu, tidakkah ini bagus? Kehidupan di alam semesta menjadi lebih damai. Tidak ada ruginya membiarkan aku mati."


Klarybell sudah berada di titik tiada harapan hidup menyertainya. Davey berusaha tegar, sebagai satu-satunya Dewa yang tersisa, dia harus mengutamakan kedamaian makhluk hidup.


Sesungguhnya, dia sedikit menyesal karena terlambat datang membantu Klarybell menghadapi Yuine. Hal ini dikarenakan dia baru saja menyelesaikan masalah yang ada di alam akhirat.


"Aku akan melakukannya untukmu. Tenang saja dan jangan khawatir. Aku ingin mengirimmu ke tempat terindah," tutur Davey tersenyum pahit.


Klarybell merasa sedikit lebih lega. Lalu dia pun menyuruh salah seorang untuk mengambil sebuah buku catatan di atas mejanya.


"Tolong lihat di halaman terakhir. Aku telah membuat sebuah formula sihir untuk melenyapkan jiwaku. Gambar pentagram sihir sembilan titik kemudian rapalkan mantranya," papar Klarybell, suaranya kian melemah.


Davey mengamati formula sihir tersebut. Ini sangat sempurna! Bahkan, lebih sempurna dari bayangannya.


"Sembilan titik? Apa itu berarti kau ingin mereka bersembilan merapalkan mantra di pentagram sihirnya?" tanya Davey memastikan.


"Iya, Kak. Tolong lakukan seperti itu. Antar aku ke peristirahatan terakhirku. Kematianku adalah demi mencapai kedamaiam alam semesta."


Isak tangis pun mewarnai kamar Klarybell. Tidak ada yang tidak menangisi kemalangan gadis itu. Hati mereka terkoyak-koyak dipaksa merelakan seseorang yang begitu mereka cintai.


"Berhentilah menangis. Aku tidak mau kalian mengantar kepergianku dengan tangisan," lirih Klarybell.


"Bell, kau tahu bukan? Kami sangat mencintaimu. Bagaimana caranya tidak menangisi kepergianmu?" ucap Reibert.


Klarybell mengangguk lemah. "Aku tahu itu. Aku tahu seberapa besar rasa cinta kalian kepadaku. Oleh sebab itu, aku ingin mengatakan bahwa aku juga mencintai kalian. Tolong bantu aku membangun kedamaian kembali di dunia ini."


"Dan juga aku rasa aku adalah wanita paling beruntung karena dicintai oleh kalian. Maafkan aku harus meninggalkan kalian seperti ini."


Bersamaan kalimat terakhirnya, deruan napas Klarybell terhenti. Bibir tipis yang selalu mengundang keributan itu membisu untuk selamanya. Mata yang berbinar tatkala bertemu makanan itu telah terpejam menuju alam kematian.


"Bell ... kau sudah pergi ya? Astaga, anak nakal ini bahkan tidak mengucapkan kata perpisahan kepada Kakaknya. Maaf, Bell, aku tidak bisa menjadi Kakak yang baik untukmu."


Akhirnya, tangisan Davey pun terpecah. Dia memeluk erat tubuh Klarybell yang dingin seperti es. Waktunya seolah-olah berhenti berputar dan jiwanya seperti ikut terserap ke jurang yang curam.


"Bell ... aku mohon, buka matamu. Aku mohon ... jangan pergi ...."


Kamar Klarybell kini dipenuhi tangisan dan teriakan dipenuhi rasa sakit serta kesedihan mendalam atas kepergian Klarybell.


Pada waktu yang sama, hujan tiba-tiba mengguyur daratan. Alam semesta bersedih atas kepergian seorang wanita yang selalu berjuang di bawah hujaman penderitaan. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa hancurnya hati banyak orang di hari itu.


Kemudian di tengah suasana tangis, Henzo datang. Dia hanya terdiam menyaksikan tubuh kaku Klarybell di depan matanya. Perlahan di sela kebisuannya, air matanya ikut turun. Putri angkat yang dia cintai pergi tanpa mengucap sepatah kata pun terhadap dirinya.

__ADS_1


Tepat beberapa jam berselang, mereka pun melaksanakan ritual penghancuran jiwa Klarybell. Mereka bergegas menggambar pentagram sihir dan merapalkan mantra untuk melenyapkan jiwa gadis itu dari peradaban semesta sepenuhnya.


"Di bawah hujan, di atas kilatan cahaya sihir, tubuh Klarybell hancur membawa jiwanya yang telah mati. Seperti bunga dandelions yang terbawa angin, kini jiwanya membentuk gumpalan cahaya indah yang terbang mengisi penjuru dunia ini."


__ADS_2