Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Menaruh Sihir Ilusi


__ADS_3

Valencia menyalakan api dari telapak tangannya. Guilla semakin tertekan ketika menyaksikan Valencia bisa memainkan sihir. Perasaannya menjadi tak menentu, semuanya bisa dia rasakan secara jelas. Namun, rasa takut mendominasi, nyawanya seolah-olah akan dicabut oleh Valencia detik itu juga.


Dengan langkah gemetar, Guilla mundur ke belakang. Dia menolak kenyataan itu, dia menolak keberadaan Valencia sebagai penyihir. Berharap ini hanya sekedar mimpi, tetapi apa daya kalau yang dia jalankan itu merupakan kenyataan.


"Kenapa kau takut? Oh, aku baru ingat. Penyihir mantra sudah lama sekali diburu oleh Penyihir Agung Klarybell. Mereka telah membuat kekacauan dengan menggunakan mantra terlarang. Siapa sangka ternyata kalian kabur ke benua Solvey. Kau pasti adalah salah satu keturunan dari penyihir mantra."


"Tidak, tidak mungkin! Kau tidak mungkin seorang penyihir!"


Valencia menyeringai, inilah respon yang dia inginkan dari Guilla. Wanita itu takkan bisa tidur nyenyak kalau dia tahu bahwa ada seorang penyihir yang mengincar nyawanya.


"Kenapa kau masih bersikeras menolak kebenaran tentang identitasku? Kau sudah membunuh Valencia, karena kau hidupnya menjadi berantakan! Ah, jangan pikir kau tidak merasa bersalah setelah membunuh Valencia?!" tekan Valencia.


"Apa yang kau katakan? Jelas-jelas sekarang kau berada di hadapanku. Kau tidak mati dan kau masih hidup!" sangkal Guilla meninggikan nada suaranya.


"Siapa bilang aku ini Valencia?"


Bola mata Guilla membulat sempurna, dia melihat jelas bayangan Klarybell di diri Valencia.


"Kau bukan Valencia? Lalu kau siapa sebenarnya?!"


Sudut bibir Valencia terangkat, sepasang maniknya menatap lurus Guilla.


"Aku adalah Klarybell. Sang Penyihir Agung, Klarybell Berliana."


Dada Guilla sesak seketika mendengar nama tersebut. Wanita gila yang memburu leluhurnya ialah Klarybell Berliana. Nama yang menjadi ketakutan terbesar bagi kaum penyihir mantra.


"Bukankah Klarybell sudah lama mati? Bagaimana ceritanya kau hidup di tubuh orang lain?"


Suara Guilla terdengar bergetar, suasana sekitar semakin mencekam dan menjepit dada Guilla.


"Aku turun ke bumi menyelesaikan misi dari dewa kedamaian. Misinya yaitu mengubah takdir hidup Valencia Allerick dan membalaskan kematiannya kepada orang-orang yang menyakitinya. Terutama kau, Guilla! Wanita yang paling dibenci oleh Valencia."


Aura membunuh dari Valencia menggetarkan jiwa Guilla. Wanita itu sontak menjatuhkan badannya dan bersujud di atas lantai. Sepertinya dia akan memohon pengampunan terhadap nyawanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, tolong ampuni nyawaku. Jangan bunuh aku, aku mohon kepadamu. Aku tidak bermaksud membunuh Valencia. Tolong, aku mohon beri aku kesempatan memperbaiki sikapku," tutur Guilla.


Valencia menatap dingin Guilla, sudah dia duga akan ada masa di mana dia harus menghadapi Guilla yang mulai putus asa.


"Ampun? Maaf? Untuk apa? Valencia sudah mati. Percuma saja kau meminta maaf kepadaku karena aku bukan Valencia."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Tolong jangan bunuh aku. Aku mengaku bersalah, tetapi aku mohon biarkan aku hidup."


Valencia memutar bola mata malas, keningnya berkerut memandangi Guilla yang masih berada pada posisi sujud. Wanita itu mengesampingkan harga dirinya demi meminta pengampunan agar tidak dibunuh.


"Pergilah ke neraka, aku tidak menerima maaf dari manusia perusak sepertimu. Keberadaanmu hanya akan mendatangkan kesialan. Tentu saja aku tidak akan membunuhmu sekarang sebab aku pastikan kau menderita sebelum mati."


Guilla merasa putus asa, percuma saja dirinya bersujud. Akan tetapi, Valencia sedikit pun tak menaruh iba terhadap dirinya.


"Mulai sekarang hiduplah di dalam ilusi penyiksaan. Kau takkan bisa keluar dari tempat ini tanpa seizin dariku."


Valencia menjentikkan jemarinya, dia membubuhi sihir ilusi ke diri Guilla. Wanita itu pun berteriak, ia melihat ilusi dirinya berada di tengah kobaran api besar.


***


Valencia mengacak-acak tumpukan dokumen di atas meja. Ada banyak sekali laporan yang masuk perihal sejumlah masalah yang terjadi selama festival berlangsung. Lalu hari ini adalah hari kelima festival dan dia masih belum bisa keluar dari mansion.


"Aku tahu ada yang tidak beres dari kematian kedua orang tua Linnea. Haruskah aku memeriksanya langsung? Bagaimana pun aku harus segera menemukan alasan untukku membunuhnya. Siapa tahu kematian orang tuanya telah disabotase tanpa sepengetahuan orang lain."


Kemudian Valencia memanggil Luana untuk segera menemuinya. Lekas Luana segera memenuhi panggilan dari Valencia.


"Apa Anda memanggil saya, Nona?" tanya Luana.


"Ya, kemarilah. Aku punya tugas baru untukmu," kata Valencia.


"Tugas baru? Apa yang harus saya lakukan?"


"Tolong cari tahu mengenai penyebab kematian orang tua Linnea. Aku mendapatkan info, kalau kusir kereta kuda yang dikendarai orang tuanya selamat. Coba gali informasi dari orang itu dan juga dari mantan pekerja di mansion orang tuanya dulu," jelas Valencia memberi perintah.

__ADS_1


"Baik, Nona. Saya akan mencari tahunya dan segera melaporkannya kepada Anda nanti."


Luana lebih cepat paham, dia terlihat bersemangat menerima tugas dari Valencia. Sekarang waktunya bagi Valencia bersantai sejenak.


"Oh iya, hampir saja lupa. Aku harus pergi menemui Kaisar Sergia. Aku telah berjanji akan menemuinya."


Valencia bergegas bersiap-siap menuju ke tempat di mana Dimitri sedang beristirahat. Janji temunya dengan Dimitri adalah hari ini. Setidaknya dia harus pergi dan memberi penolakan secara halus mengenai lamaran pernikahan yang dikirimkan Dimitri.


Setibanya di penginapan Dimitri, Valencia langsung disuruh masuk ke dalam. Dia disambut secara hangat dan ramah oleh para bawahan Dimitri.


"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Sergia." Valencia dengan sangat sopan memberikan salam hormat.


"Sudahi salamnya, silakan Anda duduk, Nona."


Dimitri tersenyum lembut, dia langsung menyuruh Valencia untuk duduk di sofa berseberangan dengannya.


"Yang Mulia, saya datang untuk mengembalikan ini."


Valencia menyerahkan surat lamaran yang waktu itu dikirimkan oleh Dimitri. Pengembalian surat tersebut langsung dipahami Dimitri bahwa gadis itu menolaknya secara halus.


"Anda menolak untuk menjadi Permaisuri Sergia?"


Valencia mengangguk pelan. "Benar, saya masih tidak paham mengenai alasan Anda ingin mempersunting saya. Kita belum pernah bertemu, kita juga tidak saling mengenal. Surat lamaran pernikahan dari Anda membuat saya bingung," ujar Valencia.


"Wajar jika Anda menolak seseorang yang belum pernah Anda temui. Namun, saya pernah bertemu Anda beberapa kali."


Valencia terpaku sejenak ketika Dimitri mengaku pernah bertemu dengannya.


"Di mana Anda bertemu dengan saya?"


"Itu ketika Anda menghajar seorang pencuri di pasar ibu kota. Saat itu saya sedang berada di tempat yang sama dengan Anda. Lalu saya juga pernah melihat Anda menyelinap ke luar akademi. Kesan pertama saya melihat Anda yaitu Anda wanita yang sangat unik," papar Dimitri.


Valencia tidak menyadari sama sekali keberadaan Dimitri kala itu. Tidak heran mengapa Dimitri tampak tidak seperti orang yang pertama kali melihat Valencia.

__ADS_1


__ADS_2