
Klarybell tidak mempedulikan bagaimana cara orang lain menatapnya. Dia sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah untuk memastikan seberapa besar kerusakan yang terjadi. Untung saja dia datang lebih cepat. Apabila ia datang sedikit lebih lambat saja, maka kemungkinan benua Solvey telah rata dengan tanah.
"Situasinya sangat buruk. Coba sekarang kalian periksa dari atas ada berapa jumlah pasti portal yang muncul saat ini," titah Klarybell kepada bawahannya.
Salah satu penyihir bergegas terbang ke angkasa. Dia menghitung jumlah portal yang terbuka kala itu. Lalu setelahnya, si penyihir turun lagi untuk melaporkannya kepada Klarybell.
"Yang Mulia, total portal keseluruhan ada dua puluh tiga dengan tingkatan portal yang lebih tinggi dari biasanya."
"Baiklah, kalau begitu kalian para healer tolong sembuhkan dulu kesatria dan orang-orang yang terluka. Lalu selebihnya ikuti aku untuk menyerang makhluk sihir itu," ujar Klarybell.
"Baik, Yang Mulia," sahut seluruh bawahan Klarybell.
Klarybell segera membumbung tinggi ke udara bersama para bawahannya. Mereka berpencar ke penjuru daerah Alegra. Sementara dia tidak memperhatikan sekitarnya, sebenarnya saat itu para Pangeran tengah menatap serius ke arah Klarybell.
Mata mereka tertuju ke mana pun Klarybell terbang, termasuk Henzo yang juga menyadari kehadiran Klarybell. Mereka sepertinya bingung harus bersikap seperti apa terhadap Klarybell. Penyihir Agung yang melegenda di seluruh tempat di benua Solvey itu muncul kembali seusai dikabarkan tewas lebih dari delapan ratus tahun lalu.
"Wah, ini terlalu cepat selesai dari bayanganku."
Klarybell beserta para penyihir lainnya berhasil menaklukkan portal hanya dalam kurun waktu tiga jam. Tentu saja hal ini juga dibantu oleh ketujuh Pangeran dan Henzo. Orang-orang yang terluka juga berhasil dipulihkan.
Kemudian Klarybell mengeluarkan alat komunikasinya. Dia langsung menghubungi Arc serta Cetrion yang berada di wilayah lain.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menangani semua masalahnya?" tanya Klarybell.
"Aku berhasil mengatasinya, sekarang kondisinya sudah terkendali," jawab Cetrion.
"Ya, aku juga. Tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan sekarang," imbuh Arc.
"Baguslah. Aku sedang berada di Kekaisaran Alegra. Setelah kalian menyelesaikan semuanya, kunjungi aku ke Alegra. Kita akan pulang ke Mihovil bersama-sama," pungkas Klarybell dan diiyakan oleh mereka.
Di waktu bersamaan, tepat seusai Klarybell mengakhiri panggilannya, sepasang tangan kekar seorang pria memeluknya dari belakang. Refleks Klarybell menoleh untuk melihat siapa gerangan yang mmendekapnya.
"Xeros!"
Pria itu adalah Xeros, dia memasang raut muka sendu kala itu. Di belakang Xeros, keenam Pangeran lainnya hanya memandang ke arahnya.
"Kenapa kalian di sini? Maksudku, apa kalian datang menemuiku?"
Klarybell terlihat canggung, ia melepas dekapan Xeros. Sejujurnya, ia tidak bisa menghadapi mereka bertujuh seusai pergi ke benua Mihovil tanpa berpamitan langsung.
"Bolehkah kami memanggil namamu?" tanya Reibert.
"Ya, silakan. Tidak ada yang salah dari itu."
"Bell, bisakah kau mengajak kami ke benua Mihovil? Tolong jangan tinggalkan kami di sini."
Klarybell tertegun mendengar permintaan Ivanov. Mereka tidak marah atau pun kecewa seolah-olah mereka sudah melupakan kebohongannya.
"Bolehkah aku tahu alasan kenapa kalian ingin ikut bersamaku ke Mihovil?"
"Ehem." Leano berdehem. "Kami ingin terus bersamamu," lanjut Leano berucap.
"Bukankah kalian marah karena aku membohongi kalian? Aku tidak mau kalian kecewa—"
"Tidak!" sergah Rexid. "Kami tidak marah atau pun kecewa padamu. Kami hanya syok saat mengetahui identitasmu. Tidak peduli tubuh siapa pun yang kau tempati, yang kami kenal ialah jiwa yang berada di dalamnya."
"Saat kami hendak menjelaskannya kepadamu, kau tiba-tiba menghilang dan meninggalkan secarik surat," imbuh Xeros.
Klarybell menghela napas panjang, tiada sangka perasaan mereka sedalam itu.
"Aku bergegas ke benua Mihovil karena di sana situasinya sangat kacau. Ditambah lagi tubuh Valencia tidak bisa menampung jiwaku terlalu lama. Maafkan aku tidak menjelaskan apa pun kepada kalian," tutur Klarybell.
Mereka kini paham kondisi Klarybell, tidak ada yang patut mereka pertanyakan lagi.
"Kalau begitu, bisakah kau membawa kami ke Mihovil?" tanya Frintz.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membawa kalian nanti. Untuk sekarang kita harus menyelesaikan kekacauan yang ada di sini."
Mereka semua bersama-sama membereskan kekacauan di Alegra. Ada banyak bangunan yang runtuh dan orang-orang yang mati akibat serangan makhluk sihir. Kemudian tibalah Klarybell dan Sammy di depan mansion Grand Duke Allerick.
"Kenapa di sini sangat ribut?" tanya Klarybell keheranan melihat keributan di sana.
"Aku tidak tahu, sebaiknya kita lihat sendiri apa yang terjadi di sini," ujar Sammy.
Klarybell dan Sammy berbarengan menerobos kerumunan. Alangkah terkejutnya mereka mendapati Adarian bersama Helen terkapar tidak berdaya di permukaan tanah. Kondisi tubuh mereka amat memprihatinkan. Tidak sedikit luka yang menggores tubuh keduanya.
Tanpa berpikir panjang, Sammy langsung turun tangan memeriksa denyut nadi mereka. Ekspresi Sammy seketika berubah tak karuan. Dia menatap Klarybell sambil menggeleng pelan.
"Aku tidak menemukan denyut nadi mereka," kata Sammy.
"Begitukah? Mereka akhirnya memilih pergi menyusul Valencia."
Klarybell pun menanyakan bagaimana Adarian dan Helen bisa sampai meninggal kepada sejumlah orang yang berada di sana. Kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka berdua tewas karena tertimpa puing-puing bangunan mansion.
Hal ini pun langsung disampaikan kepada pihak istana. Salah satu bangsawan kelas atas meregang nyawa akibat serangan makhluk sihir. Upacara pemakaman mereka diadakan di hari itu juga di istana.
Tidak lupa Klarybell menyerahkan jasad tubuh Valencia untuk dikuburkan bersama kedua orang tuanya. Sungguh kematian yang tragis, bahkan Linita tak kuasa menahan tangis karena kehilangan Adik satu-satunya.
'Terima kasih, Valencia karena telah memberiku izin memakai tubuhmu. Beristirahatlah dengan tenang bersama kedua orang tuamu. Kau bisa tanyakan kepada mereka nanti apa yang sebenarnya terjadi semasa kau hidup,' batin Klarybell di depan makam Valencia.
Bersamaan detik itu, Klarybell dikejutkan oleh tangan Henzo tiba-tiba menepuk pundaknya. Klarybell berbalik badan untuk menghadap langsung ke pria itu.
"Bukankah ada sesuatu yang harus kau jelaskan?" Henzo tersenyum menyeramkan.
"Ya? Jelaskan apa?" Klarybell mengalihkan pandangannya dari Henzo.
"Jangan berpura-pura lagi. Sekarang ayo pulang ke mansion. Aku ingin mendengar penjelasan darimu."
Henzo menyeret paksa Klarybell ke kediaman Archduke Calestine. Mau tidak mau gadis itu harus mengikutinya.
Pertemuan Henzo dan Klarybell terjadi begitu saja. Mereka saat ini berada di ruang tamu. Atmosfer di antara mereka sangat canggung. Klarybell masih diam dan tak bersuara. Arah pandang matanya selalu berputar ke segala arah.
"Archduke—"
"Ayah," potong Henzo cepat.
"Ya?"
"Panggil aku Ayah," ulangnya sekali lagi.
Klarybell tercengang, ia kehilangan kata-kata sesaat mendengar perkataan Henzo.
"Kenapa aku harus memanggilmu Ayah? Aku bukan Valencia," ujar Klarybell.
"Aku tidak peduli. Seseorang yang aku adopsi sebagai anak adalah jiwa yang berinteraksi denganku selama berada di tubuh Valencia. Kau yang menyelamatkanku berulang kali dan bahkan kau berjasa besar dalam melindungi Alegra," kukuh Henzo.
Klarybell menghembuskan napas kasar, ia pun mengiyakan perkataan Henzo.
"Baiklah, Ayah. Aku akan jelaskan padamu apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap diriku."
Klarybell menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Henzo mendengar secara seksama cerita penjelasan dari Klarybell. Untung saja dia bisa memahami posisi Klarybell sehingga dia tidak menuntut tanya terlalu banyak.
Henzo juga bersikeras bahwa Klarybell tetap harus menjadi anak angkatnya. Gadis itu hanya mengiyakan tanpa berpikir lebih panjang.
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ujar Arian, sang sekretaris Henzo.
"Siapa?" tanya Klarybell.
Kemudian muncullah di balik pintu masuk Devina dan juga Rachel. Mereka sangat canggung ingin berbicara dengan Klarybell.
"Hmm, i-itu—"
__ADS_1
"Kalian bisa memanggil namaku. Maafkan aku tidak memberi tahu kalian soal kebenarannya," sela Klarybell.
"Tidak apa-apa. Kami tidak marah padamu, jika bukan karenamu mungkin kami sudah mati sejak lama," tutur Devina diangguki Rachel.
"Syukurlah. Lalu kenapa kalian ingin menemuiku? Apakah ada sesuatu yang hendak kalian bicarakan?"
Devina dan Rachel saling bertukar pandang.
"Sebenarnya kami ingin bertanya. Walaupun kau bukan Valencia, apakah kita masih bisa berteman baik?" tanya Rachel ragu-ragu.
Klarybell pun menjawab, "Tentu saja masih bisa. Aku sangat senang punya teman seperti kalian."
Ekspresi mereka berubah sumringah, sangat melegakan sebab Klarybell tidak bermaksud memutus rantai pertemanan mereka. Selepas itu, mereka pun bercengkrama ria. Ada banyak hal yang mereka bicarakan bersama-sama.
Seusainya, Klarybell bertemu dengan Luana, kesatria wanita yang dulu pernah berada di bawah perintahnya. Kelompok kesatria wanita menyambut baik Klarybell. Mereka juga tidak mempermasalahkan identitasnya.
"Oh ya ampun, Black! Apa kau kemari untuk melihatku? Apa kau masih kenal denganku?"
Black, si kuda yang selalu bersama Klarybell saat menjadi Valencia kini menghampirinya. Dia sepertinya senang sekali bertemu Klarybell.
"Tidak aku sangka, rupanya kau masih mengenaliku. Bagaimana kalau kau ikut bersamaku ke benua Mihovil? Nanti aku akan memberimu makanan yang sangat banyak."
Black terlihat menyetujui tawaran Klarybell, dia gembira karena tidak perlu berpisah lagi dengan gadis itu. Tepat kala itu juga, Abraham dan Linita mengunjungi Klarybell.
"Yang Mulia, mengapa Anda berdua ada di sini?" tanya Klarybell.
Linita langsung menghambur ke pelukan Klarybell. Dia sangat sedih karena telah kehilangan banyak orang dalam waktu berdekatan.
"Terima kasih. Terima kasih karena telah berjuang demi Valencia. Terima kasih sudah memberitahu kebenaran yang sebenarnya terjadi," lirih Linita.
"Kami juga berterima kasih karena telah menyelamatkan Alegra dari ambang kehancuran. Jika bukan karena Anda, mungkin benua Solvey telah lenyap sejak beberapa waktu lalu," tambah Abraham.
"Anda bisa berbicara santai seperti biasa dengan saya. Tolong jangan beratkan diri Anda karena identitas saya. Bagaimana pun juga, saya berterima kasih kembali karena telah membuat hidup saya selama menjadi Valencia terasa lebih berwarna," tutur Klarybell.
Abraham dan Linita tersanjung, gadis itu tidak berubah sama sekali. Dia masih mempunyai kepribadian yang sama seperti sebelumnya. Sekarang mereka berdua mencoba bersikap santai terhadap Klarybell.
"Baiklah kalau itu maumu."
Sesudah itu, mereka berbincang sebentar untuk membatasi kecanggungan di antara mereka. Tidak lama berselang, Arc dan Cetrion pun datang ke Alegra. Mereka ingin membawa Klarybell kembali ke benua Mihovil.
"Kalau begitu, saya kembali dulu ke benua Mihovil. Saya akan berkunjung lagi nanti setelah urusan saya selesai di sana," ujar Klarybell berpamitan.
"Ya, kembalilah kapan pun yang kau mau. Alegra selalu terbuka menyambut kedatanganmu," kata Abraham.
"Baiklah, sampai jumpa lagi."
Pada saat itu, para Pangeran juga ikut pamit untuk pergi bersama Klarybell. Sedangkan Henzo tetap tinggal di Kekaisaran Alegra untuk menjaga keamanan dari serangan pihak musuh.
Mereka menaiki kapal terbang bersama. Di sana juga perkenalan antara Arc, Cetrion, dan ketujuh Pangeran terjadi. Walaupun ada sedikit pertengkaran kecil antara Rexid dan Arc, tetapi mereka cukup cepat akrab.
Kemudian saat Klarybell baru menginjakkan kakinya di gerbang Mihovil, dia langsung dihadapkan dengan Sean. Kala itu ekspresi Sean dipenuhi kepanikan hebat.
"Lama tidak bertemu, Se—"
"Bell, aku butuh bantuanmu! Aku mohon ...."
Sean disertai mata berkaca-kaca dan sekujur badan yang gemetar, mencoba meminta bantuan Klarybell. Sean tidak bisa berbicara selain meminta tolong kepada Klarybell.
"Bantuan apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?"
Sean menggeleng pelan. "Bukan aku, tetapi Yang Mulia Davey. Kondisinya semakin kritis, hanya kau satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari kematian."
Klarybell terpaku, dia terdiam dalam seribu bahasa.
"Apa? Davey kritis?"
__ADS_1