
Hanya dalam waktu sekejap, Henzo berhasil menghalau dan mengalahkan para kesatria tersebut menggunakan tangan kosong. Henzo benar-benar menyeramkan ketika dia terlibat di dalam pertengkaran kelompok. Dia seperti orang gila yang seenaknya menghabisi nyawa orang lain tanpa mempedulikan situasi atau pun kondisi tempat sekitarnya membuat kegaduhan.
Valencia terkekeh bangga tatkala dirinya menjadi penonton dari kegilaan Henzo. Di sisi lain, ia bersyukur sebab dirinya tidak harus turun tangan mengatasi masalah kesatria itu. Sekarang dirinya bebas, tak ada satu pun kesatria yang mengejarnya lagi.
"Rasakan itu! Makanya jangan pernah mencari gara-gara denganku. Sekarang terimalah akibatnya," ucap Valencia.
Henzo merasakan kepuasan tersendiri sebab akhirnya dia menemukan sesuatu yang bisa dia jadikan sebagai pelampiasan emosi. Setidaknya dengan begini emosi Henzo kembali stabil seperti sedia kala.
"Merepotkan saja melawan orang-orang lemah, seharusnya pengadilan mengirim seseorang yang lebih kuat dari ini untuk menangkap calon putriku," gumam Henzo.
Valencia tersenyum lebar sembari mengacungkan jempolnya.
"Kerja bagus, Paman! Kalau mereka melapor ke pengadilan, mungkin mereka takkan bisa berbuat apa-apa karena yang menghajar mereka adalah Paman."
"Kau sepertinya berniat untuk menambah pekerjaanku. Tetapi, tidak masalah, aku juga sangat membenci pihak pengadilan. Mereka selalu mencari masalah denganku," geram Henzo menghela napas.
"Aku juga membenci mereka, makanya aku ingin mereka mati dengan cepat agar berhenti menjadi benalu di kehidupan orang lain."
Henzo menatap curiga Valencia, dia datang karena ingin memastikan sesuatu.
"Jangan-jangan kau yang membakar penjara bawah tanah di gedung pengadilan."
Valencia meresponnya dengan tawa kecil. "Paman diam-diam saja, aku sengaja membakarnya agar mereka berhenti untuk memenjarakan rakyat kecil yang tak bersalah."
Lagi-lagi Henzo menghela napas panjang, sejujurnya dia paling malas terlibat masalah dengan para bangsawan. Akan tetapi, karena sudah terlanjur, mau tidak mau Henzo harus ikut campur.
"Kau mengirimkan padaku para tahanan dan membakar penjara bawah tanah gedung pengadilan. Mungkinkah kau ingin mengubah sistem hukum di Alegra? Ini takkan mudah, kau akan berhadapan dengan bangsawan merepotkan itu."
"Apa yang Paman katakan? Bangsawan? Itu perkara yang sangat mudah. Apabila mereka mengusikku, maka aku sendiri yang akan mematahkan leher mereka dan mencongkel bola mata."
"Hahaha." Sontak suara tawa Henzo menggelegar di lorong kosong akademi. "Kau benar, biar aku yang membantu mengurusnya nanti. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan."
Valencia ikut tertawa, kesatria pribadi Henzo yang dibawa ke akademi sangat heran melihat kelakuan mereka berdua. Para kesatria yang dihajar oleh Henzo mengalami patah tulang parah, tidak sedikit di antara mereka yang kehilangan jari atau mata mereka.
__ADS_1
"Paman, apakah para tahanan itu sudah Paman amankan?" tanya Valencia.
"Sudah, tenang saja. Kau tidak perlu memikirkan masalah itu."
Tanpa disadari oleh keduanya, kedatangan Henzo ke akademi menjadi topik utama. Tidak sedikit dari mereka yang menghindari pertemuan dengan Henzo. Namun, yang paling mengejutkan bagi semua orang, Henzo terlihat sangat dekat dengan Valencia.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Archduke Calestine tidak menyukai wanita? Mengapa beliau sekarang tampak akrab dengan gadis gila itu?"
"Aku tidak tahu, tapi tidakkah mereka terlihat mirip satu sama lain? Lihatlah! Beliau memperlakukan Valencia sangat baik. Berbeda saat Ayahku berurusan dengan beliau saat itu."
"Oh, dewa! Mungkinkah Archduke Calestine akan menjadikan Valencia sebagai istrinya?"
"Jangan sembarangan! Mustahil gadis lima belas tahun menikah dengan pria berumur empat puluh tahun. Jangan membuat asumsi yang tidak masuk akal."
Seisi akademi gaduh, mereka sibuk mengasumsikan hal yang mengada-ada mengenai hubungan antara Valencia dan Henzo. Kala itu, Linnea mendengarkan seluruh akademi membicarakan Valencia. Dia menggeram sebal, lagi-lagi Valencia menjadi topik utama di akademi.
'Kenapa gadis itu tidak mati saja? Dia merebut seluruh perhatian orang lain dariku. Bahkan sekarang dia punya koneksi dengan Archduke Calestine,' gerutu Linnea dalam hati.
Linnea bergegas pergi, dia ingin merencanakan sesuatu untuk menarik perhatian Henzo. Ketika Henzo dan Valencia sedang jalan-jalan di taman akademi seraya bertukar cerita satu sama lain, Linnea dari arah berlawanan datang menghampiri Valencia.
Linnea berulah lagi, dia kini berakting menjadi gadis yang sopan dan baik di hadapan Henzo. Namun, Henzo tidak menjawab salamnya, justru sebaliknya, Henzo menatap aneh Linnea.
"Siapa gadis tidak sopan ini?" tanya Henzo sangat dingin.
Linnea tersentak, dia gugup seketika mendengar suara Henzo.
"Saya Linnea Allerick, Yang Mulia," jawab Linnea.
"Linnea Allerick? Memangnya Grand Duke punya anak perempuan lain selain Valencia?"
"Saya baru saja diangkat menjadi anak oleh Grand Duke."
Henzo menatap tidak suka Linnea, dia paling membenci tipe gadis seperti Linnea yang suka cari muka. Valencia hanya mengamati pergerakan Linnea, ia tahu apa yang sedang dilakukan Linnea sekarang merupakan sifat munafik untuk menarik perhatian Henzo.
__ADS_1
"Wah, ternyata Grand Duke sangat buta. Bagaimana bisa dia menjadikan seorang gadis jelek dan bodoh sebagai anaknya? Aku rasa Valencia lebih baik di segala bidang. Aku tidak peduli, tapi sebaiknya sekarang kau menyingkir dari jalanku."
Henzo menghina sekali mengusir Linnea secara tidak hormat. Harga diri Linnea terluka akibat perlakuan tidak baik Henzo kepada dirinya.
"Linnea, cepatlah menyingkir, sifat sok manis dan sok polosmu tidak berlaku saat ini," celetuk Valencia.
Linnea mengepalkan kedua tangannya, dia menatap Valencia dengan api permusuhan dari matanya.
'Aku tidak boleh membiarkan wanita ini terlalu lama berinteraksi dengan Archduke. Bisa-bisa dia merebut segalanya dariku.'
Kemudian tiba-tiba saja Linnea merekahkan senyum sambil menggandeng tangan Valencia.
"Oh iya, Valencia, kau dipanggil oleh Profesor. Ayo cepat, aku akan mengantarkanmu menemui beliau." Linnea menarik tangan Valencia untuk segera menjauh dari Henzo.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" sentak Valencia kesal.
"Arghh!"
Linnea sekali lagi membuat ulah, padahal Valencia hanya menyentaknya pelan, tapi dia malah menjatuhkan dirinya sendiri. Valencia memutar bola mata malas, dia sudah bosan menghadapi sikap Linnea yang penuh kepalsuan.
"Aku hanya mau membantumu untuk bertemu dengan Profesor. Tetapi, mengapa kau malah mendorongku? Apa aku ada membuat salah padamu?"
Uraian air mata palsu bergulir dari mata Linnea, gadis itu tidak ada jeranya mengusik Valencia.
"Hei, kau! Jangan sesekali mencoba memfitnah Valencia. Apa kau pikir aku tidak menyadari segala kepalsuanmu? Jangan membuatku marah," tekan Henzo jengkel.
Tangisan Linnea terhenti, ia mendongak menatap wajah Henzo. Memang benar, pria itu tidak terpengaruh terhadap aktingnya.
"Yang Mulia, kenapa Anda membela gadis ini?! Sudah jelas dia salah mendorong saya! Saya hanya bermaksud untuk membawanya bertemu Profesor."
Linnea meninggikan suaranya kepada Henzo, hal itu pun membuat Henzo murka.
"Beraninya seorang wanita jal*ng rendahan meninggikan suaranya padaku. Kau cari mati?!"
__ADS_1
Sekujur badan Linnea bergetar hebat dan pergerakannya terkunci. Belum pernah sekali pun pria lain memperlakukannya dengan sangat kasar.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat singkirkan wanita ini dari hadapanku! Jangan pernah biarkan dia mendekatiku lagi. Inilah kenapa aku sangat membenci wanita, apalagi wanita seperti gadis tidak tahu diri ini."