Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pegunungan Haleyan


__ADS_3

Valencia terus menerus menekan pemuda itu. Tidak peduli seberapa besar ketakutan yang dirasakan orang yang merundung Xeros, yang dia pikirkan saat ini hanyalah kejengkelan terhadap manusia yang tidak pernah kenal takut menghina dirinya.


"Kenapa kau tidak lanjut lagi berbicara dan menghinaku? Apa kau hanya berani di belakangku saja? Dasar kau pengecut!"


Valencia menyentak kasar tubuh pria itu hingga terjatuh ke lantai. Teman-temannya yang tadi ikut merundung Xeros pun tak berkutik di hadapan Valencia.


"S-Saya t-tidak bermaksud—"


"Berhenti! Aku tidak mau mendengar apa pun yang kau katakan padaku. Aku tidak peduli kau tidak bermaksud atau bagaimana. Tetapi, yang jelas, aku melihat kau sengaja melakukannya. Apa kau berpikir ini terlihat lucu di mataku? Tidak! Tipe manusia sepertimu sangat menjijikkan!"


Valencia menendang pria itu sampai tubuhnya terpental dan terbentur tembok. Kemudian Valencia bergegas menangkap pergelangan tangan Xeros lalu membawanya menjauh dari kerumunan para siswa.


"Xeros, lain kali kau harus memotong lidah mereka agar mereka tidak berbicara sembarangan soal dirimu lagi," gerutu Valencia masih menyimpan kekesalan mendalam.


".... "


Xeros terdiam, kepalanya tertunduk dan ekspresinya tertekuk. Sekali lagi Valencia menyelamatkannya dari perundungan. Gadis itu sosok luar biasa di mata Xeros. Tidak peduli hujan badai, Valencia akan tetap menerjang lawan ke depan.


"Kenapa kau tidak menjawabku? Kau harus melakukan seperti apa yang aku katakan, kau paham?" Sekali lagi Valencia mengomel pada Xeros.


"Iya, aku paham," jawab Xeros dengan suara yang melunak.


"Nah, bagus! Sekarang kemarilah, aku akan mengobati lukamu."


Valencia membawa Xeros pergi ke ruang perawatan akademi. Di sana tidak ada orang lain selain mereka berdua. Terpaksa Valencia berperan sebagai dokter sementara untuk mengobati luka Xeros.


"Kenapa kau membiarkan mereka merundungmu? Seharusnya kau tidak boleh bersikap lunak di hadapan mereka," tanya Valencia sembari mengoleskan obat ke bagian tubuh Xeros yang terluka.


Xeros terdiam cukup lama sampai dia akhirnya menjawab, "Dulu aku pernah melukai orang lain sampai kritis, aku dicaci maki oleh semua orang. Padahal aku hanya melindungi diriku sendiri dari rundungan mereka. Semenjak saat itu, aku menahan diri dalam menggunakan kekuatanku untuk melukai orang lain. Tetapi, sepertinya percuma, masih banyak orang yang terluka akibat pukulanku."

__ADS_1


Valencia mulai mengerti mengenai diri Xeros, pria yang berhati lembut itu hanya bermaksud untuk menyelamatkan orang lain dari pukulannya nan mematikan.


"Ya sudah, kau pukul saja mereka sampai mati, tidak usah menahan diri," ucap Valencia begitu mudahnya.


Sontak Xeros menoleh ke arah Valencia, dia menatap aneh Valencia.


"Aku selalu ingin bertanya, kenapa kau sepertinya mudah sekali melayangkan pukulanmu kepada orang lain? Sepertinya kau juga tidak segan-segan membunuh mereka."


"Itu karena aku sudah tidak peduli lagi dunia akan berbicara apa soal diriku. Mereka yang menggangguku harus mati. Aku hanya menginginkan ketenangan saja."


Valencia tersenyum samar, dia memang sudah sangat lelah berurusan dengan dunia ini. Maka dari itu, dirinya selalu bersikap semaunya saja. Tidak peduli orang lain akan mengatakan dia wanita gila atau wanita kejam, dirinya hanya berfokus pada kejengkelan yang dibuat manusia terhadap dirinya.


"Tapi, bukankah dengan begitu akan semakin banyak yang mengganggumu?"


"Mau aku diam atau bergerak sekali pun, mereka tetap akan menggangguku. Jadi, sekalian saja aku hempaskan semuanya. Maka dari itu, kau harus meniruku melakukan hal yang sama agar orang lain tidak semakin semena-mena padamu."


Selesai membalut luka Xeros, pas sekali bel masuk kelas berbunyi. Mereka berdua berangkat bersama ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


Semuanya berjalan normal sampai pergantian waktu dari senja ke malam. Di saat semua orang tengah tertidur, Valencia diam-diam menyelinap ke luar akademi. Sesuai janjinya, dia berencana pergi mencari bahan utama pembuatan krim untuk mengobati luka bakar di wajah Xeros.


"Sepertinya aman, tidak ada siapa-siapa di sekitar sini."


Seusai memastikan tak ada orang selain dirinya, Valencia bergegas menggunakan sihir untuk mempercepat langkahnya menuju pegunungan di perbatasan hutan utama Kekaisaran Alegra.


Hutan utama merupakan hutan yang biasanya dipakai rakyat untuk mengambil beberapa hasil alam secara gratis. Di sana tumbuh subur berbagai jenis bahan makanan dan tentunya hutan itu terbebas dari makhluk sihir.


Di dekat hutan utama tersebut, terdapat sebuah pegunungan yang bernama pegunungan Haleyan. Jarang manusia yang menjamah tempat tersebut karena tidak ada yang spesial di sana selain telaga yang dialiri air yang terkenal jernih dari air biasa.


"Apakah di sini gerbang masuk ke pegunungan Haleyan?"

__ADS_1


Valencia akhirnya tiba dalam waktu lima belas menit saja. Dia terpaku sejenak di depan gerbang menjelang masuk ke wilayah pegunungan.


"Tetapi, mengapa aura di sini berbeda? Aku rasa ada yang salah dari pegunungan ini. Aku harus masuk sekarang untuk memeriksanya."


Valencia segera masuk ke wilayah pegunungan Haleyan. Dia menempatkan seluruh fokusnya pada setiap titik jalan yang ia lalui. Kedua mata Valencia menyisir sepanjang jalan. Gadis itu tidak menurunkan kewaspadaannya terhadap musuh yang mungkin saja akan menghadang langkahnya.


Di tengah perjalanannya, tiba-tiba saja Valencia dikejutkan oleh kemunculan sebuah portal di hadapannya. Portal tersebut tampak seperti portal yang diisi oleh makhluk sihir tingkat rendah sehingga Valencia bisa lebih santai menanggapi kemunculan portal itu.


"Oke, aku akan masuk untuk memastikannya sendiri."


Tanpa berpikir panjang, Valencia memasuki portal. Dia penasaran makhluk sihir sejenis apakah yang akan muncul menghambatnya. Tetapi, setelah masuk pun, Valencia tidak menemukan apa pun di dalam sana selain bebatuan besar serta gua gelap nan lembab.


"Kenapa tidak ada apa-apa di sini? Apa aku dijebak? Ya sudahlah, lebih baik aku keluar."


Tatkala Valencia hendak melangkah ke luar portal, dia mendengar suara raungan kecil dari balik batu besar. Lekas Valencia memutar langkah menuju batu tersebut untuk mengecek suara apa itu gerangan.


"Hah? Singa magikus? Mengapa singa magikus bisa ada di tempat ini?"


Valencia terperangah menemukan seekor singa bertubuh besar tengah tergeletak berlumuran darah. Singa itu disebut sebagai singa magikus, singa yang hanya ditemui di daratan benua Mihovil.


"Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa singa yang biasanya berjaga di perbatasan benua malah ditemukan tewas di dalam portal? Apa yang sebenarnya tengah terjadi?"


Valencia didera kebingungan, tapi saat itu pula fokusnya ditarik oleh penampakan sebuah telur berukuran cukup besar di pelukan badan singa itu. Tanpa berlama-lama, Valencia pun mengambil telur bermotif merah muda itu.


"Ini adalah telur singa magikus, apakah ini anak dari singa yang mati ini? Jadi, dia mati karena melindungi telurnya? Dengan artian lain, singa ini mati bukan tanpa sebab melainkan dibunuh oleh seseorang," gumam Valencia.


Pada saat dirinya tengah berpikir keras, indera pendengarannya menangkap suara dentuman dari arah luar hingga akhirnya muncul getaran hebat di tanah portal.


"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Aku yakin ada seseorang yang merencanakan ini semua."

__ADS_1


__ADS_2