Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Berliana


__ADS_3

Xeros merasa tidak biasa dengan situasi yang kini ia hadapi. Tidak ada satu pun orang yang mengenali siapa dirinya. Ini merupakan pertama kali ia leluasa berjalan di akademi tanpa harus menggunakan topeng. Sekarang pandangan mata semua orang tak luput dari pemandangan betapa indahnya rupa Xeros kala itu.


'Kira-kira bagaimana reaksi mereka jika tahu bahwa aku adalah Xeros yang selalu mereka hina selama ini? Ya, aku tidak terlalu peduli, yang penting Valencia tidak memperlakukanku secara berbeda,' batin Xeros.


Langkah Xeros terhenti di depan pintu kelas, dia ragu untuk masuk ke dalam dan menerima reaksi dari para penghuni kelas. Akan tetapi, dia tetap harus melakukannya demi mengubah apa yang selama ini pernah menimpa dirinya.


'Baiklah, mari kita masuk.'


Xeros melangkah pelan masuk ke dalam kelas, suasana kelas mendadak berubah sunyi. Seluruh orang menempatkan atensinya terhadap Xeros. Pria itu tidak nyaman dengan tatapan orang lain padanya.


"Ternyata pria tampan itu satu kelas dengan kita."


"Siapa dia? Coba kau tanya sana. Belum ada satu pun yang mendekati dan menanyakan namanya."


"Kenapa tidak kau saja? Aku sangat malu untuk melakukannya."


Xeros duduk di kursinya sembari mendengar kebisingan suara bisik-bisik para gadis yang menyukainya. Beberapa menit setelahnya, Valencia pun datang membawa semangat menggebu-gebu.


Ekspresi kaku Xeros seketika berubah sumringah. Gadis yang ia tunggu-tunggu sedari tadi sudah datang. Kemudian Valencia memutar pandangannya pada Xeros sebelum ia pergi ke kursi tempatnya duduk.


"Oh, Xeros! Luka bakarmu benar-benar sudah sembuh? Wajah barumu sangat bagus untukmu," ujar Valencia dengan suara lantang.


Sesaat atmosfer kelas menjadi dingin, baru saja Valencia menyebut nama yang tidak asing.


"Apa yang kau maksud? Pria itu Xeros? Mana mungkin si buruk rupa itu mendadak menjadi tampan."


"Kau sedang membual ya? Mustahil Xeros bisa berubah dalam satu malam."


Mereka membantah hal itu bersama-sama dan menuding Valencia sedang membual. Wajar mereka bersikap seperti itu sebab penampilan Xeros berubah seratus persen dari biasanya. Rambutnya kini lebih tertata, pakaiannya pun sangat rapi.


"Sepertinya di sini kalian yang buta. Menurut kalian, apakah ada seseorang yang punya ciri fisik yang sama dengan Xeros? Lihat rambut dan matanya, lalu postur badannya. Dia sungguh Xeros, aku tidak mungkin salah mengenalinya," balas Valencia kesal.


Setelah mereka lihat-lihat lagi, memang pria yang tidak mereka kenali itu punya ciri fisik yang sama seperti Xeros. Hanya luka bakar di wajahnya saja yang menghilang dan ciri-ciri fisik yang lain terlihat sama seperti biasa.


"Kenapa luka di wajahnya bisa sembuh secepat itu? Kau pasti berbohong," bantah salah seorang dari anggota kelas.


"Aku yang menyembuhkan Xeros menggunakan krim wajah yang aku racik sendiri. Kau masih menganggapku berbohong? Aku akan tunjukkan padamu buktinya."


Valencia mengeluarkan sisa krim wajah yang dia racik. Kemudian Valencia menarik seorang pria ke hadapannya. Pria itu punya bekas luka kecil di pipi sebelah kiri.


"Aku akan mengoleskan krim ini padamu dan bekas lukamu akan menghilang."

__ADS_1


Valencia mengoles dengan lembut krim tersebut ke wajah si pria. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai terlihat hasilnya.


"Sekarang coba kau bercermin," suruh Valencia.


Pria itu langsung bercermin dan secara mengejutkan, bekas luka goresan di pipinya menghilang sempurna tanpa meninggalkan bekas lain.


Seisi ruangan pun terperanjat kaget, Valencia terbukti tidak berbohong kepada mereka. Krim racikannya mempunyai keampuhan luar biasa dalam menyembuhkan bekas luka.


"Kalian terkejut bukan? Untuk bekas luka seperti milik Xeros bisa sembuh dalam waktu satu malam. Namun, untuk bekas luka kecil, dapat sembuh dalam sekejap," tutur Valencia menjelaskan.


Hening, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kilas balik tentang mereka yang selalu merundung Xeros kembali berputar di kepala mereka. Karena tidak tahan akan situasi ini, Xeros langsung menarik paksa Valencia untuk keluar dari kelas.


"Kau tidak perlu susah payah menjelaskan kepada mereka," ucap Xeros bernada kesal.


"Mereka harus tahu siapa kau dan aku yakin sebentar lagi akan ada banyak wanita yang berbaris menulis surat cinta untukmu. Hahaha," kekeh Valencia membayangkan Xeros dikelilingi wanita.


Langkah Xeros terjeda, entah kenapa dia tidak suka mendengar Valencia berkata demikian.


"Aku tidak peduli mereka menyukaiku atau tidak, yang aku inginkan hanya dirimu, bukan mereka," lirih Xeros teramat pelan.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarnya."


"Ah, begitukah? Baiklah, sekarang ayo kita ke kantin! Kau harus mentraktirku selama satu minggu sebagai bayaran karena aku telah menyembuhkan lukamu," seru Valencia antusias.


***


Situasi kastil tempat Davey tinggal mulai stabil, bahkan kondisi tubuh Davey kini perlahan membaik. Akhirnya, seluruh penghuni kastil bisa merasakan ketenangan. Mereka tidak lagi perlu sibuk melakukan berbagai pekerjaan merepotkan.


Sean pun hari ini juga baru bisa beristirahat, segalanya berlalu begitu cepat. Sean adalah orang yang paling repot ketika Davey menderita sakit sebab dia merupakan pelayan dewa sekaligus wakil dewa sehingga pekerjaan Davey beberapa hari ini dia yang menyelesaikannya seorang diri.


"Aku akan menghabiskan hariku untuk bersantai sebelum aku kembali lagi ke dunia manusia untuk mengawasi Klarybell."


Sean menghela napas panjang, mengingat wajah gadis yang dia awasi selama ini membuatnya sakit kepala.


"Aku yakin wanita itu pasti membuat masalah yang lebih besar di bawah sana. Aku harap dia tidak membuatku kerepotan," gumamnya.


Kemudian tidak lama setelahnya, seorang pelayan berlarian menuju ke tempat Sean berada. Tampaknya dia membawa sesuatu untuk dibicarakan dengan Sean.


"Tuan Sean, Anda harus ke depan sekarang juga. Ada seorang jiwa manusia yang ingin bertemu dengan Anda," ujarnya.


"Jiwa manusia? Siapa dia?"

__ADS_1


"Dia bilang namanya Berliana."


Sean terperangah mendengar nama Berliana. Tanpa berlama-lama Sean langsung pergi ke depan kastil untuk menemui Berliana.


'Mengapa gadis itu ingin menemuiku? Gadis yang menjadi satu-satunya sahabat wanita Klarybell sekaligus orang yang membuat Klarybell menggila di benua Mihovil.'


Di depan gerbang utama kastil, berdiri seorang wanita dengan rambut cokelat panjang. Pupil matanya berwarna biru terang. Wajahnya begitu menenangkan dan lembut, serta caranya menatap dipenuhi ketulusan.


"Berliana, ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Sean to the point.


"Halo, Tuan Sean. Saya kemari ingin berbicara dengan Anda. Apakah Anda ada waktu sebentar?"


"Ya, kebetulan aku sedang luang. Mari kita berbicara."


Mereka berbicara di tempat yang tidak jauh dari sana. Sean tidak bisa membawa Berliana untuk masuk ke kastil sebab jiwa manusia dilarang berkeliaran di kastil dewa.


"Mengapa jiwa yang tenang di surga tiba-tiba keluar? Mungkinkah pembicaraanmu kali ini penting?"


Berliana menggeleng, itu bukan sesuatu yang terlalu penting. Hanya saja dia merasa bahwa dia harus mengatakannya kepada Sean.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemani dan mengawasi Klarybell selama ini."


Berliana menundukkan sedikit badannya lalu kembali berucap, "Apakah Klarybell bahagia dengan hidupnya yang sekarang?"


Sean berpikir sejenak, dia memutar seluruh memorinya ke belakang. Sean mencoba mengingat beberapa momen yang mungkin bisa menjawab pertanyaan Berliana yang cukup rumit baginya.


"Bahagia ya? Aku tidak tahu apa itu bisa disebut bahagia. Hanya saja Klarybell terkadang mengeluh soal hidup yang dia jalani sebagai Valencia. Tatapannya diliputi perasaan yang sangat rumit. Aku tidak mengerti, tapi dia seolah-olah sedang berputus asa."


Berliana menghembuskan napas berat, sudah lama sejak terakhir kali dia ingin bertemu dengan sahabatnya. Namun, dia tidak bisa melakukannya, dia hanya bisa menatap sang sahabat dari jauh.


"Jadi, dia belum menemukan kebahagiaannya? Ya, wajar saja kalau begitu. Klarybell tidak tahu apa pun soal cinta, dia tidak tahu rasanya dicintai dan mencintai. Yang ada di otaknya hanyalah cara membunuh atau menyiksa orang lain. Tetapi, aku bersyukur setidaknya dia bisa hidup melakukan sesuatu yang dia inginkan."


"Setidaknya sekarang dia punya orang-orang menarik yang menyayanginya. Ada banyak pria di sekitarnya, Kaisar dan Permaisuri yang mencintainya layaknya anak kandung. Kemudian dia juga baru menemukan dua orang teman perempuan yang senantiasa bersamanya setiap waktu," ucap Sean.


Di sini Berliana langsung sadar bahwa kehidupan sahabatnya kali ini mulai memperlihatkan perbedaan. Setidaknya dengan begini dia bisa tenang di surga.


"Syukurlah, lalu bisakah Anda menyampaikan pesan saya untuknya? Ini adalah hal yang sangat ingin saya sampaikan padanya sejak lama."


Berliana mengucapkan sejumlah kalimat yang hendak ia sampaikan kepada Klarybell. Sean hanya mengangguk dan setuju untuk memenuhi permintaan sederhana Berliana.


Pesan singkat, tapi terasa sangat dalam dan berarti bagi Valencia. Sang sahabat wanita yang telah lama tidak dia jumpai kini sedang bersama dengan Sean. Tidak terbayangkan bagaimana reaksi Valencia nantinya.

__ADS_1


__ADS_2