
Setelah puas berbelanja, Rexid mengajak Valencia ke salah satu tempat yang berlokasi di atas bukit. Tempat ini sangat terbuka dan bisa menyaksikan dengan jelas hamparan langit malam nan luas. Dari atas sana mereka bisa melihat keramaian ibu kota serta tawa kebahagiaan orang-orang yang menikmati festival tahun ini.
"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Valencia.
"Hari ini ada kembang api, di tempat inilah yang cocok untuk menyaksikan indahnya kembang api."
Valencia mendudukkan diri di atas tanah dan merogoh satu kotak yang berisi cake vanilla. Sembari menunggu kembang apinya muncul, Valencia menikmati makanannya terlebih dahulu.
"Kapan kembang apinya muncul?" tanya Valencia sambil menyuap cakenya.
"Sebentar lagi."
Valencia berusaha untuk tetap sabar meski kembang apinya perlu waktu untuk meletus di angkasa. Rexid tiada henti memandangi wajah Valencia. Meski sebelumnya mereka saling memusuhi, tetapi waktu yang mereka habiskan bersama-sama membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Valencia melirik Rexid, dia tidak nyaman ditatap dengan pandangan yang sulit dia artikan.
"Apakah kau tidak pernah sadar? Dirimu yang sekarang terlalu sering menarik perhatian para lelaki," ucap Rexid.
"Sungguh? Aku tidak tahu dan tidak peduli. Lebih baik aku memikirkan makanan daripada memikirkan pria," kata Valencia.
Rexid tertawa mendengar Valencia berkata demikian. Sudah dia duga kalau Valencia tidak pernah peduli soal hal seperti ini.
"Kau wanita yang sangat aneh."
Tangan Rexid tiba-tiba saja bergerak menyeka krim vanilla yang menempel di sudut bibir Valencia. Suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda. Tatapan Rexid dipenuhi oleh cinta yang tidak disadari Valencia.
"Aku menyukaimu," ungkap Rexid begitu pelan.
DUARR!
Bersamaan suara kembang api yang mewarnai langit malam, Rexid mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Valencia. Gadis itu terpaku, bingung harus menanggapinya bagaimana.
Setelahnya, Rexid menatap lekat wajah Valencia. Dia menunjukkan senyum manis yang memperlihatkan keindahan di wajahnya. Sebuah ekspresi yang tidak pernah dilihat oleh Valencia sebelumnya.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Valencia berwajah datar.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin menciummu saja," jawab Rexid berdalih.
"Benarkah?" tatap Valencia penuh curiga.
"Ya, benar begitu."
__ADS_1
Rexid memalingkan pandangannya dari Valencia. Mukanya memerah sempurna, hanya dia di sini yang merasakan perasaan suka yang menggebu-gebu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang. Pertunjukan kembang apinya sudah hampir selesai," ajak Rexid menarik tangan Valencia untuk segera menuruni bukit.
"Tetapi makananku belum habis."
"Nanti saja kau habiskan di mansion."
***
Menjelang pergi memenuhi hukumannya, Endry berniat mengunjungi sang Ibu di dalam penjara. Akan tetapi, alangkah terkejutnya dia mendapati Guilla berbaring kesakitan dan berteriak tiada henti. Endry mencoba masuk ke dalam untuk menenangkan sang Ibu.
"Ibu, ini aku. Apa yang terjadi pada Ibu? Mengapa Ibu bisa seperti ini?"
Endry membawa tubuh Guilla ke pelukannya, dia berharap dengan pelukan ini bisa menyadarkan Guilla. Namun, sayangnya Guilla tidak merespon sama sekali. Kondisinya benar-benar buruk, ini berada di luar batas kemampuannya.
"T-Tolong ini m-menyakitkan. Aarrrghhhh! Ada monster! Ada monster yang akan memakanku. Tolong aku!"
Endry menahan tangis, padahal baru dua hari yang lalu dia bertemu Ibunya yang masih berada di kondisi prima. Lalu sekarang dia malah menemukan Guilla seperti orang gila.
Endry berlari keluar dari penjara, dia menuju ke ruangan Adarian untuk memberi tahu kondisi sang Ibu. Kala itu Adarian ternyata sedang tidak ada di ruangannya sebab ini waktu bagi Adarian mengunjungi Helen. Alhasil, Endry pun memutar langkah menuju paviliun kediaman Helen.
"Ayah, tolong Ibu!" teriak Endry menerobos masuk ke dalam kamar Helen.
"Endry, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk?"
"Maaf, Ayah, saya tidak bermaksud bersikap tak sopan. Ibu sekarang sedang berada di dalam bahaya. Tolong Ibu, saya mohon," lirih Endry.
"Ada apa dengan wanita itu? Apa yang terjadi padanya?" tanya Helen.
"Grand Duchess, Ibu berteriak seperti orang gila dan terus mengeluh sakit. Saya tidak tahu kenapa, padahal kemarin lusa saya bertemu Ibu dan Ibu masih baik-baik saja."
Adarian dan Helen langsung menyadari bahwa itu merupakan bagian dari perbuatan Valencia. Mereka tidak dapat berbuat banyak dan mereka tidak berniat untuk menolongnya.
"Aku tidak bisa menolong Ibumu," tolak Adarian.
"Kenapa? Kenapa Ayah tidak bisa menolong Ibu? Bukankah biasanya Ayah paling tidak suka melihat Ibu terluka?"
"Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi. Dia telah melukai istriku, setidaknya dia harus dihukum agar tahu diri."
Endry mengepalkan erat kedua tangannya, dia merasa frustrasi melihat Adarian yang tidak tahu menahu soal Ibunya. Bahkan, dia juga menyadari bahwa sesungguhnya Adarian kini tidak lagi menyayangi mereka.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Karena Ayah tidak mau menolong Ibu, biar aku yang melakukannya sendiri."
Endry berlalu meninggalkan kamar Helen tanpa kata-kata permisi.
"Sebentar lagi wanita itu pasti akan menemukan ajalnya," ujar Helen.
"Dia pantas mendapatkannya, putri kita mati sendirian di dalam penderitaan tiada akhir karena dirinya. Setidaknya pembalasan ini setimpal," tutur Adarian.
Sementara itu, kini Endry menggendong sendiri Guilla ke luar mansion. Dia memasukkan Ibunya ke dalam kereta kuda. Langsung saja dia pergi menuju ke kediaman Rudolf untuk meminta bantuan. Saat ini hanya Rudolf yang dapat membantu Ibunya.
"Yang Mulia, mohon maaf sebelumnya. Di luar ada Tuan Muda Allerick. Beliau mengatakan ingin bertemu dengan Anda," kata seorang pelayan kepada Rudolf.
Di waktu itu, Rudolf sedang berpikir keras memikirkan cara menjatuhkan Valencia. Kemudian Endry malah datang membuyarkan pikirannya.
"Suruh dia masuk," sahut Rudolf.
Tidak lama seusainya, Endry masuk ke kediaman Rudolf sambil menggendong Guilla. Ekspresi cemas di muka Endry sangatlah mendominasi.
"Yang Mulia, tolong bantu Ibu saya."
"Apa yang terjadi dengan Ibumu?" tanya Rudolf.
"Saya tidak tahu, Yang Mulia. Saya mohon, tolong bantu Ibu saya."
Endry pun bersujud di bawah kaki Rudolf memohon teramat sangat kepada Rudolf agar dibantu.
"Baiklah, aku akan membantumu. Akan tetapi, dengan satu syarat."
Secercah harapan berhasil didapatkan Endry, dia setidaknya mulai tenang sedikit.
"Apa syaratnya, Yang Mulia? Saya akan melakukan apa pun itu."
Rudolf menyunggingkan senyum licik, dia berencana memanfaatkan Endry.
"Kau harus membunuh Valencia, tentu saja aku akan menyediakan senjata khusus untuk melukainya," tutur Rudolf.
"Membunuh Valencia?" Endry terlihat ragu, pasalnya kemampuan Valencia jauh melebihi kemampuannya.
"Kenapa? Kau tidak sanggup melakukannya? Kalau begitu, Ibumu tidak akan aku selamatkan."
"Tidak! Tentu saja saya sanggup. Saya akan melakukannya, Yang Mulia."
__ADS_1
Rudolf tersenyum penuh kemenangan, dia berhasil memanfaatkan Endry dan menggunakan tangannya untuk membunuh Valencia.
"Bagus! Sekarang baringkan tubuh Ibumu di atas kasur yang akan disediakan pelayan. Biar nanti aku suruh Elkin untuk memeriksanya."