Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Ledakan Amarah Davey


__ADS_3

Sean menahan dalam-dalam emosi yang ia rasakan tatkala para penatua dewa seenaknya saja menghakimi Davey. Situasinya selalu seperti ini apabila para penatua dewa berkunjung ke kastil Davey. Mereka berbicara sesuka hati mereka tanpa memikirkan perasaan Davey, mereka menyalahkan Davey atas kehidupan Klarybell. Bahkan setelah ribuan tahun berlalu pun mereka masih tetap saja membahas hal yang sama berulang kali tanpa bosa. Itulah alasan mengapa Davey mengasingkan diri dan membuat kastil sendiri yang terletak jauh dari kastil penatua dewa.


“Apakah Anda semua kemari hanya untuk mengatakan omong kosong itu? Ya, saya tahu Klarybell telah membunuh rekan-rekan saya, tapi ini adalah perintah dari Yang Mulia Davey. Setidaknya sekarang Klarybell tidak akan menyakiti orang lain lagi.”


Akhirnya, Sean berhasil melontarkan kata-kata untuk melawan mereka bertiga, kali ini dia tidak bisa berdiam diri lagi membiarkan mereka memojokkan Davey.


“Tidak akan menyakiti orang lain lagi? Jangan membuat kami tertawa. Ya, mungkin sekarang dia memang tidak menyakiti orang lain, tapi bagaimana nanti? Bagaimana kalau seandainya dia menemukan kembali fragmen jiwanya yang terpecah berai di alam semesta ini? Apa kalian mau bertanggung jawab atas kerusakan yang mungkin saja terjadi?!”


“Itu ….” Sean tidak bisa memberikan jawaban, jika Klarybell menemukan fragmen jiwanya yang lain maka takkan ada satu pun orang yang dapat menghentikannya.


“Berhentilah menyudutkan Sean!” Dari dalam kamar, Davey tertatih-tatih melangkah ke luar, ia didampingi oleh beberapa orang pelayan.


“Yang Mulia! Anda sudah sadar? Bagaimana kondisi tubuh Anda sekarang?” Sean bergegas menghampiri Davey dan langsung menanyakan kondisi Davey.


Davey mengukir senyum tipis di bibirnya. “Aku tidak apa-apa, Sean. Kau tidak perlu merasa begitu khawatir dengan kondisi tubuhku,” jawabnya.


Kemudian Davey melewati Sean dan menghampiri para penatua dewa, ia sekuat tenaga memaksa dirinya untuk terus sadar demi bertemu dengan orang-orang yang paling dia benci.


“Kenapa kalian tidak pernah berhenti menggangguku? Padahal aku satu-satunya dewa yang tersisa dan kalian malah menciptakan api permusuhan di antara kita. Sebenarnya apa yang ada di pikiran kalian saat ini?!”


Mereka bertiga terlihat geram terhadap Davey, selama ini mereka diam hanya karena Davey satu-satunya dewa yang tersisa setelah perang besar ribuan tahun lalu. Namun, mereka tanpa sengaja membakar suasana damai ini demi melampiaskan kekesalan mereka akan kehidupan Klarybell.

__ADS_1


“Mengapa kau bersikeras mempertahankan Klarybell? Seharusnya kau biarkan saja dia mati. Apa kau tidak ingat seberapa besar kerugian yang kita terima karena ulahnya?! Kami tidak peduli apa pun jenis hubunganmu dengannya. Tetapi, dengan kau mempertahankannya, itu berarti kau sedang berusaha menghancurkan kehidupan umat manusia!”


“Apakah kalian lupa?” Kedua mata Davey mulai memanas karena marah. “Justru kalian lah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Klarybell. Apabila kalian memperhatikannya sejak awal dan memberinya takdir bahagia, maka kehancuran itu takkan pernah terjadi. Klarybell hanya korban dari keserakahan para dewa!”


Mereka diam dalam seribu kata seusai Davey melontarkan perkataan seperti demikian. Namun, bukan berarti mereka sedang merasa bersalah kala itu melainkan mereka sedang mencari jawaban yang tepat untuk melakukan pembelaan atas kesalahan mereka.


“Jangan coba-coba menyalahkan kami! Musuh tetaplah musuh dan penjahat tetaplah penjahat. Dia yang mendatangkan kekacauan dan dialah yang pantas disalahkan atas ini semua. Meskipun hubungan kau dengannya adalah—"


“Cukup! Hentikan omong kosong kalian!” sergah Davey. “Jangan mencari pembenaran lagi. Aku akan melakukan apa pun demi Klarybell, tidak akan aku biarkan dia jatuh ke dalam lubang yang sama. Jadi, berhentilah berbicara dan silakan kalian hengkang dari kastilku!” murka Davey hingga berani mengusir mereka.


Alhasil, mereka tidak dapat melawan sifat keras kepala Davey, mereka pun terpaksa angkat kaki dari kastil kediaman Davey seraya membawa bendungan perasaan marah.


Sean membaringkan tubuh Davey di atas tempat tidur, tatapannya dipenuhi kekhawatiran mendalam terhadap kondisi kesehatan Davey.


“Yang Mulia, mengapa Anda berbuat sampai sejauh ini demi Klarybell? Sebenarnya, hubungan sejenis apa yang Anda miliki dengannya hingga membuat Anda berkorban banyak demi hidupnya? Saya yakin, masih ada sesuatu yang Anda sembunyikan dari saya,” tutur Sean tertekuk sedih.


“Hubunganku dan Klarybell sangat dekat, bahkan lebih dekat dari apa yang orang-orang pikirkan. Pada kehidupan pertama, kami saling menguatkan, dia menjadi alasanku untuk terus bertahan hidup melawan hamparan luka yang terus menerjang kami berdua. Akan tetapi, kehidupannya di kehidupan pertama sangatlah menyedihkan. Aku ….”


Davey tidak kuat melanjutkan kalimatnya, napasnya tercekat setiap kali mengingat apa yang terjadi pada kehidupan pertamanya dahulu.


“Aku adalah alasan mengapa Klarybell menjadi penjahat paling menakutkan di dunia ini,” sambungnya pelan.

__ADS_1


Sepasang netra Sean melebar. “Kehidupan pertama?”


“Benar, kehidupan pertama. Maka dari itu, aku berusaha keras sekarang untuk memberinya kehidupan yang penuh cinta. Pada kehidupannya sebagai Valencia dia akan mendapatkan cinta dari orang-orang di sekitarnya. Setidaknya dengan begini, naluri jahat Klarybell akan berkurang dan fragmen jiwa jahatnya akan lenyap perlahan.”


***


Selepas mendengar dentingan lonceng dari arah langit, Valencia jadi kesulitan untuk memejamkan matanya. Hatinya terus berputar merasakan berbagai firasat buruk yang menghantuinya di setiap detiknya. Tanpa terasa, waktu berputar begitu cepat, hari ini Valencia masuk kelas dan menjalani pembelajaran yang akan diberikan oleh Profesor tertentu.


Ketika Valencia berjalan menyusuri lorong akademi menuju kelas, tatapan orang lain padanya terlihat aneh. Mungkin hal itu dikarenakan berita Valencia menghajar orang lain telah tersebar ke pendengaran seluruh murid. Akan tetapi, Valencia mengabaikan setiap pandangan buruk yang mengarah padanya.


Di sisi lain, para siswa menggosipkan Linnea yang kini secara resmi menjadi bagian dari keluarga Grand Duke Allerick. Secara resmi pula, Linnea bertukar nama belakang menjadi Allerick sekaligus menjadi saudari Valencia. Tidak sedikit orang yang merasa kasihan pada Linnea karena harus satu rumah dengan Valencia yang dianggap sebagai wanita kasar.


‘Mereka berisik sekali. Apa tidak ada pembahasan lain selain memberitakanku dan Linnea? Aku bosan mendengarnya,’ batin Valencia jengkel.


Tidak sampai di sana saja, setibanya di kelas, Valencia langsung dihadapkan oleh kejadian yang tidak terduga. Meja tempat biasanya dia duduk mendadak menghilang di kelas, pandangannya menyisir setiap sudut kelas dan berharap menemukan mejanya di sana. Tetapi, percuma saja, mejanya benar-benar menghilang dari kelas.


“Lihat itu, dia mencari mejanya seperti orang bodoh.”


“Kalau kita melawannya ramai-ramai begini mungkin dia tidak akan berani macam-macam dengan kita.”


“Ya, kau benar itu, lagi pula kita adalah anak-anak bangsawan yang dipedulikan orang tua kita. Tidak sepertinya yang hanya berdiri sendiri di kediaman Grand Duke Allerick tanpa pembelaan dari kedua orang tuanya. Mati pun dia di sini, Grand Duke juga tidak akan protes, mungkin saja beliau akan berterima kasih kepada kita.”

__ADS_1


__ADS_2