Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Linnea Terabaikan


__ADS_3

“Oh begitu rupanya, baiklah. Sekarang ayo kita duduk, kau pasti sangat lapar, Bibimu ini sengaja menyuruh koki istana untuk membuatkanmu makanan yang paling enak.” Linita menggandeng tangan Valencia dan mengantarkannya ke kursi meja makan yang berdekatan dengan tempat Abraham serta Linita duduk.


Valencia tersenyum licik sambil melirik tajam Linnea, gadis itu tertunduk dan tak bisa berkata-kata lagi. Keberadaan Linnea tidak sambut baik, bahkan Linita dan Abraham tidak memandangnya sedikit pun.


‘Dia merebut seluruh perhatian, wanita jal*ng itu mendominasi perhatian Kaisar dan Permaisuri. Aku tidak akan membiarkannya mengambil posisiku, aku harus berdiri di tempat yang lebih tinggi darinya,’ gerutu Linnea dalam hati.


Sepanjang jam makan, Linita dan Abraham membicarakan banyak hal, Valencia juga menanggapinya dengan santai. Sesekali Linnea menyela ke dalam obrolan mereka, tapi sayangnya dia tak begitu diindahkan oleh Linita dan Abraham.


“Valencia, kenapa kau tidak keluar saja dari mansion Grand Duke Allerick? Sebagai gantinya, kau bisa tinggal di sini nanti. Masih ada istana kosong untuk kau tempati, lagi pula kalau kau di sini akan mendapatkan lebih banyak fasilitas untuk kau latihan. Kami juga akan memperlakukanmu dengan baik, kau disambut baik di istana ini.”


Abraham akhirnya mengutarakan maksud dan keinginannya, bisa dilihat jelas bahwasanya Abraham maupun Linita mengkhawatirkan kondisi Valencia bila harus terus tinggal di kediaman Grand Duke Allerick. Akan tetapi, Valencia tidak berminat untuk menerimanya sebab apabila dia tinggal di istana maka pergerakannya akan terbatas.


“Maaf, Paman, saya menghargai kebaikan Paman, tapi saya tidak ingin keluar dari kediaman Grand Duke Allerick. Bagaimana pun tempat itu adalah rumah saya, memang rasanya kurang nyaman. Namun, saya sudah terbiasa menghadapi mereka, jika saya keluar dari sana sama saja saya menghindari masalah,” jawab Valencia.


Jawaban yang diberikan Valencia cukup bisa diterima akal sehat, Abraham dan Linita juga tidak memaksa Valencia menerima tawarannya. Gadis yang kini berada di depan mereka rupanya adalah gadis yang berbanding terbalik yang dia kenal dahulu. Valencia juga bersikap selayaknya bangsawan sejati, dia menguasai etiket bangsawan secara sempurna. Wujud Valencia saat ini menggambarkan kesempurnaan seorang bangsawan dalam berkunjung ke istana.


“Baiklah, aku hargai keputusanmu, tapi jika kau nanti butuh sesuatu, langsung katakan saja padaku. Kau juga telah banyak berjasa menyelamatkan nyawa rakyat, apakah sekarang kau ingin hadiah? Sebutkan saja, anggap ini sebagai balas budi keterlibatan kau melindungi nyawa rakyat dari penguasa serakah.”


Sebuah kesempatan datang kepada Valencia dengan sendirinya, kesempatan di mana Valencia mempunyai ruang mengutarakan keinginannya yang sesungguhnya.


“Paman, bisakah Paman mengizinkan saya untuk mendirikan kelompok kesatria khusus wanita?”

__ADS_1


Kedua mata Abraham melebar sesaat mendengarkan permintaan Valencia, Linita juga tidak kalah terkejutnya. Mereka berpikir Valencia akan meminta sesuatu yang lebih besar, rupanya dia meminta izin mendirikan kelompok kesatria wanita.


“Kesatria wanita? Apakah kau yakin soal ini? Maksudku, akan ada banyak bangsawan yang menentang keberadaan kesatria wanita. Seperti yang kau ketahui, wanita tidak pernah setara dengan pria, begitulah anggapan seluruh orang di benua Solvey,” ucap Abraham.


“Bangsawan, kah? Itu hanyalah masalah sepele, saya bisa membereskan mereka dengan mudah. Tidak perlu khawatir, Anda hanya perlu memberi saya izin mendirikan kelompok kesatria wanita. Saya akan membuktikan kalau wanita juga bisa seperti pria, jadi tolong percayakan kepada saya, Paman.”


Kata demi kata yang dilontarkan menyiratkan kepercayaan diri yang kuat, Abraham dan Linita dibuat tak bisa berkata-kata. Valencia memancarkan aura pemimpin sejati, dia tidak gentar menghadapi bangsawan yang mungkin saja akan menghadang jalannya.


“Hahaha, kau sangat menarik! Aku akan memberimu izin mendirikan kelompok kesatria wanita. Tunjukkan padaku nanti jika kau bisa membuat kesatria wanita setara dengan kesatria pria!” Abraham tertawa puas, akhirnya dia memberi izin Valencia untuk mendirikan kelompok kesatria wanita.


“Terima kasih, Paman, saya akan bekerja dengan baik dan membuktikan kalau kesatria wanita juga bisa mendominasi pria.”


Sesudah makan siang, Abraham dipanggil kembali untuk melanjutkan pekerjannya, dia meninggalkan Valencia bersama Linita. Sang Permaisuri mengajak Valencia dan Linnea untuk minum teh bersama sembari mengobrol. Sebenarnya, dia tidak sudi membawa Linnea, tapi Valencia memintanya untuk membawa Linnea ke dalam obrolan santai mereka.


“Bagaimana menurutmu? Apakah makanan istana sangat enak?” tanya Linita.


“Sangat enak! Saya sangat menyukainya, bolehkah saya membawa sedikit makanannya nanti?”


Linnea bersiap menyela obrolan mereka. “Astaga, Valencia, mengapa kau bisa meminta dengan tidak sopan begitu kepada Yang Mulia Permaisuri? Apakah kediaman Grand Duke Allerick kekurangan makanan sampai kau meminta makanan istana untuk dibawa pulang?” sindir Linnea.


“Linnea, apa yang kau katakan? Aku meminta untuk membawa makanan buatan koki istana karena makanannya sangat enak. Apakah ada yang salah dari itu?” balas Valencia.

__ADS_1


“Nona Linnea, sepertinya Anda tidak pernah diajarkan sopan santun, menyela obrolan Permaisuri itu sangat tidak sopan! Lalu kau mencoba membuat Valencia terlihat rendah di mataku? Tampaknya cara Anda membuktikan nilai diri sendiri terkesan sangat rendahan.” Linita angkat bicara, dia secara tegas membela Valencia.


Valencia ingin tertawa saat itu, Linnea tak punya ruang sedikit pun untuk menjatuhkan dirinya di depan Linita. Kini gadis itu pun tertunduk malu, bahkan para pelayan juga mulai membicarakannya.


“Tolong maafkan saya, Yang Mulia,” tutur Linnea teramat pelan.


“Jika bukan karena permintaan Valencia, aku tidak akan mau membiarkanmu masuk ke istana ini,” ketus Linita.


Linita pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Valencia, lalu di tengah pembincangan mereka seorang pelayan datang menyuguhkan teh ke meja mereka duduk. Tentu saja Linnea tidak tinggal diam dan mengambil kesempatan mengubah citranya di depan Linita.


“Yang Mulia, saya sangat pandai menyeduh teh, bisakah Anda mengizinkan saya menyeduh teh untuk Anda?” Linnea secara tiba-tiba berinisiatif menyeduhkan teh untuk Linita.


“Hah? Menyeduhkan teh? Tidak perlu, ini adalah pekerjaan pelayan, apa Anda mungkin berminat menjadi pelayan di istana?”


Deg!


Perkataan Linita menusuk ke dalam hati, dia bahkan tidak melirik sedikit pun niat baik yang berbalut rencana busuk Linnea. Valencia hanya bisa tersenyum, dia tidak perlu bertindak berlebihan untuk mempermalukan Linnea karena sang Permaisuri bertindak lebih dulu darinya.


“Tidak, Yang Mulia, bukan begitu maksud saya,” ujar Linnea gelagapan.


Linita langsung memberi perintah pelayan menyeduh teh untuk mereka, tapi tidak disangka-sangka, ketika pelayan itu hendak melangkah menyeduhkan teh, Linnea dengan sengaja meluruskan sebelah kakinya hingga menyebabkan pelayan itu tersandung tungkai kaki Linnea. Akibatnya air teh yang hangat membasahi seluruh pakaian Valencia serta membasahi rambut bagian bawah.

__ADS_1


__ADS_2