
Valencia menekan tubuh Linnea, dia tidak lagi menunjukkan belas kasih terhadap gadis itu. Rasanya kesal sekali ketika Valencia menginginkan ketenangan sejenak, tapi masalah terus datang menghadang dirinya. Sekarang saat baginya untuk menyelesaikan kemarahannya, dia tidak peduli lagi soal apa pun yang menantinya di hadapan sana.
“Valencia, kau akan menyesalinya! Aku lebih disayang oleh Ayahmu, jadi mungkin saja kau akan mendapatkan masalah kalau kau berani melakukan percobaan pembunuhan padaku. Sekarang ayo lepaskan aku, aku janji akan diam dan melupakan ini semua. Tolong, Valencia … aku masih ingin hidup,” tutur Linnea.
“Tidak, Linnea … kau harus menderita seumur hidupmu karena kau telah melewati batas. Aku bukan wanita yang penyabar, aku bukan wanita baik yang akan memaafkan apa pun kesalahan yang kau perbuat. Aku gadis pendendam, bahkan jauh lebih mengerikan dari yang kau bayangkan. Sekarang pergilah! Rasakanlah rasa sakit ketika aku bunuh diri dahulu, lagi pula masih banyak orang yang menyayangimu. Tidak sama sepertiku yang sendirian setiap waktu di kediaman keluargaku sendiri.”
Valencia dengan senyum seram di bibirnya mendorong kasar badan Linnea sampai melewati pembatas hingga membuat tubuhnya terjatuh dari ketinggian. Linnea menyaksikan dari udara seberapa menakutkannya senyuman Valencia.
‘Tidak! Aku belum mau mati. Tolong aku, aku mohon … aku masih ingin hidup lebih lama lagi,’ batin Linnea.
Sepersekian detik berlalu, tubuh Linnea akhirnya mendarat di permukaan tanah. Perlahan darah mengucur deras dari kepala Linnea, kesadarannya berada di ambang batas. Dia tidak lagi menemukan cara untuk mempertahankan kesadarannya.
“Tenang saja, kau tidak akan mati, kau hanya menerima segelintir hukuman dariku. Aku harap setelah ini kau paham dengan siapa kau berurusan,” gumam Valencia menyeka tangannya menggunakan sapu tangan merah muda.
Tatkala Valencia berbalik badan, dia tersentak menemukan Frintz berada di belakang punggungnya seraya tersenyum tipis kepada Valencia.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Valencia.
“Sejak kau mendorong gadis itu,” jawab Frintz. Dia tidak terlihat marah atau pun terkejut dengan aksi Valencia. Justru Frintz penasaran mengenai alasan apa lagi yang digunakan Valencia untuk mencelakai Linnea.
“Apa kau akan mengadukanku?” tanya Valencia sekali lagi.
“Tidak, aku hanya penasaran. Kali ini apa lagi yang membuatmu marah? Apakah gadis itu melakukan sesuatu yang membuatmu jengkel atau ada hal yang lebih merugikanmu lagi?”
__ADS_1
“Dia telah menaruh beling di sepatuku, sebenarnya ada banyak lagi, tapi untuk hari ini mungkin cukup dengan alasan beling yang melukai telapak kakiku. Rasanya melegakan setelah aku berhasil melukai hama yang mendatangkan kerugian pada hidupku.”
Sekilas Frintz melihat pantulan mata berwarna violet di manik Valencia, dia mengusap matanya untuk memastikan apa yang dia lihat kala itu dan ternyata itu hanya ilusi semata. Akan tetapi, menurutnya malam ini Valencia punya aura yang berbeda, itu bukan seperti dirinya yang selalu membawa warna ceria melainkan dirinya yang membawa warna kematian. Hal tersebut sebagai bentuk kemarahan Valencia terhadap Linnea, salah satu orang yang mengacaukan takdir baiknya.
“Bagaimana kalau dia mati?”
Valencia mengukir senyum yang sukar diartikan Frintz. “Dia tidak akan mati karena aku sendiri yang akan menentukan kapan dia boleh mati. Kau harus menyimpan rahasia ini baik-baik, aku tidak peduli kau siapa, aku bisa saja menghabisi nyawamu.”
Jemari Valencia menyentuh wajah Frintz, jari-jarinya menggelitik pria itu. Secara pelan, jemari Valencia bergerak mengelus bibir Frintz. Tubuh pria itu mendadak membeku, dia seperti tengah berhadapan dengan sosok wanita yang lebih menakutkan dari Valencia.
“Bagaimana cara membuatmu diam? Kalau begitu, aku akan memberimu satu hadiah spesial.”
Betapa mengagetkan bagi Frintz, gadis itu tiba-tiba melayangkan sebuah ciuman singkat dari bibirnya. Lalu Valencia kembali tersenyum, ia mengibaskan rambut panjang yang selalu menutupi punggungnya.
“Aku telah memberimu hadiah spesial, lain kali aku akan memberimu hadiah lebih besar lagi.”
“Apa dia baru saja menciumku? Bagaimana dia bisa tenang setelah melakukan hal semacam itu padaku?”
Frintz menatap punggung Valencia yang kian menghilang dari pandangannya.
“Lembut,” gumamnya sambil menyentuh bibir dan membayangkan ciuman yang baru saja ia dapatkan.
Valencia malam itu langsung membawa dirinya terlelap seakan-akan dia tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan seperti barusan terjadi. Lagi pula Valencia tidak merasakan adanya perasaan bersalah setelah berhasil mencelakai Linnea.
__ADS_1
Valencia terbawa arus jauh ke dalam alam bawah sadarnya, dia mulai dihadapkan pada mimpi aneh yang cukup mengerikan. Valencia berjalan di tengah-tengah tempat yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya.
“Ada di mana aku? Mengapa aku bisa ada di tempat seperti ini?”
Valencia terus berjalan menyusuri alam mimpi, dia berjalan di tengah jalan yang dipenuhi oleh mayat manusia. Terdapat sisa-sisa kekuatan dewa yang memenuhi tempat tersebut serta adanya aura kematian nan begitu kuat.
“Tidak, Bell … jangan tinggalkan aku … tolong maafkan aku, aku mohon. Buka matamu, Bell! Aku sudah di sini, aku tidak lagi melupakanmu. Aku sudah mengingatmu, aku sudah ingat siapa dirimu.”
Valencia tercengang, di depan matanya kala itu dia melihat jelas ada Davey dengan seorang gadis bersayap patah tengah meraung di hamparan lautan mayat manusia. Gadis dengan rambut biru seperti laut nan tenang berada di dalam pelukan Davey. Gadis itu tidak lagi bernapas, hanya tinggal raga yang tak bernyawa.
“Bell, buka matamu. Maafkan aku, ampuni aku telah menaruh takdir buruk di pundakmu. Kali ini aku akan menebus kesalahanku. Jadi, aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku karena telah melupakanmu. Maafkan aku, Bell. Tolong maafkan aku, sekarang kita pulang, aku akan membuatkan rumah impianmu. Kita akan hidup berdua seperti janji kita dahulu, aku takkan melupakan dirimu lagi.”
Valencia tertegun, dia tak salah dengar kalau saat itu Davey menyebut gadis itu dengan nama yang sama seperti dirinya. Valencia mencoba menenangkan diri, dia tidak mau berpikir bahwa mimpi tersebut merupakan sebuah kenyataan.
‘Dia menyebut gadis itu dengan nama Bell? Apa mungkin ada seseorang yang bernama sama sepertiku?’ pikirnya berusaha positif.
Valencia masih berdiri di sana sampai datanglah segerombol orang yang punya lambang dewa di diri mereka dan menghampiri Davey yang menangis sesenggukan.
“Davey, hentikan itu! Kita harus menyegel gadis itu sebelum dia terbangun lagi dan mengacaukan alam akhirat!” ujar salah seorang dewa.
“Ikhlaskan dia, gadis itu adalah musuh utama umat manusia yang harus segera dilenyapkan. Apa kau tidak tahu seberapa besar kerugian yang kita dapatkan? Dia menghancurkan segalanya! Dia menghancurkan kehidupan damai manusia dan dia juga mengacaukan neraka. Lebih baik sekarang kau lepaskan dia, biarkan kami menyegelnya.”
Tangis Davey terhenti, dia menatap penuh kebencian dan kemarahan kepada para dewa tersebut. Dia menaruh tubuh gadis itu perlahan di permukaan tanah, tidak lupa dia mengecup kening si gadis yang telah mati.
__ADS_1
“Ini semua gara-gara kalian! Kalianlah yang menciptakan takdir buruk untuk Klarybell! Kalian para dewa sialan! Apa salah Klarybell kepada kalian sampai kalian dengan teganya membuat hidupnya dipenuhi penderitaan?! Klarybell adalah gadis yang baik, kalianlah yang mengubahnya menjadi monster berhati dingin. Dia orang yang penting bagiku, aku tidak akan memaafkan kalian! Sampai kapan pun aku akan membuat Klarybell terus hidup dalam reinkarnasi!”
Valencia terperangah. “Apa dia bilang? Klarybell? Gadis itu adalah aku?”