
Sean baru mengingat sesuatu, inti sihir Valencia yang sakit dapat dipulihkan menggunakan air dari telaga peri. Dia langsung menatap semua orang yang ada di sana.
"Kau bilang telaga peri kan? Di sini ada telaga peri, lebih tepatnya di pegunungan Haleyan," jawab Rexid.
"Benarkah? Tapi, tidak memungkinkan bagiku membawa Valencia ke sana langsung. Air telaga peri setidaknya bisa meredakan rasa sakit di inti sihirnya. Bisakah kau membawa air dari telaga peri menggunakan sihir?" pinta Sean.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang."
Rexid secepat kilat terbang menuju pegunungan Haleyan. Bersama rasa cemas yang membara di dada, Rexid tiada henti memikirkan Valencia sepanjang perjalanan.
Tidak butuh waktu lama bagi Rexid sampai ia berhasil membawakan satu bak penuh air telaga peri. Sean segera menaruh tubuh Valencia di dalam bathup dan membiarkannya berendam di sana selama kurang lebih satu jam.
"Suhu tubuh dan detak jantungnya mulai normal. Sepertinya air telaga peri berhasil menangkal rasa sakit di jantungnya," ujar Sammy seusai memeriksa tubuh Valencia.
Semua orang serentak bernapas lega, mereka benar-benar bersyukur kondisi Valencia mulai membaik.
"Tetapi, dia masih belum sadar sampai sekarang. Kapan Valencia akan sadar?" tanya Reibert.
"Butuh waktu cukup lama baginya untuk sadar. Mungkin satu sampai dua minggu karena air telaga peri masih sedang bereaksi di inti sihirnya," jelas Sean.
Tepat seperti apa yang dikatakan Sean, Valencia bahkan belum sadarkan diri selama dua minggu. Gadis itu masih terbaring di atas tempat tidur dan seluruh janjinya terpaksa dibatalkan, termasuk janji ia akan menghadiri makan malam di Kekaisaran Sergia.
Ada banyak orang yang mengkhawatirkan kondisi Valencia. Abraham dan Linita sempat pergi menjenguk Valencia. Mereka tampak sedih menyaksikan Valencia yang tidak berisik seperti biasa.
"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
Valencia tiba-tiba tersadar di tengah malam yang sunyi. Dia tidak menemukan siapa pun di sekitarnya, tampaknya semua orang sedang beristirahat.
"Bulan purnama? Itu artinya sudah dua minggu aku terbaring. Tetapi, sepertinya inti sihirku sudah pulih sepenuhnya," gumam Valencia.
Gadis itu bangkit dari tempat tidur, ia berdiri di hadapan cermin rias untuk melihat sendiri inti sihirnya dari pantulan cermin.
"Seperti yang aku duga, tubuh ini tidak mampu menampung beban kekuatanku. Apa itu artinya aku harus mencari wadah baru lagi?"
"Ya, itu benar, kau harus mencari wadah baru lagi karena jika kau memaksakan menggunakan tubuh itu maka tubuhnya akan hancur," jawab Sean datang dari arah tak terduga.
Valencia menghela napas panjang, Sean selalu saja mengagetkannya seperti itu.
"Lalu berapa lama tubuh ini bisa bertahan?" tanya Valencia.
"Enam bulan. Kau hanya punya waktu enam bulan saja. Sebaiknya kau cepat menyelesaikan masalahmu di sini sebelum beralih mencari wadah baru."
__ADS_1
"Enam bulan? Ya, aku rasa itu sudah cukup mengungkapkan rencana pemberontakan Pangeran bajing*n itu."
Setelah pembicaraan itu, Sean kembali menghilang dari pandangan Valencia. Di pagi harinya pun, seisi mansion heboh karena Valencia telah kembali dari ketidaksadarannya. Semua orang merasa bersyukur akan hal tersebut.
"Nona, saya bawa kabar terbaru," ucap Pierre bersemangat.
"Kabar apa yang membuatmu begitu bersemangat?" tanya Valencia masih sibuk menggerakkan pulpennya.
"Saya tadi mendapatkan sebuah cerita dari kediaman Grand Duke Allerick. Katanya Grand Duke sekarang sering mengabaikan Nyonya Guilla dan Nona Linnea. Mungkinkah sekarang Grand Duke mulai merasakan penyesalan terhadap apa yang dia lakukan kepada Anda?"
Valencia menyunggingkan senyumnya, ia menjeda sejenak aktivitas menulisnya.
"Benarkah? Kalau begitu, baguslah. Biarkan mereka menderita di tengah ketidakpedulian Grand Duke."
Valencia merasakan kepuasan tersendiri, ini merupakan berita terbaik yang ia dapatkan selama beberapa waktu belakangan ini.
'Permainan baru saja dimulai, dalam waktu enam bulan ini aku pastikan kalian mati tersiksa. Sepertinya mantra pengendalian Guilla telah patah sepenuhnya. Siapa sangka kalau wanita itu adalah seorang penyihir mantra,' batin Valencia.
***
Rudolf, pria itu baru saja kembali dari penaklukan portal. Dia masih memasang topeng bak malaikat di wajahnya. Kedatangannya juga disambut baik oleh para penghuni istana.
"Hari ini beliau baru pulang ke istana, sepertinya Pangeran Rudolf kali ini berhasil menyelesaikan penaklukan portal lagi."
Keributan berisi sanjungan dari para pelayan mengikuti langkah Rudolf menuju istana utama. Langkahnya diiringi oleh Elkin yang selalu setia berada di sampingnya.
Lalu di tengah langkah di persimpangan lorong, seorang pelayan tanpa sengaja menubruk Rudolf. Pelayan itu langsung terjatuh ke atas lantai. Tergurat dari raut muka pelayan tersebut bahwa dirinya amat panik sesaat menyadari siapa yang ia tabrak.
"Y-Yang Mulia, m-maafkan saya. S-Saya tidak seng—"
"Apa kau baik-baik saja?"
Rudolf secara tidak terduga mengulurkan tangannya ke si pelayan. Alangkah terkejutnya pelayan itu mendapatkan perlakuan baik dari Rudolf yang mempunyai senyuman manis serta kebaikan bagai malaikat. Ya, itu adalah topeng yang sempurna untuk Rudolf.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia." Pelayan itu menerima uluran tangan dari Rudolf.
"Lain kali lebih berhati-hati lagi kalau berjalan. Paham?" ujar Rudolf lembut.
"Y-Ya, Yang Mulia. Terima kasih dan sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya, Yang Mulia."
Hal itu berakhir begitu saja, di lorong yang sepi, Elkin memberikan sebuah sapu tangan kepada Rudolf.
__ADS_1
"Sangat menjijikkan." Rudolf menyeka tangannya lalu membuang sapu tangan tersebut. Ekspresi ramahnya berubah menjadi dingin.
Setibanya di ruangan Abraham, kemunculan Rudolf disambut begitu hangat oleh sang Ayah dan Ibu.
"Tampaknya kau berhasil lagi menaklukkan portal. Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Abraham.
"Ya, tentu saja. Aku jauh lebih baik," jawab Rudolf.
Abraham dan Linita saling bertukar pandang, sepertinya mereka ingin berbicara serius dengan Rudolf.
"Rudolf, sebenarnya alasan kami memanggilmu kemari ialah untuk menanyakan terkait pertunanganmu dengan Nona Linnea," tutur Linita.
Rudolf sudah menduga, kedua orang tuanya terlihat keberatan atas keputusannya ingin bertunangan dengan Linnea.
"Apakah Ayah dan Ibu keberatan atas permintaan pertunanganku dengan Nona Linnea?"
"Bukan begitu, hanya saja kau tahu sendiri beberapa rumor buruk soal Nona Linnea. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik keputusanmu sebelum terlambat," ucap Abraham.
"Bagaimana pun kami berdua adalah orang tuamu, kami juga ingin kau memilih yang terbaik," imbuh Linita.
Rudolf menaruh cangkir tehnya, dia mulai merancang kata-kata yang akan ia gunakan untuk menjelaskan kekhawatiran orang tuanya.
"Menurutku Nona Linnea cukup baik, aku bisa mengubah dia nanti ketika sudah menikah denganku. Lagi pula Nona Linnea tidak seburuk itu, aku lebih menyukainya dibandingkan gadis yang Ayah dan Ibu pilihkan untukku selama ini," jelas Rudolf.
Abraham dan Linita tidak bisa menentang keinginan putranya. Mereka tak ingin mengganggu kebahagiaan yang diinginkan Rudolf.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, kami tidak akan menentang keputusanmu yang ingin bertunangan dengan Nona Linnea."
Selepas itu, mereka melakukan perbincangan singkat sebelum akhirnya Rudolf beranjak menuju istana kediamannya. Seluruh ekspresi ramah yang diperlihatkan Rudolf seketika lenyap saat ia menginjakkan kaki di kamarnya.
"Sialan! Berani sekali mereka mencoba mencegah apa yang ingin aku lakukan. Apakah mereka berusaha menjadi orang tua yang baik untukku? Sepertinya mereka terlambat."
Sekelebat rangkaian ingatan masa lalu melintas di kepala Rudolf. Sekilas ia melihat wajah seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum bersama Abraham dan Linita.
"Stephen! Bahkan setelah kematiannya, Kaisar masih belum memutuskan aku menjadi Putra Mahkota. Kenapa aku harus hidup di antara bayangan Stephen? Dia Adikku, tapi orang tuaku lebih sayang kepadanya."
"Stephen, Pangeran kedua yang terkenal oleh kejeniusannya dan kepandaiannya dalam bersosialisasi. Aku tidak pernah melupakan wajah Adikku yang lebih bersinar dariku. Banyak di antara bangsawan yang menyarankan Stephen menjadi pemangku takhta berikutnya."
Wajah Rudolf berkerut, ia menggigit bibir bawahnya seraya menggerutu marah mengingat sang Adik yang telah lama mati.
"Tidak ada yang perlu aku takutkan sekarang karena aku sudah membunuh Stephen. Aku akan naik menjadi Kaisar lalu mengubah tatanan masyarakat Alegra. Aku akan membuat kekaisaran ini menjadi tempat di mana semua orang bisa melakukan berbagai hal ilegal. Hahaha, tunggu saja, aku pasti bisa mewujudkannya."
__ADS_1