Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kriteria Pria Valencia


__ADS_3

Pada akhirnya, usaha Charly berbuah sia-sia. Valencia tetap menolaknya dan dia terusir dari kamar gadis itu. Valencia tersenyum bahagia begitu mendapatkan banyak cake dari Charly.


"Kau mengusirnya tapi kau menerima pemberiannya," ujar Devina menatap heran.


"Dia memberiku makanan enak, sayang sekali jika aku tolak. Lebih baik aku terima pemberiannya dan dia aku usir dari sini."


Rachel dan Devina serentak membuang napas panjang, mereka tidak paham jalan pikir Valencia. Teman mereka sungguh pecinta makanan yang bahkan tak sanggup sedikit pun memalingkan mata dari makanan.


"Aku pikir kau akan luluh ketika dia membawa cake kesukaanmu," celetuk Rachel.


"Aku tidak sebodoh itu dan tidak semudah itu menerimanya. Dia bukan pria yang baik untuk dijadikan pasangan," jawab Valencia sambil menyantap cakenya.


"Lalu pria semacam apa yang pantas menjadi pasanganmu?" Tiba-tiba Xeros datang berkunjung ke kamar Valencia.


Akhir-akhir ini karena ada perbaikan asrama, jadi sementara waktu baik pria dan wanita dibebaskan berkunjung ke asrama lawan jenis. Terlebih lagi asrama pria paling dirugikan di sini. Asrama mereka nyaris hancur keseluruhannya, maka dari itu sebagian dari mereka ada yang menumpang di asrama wanita yang masih kosong.


"Oh, Xeros! Pria semacam apa kau bilang? Aku tidak tahu. Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana, tapi mungkin saja pria tampan dan kuat. Lalu pria yang setia serta punya daya tarik tersendiri."


Begitulah jawaban Valencia, meski dirinya tidak berminat untuk menikah, tetap saja dia punya kriteria tersendiri saat memilih pasangan. Kriteria yang cukup umum di mata wanita, tidak sulit menemukan pria yang mempunyai kriteria seperti demikian.


"Apa hanya itu saja?" tanya Xeros mendudukkan badan di dekat Valencia.


"Satu lagi, pria yang bisa tahan lebih lama dalam melakukan hubungan ranjang."


Rachel dan Devina sontak tersedak mendengar penuturan terakhir Valencia. Mereka tidak percaya Valencia yang terlihat polos punya pemikiran yang sangat liar. Perlahan muka Xeros berubah merah padam, pikirannya menjadi liar akibat ulah Valencia.


"Kau bilang apa? Astaga, kau belum boleh memikirkan itu!" teriak Devina.


Devina yang baru saja mempelajari romansa orang dewasa kini sangat paham tentang yang dibicarakan Valencia. Rachel tidak bisa berkata-kata dan menanggapi perkataan temannya.


"Kenapa? Tetapi, aku memang mengutamakan itu. Sangat penting bagiku karena tidak puas kalau bermain dengan pria yang keluar lebih cep—"


"Diam! Jangan teruskan lagi." Rachel membekal mulut Valencia.

__ADS_1


"Di sini ada pria, kau tidak bisa berbicara sembarangan," timpal Devina.


Valencia melirik Xeros, pemuda itu hanya tertunduk diam mendengar celotehan Valencia. Mukanya merona, hatinya memanas tak berdaya, dan sekujur badannya melemas. Pikiran Xeros sudah tidak sehat lagi, Valencia yang suka blak-blakkan tidak memikirkan hal tersebut.


"Muka Xeros memerah! Apa yang terjadi padamu?" tanya Valencia.


"T-Tidak ada! A-Aku tidak—"


Valencia dengan sangat cepat menyeret badannya untuk duduk lebih dekat dengan Xeros. Senyum nakal terbit dari bibirnya, dia punya pikiran yang cukup liar saat ini.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau sedang memikirkan kita tidur bersama?" bisik Valencia menggoda Xeros.


Spontan Xeros berdiri dan menjauh dari Valencia. Wajahnya semakin merona, dia menutup telinganya karena geli mendengar suara serta embusan napas Valencia.


"Apa yang kau lakukan? Jangan merayuku," ujar Xeros bernada bergetar.


"Hahaha." Valencia terkekeh, dia paling suka menjahili pria yang mudah tergoda seperti Xeros. "Aku hanya bercanda, kau tidak perlu sampai seperti itu."


Degup jantung Xeros tak hentinya berdetak kencang. Irama napasnya terdengar lebih cepat, dia tidak sanggup mengontrol diri bila sedang bersama Valencia.


"Kau menerima surat cinta lagi? Ini sudah yang ke berapa kali? Benar-benar ya mereka. Setelah kau berubah mereka datang mendekat. Tidak habis pikir," oceh Valencia.


"Aku tidak bermaksud untuk menerima mereka, aku berencana untuk membuang surat ini."


Valencia membuka suratnya, dia dan Rachel membaca isinya bersama-sama. Sedangkan Devina mendekat ke arah Xeros karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Xeros.


"Xeros, apakah Valencia sudah tahu tentang identitasmu dan yang lain?" tanya Devina berbisik.


"Belum tahu, tapi dia tampaknya tidak mempedulikannya. Jadi, aku memutuskan untuk memberi tahu Valencia nanti saja."


"Kau yakin? Bagaimana kalau nanti dia marah karena baru kau beri tahu?"


Xeros terdiam sejenak, dia berpikir tentang kemungkinan seperti apa yang dia peroleh jika Valencia mengetahui identitasnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu nanti aku tinggal menjelaskan baik-baik kepadanya," jawab Xeros enteng.


"Baiklah, itu urusan kalian dan bukan urusanku. Aku hanya bertanya saja."


Devina kembali ke posisi awal, dia berdiri lagi di dekat Rachel dan memperhatikan mereka berdua yang sedang tertawa membaca isi surat cinta dari wanita lain untuk Xeros.


Selepas itu, mereka memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan-jalan sebentar keliling akademi. Kala itu hanya mereka bertiga saja yang pergi karena Xeros punya urusan lain yang mesti dia kerjakan.


Kemudian tatkala Valencia, Devina, dan Rachel jalan di belakang akademi. Tiba-tiba saja tubuh Valencia diguyur air oleh beberapa orang siswa perempuan dari lantai atas kelas.


"Hahaha, tepat sasaran! Ini adalah hukuman karena kau bersikap murahan di hadapan banyak pria!"


"Kau sudah merebut perhatian pria idaman para gadis di Alegra. Seharusnya kau lebih sadar diri! Dasar kau murahan!"


Mereka marah kepada Valencia karena gadis itu dekat dengan Xeros dan pria tampan yang lain. Para gadis bangsawan banyak mendambakan mereka untuk dijadikan sebagai kekasih, tapi tidak sedikit dari mereka yang ditolak. Namun, mereka mendapati Valencia diperlakukan spesial oleh para pria itu, maka timbullah perasaan iri dengki di hati mereka.


"Ya ampun, Valencia, bajumu jadi basah semua." Rachel dan Devina serentak menatap tajam gadis-gadis yang sudah membuat Valencia basah kuyup.


"Beraninya kalian menyiram Valencia! Apa kalian tidak punya otak?!" murka Devina menunjuk-nunjuk mereka.


"Kalau kalian berani, kemarilah turun! Jangan bersikap selayaknya pengecut!" teriak Rachel tak kalah jengkel.


Valencia mengepalkan kedua tangannya, dia menggerutu di dalam hati seraya mengutuk para gadis itu. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membalas mereka. Dia sudah punya rencana tersendiri menghukum gadis-gadis tersebut.


"Kalian tidak perlu membuang energi untuk memarahi mereka," ujar Valencia membantu meredamkan amarah Devina dan Rachel.


"Tapi, Valencia—"


"Kalian tidak perlu melawan gadis-gadis jelek ini, wajah mereka tidak layak dipandang. Oleh karena itulah pria tampan tidak ada yang mendekat," sarkas Valencia.


Mendengar sindiran kasar Valencia, para gadis itu tidak kalah jengkelnya dari Rachel dan Devina.


"Kau bilang apa? Apa kau baru saja menghina kami?!"

__ADS_1


Valencia mendongakkan kepalanya, ia tersenyum sembari mengacungkan jari tengah ke arah mereka.


"Aku hanya mengatakan faktanya saja, dasar jal*ng!"


__ADS_2