Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Aksi Pemberontakan


__ADS_3

Abraham bergegas menuju ke depan gerbang utama istana bersama Valencia dan Devina. Di sana mereka langsung disambut oleh gerombolan orang yang sebelumnya telah diselamatkan Valencia. Mereka mengajukan protes kepada Abraham terhadap apa yang sudah dilakukan Rudolf terhadap mereka. Tidak sedikit di antaranya yang kehilangan orang terkasih akibat keserakahan Rudolf.


“Yang Mulia, kami menuntut pertanggungjawaban dari Pangeran Rudolf!”


“Tolong biarkan kami bertemu bajing*n itu! Dia sudah membunuh keluarga kami!”


“Walaupun kami adalah orang miskin, tetapi tidak sepantasnya dia merenggut nyawa keluarga kami seenaknya.”


Api kemarahan membara panas di siang hari di mana orang-orang banyak yang berlalu lalang. Bahkan, banyak orang yang berhenti di dekat kerumunan tersebut demi mengetahui apa yang gerangan terjadi.


“Harap tenang semuanya! Aku akan mendengarkan keluhan kalian satu persatu,” seru Abraham dengan suara lantang.


Meskipun kala itu perasaan Abraham tidak karuan, tetapi dia tetap mementingkan serta mengutamakan peranannya sebagai pemimpin. Mendengar Abraham berseru demikian pun semua orang akhirnya memilih diam. Sebagaimana yang diketahui banyak orang, Abraham merupakan pemimpin yang selalu mendengar suara dari rakyatnya. Oleh sebab itulah, mereka mencoba tenang dan berbicara pelan kepada Abraham.


Setelah itu, mereka pun angkat bicara, satu persatu mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi di wilayah penaklukan Rudolf. Jujur saja, saat itu Abraham sangat syok mendengar penuturan pengakuan dari orang-orang tersebut. Akan tetapi, Valencia membenarkan kejadian itu sebab dia sendiri yang membantu mereka keluar dari wilayah yang dibalut sihir.


Selepasnya, Abraham pun sadar bahwa setiap kali Rudolf melakukan penaklukan, dia selalu mengatakan bahwa sebagian besar dari penduduk wilayah itu telah dihancurkan oleh monster yang lepas dari portal. Abraham tidak lagi menyangkalnya, dia hanya menerima kenyataan yang bertubi-tubi datang kepadanya.


“Hei, apa kau sudah mendengar itu? Katanya Pangeran Rudolf adalah pembunuh Pangeran Stephen.”


“Hah? Apa kau yakin? Bukankah itu hanya rumor belaka? Tidak mungkin Pangeran Rudolf melakukannya.”


“Aku mendengarnya langsung dari pelayan yang berada di istana. Bahkan, Nona Valencia membantu mengungkapkan masalah ini.”


“Aku juga melihat langsung orang-orang yang menjadi korban kekejaman Pangeran Rudolf, tak sedikit kesatria yang menjadi korbannya. Sekarang juga kita tahu bahwa kesatria yang hilang itu adalah ulah Pangeran Rudolf.”


“Ada juga peredaran obat terlarang sekaligus senjata ilegal, hal itu juga didalangi oleh Pangeran Rudolf. Aku masih tidak menyangka bahwasanya ternyata selama ini kita ditipu topeng baik si brengs*k itu.”


Fakta perihal diri Rudolf menyebar bagaikan api menyambar ke penjuru kekaisaran. Kini berbagai anggapan atau asumsi berkeluaran bebas dari pikiran para bangsawan. Banyak di antaranya yang mengutuk Rudolf dan dianggap telah menipu semua orang. Valencia berada di belakang ini hanya diam dan tersenyum sebab dia merupakan orang yang menyebarkan seluruh kejahatan Rudolf ke tengah masyarakat.

__ADS_1


Rudolf mengetahui bahwa topengnya telah terungkap, saat ini ia terlihat amat marah dan menghancurkan segala sesuatu yang berada di dekatnya.


“Sialan! Bagaimana bisa semuanya menjadi kacau begini? Aku yakin, ini semua pasti karena ulah wanita jal*ng itu!”


“Yang Mulia, tolong redamkan amarah Anda,” ucap Elkin yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


“Kau menyuruhku untuk meredamkan amarahku? Apa kau tidak tahu seberapa buruk situasi saat ini?! Seharusnya kau memberiku solusi terhadap rencanaku yang sudah hancur berantakan!”


Elkin menatap datar tak berekspresi, terdengar helaan napas dari celah bibirnya yang sedikit terbuka. Inilah alasan mengapa dia seringkali tidak tahan berada di samping Rudolf, pria itu selalu bersikap seenaknya saja tanpa memikirkan akibat yang terjadi ke depannya.


“Anda harus tenang karena sekarang Yang Mulia Yuine ingin berbicara dengan Anda. Saya harap Anda bisa menjaga sikap Anda, jangan sampai Anda meninggikan suara terhadap pemimpin yang saya hormati,” tekan Elkin.


Elkin menaruh bola kristal di hadapan Rudolf, mendengar nama Yuine membuatnya langsung terhening. Emosi Rudolf seketika meredam, tampaknya seseorang bernama Yuine ini adalah orang yang paling ditakutkan Rudolf.


“Yang Mulia, ini saya Rudolf.”


“Rudolf, aku sudah mendengar situasinya dari Elkin. Kau saat ini sedang terdesak kan? Sebaiknya kau mulai pemberontakanmu sebelum terlambat. Aku akan memberikan beberapa orang penyihir untuk membantumu.”


“Anda mengizinkan saya melakukan pemberontakan secepatnya?”


“Ya, apakah ada masalah? Sebaiknya diakhir menjelang semuanya menjadi bumerang untukku,” ujar Yuine.


“Baiklah, kalau seperti itu perintah Anda, maka saya akan melakukannya segera.”


Rudolf mulai mendapatkan semangatnya kembali, dia berpikir bahwa kemenangan berada di tangannya. Sekarang dia hanya perlu melakukan sesuai apa yang diperintahkan Yuine lalu melakukan persiapan untuk melakukan pemberontakan.


***


Tiga hari berlalu, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Rudolf, pria itu pun tidak muncul bahkan setelah dipanggil oleh Abraham dan Linita. Hal ini membuat Valencia menaruh curiga, firasatnya tidak baik.

__ADS_1


“Kenapa malam ini hawanya sedikit berbeda?”


Valencia yang masih belum tidur, menikmati waktunya dengan bersantai di balkon. Tiba-tiba dia merasakan embusan angin yang menyiratkan suatu firasat buruk. Valencia mendongak ke atas langit, semakin ia biarkan rasanya semakin menyesakkan di pikiran.


“Ada yang tidak beres, lebih baik aku pergi ke istana sekarang.”


Valencia bergegas keluar dari kamar, ia mengganti piamanya dengan pakaian serba hitam. Ketika dirinya hendak melangkah menuju gerbang, secara kebetulan ia berpapasan dengan Henzo.


“Ayah!”


“Oh, Valencia. Kenapa pakaianmu seperti itu? Apa kau akan pergi ke luar?” tanya Henzo.


“Ya, bagaimana dengan Ayah sendiri? Ayah juga mau pergi ke luar?”


“Aku punya firasat buruk, jadi aku berencana pergi ke istana untuk memeriksa situasi.”


Benar-benar sebuah kebetulan, mereka sama-sama memiliki firasat buruk yang mengarah pada istana.


“Aku juga berencana ke istana.”


Pada akhirnya, mereka berangkat berbarengan ke istana dan ternyata mereka juga berpapasan dengan ketujuh Pangeran. Mereka memiliki firasat buruk menghadap ke istana, alhasil mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama.


Tepat ketika mereka tiba di depan gerbang utama istana, mereka tiba-tiba berhenti melangkah sebab ada sesuatu yang mendekat dari arah jauh.


“Ada suara kuda yang mendekat ke istana,” kata Leano.


“Lihat ke atas!” seru Rexid.


Serentak mereka mengarahkan pandangan ke angkasa, di sana puluhan penyihir serta sejumlah makhluk sihir bersayap mulai memenuhi hamparan langit. Dari arah berlawan muncul orang-orang berpakaian kesatria menunggangi kuda yang dipimpin oleh Rudolf. Pria itu benar-benar merencanakan perang besar-besaran di istana demi merebut takhta Kaisar.

__ADS_1


“Valencia! Akan aku buat kau membayar semua kegagalanku! Malam ini aku akan tunjukkan kepadamu bagaimana rupa neraka!”


__ADS_2