
Valencia dan Devina akhirnya tiba di asrama akademi seusai memakan waktu tiga jam perjalanan, ini terbilang lebih cepat dari biasanya. Selama dalam perjalanan, Black memacu kecepatan larinya, ia tak gentar menerobos setiap benda yang menghalangi langkahnya. Devina terlihat pusing sesaat turun dari punggung Black.
“Tuan Putri, Anda baik-baik saja?” tanya Valencia berwajah datar, dia bahkan tidak merasa terganggu oleh kecepatan lajuan Black.
Perut Devina terasa mual, ia nyaris muntah akibat terombang ambing di udara, tapi dia berupaya untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Saya baik-baik saja,” jawab Devina.
“Benarkah? Saya rasa wajah Anda lebih pucat dari sebelumnya. Apa mungkin Anda tidak terbiasa menunggangi kuda?” Valencia merasa tidak yakin dengan jawaban Devina, dia meragukannya karena Devina tampak tidak baik-baik saja di matanya.
“S-Sebenarnya begitu. Bagaimana Anda bisa terlihat baik selepas menunggangi kuda dengan kecepatan seperti itu? Selama ini saya menunggangi kuda dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Jadi, saya sedikit tidak terbiasa,” ujar Devina keheranan melihat Valencia.
“Eh? Padahal itu lebih lambat dari biasanya. Tetapi, tadi karena saya membawa Anda makanya saya meminta Black sedikit melambatkan laju larinya.”
Devina tercengang, tak disangka Valencia mempunyai daya tahan tubuh yang aneh dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal.
‘Lebih lambat? Dia bilang lebih lambat? Kalau begitu, bagaimana dengan kecepatan biasanya? Aku yakin lebih cepat dari itu. Namun, yang aku pertanyakan sekarang, bagaimana dia bisa tidak terganggu oleh kecepatan kuda yang amat tidak normal? Aku rasa dia memang bukan manusia biasa,’ pikir Devina.
Devina hanyut di dalam pemikiran anehnya mengenai Valencia, tiada hentinya berbagai pertanyaan masuk silih berganti tanpa mendapatkan jawaban yang tepat. Sungguh, fenomena kecepatan kuda Valencia menjadi pertanyaan utama di kepala Devina kala itu.
“Tuan Putri, apa yang sedang Anda pikirkan? Sekarang sudah waktunya kita masuk ke asrama.” Pertanyaan Valencia seketika membuyarkan lamunan Devina.
“Ah iya, benar. Sekarang waktunya kita untuk masuk, tapi sebelum itu bolehkah saya meminta satu hal?”
“Apa yang Anda inginkan?”
“Bisakah kita berbicara informal? Maksudnya saling memanggil nama seperti teman pada umumnya?” pinta Devina ragu-ragu.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Valencia pun menjawab sembari merekahkan senyumnya. “Baiklah, mari lakukan itu. Lagi pula aku menyukaimu, Devina. Tidak ada salahnya kita mencoba berteman lebih dekat.”
Devina terdiam, kedua matanya kembali berbinar menatap Valencia, baginya tidak ada yang lebih menakjubkan selain menjalin pertemanan dengan seseorang yang ia kagumi.
“B-Baiklah.” Gadis itu terlihat gugup berhadapan dengan Valencia, tapi Valencia tidak menyadari betapa gugupnya Devina tatkala mengobrol dengannya.
“Kalau begitu sekarang mari kita masuk, karena asrama kita berada di gedung yang sama, aku kira lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama,” ucap Valencia sambil menepuk pundak Devina.
Devina mengangguk cepat, lalu mereka berdua pun beranjak masuk ke dalam asrama. Walaupun Valencia bersedia berteman dengan Devina, tapi sepertinya Devina masih belum terbiasa. Sebaliknya, Valencia berpikir bahwa rumor tentang Devina yang beredar di tengah masyarakat tidak sepenuhnya benar.
‘Orang-orang mengatakan Devina mempunyai sikap yang tidak baik dan tidak pernah ramah terhadap orang lain. Tetapi, itu bukan kenyataannya, justru Devina itu tampak pemalu dan juga dia ramah padaku. Mungkinkah rumor itu palsu? Ya, aku yakin itu rumor palsu,’ batin Valencia menilai Devina dari apa yang ia lihat hari ini.
Kamar Valencia berada di lantai dua, sedangkan kamar Devina berada di lantai tiga, meski mereka satu gedung asrama tapi mereka berbeda kamar. Devina cukup kecewa karena dia tidak satu kamar dengan Valencia. Akan tetapi, Valencia menjanjikan akan sering berkunjung ke kamar Devina kala jam kosong.
Baru saja Valencia menginjakkan kakinya di pintu masuk kamar asramanya, ia langsung disuguhkan kejadian yang tidak mengenakkan. Tepat ketika Valencia menyingkap pintu masuk, kondisi tempat tidurnya sangat berantakan. Sedikit informasi, di kamar Valencia bisa ditempati oleh tiga orang sekaligus. Kamarnya juga sangat luas sehingga muat untuk tiga tempat tidur besar, lemari, dan meja belajar.
‘Tampaknya mangsa pertamaku di akademi ini sudah datang. Haruskah aku mencincang tubuhnya lalu menjadikannya sebagai makanan hewan buas?’
Tiba-tiba saja di sela kejengkelan Valencia, dua orang gadis yang tidak asing mukanya masuk ke dalam kamar sambil terkekeh. Valencia seketika memalingkan pandangannya kepada mereka, tatapan mereka terlihat meremehkan Valencia.
“Astaga, kau sudah datang rupanya? Bagaimana? Apa kau suka dengan hadiah dari kami?”
“Tentu saja dia suka. Biasanya kita juga seperti ini dan Valencia baik-baik saja karena hal itu.”
Berdasarkan ingatan Valencia, mereka berdua adalah Sabrina Ashly – putri Marquess Ashly dan Jania Noslen – putri dari Duke Noslen. Mereka dahulunya merupakan pelaku yang seringkali membully Valencia. Mereka merupakan gadis-gadis pengagum Linnea, walau posisi mereka di pergaulan sosial lebih tinggi dari Linnea, tapi mereka mengagumi Linnea karena kecantikan serta kecerdasannya yang menjadi murid pemegang tempat pertama di akademi ini.
“Sabrina, Jania.” Bibir Valencia membentuk lengkungan senyum nan menyimpan aura mematikan yang kuat. “Bereskan lagi tempat tidurku,” titahnya berupaya tak terbawa emosi.
__ADS_1
“Hah? Apa? Kau meminta kami untuk membereskan tempat tidurmu? Lebih baik kau bereskan saja sendiri,” jawab Jania menatap sinis.
“Apa alasan kalian melakukan ini padaku? Padahal aku tidak pernah mengusik hidup kalian.” Valencia mencoba tenang, tangannya mengepal dan ingin meninju batang hidung mereka berdua.
“Alasan? Tentu saja itu karena kau telah membuat Linnea jatuh sakit dan dipermalukan di hadapan banyak orang. Anggap saja ini sebagai peringatan dari kami agar kau lebih tahu diri lagi, sekarang juga Linnea telah resmi menjadi saudarimu, kan? Kau juga tidak punya kuasa apa-apa sebagai putri Grand Duke Allerick, jadi meski kau mati sekali pun Grand Duke tetap takkan mempedulikanmu,” tutur Sabrina.
Valencia menghela napas panjang seraya mendudukkan diri di tepi ranjang, kedua gadis itu mendadak berekspresi aneh, biasanya Valencia akan langsung menerjang mereka berdua jika mereka menghinanya terang-terangan. Namun, Valencia yang mereka lihat sekarang sangat tenang, tapi mereka tetap berhati-hati sebelum Valencia menampakkan taringnya.
“Manusia rendahan yang berasal dari status kebangsawanan lebih rendah dariku tapi berani mengusikku. Meskipun aku tidak dipedulikan oleh Grand Duke, bukan berarti aku tidak punya siapa-siapa di belakangku. Aku ini keponakan kesayangan Permaisuri dan Kaisar, sepertinya kalian melupakan fakta itu.”
Sabrina dan Jania melewatkan sesuatu yang tidak kalah penting, fakta tentang Valencia keponakan kesayangan sang Permaisuri tidak terbantahkan. Akan tetapi, sepengetahuan mereka selama ini, Valencia tidak pernah sekali pun menggunakan nama Permaisuri kala ia berhadapan dengan orang-orang yang mengusiknya. Namun, hari ini berbeda seratus persen, Valencia terang-terangan memakai nama Permaisuri dan Kaisar untuk menggertak kedua gadis itu.
“Kau menggunakan nama Kaisar dan Permaisuri hanya untuk masalah kecil seperti ini? Kau kekanak-kanakkan sekal—”
BRAK!
Valencia memukul meja kecil di samping tempat tidurnya sampai hancur lebur, suara dari patahan meja tersebut sesaat menggema di ruangan. Valencia tampak mengerikan dengan amarah yang sedang ia pikul di hatinya. Sabrina dan Jania sontak kaget, mereka mematung seketika menyaksikan kekuatan pukulan Valencia yang begitu kuat.
“Masalah kecil kalian bilang?” Suara Valencia terdengar dingin dan tajam hingga membuat bulu kuduk kedua gadis itu merinding. “Apakah pembullyan itu masalah kecil? Aku rasa kalian sudah gila. Bukankah kalian telah mendengar soal diriku? Aku bisa saja membunuh kalian sekarang, tapi memangnya apa manfaat yang aku dapatkan dari membunuh manusia rendahan seperti kalian ini?”
Udara sekitar menjadi berat, napas mereka seakan tercekat, rasa takut menimpali perasaan mereka tiada henti. Sosok Valencia di mata mereka seperti bayangan hitam nan menakutkan, bayangan hitam yang kian membesar lalu melahap tubuh mereka perlahan.
“T-Tidak … t-tolong ampuni aku … jangan bunuh aku …,” lirih mereka berdua dengan tubuh yang perlahan meluruh ke atas lantai.
Tungkai kaki mereka mendadak lunglai, pergerakan tubuh mereka terkunci sehingga mereka kesulitan untuk bergerak.
“Ampun? Tidak ada ampun bagi manusia yang berani mengusik ketenanganku. Seharusnya tadi kalian menurut saja ketika aku menyuruh kalian membereskan kembali kekacauan ini. Namun, sayangnya kalian malah melawanku, itu artinya kalian tidak lagi menyayangi nyawa kalian.”
__ADS_1