Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kemunculan Raja Bayangan


__ADS_3

"Wah, ini sangat melelahkan. Mengapa kesatria pengadilan itu tidak pernah menyerah mengejarku?!"


Valencia tiada henti menggerutu di sepanjang jalan menuju kamar. Beberapa jam sebelumnya, kesatria pengadilan datang lagi untuk menyeretnya secara paksa. Namun, Valencia kembali menghajar mereka dan lagi-lagi mereka gagal membawa Valencia.


"Apa yang kau gumamkan sendirian? Sepertinya kau bertambah gila setelah aku tinggal sebentar."


Ekspresi Valencia berubah datar sesaat memasuki kamar dan menemukan kucing gemuk tertidur di atas kasurnya. Siapa lagi kalau bukan Sean, pria cerewet yang selalu membuatnya kesal sepanjang waktu.


"Mengapa kucing gemuk dan jelek ini bisa muncul lagi di hadapanku? Padahal aku senang kau tidak ada di hidupku."


"Berhentilah mengejekku! Kau sangat menyebalkan!" teriak Sean sebal.


"Baiklah baiklah, mari kita dengarkan apa yang membuatmu begitu lama di kastil Davey."


Valencia mendudukkan diri di tepi ranjang tempat tidur. Tergurat rasa lelah dari wajah imutnya itu.


"Ada beberapa masalah yang tidak bisa aku ceritakan padamu," jawab Sean.


"Benarkah? Apakah itu berhubungan dengan suara lonceng yang berdenting dari arah langit?"


Kedua mata Sean membulat sempurna, dia benar-benar terkejut untuk sesaat.


"Apa? Kau bisa mendengar suara lonceng dari langit?"


"Ya, apakah itu aneh? Atau kau tidak mendengar suaranya?"


"Tidak, lonceng kastil memang pernah berdenting, tapi jarang sekali suaranya sampai ke dunia manusia," kilah Sean.


"Iya, menurutku itu cukup janggal."


Valencia meraih bungkusan keripik di atas meja, dia akan menyimak apa pun yang diceritakan Sean sembari menyantap keripik yang sebelumnya diberikan oleh Rachel.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu dan ini berkaitan dengan Berliana," ujar Sean tiba-tiba.


Valencia berhenti mengunyah ketika Sean membahas Berliana. Gadis itu semakin serius memperhatikan Sean.


"Berliana? Apa kau bertemu dengannya? Mengapa aku selama di akhirat tidak pernah bertemu Berliana? Apa dia tidak menganggapku sahabatnya?" cecar Valencia menggerutu kesal.


"Itu karena jiwa manusia yang ada di surga dilarang berinteraksi dengan jiwa di luar surga. Dia kemarin kebetulan diizinkan sebentar keluar untuk menemuiku. Dia menitipkan sebuah pesan untukmu," jelas Sean.


"Pesan?" Valencia terlihat semakin penasaran. "Apa yang ingin dia katakan padaku?"


"Dia ingin mengatakan kalau dia berterima kasih karena kau telah menepati janjimu untuk menyebarkan kisahnya ke seluruh dunia. Dia juga mengatakan bahwa kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri. Tidak perlu memikirkannya di surga sebab dia saat ini telah bersatu dengan cintanya. Lalu dia juga mengatakan bahwa dia sangat merindukanmu."


"Begitu ya?"


Valencia tiba-tiba mengukir senyum yang tidak biasa di bibirnya. Senyum manis dan sendu bersamaan, itu seperti senyum paling tulus dalam hidupnya.


Sean terpaku seketika Valencia tersenyum seperti demikian. Senyum yang sangat langka, baru kali ini Valencia memperlihatkan sisi yang asing dari dirinya.


"Valencia, gawat!"


Rachel dalam keadaan tak beraturan tiba-tiba datang menerobos kamar Valencia. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


Sontak Valencia bangkit dari posisinya, dia membawa Rachel yang histeris dan syok masuk ke kamar. Tidak lupa Valencia memberinya air minum untuk menenangkannya.


"Katakan pelan-pelan. Apa yang tengah terjadi?" tanya Valencia.


"Valencia, kau harus lihat ke luar sana! Ada sesuatu yang aneh menimpa orang-orang lalu aku juga melihat Devina ... pokoknya kau lihat saja sendiri!"


Valencia bergegas ke luar kamar, dia menuruni anak tangga asrama. Dia baru menyadari satu hal, seluruh kamar yang ada di sederet kamarnya kosong. Pintu kamar terbuka lebar tapi anehnya tidak ada orang yang berada di dalamnya.


"Sial! Apakah aku melewatkan sesuatu?"


Betapa kagetnya Valencia tatkala menyaksikan pemandangan yang begitu gila. Seluruh penghuni asrama mendadak kehilangan kendali diri. Tatapan mereka kosong, mereka tanpa sadar berjalan menuju satu tempat yang berada di depan gerbang akademi.


"Valencia, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Sangat menakutkan, mereka berjalan tanpa kesadaran mereka masing-masing."


Rachel merengek, dia tenggelam di dalam rasa takut yang tak berdasar. Menyaksikan seluruh pemandangan mengerikan itu membuat Rachel dirasuki pikiran buruk.


"Lebih baik kau tidur saja, serahkan masalah ini padaku."


Valencia menyentuh kening Rachel, gadis itu perlahan memejamkan mata dan berakhir terlelap. Valencia membawa Rachel ke tempat yang aman sebelum dia mengambil tindakan.


"Sinar rembulan ditelan oleh langit gelap, awan yang berwarna hitam pekat dan dibubuhi oleh sihir, mungkin itulah yang membuat mereka kehilangan kesadaran. Untung saja waktu itu aku memasang sihir perlindungan di tubuh Rachel, jadi dia tidak terkena efek sihirnya," gumam Valencia.


Di saat bersamaan, di udara beterbangan gumpalan cahaya hitam yang tak punya bentuk pasti. Gumpalan cahaya itu tidak hanya satu atau dua tapi ada banyak dan nyaris memenuhi hamparan langit malam.


"Sepertinya itu adalah sihir hitam," ujar Sean berubah ke wujud aslinya.


"Ya, kau benar. Itu adalah sihir hitam, mereka sepertinya mengunci jiwa semua orang. Kejadian ini serupa dengan waktu itu," ucap Valencia.


Valencia dan Sean mengikuti semua orang yang menuju ke depan gerbang. Mereka penasaran ke mana tujuan mereka yang sebenarnya.


"Hei, Sean! Bukankah itu sebuah portal? Tetapi, mengapa portal itu diselimuti api biru?" tanya Valencia pertama kali melihat portal tersebut.


Valencia mengamati lebih dalam lagi, dia menyaksikan dengan seksama bahwa kala itu ada banyak tumpukan tubuh manusia di samping portal. Sosok tengkorak berjubah hitam layaknya malaikat kematian sembari membawa sabit besar menyerap satu persatu jiwa dari orang-orang yang mendekat ke portal. Jiwa mereka dimasukkan ke satu portal yang sama.


"Devina!" Indera penglihatan Valencia menangkap keberadaan tubuh Devina yang tergeletak di antara tubuh orang-orang yang tidak sadarkan diri.


Valencia hendak pergi ke sana, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh Sean. Pergerakannya dicegat agar tidak menuju ke tempat yang tidak mereka jamah terlebih dahulu sebelum selesai mengamati secara keseluruhan.


"Tahan dirimu, jangan asal menyerang ke arah mereka. Apabila kau salah langkah, maka aku khawatir jiwa mereka ikut hancur," ucap Sean.


"Tapi—"


"Valencia!"


Xeros dan Frintz datang bersamaan menghampiri Valencia lalu dari arah lain terlihat Reibert, Sammy, dan Leano. Mereka kebetulan sedang berada di daerah yang dekat dengan akademi sehingga mereka bisa dengan cepat menyusul Valencia.


"Apa yang terjadi sebenarnya di sini? Tampaknya semua orang di ibu kota mengalami hal yang sama," ujar Leano.


"Langitnya semakin tertutup!" seru Xeros menunjuk ke arah langit.


Kegelapan mendatangi langit malam Kekaisaran Alegra. Gumpalan cahaya hitam kian bertambah banyak, gumpalan itu diduga sebagai penyebab utama kegelapan di langit malam nan cerah.


"Hahaha, dasar manusia rendahan!"


Bahana tawa menggelegar di angkasa, gumpalan cahaya hitam tadi bergabung menjadi satu hingga membentu suatu bayangan hitam yang berbentuk seperti raksasa berjubah dengan mahkota di kepalanya.

__ADS_1


"Aku akan membuat kalian mati dan menjadikan kalian sebagai tumbal membangkitkan kekuatanku!"


Suara dari bayangan itu sangat besar, permukaan tanah sampai bergetar sesaat suaranya bergaung di hamparan langit malam.


"Raja bayangan! Beraninya kau menampakkan dirimu di sini!" teriak Valencia berselimut kemarahan.


Ya, bayangan raksasa tersebut adalah Raja bayangan. Dahulu semasa Valencia menjadi Klarybell, dia pernah mengalahkan Raja bayangan dan membunuhnya. Akan tetapi, siapa sangka jika Raja bayangan hidup kembali di masa ini.


"Raja bayangan? Bayangan hitam raksasa yang mengenakan mahkota, dia memang Raja bayangan. Namun, mengapa Raja bayangan muncul di sini? Bukankah dia sudah mati dibunuh Klarybell?" bingung Frintz.


Frintz sebagai pecinta sejarah pernah membaca hal ini di buku sejarah dunia. Salah satu yang tertulis di buku tersebut ialah cerita pertarungan Klarybell dengan Raja bayangan yang mengacau di benua Mihovil.


Semua orang yang berada di sana juga tahu akan hal itu. Mereka juga pernah diceritakan oleh Frintz beberapa waktu lalu.


"Ternyata kalian tidak terkena efek sihirku, apa kalian sungguh manusia?" tanya si Raja bayangan.


"Tidak penting bagimu mengetahui kami manusia atau bukan!" sentak Valencia dibubuhi emosi mendalam.


Raja bayangan mempertajam matanya ke arah Valencia. Dia baru pertama kali bertemu sosok Valencia, tapi entah mengapa rasanya aura Valencia terasa familiar baginya.


"Gadis kecil, siapa kau? Mengapa aku merasakan—"


Secara mengejutkan, Valencia terbang membumbung tinggi ke angkasa. Dia tidak berniat lagi menyembunyikan kekuatan sihirnya dari kelima pria yang tengah menontonnya


"Ada apa? Kau merasakan adanya aura Klarybell, bukan?"


Raja bayangan itu terperanjat kaget, Valencia berbicara menggunakan bahasa benua Mihovil. Mendadak si Raja bayangan merasakan ketakutan yang amat dalam seperti yang dia rasakan kala melawan Klarybell dahulu.


"A-Apa? Jangan-jangan kau Klarybell?"


"Benar, aku Klarybell." Valencia mengeluarkan sebilah pedang bercahaya biru. "Klarybell sang Penyihir Agung sekaligus penguasa benua Mihovil. Kau kaget? Wajar saja, semua orang mengira Klarybell sudah mati. Tetapi, sayangnya Klarybell masih hidup sampai sekarang."


"Bohong! Klarybell suda lama mati. Bagaimana bisa dia masih hidup? Dan lagi hidup di tubuh gadis lain," sangkal si Raja bayangan tidak mau menerima kenyataan.


"Tapi, inilah kenyataannya." Valencia menodongkan pedang ke arah Raja bayangan sembari menyunggingkan senyum khasnya.


"Apakah dewa mempermainkan kematianmu? Tidak mungkin kau bisa hidup setelah lebih delapan ratus tahun kau mati."


Raja bayangan masih mencoba menyangkal dan mengajak Valencia untuk berdebat dengannya. Valencia mulai merasa muak mendengar celotehan Raja bayangan yang tidak ada habisnya.


"Aku tidak pernah mati! Selama lebih dari delapan ratus tahun, jiwaku terbang leluasa di semesta untuk mencari wadah yang cocok untuk kebangkitanku. Dan sekarang kau menyaksikannya sendiri bahwa Klarybell benar-benar sudah kembali."


Sang Raja bayangan sesaat terdiam, tidak bisa dia pungkiri lagi, aura sihir Valencia tidak dapat dibohongi, terutama tatapan matanya. Tatapan mata tajam dan penuh binar kekejaman, tidak salah lagi gadis itu adalah Klarybell.


'Aku terjebak! Akan tetapi, sepertinya dia masih belum tahu bahwa aku berbeda dari diriku yang dulu. Sekarang aku yakin, aku bisa mengalahkannya. Dia mungkin sudah lemah karena telah lama tidak menggunakan sihir,' remeh si Raja bayangan.


Sean menepuk keningnya, Valencia membuat semua orang selain dirinya menjadi jantungan. Mereka terpaku menyaksikan dari bawah Valencia yang tengah terbang di udara.


'Gadis itu sangat ceroboh! Dia membiarkan orang lain melihat kekuatan sihirnya. Apa yang ada di kepalanya saat ini? Aku tidak habis pikir,' batin Sean.


Kelima pria yang sedang berdiri di samping Sean kehilangan kata-kata sesaat. Mereka bingung harus merespon seperti apa pemandangan yang tengah mereka hadapi kala itu.


"Aku tidak bermimpi kan? Valencia terbang," ucap Sammy.


"Valencia dia sungguh terbang di angkasa dan sekarang posisinya sejajar dengan Raja bayangan itu."

__ADS_1


"Lihat itu pedang yang dipegang Valencia. Pedangnya bersinar, berbeda dengan pedang pada umumnya."


Di sini hanya Reibert yang tidak berkomentar karena dia sangat syok melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang manusia terbang melayang di udara tanpa sayap. Dia berdiri seperti patung, nyaris saja dia tidak bisa saat bernapas melihat ke arah Valencia.


__ADS_2