
Percobaan pembunuhan terhadap Linita yang terjadi untuk yang kedua kalinya kembali menuai kegemparan di tengah kesunyian malam di istana. Para penghuni istana didera kebingungan sebab mereka tidak melihat atau pun mendapatkan jejak penyusupan dari si pembunuh tersebut. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya pembunuh itu menggunakan sihir saat dia menyusup ke dalam kamar Linita. Jadi, wajar saja kalau mereka tidak menyadari kedatangannya, manusia biasa takkan mengerti bagaimana wujud sihir.
“Oh, Paman! Apa kau yang mencincang tubuh pembunuh ini?” tanya Valencia terkesan saat menyaksikan potongan tubuh manusia di depan matanya.
“Benar, itu aku yang melakukannya. Bagaimana menurutmu? Orang ini tadi masuk ke dalam kamar tanpa memperhatikan sekitar, jadi aku sangat marah. Selain itu, dia juga mengganggu waktu tidurku,” jawab Henzo berdecak sebal.
“Paman tampan, kau memang sangat hebat. Tetapi alangkah baiknya tadi kau mencongkel jantungnya.” Valencia mengacungkan jempolnya pada Henzo, namun gadis muda itu masih saja merasa ada yang kurang.
“Hahaha. Aku sudah terlalu kesal, lain kali mari kita lakukan yang lebih sadis lagi!”
Mereka berdua saling tertawa di depan potongan mayat yang hampir tidak dikenali lagi bentuknya. Reaksi mereka membingungkan orang sekitar, Abraham menepuk pelan kepalanya melihat Valencia dan Henzo yang masih bisa tertawa di kala ketegangan istana.
‘Mereka berdua seharusnya tidak disatukan, mengurus Henzo saja aku sudah kesulitan apalagi harus ikut mengurus Valencia,’ batin Abraham.
Sesudah itu, Valencia dan Henzo melanjutkan penyelidikan mereka, Valencia menemukan di balik daun telinga si pembunuh itu terdapat simbol penyihir bayangan. Mereka tidak pernah menyerah mencari gara-gara dan tidak pernah jera melakukan percobaan pembunuhan.
“Sebenarnya, ada di mana markas mereka? Kalau aku tahu mereka ada di mana, maka aku akan menghancurkan mereka sekaligus. Aku tidak bisa berdiam diri lagi, ini sudah melewati batas,” gerutu Henzo.
“Tenanglah, Paman, kita juga tidak tahu apa yang mereka sembunyikan di markas mereka. Apabila kita mengambil keputusan gegabah dalam menyerang mereka, maka kita akan terkena masalah. Kita harus memantau sampai mereka memunculkan diri lagi,” ucap Valencia menenangkan Henzo.
Karena mereka tidak menemukan apa pun selain simbol tersebut, jadi mereka menutup penyelidikan hari itu. Sekarang mereka berdua dipanggil ke ruangan Abraham sebab Abraham berencana membahas soal pengadopsian Valencia yang akan dilakukan oleh Henzo.
“Valencia, apa kau memang bersedia diadopsi oleh Henzo?” tanya Abraham.
Tanpa pikir panjang, Valencia langsung menjawab, “Benar, Paman, saya setuju diadopsi oleh Paman tampan karena di rumahnya ada banyak makanan enak. Jadi, sia-sia sekali kalau saya menolaknya.”
“Kau bersedia diadopsi hanya karena makanan?”
Valencia lantas mengangguk cepat. “Benar, tiada hal yang lebih membahagiakan di dunia ini selain hidup santai menikmati makanan.”
Henzo tertawa kencang, ia tidak masalah sama sekali dengan alasan apa pun yang dilontarkan Valencia. Sungguh alasan yang konyol, Abraham tak paham sama sekali cara kerja pola pikir Valencia.
“Kalau kau ingin makan sepuasnya, kau bisa makan di istana atau kalau perlu aku bisa mengirimkan koki khusus untuk menyediakan makanmu ke kediaman Grand Duke Allerick,” ujar Abraham.
“Tapi, Paman, kediaman itu bukanlah rumah saya.” Valencia menjawabnya sambil tersenyum tipis. “Saya butuh rumah yang bisa saya tempati dengan tenang, jika saya terus berada di kediaman Grand Duke Allerick, maka itu sama saja dengan menyerahkan kedamaian hidup saya pada mereka. Dan saya tidak suka itu, makanya saya memutuskan untuk menerima tawaran adopsi dari Paman tampan. Setidaknya nanti di sana saya bisa hidup tanpa adanya gangguan dari orang sekitar,” tutur Valencia mengungkapkan isi hatinya.
Abraham dan Henzo tercengang, tidak biasanya Valencia berkata demikian, hal itu menunjukkan bahwa Valencia sudah sangat lelah menghadapi kegilaan keluarganya sendiri. Padahal dirinya adalah anak kandung Adarian, tapi ia diperlakukan selayaknya orang asing. Valencia tidak lebih hanya sekedar menumpang saja di kediaman itu serta meminjam nama belakang Adarian.
“Sudah, Kak, biarkan Valencia tinggal bersamaku, jika dia berada di kediaman Calestine maka aku bisa menjamin hidupnya. Valencia bisa makan sepuasnya dan akan aku beri kuasa untuk memerintah di kediamanku. Aku tidak ada masalah dengan itu,” celetuk Henzo.
“Baiklah, lakukan sesuka kalian berdua, aku hanya akan membantu pengurusan surat adopsinya. Lalu bagaimana dengan hadiahmu, Valencia? Kau sudah menyelamatkan Permaisuri, aku harus memberimu hadiam sebagai bentuk rasa terima kasihku.”
Valencia berpikir sejenak, tidak ada hal yang bagus untuk dia minta kepada Abraham, tapi dia tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dijanjikan Abraham padanya.
__ADS_1
“Paman, bukankah Paman mengatakan akan memberi saya izin mendirikan kesatria wanita? Kalau begitu, bolehkah saya meminta surat izinnya?”
Abraham termangu mendengar permintaan Valencia. “Apakah hanya itu saja?”
“Benar, saya hanya butuh itu saja untuk saat ini, lain kali saya akan meminta sesuatu yang lebih besar,” kata Valencia.
“Nanti aku akan menyiapkan suratnya, itu merupakan hal yang kecil bagiku.”
Valencia langsung mendapatkan surat izin pendirian kelompok kesatria wanita dari Abraham. Gadis itu kembali ke kediamannya membawa kabar baik untuk seluruh kesatria wanita yang berada di bawah perintahnya.
"Nona, Anda sudah kembali? Saya dan rekan yang lain telah mendengar kehebohan di istana kekaisaran dan katanya Anda yang menyelamatkan nyawa Permaisuri. Apakah itu benar?"
Luana langsung menyerbu Valencia dengan mempertanyakan soal insiden keracunan Linita di istana semalam. Para kesatria yang lain pun juga ingin tahu cerita pastinya dari Valencia. Pasalnya, berita soal Linita yang terkena racun telah menyebar luas ke setiap sudut penjuru kekaisaran. Tidak sedikit di antara mereka yang memuji kemampuan Valencia.
"Ya, itu benar, aku memang menyelamatkan nyawa Permaisuri. Itulah alasan mengapa aku tidak pulang semalam. Lalu mengapa kalian malah berkumpul di paviliunku? Apa kalian tidak latihan hari ini?"
Valencia tampak bingung melihat para kesatria wanita berkumpul di halaman paviliun kediamannya. Biasanya mereka pada jam siang begini sedang sibuk latihan. Namun, mereka sekarang tidak terlihat seperti sedang latihan atau sesudah latihan.
Raut muka mereka terlihat tidak baik, ketika Valencia melontarkan pertanyaan barusan, mereka seketika saling bertatap pandang. Mereka bingung harus menjelaskan seperti apa terhadap situasi yang kini mendera mereka.
"Nona, kami tidak bisa latihan di lapangan karena Grand Duke tidak lagi memberi izin kami untuk memakai lapangan. Bahkan beliau mengancam tidak akan menggaji kami lagi. Jadi, kami terpaksa berada di sini menunggu kepulangan Anda."
"Selain itu, kami juga diusir dari asrama kesatria, Nona. Kami saat ini bingung harus pergi ke mana lagi. Lagi pula jika kami berada di paviliun Anda, Anda juga pasti kesulitan menampung kami."
"Memangnya apa alasan Grand Duke tidak mengizinkan kalian menggunakan fasilitas latihan lagi?" tanya Valencia.
"Beliau mengatakan kalau kami tidak berguna, makanya beliau menyuruh kami untuk berhenti menjadi kesatria. Tetapi, kami menolak dan akhirnya kami semua berakhir di sini," jawab Luana.
Valencia membuang napas kasar, kali ini kesabaran benar-benar sedang diuji. Saatnya ia memberi pelajaran terhadap orang yang sudah mengusik para kesatria wanita.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kalian tunggu saja di sini dan biar aku yang mengurusnya."
Valencia menunggangi Black menuju lapangan latihan kesatria. Di sana kebetulan para kesatria tengah beristirahat sehingga lapangan kini dalam keadaan kosong. Terbesit ide gila di kepala Valencia untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Adarian.
"Black, ayo kita hancurkan lapangan latihan para kesatria!" seru Valencia.
Black dengan senang hati melakukannya, dia berlari sangat kencang dan menghantam habis seluruh fasilitas di lapangan latihan. Mereka berdua mengobrak-abrik lapangan latihan tanpa mempedulikan apa akibat yang akan mereka terima nanti.
"Rasakan itu! Inilah dampak karena telah membuatku marah!"
Mendengar kegaduhan yang bersumber dari lapangan latihan, para kesatria pun berhamburan keluar untuk memeriksa apa yang tengah terjadi. Betapa terkejutnya mereka menemukan Valencia menghancurkan segala fasilitas latihan mereka selama ini.
"Nona, tolong hentikan! Kenapa Anda malah menghancurkan tempat latihan para kesatria? Anda tidak boleh melakukannya lagi!"
__ADS_1
Para kesatria pria berbondong-bondong menghentikan Valencia. Mereka sampai memohon kepada Valencia untuk segera berhenti dan tidak memperparan keadaan. Alhasil, mereka berhasil menghentikan Valencia dan gadis itu pun turun dari punggung Black. Sungguh mengesalkan baginya dihentikan oleh para kesatria tersebut.
"Kenapa Anda melakukan ini, Nona? Sekarang kami jadi bingung harus latihan di mana lagi," tanya salah seorang kesatria.
Valencia melemparkan satu kantong koin emas untuk mereka.
"Hari ini kalian tidak usah latihan. Pergilah gunakan uang itu untuk bersenang-senang," titah Valencia berlalu pergi menuju mansion.
Mereka tercengang saat membuka isi kantongnya. Koin emas yang jumlahnya lumayan banyak bagi mereka diberikan secara cuma-cuma oleh Valencia. Seolah berada di alam mimpi mendapatkan uang berupa koin emas.
Ternyata di saat Valencia tiba di teras mansion, Guilla langsung menyergap langkah Valencia. Dia sudah melihat keseluruhan aksi Valencia menghancurkan fasilitas latihan kesatria.
"Valencia, lagi-lagi kau membuat masalah! Apa kau semakin angkuh karena dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan Permaisuri?! Dasar kau anak tidak tahu diri!" sembur Guilla.
Valencia memutar bola mata malas, berhadapan dengan Guilla sama saja berhadapan dengan tembok yang tidak paham bahasa manusia.
"Menyingkir kau dari jalanku, jal*ng!" Valencia tidak menghiraukan perkataan Guilla sebelumnya. Gadis itu malah mendorong kasar Guilla sampai tubuh Guilla terbentur ke permukaan dinding.
"Valencia!" teriak Guilla. "Aku akan mengadukan semua yang aku lihat barusan kepada Grand Duke," ancam Guilla.
"Adukan saja, aku tidak peduli." Valencia menjawabnya dengan enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Guilla menggeram kesal, ia tak bisa menerimanya begitu saja. Guilla pun menangkap pergelangan tangan Valencia untuk memancing kemarahan si gadis.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi begitu saja?! Aku belum selesai berbicara denganmu!"
"Lepaskan! Jangan sentuh aku, sialan!" sentak Valencia.
Kala itu, mereka berdiri di ujung tangga, di belakang mereka ada tangga pendek menuju halaman mansion. Pada saat Valencia menyentak tangan Guilla, tanpa disengaja Guilla malah terjerembab dan terhempas jatuh dari tangga tersebut. Tangan dan kaki Guilla terluka, keningnya juga terluka karena jatuh dari tempat yang cukup tinggi.
"Aku kan sudah bilang untuk menyingkir dariku. Sekarang kau terjatuh karena kesalahanmu sendiri," ucap Valencia menyaksikan Guilla meringis sakit dan dia dibantu oleh beberapa orang pelayan untuk bangkit kembali.
Apa yang dilakukan Valencia barusan rupanya disaksikan oleh Adarian dan juga Endry. Mereka buru-buru menuju ke tempat Guilla dengan ekspresi khawatir.
"Guilla!" Adarian nampak begitu mencemaskan Guilla. "Apa kau baik-baik saja?" Dia dan Endry langsung mengarahkan sorotan mata tajam pada Valencia.
"Ada apa? Dia jatuh sendiri karena kesalahannya, aku sudah menyuruhnya untuk menyingkir dari jalanku. Tetapi, dia bersikeras menghalangi langkahku," kata Valencia.
"Apa yang kau katakan?! Jelas-jelas aku melihat sendiri kau mendorong Ibuku sampai terjatuh begini! Jangan membuat alasan lagi," bentak Endry disertai napas menderu-deru akibat menahan marah.
Valencia berdecak kesal, entah sudah berapa kali hal seperti ini terjadi di kediaman ini dan selalu saja dia yang salah di mata semua orang di sana.
"Aku mendorongnya? Sepertinya matamu bermasalah. Sudah jelas kalau dia sendiri yang terjatuh. Jadi, jangan menuduhku sembarangan kalau kau tidak melihat kejadiannya dari awal! Jika kau tidak percaya, tanya saka kepada para pelayan dan kesatria yang menyaksikannya."
__ADS_1