Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Suara Lonceng dari Langit


__ADS_3

 Valencia sungguh sadis, ia merupakan gadis yang paling tidak berperasaan yang pernah ditemui para siswi akademi. Seluruh penonton mendadak berlari berhamburan dan menjauh dari kamar Valencia. Mereka tidak berani lagi macam-macam dengan Valencia, lebih baik bagi mereka untuk tidak berurusan dengan gadis itu. Tidak lupa pula mereka menggotong tubuh Hanny, Sabrina, dan Jania menuju ruang rawat akademi.


“Dasar merepotkan saja!” gumam Valencia menggerutu jengkel.


Kala itu ada satu orang gadis yang tidak beranjak pergi dari sana yaitu Devina, ia menatap Valencia dengan mata berbinar dan dipenuhi kekaguman. Ekspresi Valencia berubah begitu cepat ketika dirinya mendapati Devina berada di depan mata.


“Devina! Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!” seru Valencia memanggil Devina.


“Baiklah.” Devina menyahut Valencia tanpa berpikir panjang, dia pun lekas pergi ke tempat Valencia.


Devina masuk ke kamar Valencia, kondisi kamarnya berantakan dan banyak barang-barang yang hancur akibat amukan Valencia. Sekarang kamar yang mulanya tertata rapi mendadak berubah seperti gudang penyimpanan.


“Apa yang membuatmu terlihat begitu marah sampai melukai ketiga orang itu?” tanya Devina penasaran.


“Mereka sangat mengesalkan. Apa kau tahu? Tadi ketika aku baru saja sampai di kamar, mereka memporak-porandakan kasus dan lemariku. Pada awalnya itu hanya ulah Sabrina dan Jania, tapi Profesor Hanny datang untuk menghentikan aksiku. Namun, dia malah menyalahkanku, wanita sialan itu memang selalu menyudutkanku sepanjang waktu tatkala aku dirundung dan mencoba melawan para perundung itu.”


Devina tertegun sejenak, padahal dia satu akademi dengan Valencia tapi baru kali ini ia mendengar adanya perundungan di akademi. Dan Devina pun terasadar, ia ingat kalau dirinya jarang masuk kelas, Devina juga tidak terlalu penasaran dengan masalah orang lain. Jadi, karena alasan itulah Devina selama ini tidak tahu apa pun yang menimpa Valencia.


Akan tetapi, hari ini berbeda, dia perlahan tahu segala sesuatu tentang diri Valencia. Di dalam hati Devina bertekad agar tidak membolos masuk kelas lagi sehingga dia dapat memantau setiap pergerakan serta gosip yang berputar di sekitar Valencia.


“Jika alasannya seperti itu, seharusnya kau bunuh saja mereka, jadi ke depannya takkan ada lagi orang yang berani mengusikmu,” kata Devina dengan enteng.


“Rupanya kau paham juga soal bunuh membunuh. Namun, aku tidak puas kalau langsung membunuh mereka. Aku berencana untuk membuat mereka menikmati penderitaan di dunia ini sebelum akhirnya aku mengirim mereka ke neraka menggunakan kereta ekspres berkecepatan tinggi. Hahaha,” ujar Valencia tertawa jahat.


Devina mengangguk setuju. “Kau benar, mereka harus diberi pelajaran sebelum dikirim ke alam kematian. Hahaha,” timpal Devina ikut tertawa.


Mereka nampak akrab satu sama lain, Devina juga menikmati situasi itu, ia merasa mulai sekarang kehidupan akademinya tidak akan membosankan seperti dahulu. Mereka melanjutkan obrolan bersama sampai pukul sepuluh malam. Devina tanpa sengaja tertidur di kamar Valencia saat tengah asik berbincang perihal ilmu pedang.

__ADS_1


“Bosan sekali.” Valencia meregangkan otot-otot tangannya seraya mendongak ke langit malam. “Haruskah aku berjalan-jalan sebentar? Ya, aku rasa itu tidak masalah.”


Valencia pun beranjak keluar kamar, berharap udara malam ini dapat menyegarkan kembali otaknya yang penuh karena rentetan masalah di akademi. Kemungkinan kehidupan akademinya takkan pernah tenang sampai dia lulus.


“Di sini cukup tenang.” Valencia menghentikan langkahnya di salah satu balkon gedung akademi yang berhadapan langsung dengan danau buatan akademi.


Valencia melihat ke bawah balkon, perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh pemandangan danau yang begitu indahnya. Permukaan lantai nan dingin dan licin tanpa sengaja membuat telapak kaki Valencia tergelincir hingga menyebabkan tubuh Valencia terjatuh dari atas balkon menuju bawah.


“Ahh, aku terjatuh.”


Ekspresi Valencia terlihat datar, ketinggian balkon tersebut tidaklah menjadi sebuah ancaman serius baginya. Namun, ketika bokongnya hampir mendarat di tanah, mendadak tubuhnya menabrak sesuatu dan mendudukinya.


“Huh? Kenapa tidak sakit?”


Valencia lekas menundukkan kepalanya, sepasang manik mata hijau safir tersebut melebar tatkala menemuka seorang pria tepat berada di bawah tubuhnya. Valencia menghimpit badan pria dengan wajah yang tidak asing sama sekali.


“Aku menghimpit seseorang! Hei, bangun! Apa kau sudah mati?!” Tanpa beranjak dari badan si pria, Valencia histeris mempertanyakan apakah si pria masih hidup atau sudah mati.


Sontak Valencia melompat turun dari tubuh pria itu, dia pikir telah membunuh orang lagi selepas insiden sebelumnya. Pria itu bangkit dari posisinya, ia menatap lekat Valencia, gadis itu bahkan tidak meminta maaf padanya.


“Nona, apa yang Anda lakukan sampai terjatuh dari ketinggian seperti itu?” tanyanya sambil membenarkan posisi kacamata.


“Itu bukan kehendakku, lantainya terlalu licin dan akhirnya aku terjatuh dari atas sana,” jawab Valencia.


Valencia mencoba menggali ingatannya, wajah pria itu tidak asing sama sekali bagi dirinya. Rambut hitam lurus panjang dan mata biru, mendadak sebuah bayangan adegan pertemuannya dengan pria itu muncul di kepalanya.


“Aku ingat! Kau adalah pria yang waktu itu aku temui di ibu kota!” seru Valencia menunjuki wajah pria itu.

__ADS_1


Kala itu Valencia pernah bertemu satu kali dengannya (ada di chapter 11). Pria tersebut menegurkan ketika dia kabur dari kerumunan orang yang penasaran terhadap dirinya. Sekarang mereka berdua bertemu kembali di akademi.


“Ternyata Anda mengingat saya ya, Nona. Tolong panggil saya Frintz, waktu itu kita bertemu secara tidak sengaja.”


Ya, pria berwajah lembut itu bernama Frintz, dia tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Hanya saja ada satu hal yang membuat Valencia berpikir keras bahwa sebenarnya tadi Valencia tidak merasakan hawa keberadaan Frintz sama sekali. Hawa keberadaannya terasa begitu tipis sehingga Valencia kesulitan untuk menyadarinya.


“Perkenalkan juga, aku Valencia. Tentu saja aku mengingatmu, tapi sejak kapan kau ada di sini? Perasaan tadi aku tidak lihat siapa-siapa.”


“Saya berdiri di sini sedari tadi, hanya saja Anda tidak menyadarinya.”


“Kau—”


Perkataan Valencia terpotong oleh genderang lonceng dari atas langit, di sini hanya Valencia saja yang dapat mendengarnya. Suara lonceng itu kian lama kian membesar, burung-burung di hutan beterbangan dan suara serigala mengaum secara tiba-tiba. Firasatnya mengisyaratkan sesuatu yang tidak dia mengerti. Entah mengapa kala itu pikirannya langsung mengarah pada Davey, perasaannya seketika berubah kacau.


‘Apa ini? Kenapa rasanya dadaku sesak sekali? Apa yang terjadi?’


***


Dentingan lonceng tersebut berasal dari kastil tempat tinggal Davey, bunyi lonceng sebagai pertanda bahwa kondisi Davey sedang berada di ambang kematian. Para pelayan kastil berlari ke sana kemari untuk membantu Davey melalui masa kritisnya. Terutama Sean, dia merupakan satu-satunya orang yang paling panik kala itu.


“Bagaimana kondisi Davey? Dia semakin memburuk, ‘kan?”


Tiga orang lelaki tua berjanggut mendatangi Sean yang sedang berdiam diri di depan pintu kamar Davey. Sean tersentak sesaat melihat kedatangan mereka bertiga, mendadak Sean langsung menundukkan kepalanya.


“Para penatua dewa, sejak kapan Anda datang?” tanya Sean bernada dingin, ia tidak begitu menyambut kemunculan mereka di kastil.


“Kami baru saja datang. Sepertinya tidak ada orang yang menyambut kedatangan kami, padahal kami di sini hanya bermaksud untuk menjenguk Davey.”

__ADS_1


“Benar, dia jadi seperti itu juga karena mencoba untuk menyelamatkan Klarybell. Seharusnya ketika dia tiba di alam akhirat, kalian bisa langsung membunuhnya.”


“Tampaknya kau amnesia, Sean. Klarybell pernah menghancurkan alam semesta, bahkan membunuh rekan-rekanmu, tapi mengapa sekarang kau malah berada di pihaknya? Sejak awal keberadaan Klarybell merupakan sebuah kesalahan. Sebagai musuh utama dewa dan umat manusia, dia mesti dimusnahkan sebelum dia mendapatkan ingatannya kembali.”


__ADS_2